
Malam beranjak larut. Suara jangkrik mengerik ramai mengisi hening malam.Sesekali diselingi suara burung hantu yang menbuat bulu kuduk berdiri. Suasana gelap menyelubungi rumah kecil tempat Jamila menginap. Lampu teplok yang tadinya setia menerangi Jamila di dalam kamar kecil itu akhirnya padam dengan sendirinya. Jamila yang sejak membaringkan tubuhnya tetap ingin terjaga dan tak ingin tidur, akhirnya terlelap juga. Suara dengkur Jini yang berbaring di sampingnya, juga karna penat seharian berjalan tak tentu arah, membuat matanya perlahan ikut terpejam.
Malam hening dan sepi.
Sementara itu, Jini yang pura-pura mendengkur dan seakan-akan tidur lelap mulai membuka matanya. Suara sedikit dengkur dari arah sampingnya membuatnya yakin Jamila sudah tertidur. Sejam lebih lamanya sejak mengajak Jamila berbaring di atas ranjang ia menunggu Jamila tertidur. Ia merasa kesal sebab Jamila masih terdengar membolak balikkan tubuhnya kesana kemari.
Jini melirik pelan ke arah Jamila. Ia menggerakkan tangannya dan menyentuh tangan Jamila. Jamila tak merespon. Ia yakin Jamila benar-benar sudah lelap dalam tidurnya.
Jini mengangkat tubuhnya pelan dari berbaringnya. Sedikitpun ia tak mau ada suara yang ditimbulkan saat ia perlahan turun dari tempat tidur. Jini terdiam sejenak menatap ke arah Jamila. Setelah memastikan aman, dia lalu melangkah keluar kamar.
Jamila membuka matanya perlahan. Tatapan matanya bergerak mengikuti kemana bayang tubuh Jini bergerak. Dadanya berdebar keras. Sekujur tubuhnya bergetar. Entah, apakah tadi ia sempat tertidur sebelum ia terbangun lagi karna Jini menyentuh dan menepuk-nepuk tangannya. Untung saja ia tetap diam dan tak kaget sedikitpun saat Jini menyentuh tangannya. Rasa curiganya kepada Jini tetap membuatnya waspada meskipun baru terbangun dari tidurnya. Walaupun ia tetap menjaga prasangka baiknya kepada Jini, tapi dia tidak bisa berpaling dari bisikan hatinya yang tetap mengingatkannya agar tetap waspada. Ada sesuatu yang disembunyikan Jini darinya. Dan saat ini sudah seharusnya ia bertambah waspada. Ia tidak tahu apa maksud Jini menyentuh dan menepuk-nepuk tangannya. Kemungkinannya hanya satu, Jini ingin memastikan dia sudah tidur atau tidak. Gerak-geriknya pun nampak mencurigakan. Apa lagi saat dengan mengendap-endap, ia pergi keluar dari kamar itu. Dada Jamila berdebar kencang. Perasaan akan terjadi sesuatu yang tak diinginkannya membuatnya bangkit dari tidurnya. Sejenak ia terdiam, mencoba mengingat-ingat setiap sudut dalam rumah itu.
Jamila menganggukkan kepalanya. Pintu belakang rumah menuju kamar mandi adalah jalan satu-satunya untuknya keluar jika memang Jini ingin berbuat jahat kepadanya. Tapi untuk saat ini, ia ingin memastikan dimana Jini saat ini.
Jamila melangkah pelan. Tangannya mulai meraba kesana kemari penuh kehati-hatian. Ia bersyukur pintu kamar tidak ditutup Jini , sehingga ia bisa dengan leluasa keluar dari kamar itu.
Suasana di dalam rumah itu benar-benar gelap. Posisi Jini belum juga diketahuinya. Tak ada suara apapun yang bisa menunjukkan kepadanya tentang keberadaan Jini di rumah itu. Ia takut jika ternyata Jini masih ada di dalam rumah atau ada dekat dengannya. Sebisa mungkin ia berusaha tak ada yang terdengar dari gerak tubuhnya, bahkan suara nafas dan degup jantungnya.
__ADS_1
Jamila mendesah pelan sembari memejamkan matanya sejenak. Ia berusaha menyingkirkan rasa takut di dalam hatinya dengan doa demi doa yang tak henti-henti ia panjatkan. Di samping itu, telinganya tetap awas mendengar pergerakan di sekelilingnya.
Jamila menoleh ke arah samping. Sekilas ia melihat sebuah cahaya di luar sana lewat celah bagian bawah pintu rumah. Tak beberapa lama kemudian, suara langkah kaki terdengar. Jamila menahan nafasnya. Langkah kaki yang menginjak semak-semak itu masih terdengar mondar-mandir di luar sana.
"Halo, bapak kok lama sekali angkat hp nya. Ini saya ada sesuatu yang penting buat Bapak."
Jamila mengerutkan keningnya. Itu suara Jini. Jamila semakin mendekat. Dia menempelkan telinganya di dekat pintu. Suara Jini yang pelan, membuatnya tak bisa mendengar dengan sempurna apa yang sedang dibicarakan Jini jika terus berdiri di tempatnya tadi.
"Cepat kirim orang-orang bapak kesini. Saya punya barang baru dan segar buat bapak."
Jamila membalikkan tubuhnya dan segera melangkah dengan hati-hati menuju pintu belakang rumah. Dia bersyukur tadinya sempat ke kamar mandi untuk berwudhu. Pintu itu hanya di kunci dengan balok kayu sepanjang satu jari orang dewasa. Dia tinggal memutarnya dan pintu itu bisa dibukanya dengan mudah.
Jamila segera menuruni sawah yang masih ditumbuhi tanaman tembakau yang ada di belakang rumah. Beberapa kali ia mengaduh saat kakinya terbenam ke dalam retakan tanah. Tapi ia terus berlari sekuat tenaganya. Beberapa kali ia terjatuh ketika daun tembakau menghantam wajahnya dan matanya. Tangannya terasa lengket oleh getah tembakau saat batang demi batangnya dijadikannya pegangan saat berlari. Kini Ia terpaksa berjalan menunduk karna dedaunan tembakau yang lebat menghalangi dan menyulitkan pergerakannya. Sesekali ia harus merangkak karna matanya yang perih akibat dihantam pelepah tembakau.
Jamila menghentikan langkahnya. Nafasnya ngos-ngosan. Perih mulai terasa di kaki dan betisnya. Tanah sawah yang tajam karna kekeringan yang panjang membuat kakinya rawan tertusuk. Karna terlalu lelah, ia menghempaskan tubuhnya dan berbaring terlentang di sela-sela tanaman tembakau. Tatapannya jauh menerobos daun-daun tembakau ke arah langit yang gelap. Sembari berusaha menstabilkan nafasnya, ucapan syukur tak henti-henti terucap dari mulutnya. Tuhan masih melindunginya. Tuhan masih menjaganya. Lewat doanyadan mungkin dari doa Rianti dan orang-orang yang mencarinya saat ini. Jika saja Tuhan tidak mengijinkannya bangun saat Jini menyentuh tangannya, dia tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada dirinya malam ini. Mendengar pembicaraan Jini tadi lewat ponsel dengan seseorang, sepertinya memang mengarah kepada itu. Ia yakin Jini akan menjualnya.
Air mata Jamila tak terasa meleleh di pipinya. Ia merasa berdosa karna telah lari dari orang-orang yang menyayanginya. Apa yang terjadi pada dirinya sejak subuh tadi sampai saat ini adalah sebuah peringatan bahwa apa yang dilakukannya salah. Malam yang seharusnya ia habiskan setengahnya untuk melancarkan hafalan Alqurannya seperti malam-malam sebelumnya, kini harus dilaluinya dengan lari dan bersembunyi dari orang-orang jahat yang akan mengirimnya ke lembah kehancuran. Dia merasa dirinya adalah orang paling bodoh di dunia ini. Menikmati hidup yang tenang dengan beribadah yang cukup, ia tinggalkan begitu saja dengan tujuan yang tidak jelas.
__ADS_1
Jamila mengusap air matanya. Ia tak ingin larut dalam penyesalannya. Saat ini ia masih belum aman dari kejahatan yang sedang mengintainya. Rumah Jini pun belum terlalu jauh ia tinggalkan. Jini dan orang yang ia telpon akan segera menemukannya jika ia terus berbaring disana.
Jamila memejamkan matanya. Setelah itu ia membukanya kembali dan menatap nanar ke langit.
"Ya, Allah, jika Engkau selamatkan aku dari musibah malam ini, maka aku berjanji, dan ini juga adalah nazarku. Aku bersedia menikah dengan Tuan Guru Izzul Islam. Bukan karna Rianti. Tapi karnamu. Aku ingin tenang menyembah-Mu di samping orang yang dekat kepada-Mu.
Jamila mendesah panjang.
Jamila melonjak kaget dan segera bangkit dari berbaringnya. Ia seperti mendengar suara sepeda motor menyalak nyaring membelah malam. Ia mendongak. Ia melihat cahaya sepeda motor menerangi depan rumah Jini. Asap dari knalpot sepeda motor itu bahkan terlihat mengepul memenuhi ruang terang di depan rumah. Tapi tak beberapa lama kemudian, sinar motor itu mati bersamaan dengan tidak terdengarnya lagi suara bisingnya. Jantung Jamila semakin berdegup kencang. Suasana yang sejenak kembali hening, tiba-tiba buyar oleh suara dari arah rumah itu.
"Ayo, semua kebelakang!"
Sebuah teriakan terdengar nyaring membelah hening malam. Bersamaan dengan itu, cahaya senter terlihat berkelebat, bahkan hampir saja mengenai tubuh Jamila. Jamila masih terpaku di tempatnya berdiri. Kakinya bergetar hebat dan seperti tak bisa digerakkannya.
"Ayo, Kejar dia. Dia kabur lewat sawah."
Jamila segera terbuyar dari ketertegunannya saat mendengar teriakan Jini kedua kalinya. Ia segera menarik tubuhnya dan berlari kencang. Dia sudah tidak peduli lagi dengan rasa sakit di kakinya. Melihat sinar senter yang berkelebat, dia bisa memastikan ada sekitar dua orang yang kini sedang mengejarnya.
__ADS_1