KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#68


__ADS_3

Suara kokok ayam jantan terdengar bersahut-sahutan. Suara burung-burung yang hinggap di pepohonan tabebuya bercericit menyambut datangnya pagi. Wajah pagi memancar cerah kala matahari menampakkan wajahnya di ufuk timur.


Sulastri melangkah mendekati Farida yang masih tertidur lelap di atas ranjang di samping Fahmi. Setelah mencium kening keduanya, ia melangkah keluar rumah. Udara yang berhembus pagi ini begitu sejuk. Sulastri tersenyum ke arah pak Bayan yang nampak sedang berlari-lari kecil di halaman rumah. Di samping rumah, di bawah pohon tabebuya, terlihat juga bi Munawarah sedang mengumpulkan daun-daun tebebuya yang berserakan di halaman rumah.


Sulastri berjalan pelan menuju ke halaman samping rumah. Ia langsung saja bergegas ke belakang rumah ketika melihat asap yang mengepul.


"Bi, Rayhan masih tidur?" tanyanya ketika melihat bi Aisyah sedang membakar sampah kering dalam tong sampah. Kedatangan Sulastri yang tiba-tiba membuat bi Aisyah terkejut. Ia mengelus-elus dadanya.


"Masya Allah, Bu, saya jadi kaget," kata bi Aisyah. Sulastri tersenyum.


"Tadi subuh sempat bangun sebentar, Bu. Tapi sekarang sudah tidur lagi," kata bi Aisyah.


"Oya, Bi. Jam 8 nanti mungkin saya harus pergi melihat lahan yang sudah dibeli pak Sahril untuk perusahaan. Jangan biarkan Farida main sepeda dulu. Tangannya masih sakit,"


"Bagaimana keadaan Farida, Bu," kata bi Aisyah sembari lebih mendekat ke arah Sulastri.


"Alhamdulillah, sudah agak baikan. Lukanya sudah mulai mengering," kata Sulastri tersenyum sambil memegang pundak bi Aisyah.


Bi Aisyah mendesah panjang.


"Alhamdulillah, Bu. Mudah-mudahan ini yang terakhir kalinya ibu dan keluarga mendapatkan cobaan. Kedepannya, kehidupan ibu akan semakin lebih baik," kata bi Aisyah penuh harap mendongakkan kepalanya ke atas.

__ADS_1


Sulastri menganggukkan kepalanya seraya memejamkan mata.


"Amin. Doakan, Bi," kata Sulastri. Ia lalu melangkah menuju kamar tempat Rayhan tertidur diikuti bi Aisyah. Ia mencium kening Rayhan dan memperbaiki selimutnya. Setelah itu, ia kembali mengajak bi Aisyah keluar.


"Bi, nanti, ambilkan bi Munawarah kunci kamar di meja ruang tamu. Mulai Nanti malam, dia sudah bisa pindah ke kamar sebelah. Biar dia lebih nyaman istirahatnya. Biar dekat juga dengan dapur," kata Sulastri sambil mengajak bi Aisyah jalan-jalan ke kamar sebelah hingga berhenti di depan kubur Yulian Wibowo.


"Ya udah, Bi. Ajak bi Munawarah mempersiapkan makanan untuk sarapan kita. Suruh juga pak Bayan memanggil pak Ahmad. Kita akan sarapan sama-sama," kata Sulastri. Bi Aisyah menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ia lalu bergegas menemui bi Munawarah.


Bibir Sulastri terlihat komat-kamit setelah untuk beberapa saat tadi ia terlihat menunduk di depan kubur Yulian Wibowo. Matanya terlihat mulai berkaca-kaca. Tapi hari ini ia tidak ingin menangis karna ia yakin bukan itu yang dikehendaki Yulian Wibowo seperti yang tertera dalam suratnya. Yulian menginginkannya menjadi wanita yang kuat. Yang menganggap segala cobaan dan ujian yang dihadapinya kini adalah batu loncatan untuk memulai hidup yang lebih baik dan bermartabat. Ia harus melupakan dan menghapus trauma dari apa yang telah menimpanya. Dari dirinya sendiri dan juga anak-anaknya.Jika hidup hanya dilalui hanya dengan bermuram durja padahal ada banyak hal penting untuk ia lakukan, maka ia tak akan pernah menikmati hidupnya. Ia harus optimis. Apa yang dicita-citakan almarhum Yulian Wibowo harus tercapai di tangannya.


Setelah selesai berdoa, Sulastri bangkit dan melangkah penuh semangat menuju halaman depan rumah. Angin pagi yang berhembus sejuk ikut menyejukkan perasaannya hari ini. Tak henti-henti ia mengumbar senyum.


Sesampainya di teras rumah, Sulastri memilih duduk di kursi rotan teras rumah sambil menunggu kedatangan pak Sahril dan pak Pratama. Pak Bayan sudah tidak terlihat berlari-lari di halaman. Mungkin ia pergi ke rumah pak Ahmad. Hanya bi Munawarah yang masih menyapu di halaman. Sesekali ia terlihat mengaso mengusap peluh.


Dengan halaman rumah seluas itu, butuh waktu berjam-jam untuk membersihkannya agar bersih sempurna. Bi Munawarah yang sudah ia bagi tugas di bagian dapur, tentu akan tersita waktunya hanya untuk membersihkan halaman. Apalagi saat ini, anggota penghuni rumah itu sudah bertambah. Pak Ahmad, walaupun tidak tinggal di rumah itu, tapi tetap ia hitung dapat jatah makan tiga kali. Ia berpikir ada baiknya ia mencari satu orang pekerja lagi yang akan membantu tugas bi Munawarah di dapur.


Sulastri mendesah. Ia mengernyitkan keningnya. Sepertinya ia sedang mengingat sesuatu yang penting.


Melihat bi Munawarah dari kejauhan, seperti kembali mengingatkannya pada seorang sahabat yang bentuk perawakannya mirip sekali dengan tubuh bi Munawarah. Apalagi dengan cara mengikat rambutnya.


Sulastri mengarahkan pandangannya jauh ke arah persawahan yang terlihat dari gerbang yang terbuka lebar. Ia tiba-tiba teringat Rahima. Ia tiba-tiba saja merindukannya. Mungkin, saat ini Rahima juga sedang mengingat dan merindukannya juga. Gumam Suastri dalam hati. Sulastri mendesah panjang.

__ADS_1


Dia tidak tahu bagaimana kabar Rahima saat ini. Ia sudah berjanji, jika suatu hari nanti ia diberi kelapangan oleh Allah, ia akan mencari Rahima dan mengeluarkannya dari segala kesusahan hidupnya. Tapi ia tidak tahu saat ini keberadaan Rahima. Walaupun jelas saat ini ia bersama mami Zelayin, namun ia tetap akan kesulitan mencarinya. Dia tidak tahu kemana mami Zelayin setelah menjual tanah miliknya. Ia berharap, Rahima baik-baik saja.


Sulastri tersenyum. Setelah beberapa saat terdiam memikirkan Rahima, ia sepertinya menemukan ide. Ia segera bangkit dan melangkah menuju ruang tamu. Laptop yang ada di bawah meja ruang tamu diambilnya. Sembari terus tersenyum, ia mulai menulis sesuatu.


"Bu, Bu," terdengar panggilan dari arah luar. Sulastri menoleh. Dia melepaskan beberapa kertas HVS yang akan ia gunakan untuk memprint out tulisan yang baru saja selesai diketiknya. Segera saja ia bangkit dan melangkah menuju sumber suara.


"Ada apa, Pak Bayan," kata Sulastri ketika melihat pak Bayan berdiri dengan nafas ngos-ngosan di depan rumah.


Pak Bayan menggaruk-garuk kepalanya.


"Anu, Bu. Tadi ketika saya lari-lari sampai ujung jalan, saya melihat ada mobil di samping tembok pagar rumah. Mungkin itu adalah mobil perempuan yang mengacau tadi malam," kata pak Bayan.


Suastri mengernyitkan dahinya. Tanpa bertanya lebih lanjut, Ia segera mengajak pak Bayan melihat mobil itu.


Sulastri memeriksa mobil mewah yang terparkir di bawah tembok pagar rumah. Tempatnya yang agak menjorok dan dikelilingi oleh rerimbunan pohon dan semak-semak, membuat mobil itu hampir tak terlihat. Sulastri memeriksa dengan seksama keseluruhan bodi mobil mewah itu. Sulastri mengerutkan dahinya. Seperti mulai mengingat sesuatu. Mobil itu pernah ia lihat dipakai oleh Yulian Wibowo. Saat itu, ia menyangka Yulian Wibowo telah membeli mobil baru. Saat ia tanyakan, Yulian Wibowo mengatakan bahwa ia meminjam mobil milik Rianti karna mobilnya masih ada perbaikan di bengkel.


"Benar, Pak Bayan. Ini memang milik Rianti," kata Sulastri.


Pak Bayan mendekat dan membuka pintu depan mobil.


"Kuncinya masih ada di dalam, Bu," kata pak Bayan. Sulastri mendekat ke arah pintu.

__ADS_1


"Kalau begitu, bawa mobilnya ke dalam, Pak," suruh Sulastri. Pak Bayan mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobil. Sulastri sendiri bergegas kembali menuju rumah.


* * *


__ADS_2