KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#55


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, pak Sahril sudah terlihat sedang menikmati secangkir kopi di sebuah kedai kopi pinggir jalan. Ia masih menunggu pak Pratama. Hari ini ia sudah berjanji akan memeriksa kembali lahan yang akan dibeli, di kawasan Doyan medaran.


Sebuah mobil warna silver terlihat memasuki parkiran samping kedai. Tak berapa lama kemudian, pak Pratama terlihat keluar dan tersenyum ke arah pak Sahril. Pak Sahril berdiri dan menjabat tangan pak Pratama.


"Silahkan duduk, Pak Pratama," kata pak Sahril mempersilahkan pak Pratama duduk. Pak Sahril menepuk tangannya ke arah pelayan kedai.


"Loh, kok sendirian, Pak," kata pak Pratama sesaat setelah duduk di kursi depan pak Sahril.


Pak Sahril mengeluarkan ponsel dan sebungkus rokok dari saku bajunya.


"Kebetulan, hari ini ibu lagi keluar bersama anak-anaknya bu Sulastri." Pak Sahril mengeluarkan sebatang rokok dari bungkus rokok di depannya kemudian menyulutnya.


Pak Pratama menatap serius. Ia lebih memajukan kursinya.


"Anak-anaknya bu Sulastri bagaimana maksud Bapak," tanyanya penasaran.


Pak Sahril menghisap rokoknya pelan. Ia mempersilahkan pak Pratama meminum kopinya saat pelayan kafe melepaskan secangkir kopi di depan pak Pratama.


Pak Sahril menghalau asap rokok yang mampir di wajahnya dengan mengibaskan tangannya.


"Alhamdulillah, anak-anak bu Sulastri sudah kami temukan, tapi bu Sulastrinya masih menghilang." Pak Pratama kembali mengernyitkan keningnya.


"Menghilang?" tanya pak Pratama. Kerutan di dahinya semakin terlihat jelas ketika ia mengernyitkannya kuat.

__ADS_1


"Kata bibik yang kerja di rumahnya, katanya ia cari kerja dan sampai sekarang dia belum juga pulang," lanjut pak Sahril.


Pak Pratama menggelengkan kepalanya. Ia memundurkan tubuhnya dan menyandarkannya kembali di kursi.


"Kasihan sekali bu Lastri," desah pak Pratama. Ia mengangkat gelas kopinya dan meminumnya.


"Itulah sebabnya, sampai saat ini saya belum bisa mengumpulkan bapak-bapak untuk rapat membahas masalah perusahaan. Bu Sulastri adalah kunci untuk menghalangi gerak-gerik bu Castella. Saat ini kita sangat membutuhkan tanda tangan bu Sulastri"


Pak Pratama kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia menatap pak Sahril. Pak Sahril tersenyum. Ia tahu saat ini pak Pratama sedang sangat pusing dengan kelakuan bu Castella.


Pak Sahril memasukkan ponselnya ke dalam saku bajunya ketika telah selesai meminum kopinya. Selembar uang ia selipkan di bawah cangkir kopi. Setelah itu, ia mengajak pak Pratama berangkat.


* * *


"Itu dia lahan yang akan kita beli tapi kita masih menunggu pemilik lahan perkebunan ini menjual lahannya. Semoga saja dia mau menjualnya," kata pak Sahril.


Pak Pratama menundukkan kepalanya dan memperhatikan plank dari kardus yang tertempel di batang pohon mahoni.


"Lah, ini mau dijual, Pak," kata pak Pratama. Pak Sahril yang belum sadar ikut menundukkan kepalanya. Ia tersenyum dan kembali menyandarkan punggungnya sembari mengelus dada lega.


"Alhamdulillah, pucuk di cinta ulam pun tiba. Niat baik pak Yulian Wibowo akhirnya dipermudah oleh Allah. Ayo, Pak, dipercepat mobilnya, saya sudah tidak sabar ingin bertemu pak Suma," kata pak Sahril bersemangat. Pak Pratama tersenyum dan mulai mempercepat laju mobilnya hingga sampai di ujung jembatan. Mobil itu kemudian berbelok menuruni jalan sempit menuju pondok kecil di dekat sungai di bawah jembatan.


* * *

__ADS_1


Sementara itu. Di sebuah pusat perbelanjaan di kota Jerowaru. Bu Trianti yang hari ini mengajak Fahmi, farida, bi Asiyah serta Rayhan ke salah satu pusat belanja terkenal di kota itu, nampak sibuk memilihkan beberapa pakaian yang terpajang di sebuah gerai di dalam mall. Fahmi dan Farida yang masih malu-malu hanya bisa mengangguk setiap bu Trianti menunjukkan beberapa potong baju kepada keduanya. Mereka bingung melihat belanjaan yang begitu banyak hati ini. Belum lagi sejumlah mainan berbagai bentuk yang dibelikan oleh bu Trianti. Apa yang selama ini keduanya hanya bisa lihat dan menginginkannya, semuanya sudah terbeli.


Bi Aisyah tersenyum ketika melihat keduanya menoleh ke arah mereka. Kehadiran bu Trianti yang selalu menyambanginya ke rumah kontrakan mereka sejak pertemuan pertama mereka, membuat keduanya tak lagi sering bertanya tentang ibunya. Kebutuhan rumah sudah tercukupi. Bahkan, bu Trianti mempekerjakan satu pembantu untuk membantunya mengurus rumah. Ia sekarang lebih fokus merawat Rayhan. Ia hanya berharap, Sulastri juga secepatnya bisa di temukan, entah itu dalam keadaan masih hidup atau sudah meninggal dunia.


"Ayo, Bi." Bu Trianti meraih tangan bi Aisyah dan menyuruhnya memilih beberapa pakaian di depannya.


"Gak usah, Bu. Cukup anak-anak saja yang beli pakaian. Saya cukup pakai ini saja," kata bi Aisyah tersipu malu.


Bu Trianti menatap bi Aisyah.


"Bik, setiap bulannya, perusahaan milik almarhum pak Yulian Wibowo selalu menyisihkan dua puluh persen dari keuntungan perusahaan untuk berderma kepada yang membutuhkan. Ini mulai dilakukan setelah beliau menikah dengan bu Lastri. Peran bu Lastri sebagai istri perlahan mulai mengarahkan perusahaan-perusahaan milik bapak menjadi perusahaan yang peduli kepada sesama. Kata pak Sahril, sosok bu Lastri pantas jadi pahlawan perusahaan. Ini adalah sedikit penghargaan untuk orang-orang terdekat bu Lastri." Bu Trianti memegang tangan bi Aisyah.


Jadi, sekarang Bibik harus mengambil juga bagian Bibik," lanjut bu Trianti sembari tersenyum. Bi Aisyah tersenyum dan dengan tersipu malu mulai mengamati pakaian-pakaian yang ada di depannya.


* * *


Terik matahari mulai terasa menyengat kala siang perlahan tak terasa sudah ada dipuncaknya. Suasana jalan yang ramai dengan asap-asap dari kendaraan yang melintas menambah suasana tambah tak bersahabat. Hanya penjual buah-buahan keliling dan beberapa pengamen jalanan yaag terlihat duduk di tepi jalan menunggu lampu merah menyala di perempatan jalan.


Sementara bu Trianti dan rombongan bi Aisyah masih menikmati makanan di sebuah rumah makan di dalam mall, nun jauh di sana, kira-kira lima kilo dari mereka, Sulastri masih melangkah pelan menyusuri trotoar jalan. Sejauh ini, ia sudah berjalan lebih dari lima kilo mengikuti petunjuk orang-orang yang ia tanya sepanjang perjalanan. Sisa uang sepuluh ribu di tangannya, terpaksa ia pakai untuk ongkos angkot sejauh sepuluh kilo saja. Ia harus turun dan melanjutkan berjalan kaki karna sudah tidak punya uang lagi untuk membayar ongkos angkot. Terik matahari yang menyengat berkali-kali memaksanya turun ke parit pinggir jalan untuk meminum airnya. Tapi kali ini ia benar-benar merasa lelah. Kakinya sudah tidak mampu lagi ia langkahkan. Sekujur tubuhnya terasa kaku dan mulai kram.


Sulastri menghempaskan tubuhnya di tepi trotoar. Nafasnya yang terengah-engah memaksanya bersandar lemah di sebuah pohon di dekatnya. Iatak tahu lagi berapa jauh lagi ia harus berjalan sebelum sampai ke tempat tujuannya. Dia merasa sudah tidak mampu lagi. Jangankan berkilo-kilo, satu langkah saja ia sudah tidak bisa. Ia terlalu lelah. Harapannya hanya satu, akan ada orang yang merasa kasihan kepadanya dan menawarkannya tumpangan.


Sulastri mulai melambaikan tangannya ke arah setiap mobil yang melintas.

__ADS_1


__ADS_2