
Lastri menoleh. Ia menghentikan langkahnya. Dilihatnya Rahima berlarian ke arahnya.
"Ada sebuah pondok kecil di tepi sawah, kira-kira 300 meter dari tempat ini. Kamu bisa singgah di sana sambil menunggu pagi. Hati-hati, si Jamblang dari kemarin sudah merencanakan akan memperkosamu. Suniri memberitahuku, makanya aku memanggilmu lagi" bisik Rahima setelah sampai di dekat Sulastri. Tubuhnya menempel di tubuh Sulastri. Sulastri melirik ke arah rerimbunan pohon pisang tempat dimana Jamblang berjaga. Sulastri memegang tangan Rahima cemas.
"Terus, bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan," tanya Sulastri.
"Pergilah, aku akan menunggunya di sini. Ayo, berangkatlah. Hati-hati di jalan," kata Rahima. Ia mendorong tubuh Sulastri agar segera keluar dari tempat itu. Setelah itu, Rahima berbalik dan pura-pura menuju ke pondoknya untuk mengelabui Jamblang yang ia yakini tengah bersiap-siap menyusul kepergian Sulastri. Suasana yang masih gelap, membuat Rahima tak terlihat ketika ia kembali ke gerbang masuk melewati sela-sela pohon pisang. Dari tempatnya bersembunyi, ia melihat Jamblang keluar dari tempat jaganya. Ia terlihat mengendap-endap sambil menoleh ke sana kemari. Rahima perlahan mengeluarkan tubuhnya dari balik sela-sela pohon pisang. Ia menggenggam kuat pisau di tangannya.
"Mau kemana kamu, Jamblang!" teriak Rahima. Jamblang terkejut. Dia tidak menyangka Rahima tiba-tiba sudah berdiri di luar gerbang.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Rahima. Gak takut kamu aku laporkan ke mami," bentak Jamblang.
Rahima mengacungkan pisau di tangannya.
"Hei, ada apa ini, Rahima, mami Zelayin akan memarahimu habis-habisan jika dia tahu kamu menghalangi tugasku"
"Tugas apa, Jamblang. Jangan membohongiku. Jangan kira aku tidak tahu, kamu mau memperkosa Lastri, kan?" Rahima tersenyum ketus. Ia menggeleng.
"Jangan macam-macam kamu, Rahima, minggir!" bentak Jamblang keras. Ia tidak mempedulikan Rahima yang berdiri menghadang, masih dengan mengacungkan pisau di tangannya. Karna Jamblang seperti tak menghiraukannya, ia sabetkan pisau di tangannya ke lengan Jamblang.
Jamblang kaget dan mundur beberapa langkah. Lengannya yang sobek dan mulai mengeluarkan darah, membuatnya mengaduh kesakitan . Ia menggeram marah. Tatapannya tajam ke arah Rahima.
Mami Zelayin yang berada di dalam pondoknya menoleh ke arah pintunya yang masih terbuka. Beberapa orang perempuan penghuni komplek terlihat berhamburan ke arah pos jaga.
"Hei, Suniri, ada apa," panggil mami Zelayin kepada salah satu mereka. Perempuan yang dipanggil Suniri itu berhenti.
"Rahima dan Jamblang, Mami," jawab Suniri.
__ADS_1
"Ada apa lagi sih," gerutu mami Zelayin. Ia segera menuruni anak tangga dan segera menuju arah suara.
"Ya, Tuhan, apa yang sedang kalian berdua lakukan. Rahima, apa-apaan ini, singkirkan pisau itu," teriak mami Zelayin. Ia begitu kaget ketika melihat Rahima masih mengacungkan pisaunya ke arah Jamblang. Bertambah kaget ketika melihat lengan Jamblang yang berdarah.
"Ada apa ini, Rahima. Lepaskan pisau itu!" teriak mami Zelayin kedua kalinya. Rahima menjatuhkan pisau di tangannya. Mami Zelayin segera mendekat. Pisau yang tergeletak di tanah ditendangnya jauh.
"Apa yang kamu lakukan Rahima," kata Mami Zelayin.
"Dia berniat jahat pada Sulastri." Mami Zelayin lebih mendekat. Ia berputar mengelilingi tubuh Rahima. Ia mendengus.
"Apa hubunganmu dengan perempuan itu sehingga kamu membelanya seperti ini." Rahima tak menjawab. Ia masih lekat menatap ke arah Jamblang. Mami Zelayin menoleh ke arah Jamblang.
"Aku sudah memperingatkanmu, Jamblang. Saat ini kita dalam posisi tidak aman. Jika perempuan itu melaporkan kita sebelum kita bisa menjual tempat ini, maka hancurlah kita." Mami Zelayin tampak tidak senang.Jamblang menundukkan kepalanya.
"Sekarang, masuk. Obati lukamu," sambung mami Zelayin memberi perintah.
Rahima menoleh ke arah kegelapan malam. Dia berharap, Sulastri sudah jauh meninggalkan tempat itu. Diapun segera melangkah masuk komplek.
* * *
Perlahan terang mulai menyingkirkan gelap. Sinar matahari pagi mulai terlihat bersinar terang di langit timur. Suara-suara burung kecil yang mulai beterbangan di atas hamparan padi di sawah tepi jalan terdengar ramai mengisi suasana pagi.
Sulastri menurunkan kakinya ke dalam parit tepi jalan untuk mengukur kedalamannya. Airnya terlihat jernih mengalir menuju parit-parit kecil menuju sawah yang terhampar di belakangnya. Ia lalu membasuh wajahnya dan kembali duduk di tempat duduk yang terbuat dari bambu di dalam pondok.
Belum banyak kendaraan yang terlihat di jalan. Angkot warna kuning yang ia tunggu-tunggu melintas belum terlihat sama sekali. Ia belum memeriksa uang yang diberikan Rahima tadi malam.
Sulastri mendesah. Uang yang ia keluarkan dari balik bajunya hanya sejumlah lima belas ribu rupiah. Dia belum tahu saat ini ia sedang berada dimana. Suasananya sangat sepi. Kendaraan yang melintas hanya beberapa saja. Dia tidak sempat menanyakannya kepada Rahima. Mungkin saja ia tahu arah menuju jalan Ki Hamdi. Sejauh yang ia lihat ke arah depan, suasana di jauh sana tetap seperti suasana tempatnya kini duduk.
__ADS_1
Sulastri bangkit dan keluar menuju jalan beraspal. Setelah menengok sejenak ke arah rerimbunan pohon pisang di belakangnya, ia kemudian mulai melangkahkan pelan kakinya. Sepanjang perjalanan, kebersamaannya bersama Rahima memenuhi pikirannya. Itu membuatnya tak sadar telah jauh meninggalkan tempat itu.
Sulastri tersenyum. Di depannya sebuah warung kecil beratapkan jerami kering berdiri sederhana di tepi jalan. Ia harus membeli sesuatu untuk mengganjal perutnya yang mulai terasa lapar. Mungkin pemilik warung juga tahu dimana arah menuju jalan ki Hamdi di kota Jerowaru.
"Jerowaru masih sangat jauh, Bu. Mungkin sekitar 30 kilo dari sini," kata pemilik warung saat Sulastri menanyakan. Sulastri mendesah. Ia memilih beberapa roti basah di depannya dan mulai memakannya.
"Kira-kira ongkos ke sana berapa ya, Bu," kata Sulastri sembari mengunyah makanannya pelan. Pemilik warung belum menjawab. Ia sibuk menitiskan minyak dari beberapa tempe goreng yang baru diangkatnya dari wajan.
"Ayo,Bu, mumpung masih hangat," katanya saat meletakkan tempe-tempe goreng di atas piring besar di depan Sulastri. Sulastri tersenyum mengangguk.
"Kalau ongkos ke sana, saya kurang tahu, Bu. Maklum, saya juga belum pernah sama sekali kesana," kata pemilik warung. Ia menoleh ke arah rumah di belakang warung. Ia seperti mencari seseorang.
"Irpan...," Dia memanggil seseorang.
"Ya, Bu," jawab seseorang jauh di dalam rumah.
"Ongkos ke Jerowaru kira-kira berapa rupiah, ya,"
Seorang remaja tanggung terlihat keluar dan berdiri di depan pintu rumah.
"Apa sih, Bu," katanya mengerutkan dahi. Ia melihat ke arah Sulastri.
"Ibu tanya, ongkos ke Jerowaru berapa rupiah,"
"Kalau gak salah tiga puluh lima ribu, Bu, tapi itu yang dulu. Gak tahu kalau sekarang." Setelah mengatakan itu, remaja itu masuk kembali ke dalam rumahnya.
Sulastri menundukkan kepalanya. Uang yang di pegangnya tentu tidak akan cukup. Belum lagi untuk membayar roti dan gorengan yang dimakannya. Jarak 30 kilo bukan jarak yang dekat. Tapi mau tidak mau ia harus menempuhnya walau dengan berjalan kaki.
__ADS_1
Sulastri mendesah. Ternyata sejauh itu ia terpisah dengan anak-anaknya.