
Sinar terang perlahan mulai menyingsingkan gelap. Pintu gerbang utama menuju lapas masih terkunci. Suasana di pos jaga juga masih terlihat sepi. Lampu-lampu masih terlihat menyala. Angin berhembus dingin.Jamila menyedekapkan kedua tangannya dan mengerutkan tubuhnya mencari kehangatan di balik bajunya. Setelah tukang ojek menurunkannya tepat di depan gerbang lapas, ia hanya berdiri menunggu ada seseorang yang sudah terbangun di dalam sana.
Suara batuk terdengar. Jamila menoleh. Di lihatnya seorang laki-laki berperawakan tinggi berjalan menuju pintu gerbang. Jamila mendekat. Ia tersenyum ketika melihat laki-laki itu menatapnya heran.
"Jamila?" katanya setelah agak lama memperhatikan Jamila. Jamila tersenyum mengganggukkan kepala. Laki-laki itu kemudian membuka pintu gerbang dan menyuruh Jamila masuk.
"Ada apa pagi-pagi sudah ada di depan gerbang, Jamila."Kata laki-laki itu. Ia mengerutkan dahinya ketika melihat cara jalan Jamila yang setengah pincang. Ia juga memperhatikan wajah Jamila yang terlihat pucat.
"Saya harap apa yang ada dalam pikiranku saat ini tidak benar," sambung laki-laki itu sebelum Jamila menjawab pertanyaannya.
"Maksud, Bapak?" tanya Jamila.
"Saya harap kamu tidak kembali ke duniamu yang dulu. Setelah bebas kembali bergaul dengan teman-teman jalananmu," kata laki-laki itu. Ia mempersilahkan Jamila duduk ketika mereka telah sampai di pos jaga.
"Na'udzubillahi min zalik, Pak. Lebih baik saya mati jika harus mengulang kesalahan yang sama." Jamila mendesah panjang.
"Alhamdulillah. Emh..., ngomong-ngomong, kamu sekarang tinggal dimana,"
Jamila tersenyum.
"Di rumahnya bu Sulastri, Pak," jawab Jamila mantap. Laki-laki itu megangguk. Ia bangkit dan mengambil dua buah gelas plastik dan menuangkannya kopi di dalam termos kecil. Ia lalu memberikan salah satunya kepada Jamila. Jamila tersenyum.
" Pak, apa saya bisa bertemu Rianti?"
"Boleh, tapi seperti biasa harus menunggu jam sembilan nanti. Tunggu sampai kegiatan di dalam selesai,"
Jamila mendesah. Masih empat jam lagi. Jika hanya duduk-duduk di sana, tentu akan membosakannya. Ia harus melakukan sesuatu agar penantiannya tidak terasa. Jamila menoleh kesana kemari. Ia tersenyum ketika melihat sapu lidi bersandar di tembok.
"Mau kemana Jamila," kata laki-laki itu ketika melihat Jamila bangkit dari duduknya dan melangkah menuju tempat sapu lidi bersandar.
"Saya bantu bersih-bersih halaman ya, Pak," kata Jamila. Laki-laki itu memandang Jamila. Ia kemudian tersenyum.
__ADS_1
"Boleh, silahkan," kata laki-laki itu. Jamila tersenyum. Ia pun bergegas mengambil sapu.ia kemudian melangkah menuju halaman dan mulai menyapu.
* * * * *
"Lik, sini, Lik," panggil Tuan Guru Izzul Islam yang sedang menikmati secangkir kopi di teras rumah. Abdul khalik yang sedang membersihkan halaman rumah bergegas mendekat.
"Kamu panggil Zaebon, ya. Suruh dia memanaskan mobil. Bilang kalau hari ini kita akan ke lapas menjenguk ibu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Abdul khalik menganggukkan kepalanya dan segera pergi memanggil Zaebon.
Suara burung tekukur yang tergantung di samping rumah, juga burung-burung pingai yang riuh berebut makanan di halaman rumah, menceriakan suasana pagi ini.
Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Pikirannya tiba-tiba tertuju pada sosok Jamila. Sudah satu malam gadis itu belum juga ditemukan. Ia jadi memikirkannya. Bukan karna apa-apa. Selain memikirkan Rianti yang menganggap Jamila begitu penting dalam hidupnya sehingga akan membebani pikirannya, juga karna ia merasakan hal yang sama yang dirasakan Rianti. Rasa kasihan karna Jamila tidak punya satupun keluarga. Di saat kebebasan yang seharusnya dirayakan dengan berkumpul bersama keluarganya, ia malah hilang tanpa tujuan. Ia membayangkan saat ini dia akan sendiri di jalanan. Bagaimana jika ia bertemu orang jahat dan memperlakukannya tidak baik?
Tuan Guru Izzul Islam kembali mendesah. Ia menyandarkan tubuhnya. Pandangannya menerawang ke arah depan.
Sangat beralasan jika Rianti ingin ia menikahi Jamila. Selain ia tak punya apa-apa dan ditakutkan terjerumus ke dunia masa lalunya, status Jamila yang merupakan Hafiz Al-qur'an menghukuminya wajib menikahi Jamila. Secara tidak langsung, Jamila adalah Al-qur'an berjalan yang harus dijaga dan dimuliakan. Tanpa mengenyampingkan Rianti, bukankah sangat mulia bila ia memiliki dua orang wanita penghafal Al.qur'an. Wanita-wanita yang mulutnya harum karna kalimat-kalimat suci yang menghias bibirnya? Tapi lagi-lagi, semua keputusan dan persetujuan ada pada Jamila. Jika ia memang mau menikah dengannya sesuai dengan permintaan Rianti, tentu ia tidak akan kabur dan pergi dari rumah. Tak ada alasan lain, Jamila tentu tak menyetujui pernikahan itu.
"Assalamualaikum."
Suara salam Zaebon membuyarkan lamunanTuan Guru Izzul Islam. Ia segera bangkit. Setelah memperbaiki letak kopiah dan sorbannya, Tuan Guru Izzul Islam segera melangkah menuju mobil di ikuti Zaebon.
"Ayo, kalau kamu mau ganti pakaian, saya tunggu," kata Tuan Guru Izzul Islam setelah melihat Abdul khalik hanya berdiri di tempatnya.
"Pakai ini saja, Tuan Guru," kata Abdul khalik. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk dan menyuruh Abdul khalik masuk ke dalam mobil.
* * * * *
Jamila menunggu dengan dada berdebar di ruang tunggu. Setelah selama empat jam ia menunggu, petugas piket mempersilahkannya masuk ke dalam ruang pertemuan. Ia sudah tak sabar ingin segera melihat Rianti. Menghilangnya satu malam dari rumah Sulastri membuatnya seperti terpisah dari Rianti bertahun-tahun lamanya. Ia tak sabar ingin memeluk Rianti. Ia sengaja duduk menghadap ke arah pintu ruangan itu, agar ketika melihat Rianti datang, ia akan langsung melihat wajahnya.
Air mata Jamila meleleh tak terkendali ketika melihat Rianti dengan langkah berat keluar dari ruangan lapas. Rianti sendiri terkejut ketika menoleh ke arah ruang pertemuan, Jamila terlihat sesenggukan dalam tangisnya. Sambil memegang perutnya, Rianti bergegas menuju ruang pertemuan. Jamila segera bangkit dan berlari ke arah Rianti. Sebelum Rianti masuk ke ruang pertemuan, Jamila sudah terlebih dahulu memeluk tubuhnya.
Untuk beberapa saat, tak ada kata-kata yang keluar dari mulut keduanya. Keduanya larut dalam isak tangis. Saling memeluk erat dan tak mau saling melepaskan. Keduanya bergantian saling mencium pipi masing-masing.
__ADS_1
Rianti melepas pelan pelukannya dari tubuh Jamila. Ia kemudian mengusap air mata di pipi Jamila. Hal yang sama dilakukan oleh Jamila ketika Rianti selesai menghapus air matanya.
Kemana saja kamu, Jamila. Untuk satu malam ini kamu sudah membuatku kecewa. Pergi kemana kamu, Jamila. Kamu tidak punya siapa-siapa di luar sana. Siapa yang akan membantuku merawat bayi ini kalau kamu pergi?" kata Rianti. Wajah Jamila dipegangnya. Air mata Jamila kembali meleleh.
"Maafkan aku, Rianti. Keinginanmu membuatku kaget. Aku merasa tak pantas, apalagi berbagi suami dengan sahabatku sendiri," kata Jamila sesenggukan.
"Gak ada yang melarang itu, Jamila. Aku sebagai istri Tuan Guru yang menginginkannya sendiri. Kenapa kamu harus mendengar kata orang ataupun keraguan dalam hatimu? Banyak hal yang bisa kita lakukan terutama untuk memajukan pesantren. Dan ini adalah tugas mulia, Jamila. Bukan karna aku tak mampu melayani Tuan Guru, tapi aku ingin memuliakanmu sebagai seorang penghafal kalam suci Tuhan," kata Rianti. Jamila menggelengkan kepalanya. Tangisnya semakin deras mengalir. Tubuh Rianti kembali di peluknya. Rianti tersenyum. Kepala Jamila di usapnya lembut.
"Aku tak perlu menjelaskanmu terlalu detail alasanku ini. Aku yakin kamu sudah mengerti maksudku. Mengangguklah dan iyakan keinginanku ini, Jamila," kata Rianti. Jamila masih sesenggukan dalam tangisnya. Setelah menunggu beberapa lama Jamila puas dalam tangisnya, ia menganggukkan kepalanya. Rianti tersenyum. Ia melepaskan pelukan Jamila. Wajah Jamila dipegangnya. Dipandangnya mata Jamila lekat.
"Sekali lagi, Jamila. Kamu mau menikah dengan suamiku?" tanya Rianti lembut mempertegas. Jamila menganggukkan kepalanya. Gantian ia yang memeluk Jamila.
"Malam ini adalah malam jumat. Aku yakin Allah meridhai keinginanku ini. Kamu kembali tepat dimana malam nanti adalah malam jumat. Malam yang aku inginkan kamu menikah dengan tuan Guru. Lebih cepat lebih baik, Jamila. Inilah ketergesa-gesaan yang dianjurkan," bisik Rianti lembut di telinga Jamila. Jamila tersenyum sembari mengangukkan kepalanya.
"Ayo, kita duduk dulu. Anak ini tidak mau membiarkanku berdiri terlalu lama. Dia dari tadi menendang terus," kata Rianti sambil memperlihatkan perutnya kepada Jamila. Jamila tersenyum. Ia membungkukkan tubuhnya dan mencium perut Rianti.
"Apa kabar, Nak. Bibi rindu walaupun baru tiga hari meninggalkan kalian," kata Jamila lembut seraya kembali mencium perut Rianti. Rianti kemudian mengajak Jamila ke ruang pertemuan.
"Bagaimana kamu menjalani hari-harimu dengan keadaan hamil seperti ini, Rianti. Siapa yang menemanimu mengambil air wudhu dan mengambil air panas untuk menyeduh minumanmu. Setiap malam aku memikirkannya. Alhamdulillah, kamu terlihat sehat," kata Jamila sambil memegang tangan Rianti setelah keduanya duduk di kursi.
Rianti mendesah dan tersenyum.
"Siapa lagi. Setelah kepergianmu, aku harus sendiri melakukannya. Tapi kata dokter, aku memang harus banyak bergerak. Mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan saat melahirkan nanti. Amalan yang pernah kamu berikan, selalu aku wiridkan," jawab Rianti. Jamila tersenyum.
"Tapi entahlah, kata dokter, mungkin aku akan melahirkan di penjara. Itu baru perkiraan, semoga saja aku bisa melahirkan di rumah agar orang-orang terkasihku ada di dekatku," kata Rianti penuh harap sambil tersenyum.
"Amin," ucap Jamila.
Suara klakson mobil terdengar sekali dari arah gerbang.
"Itu mungkin kepala lapas. Aku ingin mengundangnya langsung ke acara akad nikahmu nanti malam," kata Rianti. Ia berusaha berdiri namun Jamila memegang tangannya.
__ADS_1
Jamila memandang Rianti dengan muka memerah menahan malu.
"Jangan dulu, Rianti. Ku mohon, akadnya jangan ramai-ramai. Aku sudah mengabulkan permintaanmu. Sekarang, gantian kamu yang harus mengikuti keinginanku," kata Jamila penuh harap. Rianti menatap Jamila dan tersenyum. Ia kembali duduk.