KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#230


__ADS_3

Rianti dan Jamila menitikkan air matanya. Setelah untuk beberapa lamanya keduanya terdiam mendengarkan kata-kata Zulhiyani, hati keduanya merasa terenyuh. Keduanya amat mengerti betapa bahagianya hati Zulhiyani jika keduanya bisa mengabulkan permintaannya. Hal baik yang tentunya diyakini keduanya tak akan ditolak oleh Tuan Guru Izzul Islam. Memasukkan kebahagiaan di dalam hati sesama adalah ibadah besar, yang pastinya berpahala besar di sisi Allah swt. Rianti tahu, begitupun juga Jamila. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya. Kehidupan dunia begitu pendek. Usia manusia paling panjang hanya sampai delapan puluh tahun. Kehidupan akhirat yang pasti menjanjikan kehidupan yang penuh dengan kenikmatan. Bagi Rianti, menebar dan berbagi kebaikan selama hidup di dunia adalah hal yang harus dilakukannya. Allah telah memberikannya kecukupan hidup. Bahkan sejak ia masih kecil. Dan amatlah rugi jika tidak berbagi dengan yang lain.


Rianti tersenyum dan mengusap lembut kepala Zulhiyani. Setelah itu ia mencium kening Zulhiyani. Hanya sedikit tanda buat Zulhiyani bahwa ia, sekaligus mewakili Jamila bersedia mengabulkan permintaannya. Rianti menoleh ke arah Jamila. Jamila menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Zulhiyani bergantian menatap wajah keduanya. Ia tak perlu meragukan keikhlasan yang terpancar, baik dari wajah maupun dari mata keduanya.


Rianti melangkah pelan mendekati Jamila. Tubuh Jamila dirangkulnya sembari mengusap lembut punggungnya. Jamila tersenyum dan membalas rangkulan Rianti. Sejauh ini, tak ada pertentangan apapun antara dirinya dengan Jamila terkait sesuatu, walaupun itu diputuskan sepihak oleh Rianti. Karna kebersamaan dan saling mengenal satu sama lainnya selama ini, membuat keduanya selalu seia sekata.


"Tolong panggilkan kak Tuan, Jamila," kata Rianti. Jamila mengangguk dan bergegas keluar. Rianti kemudian melangkah pelan kembali mendekati Zulhiyani. Sejenak ia terdiam sambil tersenyum menatap Zulhiyani.


"Zulhiyani, tersenyumlah karna kamu akan segera bergabung bersama kami sebagai istri Tuan Guru. Sebelum kamu memintanya, aku sudah lebih dahulu ingin menjadikanmu istri ketiga Tuan Guru. Berkumpul bersama wanita-wanita penghafal Al-qur'an, merupakan kehormatan besar bagiku dan juga Nyai Jamila. Kami berharap kamu sembuh dan aku tak akan membiarkan ada perceraian antara kamu dan Tuan Guru," kata Rianti. Air mata Zulhiyani diusapnya lembut sembari tersenyum. Zulhiyani tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, seperti tak mampu menahan gejolak rasa bahagia dalam hatinya. Tangan Rianti diciumnya sembari tak henti-henti mengucap terimakasih.


Tuan Guru Izzul Islam dan Jamila masuk ke dalam ruangan. Rianti berbalik. Ditatapnya Tuan Guru Izzul Islam dan mendekatinya. Kedua tangan Tuan Guru Izzul Islam dipegangnya.


"Kak Tuan, Aku sudah terlalu meminta banyak pada Kak Tuan, tapi kasihanilah gadis ini. Ia sangat menginginkan menikah dengan Kak Tuan. Kabulkanlah permintaan terakhirnya," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam menatap wajah Zulhiyani. Zulhiyani menundukkan pandangannya. Tuan Guru Izzul Islam mengalihkan pandangannya ke arah Jamila. Jamila tersenyum menganggukkan kepala.


"Jika kalian sudah mengizinkan dan ridha," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia melirik ke arah jam tangannya. Masih ada waktu satu jam lagi sebelum Zulhiyani masuk ruang operasi.


Tuan Guru Izzul Islam meraih ponsel di saku bajunya. Setelah menemukan nomor kepala KUA di ponselnya, ia langsung menghubunginya. Tuan Guru Izzul Islam kemudian menyuruh Jamila untuk memanggil inak Nurmah dan memberitahukan hasil kesepakatan mereka. Tubuh inak Nurmah hampir jatuh di lantai sebab kaget dan tak menyangka Tuan Guru Izzul Islam mau menikah dengan anaknya yang sudah tak punya lagi harapan hidup.


Setelah menunggu sekitar setengah jam lamanya, kepala KUA bersama dua orang staffnya akhirnya tiba di ruang perawatan Zulhiyani. Tuan Guru Izzul Islam menyuruh semuanya masuk untuk menyaksikan proses akad nikah. Sebelum akad nikah dimulai, Rianti menanyakan kepada Zulhiyani mengenai mahar yang akan ia minta kepada Tuan Guru Izzul Islam.


"Tak seharusnya aku meminta mahar, Bu Nyai. Ini sudah lebih cukup bagiku," jawab Zulhiyani. Rianti tersenyum.


"Tidak, Zulhiyani. Katakan saja. Pikirkan apa yang kamu inginkan," kata Rianti. Zulhiyani terdiam. Ia menatap ke arah Tuan Guru Izzul Islam dan Jamila. Keduanya tersenyum menganggukkan kepala. Zulhiyani menelan ludahnya dalam-dalam. Ia kembali mengarahkan pandangannya kepada Rianti.

__ADS_1


"Bu Nyai, seumur hidupku, aku tidak pernah sama sekali bersedekah untuk almarhum ayahku. Aku hanya minta uang satu juta. Uang itu nantinya ingin aku sumbangkan ke anak yatim sebagai amal untuk ayahku. Itu saja, Bu Nyai," kata Zulhiyani. Rianti tersenyum.


"Kak Tuan akan menambahkan maharnya menjadi sepuluh juta. Ayo, bersiaplah," kata Rianti. Ia lalu mendekat dan duduk di samping Tuan Guru Izzul Islam.


"Tuan Guru Izzul Islam, aku nikahkan kamu dengan Zulhiyani binti Amaq Suparap almahum, dengan maskawin uang sepuluh juta rupiah dibayar tunai,"


"Aku terima nikahnya Zulhiyani binti amaq Suparap dengan maskawin seperti tersebut di bayar tunai,"


Sah!


Isak tangis terdengar di dalam ruangan ketika akad nikah Tuan Guru Izzul Islam dan Zulhiyani selesai dilaksanakan. Suasana haru dan sedih sejenak membuat suasana di dalam ruangan menjadi hening. Pandangan mereka semua tertuju ke arah Zulhiyani yang terbaring di atas brangkarnya. Mereka menyaksikan bagaimana wajah bahagia Zulhiyani, menyiratkan kebahagiaan di dalam hatinya saat ini.


Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah Rianti. Ia memberi isyarat agar Rianti memberikannya mahar untuk Zulhiyani.


Tuan Guru Izzul Islam memegang kedua tangan Zulhiyani sembari meletakkan uang maskawinnya. Zulhiyani masih memejamkan matanya. Bahkan ketika Tuan Guru Izzul Islam mencium keningnya, ia masih tak bisa membuka matanya. Air matanya yang tak henti-henti mengalir seperti merekatkan erat kedua matanya.


"Zulhiyani, buka matamu, sayang. Lihatlah suamimu," bisik Rianti lembut. Perlahan Zulhiyani membuka matanya. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Tangan Zulhiyani bergerak memegang tangan Tuan Guru Izzul Islam. Perlahan ia menaikkannya ke wajahnya dan menciumnya.


Jamila mengajak inak Nurmah mendekat. Mereka berempat berdiri di samping ranjang tempat Zulhiyani terbaring. Ingin memperlihatkan bahwa kini Zulhiyani dan ibunya sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keluarga besar Tuan Guru Izzul Islam.


Zulhiyani mengangkat tangannya, memberi isyarat agar inak Nurmah mendekat. Kepala inak Nurmah kemudian dipegangnya pelan dan di dekatkannya ke bibirnya. Kepala dan kening inak Nurmah di ciumnya.


"Ibu, selama ini aku selalu menyusahkan ibu. Ujung jari tanganku tak pernah kotor untuk sekedar membantumu meringankan beban hidupmu setelah kematian ayah. Sejak kecil ibu menitipkanku ke pesantren hanya karna ingin melihatku tumbuh sebagai gadis yang beragama. Aku tak sempat bisa membahagiakan ibu. Tapi aku niatkan keberkahan Al-qur'an yang aku hafalkan untuk ibu. Aku selalu berdoa semoga setelah ini Allah memberikan kebahagiaan untuk ibu. Ridhailah anakmu ini, bu. Aku tak mau kebahagiaanku ini ternoda sebab hati ibu tak ikhlas. Maafkan aku, Ibu,"

__ADS_1


"Cukup, Nak.Jangan membuat ibu bersedih dan menangis. Sudah cukup kebahagiaan ibu melihatmu tersenyum. Apapun yang terjadi nanti, tetaplah berharap, Allah akan memberikan kesembuhan dan keselamatan untukmu."Tuan Guru Izzul Islam


"Assalamualaikum, maaf, pasien atas nama Zulhiyani akan segera melaksanakan operasi. Jadi, kami harus segera membawa pasien ke ruang operasi," kata seorang perawat.


Rianti mendekat dan memberikan tisu untuk inak Nurmah. Dengan penuh kasih sayang, inak Nurmah mulai mengusap air mata di pipi kusam Zulhiyani. Zulhiyani tersenyum. Kepala inak Nurmah di dekatkannya kembali. Dengan tangan lemahnya, ia bergantian mengusap air mata inak Nurmah. Rianti kemudian mengajak inak Nurmah ke belakang dan memberi ruang petugas membawa Zulhiyani.


"Bu Nyai, saya serahkan kembali uang ini. Semoga Allah membalas kebaikan kalian," kata Zulhiyani sesaat sebelum petugas membawanya. Rianti tersenyum dan mengambil uang yang disodorkan Zulhiyani. Mereka kemudian mengikuti petugas membawa Zulhiyani hingga di ruang tunggu.


"Dik, kalian tetaplah di sini sampai operasi Zulhiyani selesai. Aku harus pulang dulu. Siang ini aku ada acara pengajian di desa Kwangrundun. Kabarkan aku mengenai perkembangan operasinya," kata Tuan Guru Izzul Islam kepada Jamila dan Rianti.


"Lik, kamu diam di sini ya. Biar aku sama Zaebon yang pulang," kata Tuan Guru Izzul Islam kepada Abdul khalik sebelum melangkah meninggalkan ruang tunggu. Abdul khalik menganggukkan kepala. Dia kemudian mengajak Zaebon keluar.


* * * * *


Layla masih memegang ponsel yang diberikan pengurus asrama. Setelah berpikir panjang semalaman, ia memutuskan untuk menelpon kedua orang tuanya. Keputusannya sudah bulat. Ia harus pindah. Menghafal Al-qur'an bukan perkara mudah. Hanya yang hatinya bersih dan ikhlas serta memiliki kesabaran tinggi yang bisa melakukannya.


Tapi begitu melihat photo besar pengasuh pondok pesantren yang tergantung di dinding masuk ruang pengurus, tiba-tiba ia berubah pikiran. Ia teringat kata-kata pengasuh beberapa hari lalu saat mengumpulkan seluruh santri di masjid. Pengasuh menekankan pentingnya istiqomah dan bersabar atas apapun godaan saat menghafal Al-qur'an.


"Jangan sekali-kali pindah dari tempat ini. Karna sekali saja kalian pindah, maka kalian tidak akan pernah merasa betah, dimanapun kalian mondok. Maka itu akan menjadi awal ketidak berhasilan kalian."


Layla mendesah panjang. Dipandanginya nomor milik pak Nurasmin di layar ponsel, yang tak kunjung ditekannya. Teringat ia bagaimana raut muka bahagia saat menemui pak Nurasmin dan bu Sofia ketika mengabarkan keinginannya untuk menjadi seorang penghafal Al-qur'an. Terlalu banyak pengorbanan orang tuanya. Apapun yang ia mau, tak ada yang tak dituruti. Apalagi ia adalah anak semata wayang mereka. Dan tetap di pondok itu dan melanjutkan kembali menghafal Al-qur'an, adalah satu-satunya cara untuk tetap mempertahankan kebahagiaan mereka. Dia juga tak mau menganggap main-main perkataan orang alim. Dia sudah mengalami bagaimana tersiksa dan merasa berdosanya ia ketika mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas atau prasangka buruk untuk Tuan Guru Izzul Islam dan almarhum Nyai Mustiani, saat menolak keras perjodohan mereka. Dia tak mau mengulanginya lagi.


Layla melepaskan kembali ponsel di atas meja. Ia mengangguk mantap dan bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Loh, gak jadi nelpon, Dik?" tanya pengurus ketika melihat Layla meletakkan ponsel di depannya. Layla hanya tersenyum. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia melangkah keluar. Pengurus itu hanya bisa menatapnya heran.


__ADS_2