
Selesai beberes dan makan malam bersama di rumah sederhana itu. Orang tuanya Mahesa, serta Hana berpamitan pulang. Sebenarnya sang ibu merengek untuk nginap sehari di rumah itu. Tapi, gimana mau nginap rumahnya saja kecil. Gak cukup menampung lima orang, walau ada dua kamar di rumah itu.
"Angkat barang-barangmu dari kamarku. Pindahkan ke kamar belakang!" Ketus Mahesa pada Freya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wanita itu baru selesai berwudhu dan akan melaksanakan sholat isya.
"Oouuww... A, aku tidur di kamar belakang? " tanya Freya tergagap. Ia terkejut dengan Mahesa yang tiba tiba saja muncul di hadapannya. Makanya ia jadi terlihat bodoh, melontarkan pertanyaan balik.
"Iya, aku tak sedih sekamar dengan Pela cur!"
Deg
Air muka Freya mendadak mendung dikatain pela cur. Memang ia pernah bekerja sebagai pelacur. Tapi, ia sudah taubat. Lagi pula, yang menyentuhnya saat jadi wanita panggilan hanya pria di hadapannya.
"I, iya." Sahutnya lirih, melewati Mahesa yang melotot padanya.
Freya menyeret kopernya dari kamar yang sudah lengkap fasilitasnya itu. Ada AC, lemari pakaian dan cermin besar. Karena kamar itu hanya berukuran 3x3M, jadinya tak ada kamar mandi di dalamnya.
Braaakkk..
Pintu ditutup kasar oleh Mahesa, setelah pria itu masuk ke dalam kamarnya.
Deg
Freya sampai memegangi dadanya yang berdebar kuat, karena terkejut mendengar suara pintu ditutup itu dengan kuat.
Astaga, Ya Tuhan... Itu orang apa setan sih? gumam Freya sedih. Menyeret kakinya ke dalam kamar yang akan ia tempati. kamar yang ukurannya lebih kecil dari kamar sang suami.
Freya menyoroti setiap sudut kamar kosong itu. Walau diperlakukan buruk oleh sang suami. Ia tak mau sedih akan hal itu. Mulai dari kecil, ia sudah terbiasa hidup susah. Bahkan ia pernah tidak bisa tidur semalaman karena atap rumah mereka bocor semua, sehingga rumah itu tak bisa buat untuk tidur.
Freya memutuskan untuk sholat. Ia tak mau membebani pikirannya dengan sikap sang suami yang tidak mencerminkan kepala keluarga yang baik itu. Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya. Suaminya Mahesa adalah orang mampu. Tapi, ia malah diajak tinggal di rumah yang sederhana.
Huufftt...
Freya telah selesai melaksanakan sholat. Ia simpan mukenanya di atas kopernya. Kemudian wanita itu merogoh tas ranselnya. Ia mengambil kantong plastik yang berisi obat serta vitamin yang harus ia minum setiap hari, agar janin yang ia kandung tumbuh dengan sehat.
Freya keluar dari kamar. Ia menyeret kakinya menuju dapur. Menuangkan air ke gelas berwarna putih. Kemudian ia duduk di kursi, meneguk pil yang ada di tangannya dalam sekali tegukan.
__ADS_1
Huufftt...
Freya menarik napas panjang. Mengingat ingat perjalanan hidupnya yang penuh derita, membuat hatinya terasa sesak. Belum pernah ia merasakan kebahagian sedetik pun. Selalu masalah yang datang menghampirinya dan harus ia tuntaskan sendiri.
Bu, maafkan anakmu ini! gumamnya dalam hati. Tangannya dengan cepat menyeka air mata yang kini sudah menggenang di pelupuk matanya. Dada terasa nyeri dan nyut nyutan, mengingat Ingat Ibu nya yang telah tiada.
"Ngapain kamu di sini?"
"Aaaaghh.. Aduuhh...!"
Duaar
Prang...
Freya terkejut, gelas di tangan jatuh ke lantai dan pecah. Saking terkejutnya. Ia sampai terjingkat dari kursi yang ia duduki. Bahkan ia hendak terjatuh, karena tak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
Freya jantungan sekali. Dadanya semakin kencang saja berdebar saat ini. "A, aku baru minum!" sahutnya tergagap. Ia sebenarnya tak takut pada Mahesa. Ia gugup karena terkejut.
"Oouuww... Buatkan aku kopi. Bawa ke ruang tamu." Titah Mahesa masih menatap malas Freya.
"Koq kamu kaget. Gak mau?" cecar Mahesa dengan muka masamnya menatap Freya.
"I, iya." Jawabnya datar. Mulai bergerak mengambil sapu dan serokan. Ia akan membersihkan gelas yang pecah di lantai.
Mahesa meninggalkan dapur. Dan Freya mulai menyiapkan kopi permintaan Mahesa.
Dua menit kopi telah diseduh. Freya membawanya ke ruang tamu. Terlihat sang suami sedang sibuk dengan lap top nya.
Mahesa meliriknya, saat ia meletakkan kopi itu di sebelah sang suami. Saat dekat ke sang suami. Samar samar Freya mendengar suara ******* wanita. Ia pun menoleh ke arah lap top sang suami. Ternyata suaminya sedang video call di lap top itu, dengan keadaan lawan bicara suaminya itu bu gil di atas tempat tidur.
"Astagfirullah...!" ujar Freya tanpa sadar.
"Aauuww... Sialan kamu! matamu di mana pel acur..!!" Hardik Mahesa geram menata Freya.
Ya, Freya yang terkejut dengan kelakuan sang suami. Tangannya tak sengaja menyenggol gelas berisi kopi itu, dan mengenai kakinya Mahesa.
__ADS_1
"Ma, maaf..!" Freya membenarkan posisi gelas. Ia terlihat ketakutan melihat sang suami. Ternyata suaminya itu suka berzi na.
"Jangan sok polos dan sok suci kamu. Sok terkejut lihat beginian. Kamu kan ahlinya, bahkan kamu jual diri kamu" Umpat Mahesa pada Freya.
"Iya, aku memang lebih buruk dari wanita itu. Kalau kamu ingin dipuaskan, pakailah aku. Sekarang aku adalah istrimu!"
Hahhaha...
Mahesa tertawa kencang. "Fiuuhh... Sampai kapanpun aku gak akan sentuh wanita kotor sepertimu. Aku saja yang sial, kenapa malah bisa tidur denganmu malam itu." Ujar Mahesa dengan muka memerah, menahan kesal. "Ini itu kekasihku, dia lagi rindu padaku. Dia sekarang sedang di luar negeri. Nanti deh aku kenalkan dia padamu."
"Bukan dia sudah berselingkuh dan sudah main dengan pria tua!"
"Diam kamu, jangan sok tahu kamu!" Mahesa terlihat ingin menelan Freya hidup-hidup, saking kesalnya ia pada istri nya itu.
"A, aku tahu. Disaat kita melakukan itu. Kamu sedang mabuk. Kamu bilang, kekasihmu ada main dengan pak tua!" Sahut Freya menantang Mahesa.
"Oouuww... Sudah berani kamu melawan. Sok tahu lagi!' Menatap tajam Freya.
Dan si wanita di dalam kamera terus saja ribut memanggil Mahesa.
"Bukan sok tahu. Tapi, kenyataannya memang begitu. Kamu bisa chek ponselmu. Saat itu semua adegan kita kamu rekam. Kamu bilang mau tunjukin kepada kekasihmu, kalau kamu juga bisa selingkuh." Jelas Freya tertunduk.
Hahhahaa..
"Jangan ngacok kamu." Sergah Mahesa bangkit dari duduknya
"Aku gak ngacoh. Saat itu aku sadar sesadarnya. Kamu yang mabuk, aku gak mau adegan kita kamu rekam, tapi kamu maksa." Jelas Freya dengan ekspresi wajah berat.
"Ponsel, ponsel yang mana?" Tanya Mahesa bingung.
"Ya ponsel kamu!" jawab Freya nanar. Rasanya kepalanya jadi sakit saat mengingat kejadian itu.
Dia yang masih polos, dengan begoknya mau aksi ranjang mereka direkam. Freya baru terjun d dunia hitam itu, jadi belum ada pengalaman soal keamanan diri. Setelah sampai rumah, ia baru menyesali kebodohannya.
***
__ADS_1
Bersambung