
Jam 14:12, mobil yang ditumpangi Rianti dan Layla berhenti di depan gerbang rumah pak Nurasmin. Rianti yang tak berniat turun dan berusaha menghindar agar tak terlihat penghuni rumah, terpaksa harus turun dari mobil ketika bu Sofia yang sedang menyiram tanaman hias di halaman rumah terlanjur mengenalinya saat Layla turun dari mobil. Begitu melihatnya, bu Sofia langsung melepas selang air di tangannya dan bergegas keluar menghampiri Rianti. Dia yang sedari tadi sibuk mencari Layla yang tiba-tiba menghilang dari rumah, sama sekali tak menghiraukannya. Perhatiannya tertuju kepada Rianti.
"Nak Rianti? Ayo, masuk dulu, Nak. Istirahat di dalam dulu," kata bu Sofia sambil menarik tangan Rianti. Rianti tersenyum. Ia melepas pegangan tangan bu Sofia dan segera mencium tangannya. Setelah itu mereka saling mencium pipi masing-masing.
"Lain kali saja, Bu. Saya harus cepat pulang. Di rumah sepi," kata Rianti.
Bu Sofia mengerutkan keningnya.
"Loh, memangnya nak Izzul sama nak Jamila kemana?" tanya bu Sofia. Tangannya masih memegang erat tangan Rianti.
"Katanya sih, Lagi ajak Azka jalan-jalan ke pantai kura-kura,"
"Terus, Nak Rianti sendiri sudah kemana. Kok tiba-tiba sama Layla? Ketemu dimana?" tanya bu Sofia heran. ia bergantian menatap Rianti dan Layla. Rianti melirik ke arah Layla. Keduanya tersenyum.
"Saya barusan dari Authore, Bu. Cek kesiapan panen mutiara hari lusa. Karna saya hanya berdua sama Zaebon, saya jadi gak enak. Makanya, mumpung lewat sini, saya mampir dulu ngajak dik Layla. Mumpung hati minggu juga, sekalian jalan-jalan," jelas Rianti.
"Pantesan, dihubungi beberapa kali hp nya gak aktif," kata bu Sofia sambil menatap cemberut ke arah Layla. Layla tersenyum.
" Saya mewakili Layla minta maaf karna telah membuat ibu khawatir," kata Rianti. Bu Sofia mendesah panjang.
"Tapi masak gak mau masuk dulu, Nak. Tumben-tumben Nak Rianti mampir,"
"Insya Allah lusa, sepulang saya dari panen mutiara, saya akan mampir kesini. Sekalian bawakan ibu kerang mutiara buat dimasak," kata Rianti.
"Ok, ibu tunggu. Ibu akan masak besar hari itu. Kalau kamu gak jadi datang, tanggung jawab ya kalau makanannya sia-sia?" kata bu Sofia. Rianti tersenyum. Ia memegsng tangan bu Sofia dan menciumnya.
"Salam sama bapak, Bu," kata Rianti.
"Insya Allah, Nak. Bapakmu baru saja keluar. Katanya mau beli tembakau," kata bu Sofia. Rianti tersenyum.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya titip salam buat Bapak ya Bu," kata Rianti. Bu Sofia menganggukkan kepala sembari tersenyum.
Layla mendekati Rianti dan menyalaminya. Setelah itu, Rianti masuk ke dalam mobilnya. Setelah melambaikan tangan ke arah bu Sofia dan Layla, ia menaikkan kaca jendela mobil dan menyuruh Zaebon menghidupkan mesin mobil. Mobil perlahan bergerak meninggalkan rumah bu Sofia.
* * * * *
Beberapa gumpalan awan hitam terlihat berarak menuju langit desa. Dedaunan kering bercampur kertas-kertas sampah terlihat berputar-putar di halaman rumah terhempas angin.
Layla menutup Al-qur'an yang baru saja selesai dibacanya sehabis shalat dhuhur tadi. Diciumnya lama sembari merasakan rasa tenang dalam hatinya. Al-qur'an yang ia percaya adalah Firman Allah, tapi selama ini amat jarang ia baca. Ketenangan yang ia rasakan saat ini ia yakini sebagai salah satu keutamaan membaca Al-qur'an. Alqur'an sebagai penyembuh. Penyembuh hatinya yang selalu gelisah. Apa yang ia dengar dari Rianti, tutur kata Rianti, sikap rendah diri di hadapan para karyawannya saat berada di Authore, semuanya, telah menjadi motivasi baru buatnya. Sosok Rianti menjelma jadi idola baru baginya. Semua lengkap ada dalam diri Rianti. Cantik,kaya, rendah hati, lemah lembut dan tentu saja agamis. Rianti yang dulu ia dengar tentang masa lalunya adalah seorang yang sangat kejam, yang kejahatannya sampai saat ini belum ada yang pernah melakukannya di tempat itu, kini dengan sangat ajaib telah berubah menjadi sosok wanita yang shalehah. Seperti tak pernah melakukan kejahatan itu dalam hidupnya.
Dan tentu saja ia ingin menjadi seperti Rianti.Bahkan saat masih bersamanya di pantai, ia ingin lekas-lekas pulang. Kecantikan yang terpancar di wajah Rianti, bukan kecantikan biasa. Ada sesuatu yang sulit untuk dijelaskan kata-kata. Sederhananya, mungkin kalau ia boleh menyimpulkan, kecantikan itu berasal dari air wudhu dan mata yang selalu memandang kepada Al-qur'an. Tutur katanya lembut karna lidahnya dihiasi huruf demi huruf dari Al-qur'an.
Layla tersenyum.
Ah, dia merasa sudah tidak tahan lagi. Ia ingin segera menemui pak Nurasmin dan bu Sofia untuk mengatakan apa yang ia pikirkan di dalam mobil selama perjalanan pulang.
Perlahan ia melangkah mendekati keduanya.
Layla mendehem. Pak Nurasmin dan bu Sofia serempak menoleh. Melihat Layla tersenyum begitu cantiknya dalam selubung mukena putihnya, bu Sofia langsung bangkit. Sudah biasa ia melihat Layla seperti itu. Paling hanya menoleh dan mengajaknya ikut gabung. Tapi yang tidak biasa hari ini, ia langsung bangkit dan menatap Layla agak lama. Begitu juga dengan pak Nurasmin. Wajah Layla hari ini lebih ceria dari biasanya. Terlihat lebih lepas dan seperti tanpa beban.
"Subhanallah, cantiknya anak ibu. Ibu kira tadi ibu kedatangan kak Riantimu lagi. Ternyata anak kita, Pak," kata bu Sofia. Layla hanya tersenyum. Ia melangkah maju dan duduk. Tangan bu Sofia dan pak Nurasmin diciumnya. Baik bu Sofia dan pak Nurasmin membalasnya dengan kecupan di kening Layla.
"Pak,Bu. Ada yang ingin Layla bicarakan," kata Layla. Pak Nurasmin mengecilkan volume tv yang sedang ditontonnya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Nak," kata pak Nurasmin. Bu Sofia memperhatikan Layla yang tak henti-henti menyunggingkan senyum. Mungkin hari ini ada sesuatu yang membuat Layla kelewat bahagia sehingga tak mampu menahan senyumnya. Mungkin ada hal lain yang dibicarakannya dengan Rianti saat ikut dengannya jalan-jalan. Jangan-jangan ada kaitannya dengan Tuan Guru Izzul Islam. Batin bu Sofia.
"Pak, Bu, Layla kuliahnya di sini saja ya? gak usah ke jawa. Takut Layla gak kerasan," kata Layla. Wajah bu Sofia yang tadinya agak menegang mulai melunak. Ia tersenyum. Bu Sofia menoleh. Ia merasa kali ini dia yang harus bicara.
"Dimana saja kamu ingin kuliah, Bapak dan ibu tidak keberatan, Nak. Asalkan kamu bisa jaga diri." Bu Sofia mengusap kepala Layla lembut. Layla tersenyum.
__ADS_1
"Setelah Layla pikir-pikir, Layla memutuskan untuk mondok di pondok pesantren Al-Aziziyah Lombok Barat, Bu. Layla ingin kuliah sambil menghafal Al-qur'an," jawab Layla. Baik bu Sofia dan pak Nurasmin serempak mendesah lega seraya mengucakan hamdalah. Senyum bahagia terpancar jelas dari wajah keduanya. Bu Sofia tersenyum. Apa yang ia pikirkan tadi mungkin ada benarnya. Mungkin saja Rianti, yang merupakan penghafal Al-qur'an, telah memberikannya motivasi, sehingga secara tiba-tiba Layla ingin menghafal Al-qur'an. Hal yang jauh dari pikiran keduanya.
"Alhamdulillah, itu lebih dari apa yang bapak dan ibu harapkan, Nak." kata pak Nurasmin. Kedua mata pak Nurasmin berkaca-kaca. Ia menoleh ke arah bu Sofia dan menyentuh tangannya.
"Bu, besok bapak mau minta ijin gak masuk sekolah. Besokkita pesantren Al-aziziyah untuk melihat-lihat dulu, sekalian kita akan borong-borong keperluan mondok Layla," kata pak Nurasmin antusias.
"Asik. Ayo, Nak. Kamu boleh menyebut apa saja keinginanmu. Semahal apapun itu, minta saja sama bapakmu. Ya kan,Pak?" kata bu Sofia sambil melirik ke arah pak Nurasmin.
Pak Nurasmin terdiam sejenak. Ia menatap bergantian ke wajah Layla dan bu Sofia. Bu Sofia hanya memandangnya sambil tersenyum. Menunggu jawaban pak Nurasmin. Pak Nurasmin mengangguk.
"Boleh," katanya sambil megangkat pelan tubuhnya. Ia mendekat ke arah Layla dan mencium kepalanya.
"Asalkan jangan minta mobil," sambung pak Nurasmin sambil berlalu ke dalam kamarnya. Selang beberapa menit kemudian, ia keluar lagi. Kali ini terlihat dengan pakaian rapi. Seperti hendak bepergian keluar. Bu Sofia menatapnya heran.
"Loh, Bapak mau kemana?kok tiba-tiba berpakaian rapi seperti itu?" tanya bu Sofia. Layla menoleh.Ia ikut heran melihat penampilan pak Nurasmin. Pak Nurasmin tersenyum sambil merapikan kerah bajunya.
"Bapak kok tiba-tiba ingin menikmati makan siang ditempat yang indah. Pingin makan sambal jamur, sambal belut kering, pecel. Bapak tiba-tba teringat rumah makannya almarhumah bu Sulastri. Bapak mau kesana," kata pak Nurasmin. Serempak bu Sofia dan Layla bangkit dan berhamburan mendekati pak Nurasmin.
"Ikut, Pak. Ikut," teriak keduanya. Pak Nurasmin tersenyum.
"Kalau begitu, ganti pakaian sana," kata pak Nurasmin. Keduanya pun segera masuk kamar masing-masing.
* * * * *
Tepat di tempat dimana dulu Sulastri sering duduk menceritakan keluh kesahnya kepada Rahima, Layla berdiri memandang matahari bulat penuh, yang sebentar lagi akan tenggelam di balik perbukitan. Awan tipis yang terkena sinar matahari, seperti lukisan maha indah yang membuat takjub yang melihat. Sebuah tanda kebesaran Allah swt.
Tempat itu sengaja dibuat Sulastri sebagai tempat merenung. Di depannya terhampar padang ilalang menghijau, dengan beberapa perbukitan yang meyambung satu sama lain. Para pengunjung biasanya sering menghabiskan waktu mereka setelah puas menikmati wisata di tempat itu. Udara yang sejuk dengan semilir angin yang turun dari arah perbukitan, membuat hamparan ilalang seperti menari-nari.
Di tempat itu Layla berikrar pada dirinya sendiri. Ia akan jadi penghafal Al-qur'an. Bukan karna apa dan siapa. Itu kata hatinya saat ini. Dan ia mantap, bahwa apa yang ia ikrarkan adalah fatwa terbaik hatinya untuknya.
__ADS_1