KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#174


__ADS_3

Sementara itu, Sulastri masih bersedekap menyandarkan tubuh lemahnya, ditemani Fahmi, bi Aisyah, pak Bayan, pak Mustarah dan Munawarah sedang duduk di sofa ruang tamu. Dia sengaja mengumpulkan semua yang ada di rumah itu untuk lebih sedikit menenangkan hatinya. Setelah mendapatkan penjelasan dari pak Sahril terkait hasil pembicaraannya dengan Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti. Dia terlihat cemas. Dia tidak bisa menafikan, bahwa apa yang sedang dialami Rianti kini mau tidak mau harus ikut dipikirkannya. Rianti yang baru saja menikmati masa-masa indahnya bersama Tuan Guru Izzul Islam, kini harus terpisah jika ia terbukti melakukan pelanggaran.


Fahmi menuangkan segelas air dan memberikannya kepada Sulastri ketika batuk Sulastri tak henti-henti terdengar. Bi Aisyah yang ada di sampingnya tak henti-henti mengusap punggungnya.


"Bu, besok kita ke rumah sakit ya. Sudah tiga hari ini kesehatan ibu tak kunjung juga membaik." kata Fahmi penuh harap memohon kesediaan Sulastri untuk dibawa ke rumah sakit. Sulastri mendesah. Ekspresi wajah yang coba dibuatnya tenang tak bisa ia sembunyikan. Wajahnya terlihat lesu dan tak bersemangat.


"Kan ibu sudah diperiksa dokter Kandar, Nak. Itu sudah cukup," jawab Sulastri. Fahmi mendesah panjang. Kedua telapak tangan Sulastri dipegangnya.


"Ya, Fahmi tahu. Tapi dokter Kandar bilang sebaiknya ibu dibawa ke rumah sakit biar dapat perawatan intensif," kata Fahmi.


"Ya ntar kalau ibu sudah siap. Sekarang ibu masih merasa baik-baik saja," kata Sulastri. Jawaban Sulastri membuat Fahmi tak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Bi Aisyah dan bi Munawarah tidurnya sama ibu ya." kata Fahmi menatap bergantian ke arah bi Aisyah dan Munawarah.


Keduanya mengangguk.


"Ayo, Bu. Sudah jam 12. Sudah saatnya ibu istirahat," kata bi Aisyah. Sulastri menganggukkan kepalanya dan mengangkat tubuhnya pelan dibantu bi Aisyah dan Fahmi.


"Munawarah, kamu buatkan ibu minuman hangat ya," kata Bi Aisyah. Munawarah menganguk dan segera bergegas bangkit dan keluar rumah.


"Pak Fahmi, jadi kita tunggu di pos jaga?" kata pak Bayan setelah meminta ijin keluar. Fahmi tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


Malam beranjak larut. Udara yang berhembus terasa dingin. Langit gelap. Hening dan khusyu' dalam zikir panjang.


Rianti mengangkat berat tubuhnya setelah melipat mukena di atas sajadah usai shalat sunnah. Tuan Guru Izzul Islam yang sedang membaca Al-qur'an di sampingnya, ikut mengakhiri bacaannya. Ia segera membantu Rianti bangkit dari duduknya. Rianti kemudian diajaknya duduk di sofa.


"Bagaimana, Dik. Apa kamu sudah siap untuk yang besok," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti mengangguk. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Tuan Guru Izzul Islam.


"Kak Tuan akan kehilanganku, entah berapa tahun hukuman yang harus aku jalani. Enam bulankah atau mungkin dua belas tahun," kata Rianti.


"Kenapa aku merisaukan berapa tahun adik akan dipenjara, sedangkan aku sudah melewati masa yang sangat panjang sampai aku memilikimu kini." Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang.


"Perpisahan itu, entah kapan itu, pasti akan terjadi. Istri, anak dan segala yang kita punya hanyalah titipan. Ketika suatu hari nanti titipan itu diambil pemiliknya, kita tak akan merasa kehilangan."


"Kak Tuan tidak akan menangisiku jika nanti aku di penjara?"


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Dia mencium pipi Rianti begitu lama. Matanya berbinar-binar. Air matanya tiba-tiba keluar. Bahkan tetesannya membasahi pipi Rianti.


Mengetahui Tuan Guru Izzul Islam menangis, Rianti melingkarkan salah satu tangannya di leher Tuan Guru Izzul Islam. Pipi Tuan Guru Izzul Islam di ciumnya lama.


"Bagaimana aku tidak sedih jika permata satu-satunya milikku hilang? Sebaik-sebaik perhiasan dunia adalah istri yang shalehah." Tuan Guru Izzul Islam mengecup kening Rianti. Tangan Rianti masih tak mau lepas dari merangkul leher Tuan Guru Izzul Islam. Kini Rianti yang gantian menangis. Tangisnya melebihi tangis Tuan Guru Izzul Islam.


Tuan Guru Izzul Islam membiarkan saja Rianti menangis hingga ia tangisnya reda beberapa saat kemudian.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Jika Kak Tuan menganggap aku sebagai istri yang shalehah, inilah kebahagiaan paling tinggi untukku. Kak Tuan telah memberikan tiket surga untukku," kata Rianti. Ia meraih telapak tangan Tuan Guru Izzul Islam dan menciumnya. Rianti kembali dipeluknya.


"Tapi Kak Tuan akan kesepian. Kata orang, menahan nafsu ketika telah bersuami istri itu lebih berat dibandingkan dengan masih bujang. Aku tak bisa melayani kebutuhan bioligis Kak Tuan untuk masa yang lama," kata Rianti masih dengan seseunggukannya.


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Dia melepaskan rangkulan tangan Rianti. Dia mengambil sorban di atas meja dan mengusap sisa air mata di wajah Rianti.


"Nafsu syahwat adalah salah satu cobaan terberat bagi manusia, laki maupun perempuan. Itu sebabnya Nabi saw memberikan solusi terbaik untuk menguasai nafsu itu. Salah satunya dengan berpuasa. Semoga Allah memberikan ganjaran terbaik atas musibah yang kita alami ini." Tuan Guru Izzul Islam mengusap-usap perut Rianti.


"Jika memang nanti adik harus tinggal di penjara, anak kita akan mengerti bahwa hidup di dunia tidak hanya sekedar bicara tentang kesenangan dan kebahagiaan. Kesedihan akan selalu mengiringi kesenangan. Aku yakin, penjara akan jadi tempat terbaik bagi adik untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Selama di penjara, fokuskan pengabdian adik kepada Allah. Adik akan semakin lebih baik seperti halnya ketika adik di penjara dulu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti tersenyum.


"Terimakasih, Kak. Anugrah terbaik yang diberikan Allah kepadaku adalah bisa memiliki Kak Tuan,"kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam membelai lembut rambut Rianti.


"Aku tahu kamu wanita yang kuat. Aku juga tahu adik akan baik-baik saja sebesar apapun musibah yang menimpa adik." Tuan Guru Izzul Islam menghela nafas panjang. Ia menatap lekat Rianti.


" Sekarang istirahatlah. Sudah larut. Ayo biar aku gendong adik ke tempat tidur,"


"Jangan lupa bacakan adik shalawat sampai adik tertidur ya?" kata Rianti manja. Dagu Tuan Guru Izzul Islam dicoleknya lembut. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia bangkit. Tubuh Rianti kemudian diangkatnya pelan dan membawanya ke tempat tidur. Sesekali diciumnya penuh kehangatan kening dan bibir Rianti.


"Sekarang tidurlah. Aku mau melihat ibu dulu. Jangan lupa berdoa," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti tersenyum menganggukkan kepala. Lampu utama di ruangan itu dimatikan Tuan Guru Izzul Islam dan menyisakan lampu berwarna biru di samping tempat tidur. Setelah meletakkan selimut di atas tubuh Rianti, Tuan Guru Izzul Islam melangkah keluar kamar.


Jamila segera turun dari atas ranjang ketika terdengar ucapan salam dari Tuan Guru Izzul Islam dari luar kamar. Suhaini yang sedang memijat kaki Nyai Mustiani segera membenahi jilbab dan pakaiannya. Ia mengambil posisi berdiri, bersiap menyambut kedatangan Tuan Guru Izzul Islam.


Tuan Guru Izzul Islam segera mendekat ke arah Nyai Mustiani. Nyai Mustiani yang kembali terjaga setelah sempat terlelap beberapa menit tadi, tersenyum ke arah Tuan Guru Izzul Islam.


"Siapa yang memasang infusnya?" tanya Tuan Guru Izzul Islam.


"Saya, Tuan Guru," jawab Suhaini dengan suara serak. Ia tetap menundukkan wajahnya.


"Wah, hebat. Kamu kok langsung bisa, Suhaini," kata Tuan Guru Izzul Islam. Suhaini tersenyum.


"Katanya dia sering memasangkan infus untuk ibunya. Awalnya ibu merasa takut. Takut si Suhaini salah. Tapi dia bisa," jawab Nyai Mustiani dengan suara lemahnya. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk. Ia lalu menatap keduanya. Keduanya nampak lelah. Sudah jam 2 malam. Tuan Guru Izzul Islam merasa sudah waktunya keduanya istirahat.


"Suhaini, Jamila. Kalian istirahat dulu di sana," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil menunjuk ke arah ruang kecil yang merupakan mushalla pribadi Nyai Mustiani. Keduanya hanya terdiam saling lirik.


"Ayo sana, Suhaini, Jamila. Sekarang giliran Tuan Guru yang menjaga. Kalian istirahat dulu," kata Nyai Mustiani. Keduanya menangguk dan melangkah pelan menuju ruangan itu.


Nyai Mustiani mendesah pelan. Tangan Tuan Guru Izzul Islam dipegangnya. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Telapak tangannya yang satu diletakkannya di atas punggung telapak tangan Nyai Mustiani.


"Nak, tadi ibu mimpi ketemu ayahmu. Kali ini ia tersenyum kepada ibu. Ayahmu ganteng sekali, Nak. Wajahnya bersinar seperti rembulan. Walaupun tak bicara sama ibu, tapi dia lama sekali duduk di samping kepala ibu." Nyai Mustiani menghentikan ceritanya. Ia tersenyum ke arah langit-langit kamar dan mencoba mengingat kembali apa yang ia lihat dalam mimpinya.


"Melihat itu, ibu kok pingin sekali ikut ayahmu." Nyai Mustiani menatap ke arah Tuan Guru Izzul Islam.


"Jika sudah waktunya, tidak hanya ibu, Izzul pun pasti akan menyusul ayah," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil menepuk pelan punggung telapak tangan Nyai Mustiani. Nyai Mustiani mendesah panjang. Ia masih merasakan nyeri di dadanya setiap kali menghela nafas.

__ADS_1


"Ibu ternyata tidak bisa seperti istrimu. Dia yang mendapat musibah terlihat begitu tenang seakan-akan dia menginginkan musibah itu. Ibu sudah mencoba seperti dia, tapi jantung ibu memang terlalu lemah. Istrimu benar-benar wanita hebat. Sulit sekali menemukan orang seperti dia. Ada sosok seorang sufi wanita, Rabiatul Adawiyah dalam dirinya. Tak perlu dipertanyakan lagi kenapa Allah memperlihatkannya dalam mimpi indahmu setelah melalui istiharah panjangmu." kata Nyai Mustiani dengan suara terbata-bata.


"Alhamdulillah. Itu semua juga berkat doa ibu."


Nyai Mustiani menggerakkan tubuhnya pelan. Tangan Tuan Guru Izzul Islam dilepasnya.


"Ibu mau duduk bersandar, Nak. Tolong bantu ibu," kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam segera menyusun beberapa bantal di atas kepala Nyai Mustiani. Setelah itu, ia mengangkat tubuh Nyai Mustiani pelan dan menyandarkannya di susunan bantal.


Nyai Mustiani memberi isyarat dengan tepukan tangannya agar Tuan Guru Izzul Islam naik ke atas tempat tidur.


"Nak, selama kamu jadi Tuan Guru, ibu sama sekali tak pernah mendengar pengajianmu langsung. Sebagai ibu, ibu seperti meremehkanmu saja. Padahal jamaahmu banyak," kata Nyai Mustiani setelah Tuan Guru Izzul Islam berada di sampingnya. Ketika Tuan Guru Izzul Islam hendak memijit kakinya, Nyai Mustiani mencegahnya.


"Sekarang, ibu mau kamu menceritakan kisah-kisah menarik di dalam kitab-kitab yang kamu kaji. Emh...kayaknya ibu mau dengar beberapa kelebihan orang yang sedang sakit. Biar ibu tidak terlalu banyak mengeluh," kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam hanya tersenyum. Walaupun ia sudah berpengalaman memberikan tausiyah kepada para jamaahnya, namun di depan Nyai Mustiani, ia masih merasa sungkan.


"Ayolah, Nak. Ibu serius ingin mendengarkan hal-hal baik yang akan mendekatkan ibu kepada Allah. Apalagi di saat sakit seperti ini." Nyai Mustiani mengalihkan pandangannya ke arah mushalla pribadinya. Dia tersenyum sendiri. Seperti sedang mengingat sesuatu.


"Ibu pernah mendengar ayahmu memberikan pengajian. Ilmu itu adalah makanannya hati. Seperti halnya tubuh manusia yang sakit, jika tidak diberi makan, minum dan obat selama tiga hari, maka kita akan mati. Demikian juga dengan hati. Jika selama tiga hari hati kita tidak diberi makanannya berupa ilmu dan nasehat-nasehat kebaikan, hati itu juga akan mati. Benar begitu?" kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan mengangguk kecil.


"Jika hati sudah mati, maka ia akan tertutup dari kebaikan," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Ayolah, Nak. Ceritakan ibu apa yang akan diperoleh orang sakit yang bersabar dalam sakitnya," sambung Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Ia memperbaiki posisi duduknya.


" Allah akan mengutus empat orang malaikat sebelum orang yang beriman di beri ujian berupa sakit. Malaikat pertama diperintahkan Allah untuk mengambil kekuatannya. Itu sebabnya orang yang sakit akan menjadi lemah. Malaikat kedua, diperintahkan Allah untuk mengambil kelezatan makanan dari mulutnya sehingga ia tak berselera lagi menyantap makanannya. Malaikat yang ketiga diperintahkan untuk mengambil cahaya wajahnya sehingga pucatlah wajahnya. Dan malaikat yang ke empat, Allah perintahkan untuk mengambil seluruh dosanya, sehingga ia bersih dari dosa-dosanya." Tuan Guru Izzul Islam menghentikan kata-katanya. Nyai Mustiani terlihat khusyu' mendengarkan. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Wajah perempuan yang telah membesarkannya membuatnya hendak mengeluarkan air matanya.


"Jika Allah menghendaki orang beriman itu sembuh dari penyakitnya, Allah kembali memanggil ke empat malaikat itu. Malaikat pertama diperintahkan untuk mengembalikan kembali kekuatannya. Malaikat kedua mengembalikan kelezatan di mulutnya dan malaikat yang ketiga mengembalikan cahaya di wajahnya sehingga ia menjadi segar kembali." Tuan Guru Izzul Islam berhenti sejenak. Kerongkongannya terasa kering. Ia ingin sekali mengambil minuman di atas meja, tapi ia tidak mau memotong kekhusyuan ibunya mendengarkan pengajiannya. Ia hanya menelan ludahnya pelan.


"Malaikat ke empat sujud di hadapan Allah. Ia lalu berkata, Ya, Allah. Engkau telah memerintahkan ketiganya untuk mengembalikan apa yang telah mereka ambil dari hamba-Mu yang sakit. Tapi kenapa Engkau tidak memerintahkanku untuk mengembalikan dosa-dosa yang telah aku ambil darinya? Allah swt berfirman: Demi Kemuliaan-Ku, kamu tidak akan mengembalikan dosa hamba-Ku.


Malaikat itu berkata, lantas apa yang harus aku lakukan wahai, Tuhanku. Allah berfirman, pergilah dan lemparkan dosa-dosa itu ke laut. Malaikat ke empat itupun pergi ke laut dan melemparkan dosa-dosa itu. Kemudian Allah menciptakan dari dosa-dosa itu buaya di laut. Dan jika orang yang sakit itu ditakdirkan mati, maka dia akan mati dalam keadaan suci dari segala dosanya. Wallahu A'lam. Itu yang diceritakan dalam kitab usfuriyah, Bu. Semoga kita termasuk orang-orang beriman yang sabar dalam menghadapi ujian sakit," kata Tuan Guru Izzul Islam menutup ceritanya.


Nyai Mustiani tersenyum. Tangan Tuan Guru Izzul Islam dipegangnya.


"Subhanallah, Nak. Mendengar ceritamu, rasa nyeri di dada ibu sudah tidak terasa lagi. Semoga ibu tak mengeluh menghadapi musibah ini," kata Nyai Mustiani.


"Amin," ucap Tuan Guru Izzul Islam.


"Ibu mau istirahat, Nak. Kamu kembali ke kamarmu. Istrimu membutuhkanmu,"kata Nyai Mustiani.


"Gak apa-apa, Bu. Kalau Izzul meninggalkan ibu, ibu akan sendiri di sini," kata Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani tersenyum.


"Gak, Nak. Ibu sudah ngantuk. Ibu mau istirahat," jawab Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya. Setelah mengecup kening dan mencium punggung tangan Nyai Mustiani, Tuan Guru Izzul Islam perlahan turun dari tempat tidur.


"Assalamualaikum, Bu," ucap Tuan Guru Izzul Islam.

__ADS_1


"Waalaikum salam," jawab Nyai Mustiani lirih sembari tersenyum.


__ADS_2