
Kejadian malam itu membuat seisi rumah terbangun. Suara sirine ambulan dan mobil polisi membuat Fahmi dan Farida menangis ketakutan. Mereka berteriak memanggil Sulastri. Mereka masih trauma dengan kejadian pada malam Castella dan Rianti mengusir keluarganya dari rumah itu. Setiap kali ada keributan, pikiran mereka selalu tertuju kepada sosok Castella dan Rianti yang menurut mereka sangat menakutkan.
Sulastri melihat mereka berdiri dalam dekapan Munawarah di depan teras rumah ketika dia memasuki gerbang rumah. Begitu melihat Sulastri, keduanya berhamburan ke arah Sulastri dan memeluknya. Sulastri mendekap keduanya erat.
"Farida takut,Bu. Kenapa ada suara mobil polisi di luar," kata Farida ketakutan memeluk erat Sulastri.
"Sudah, gak usah takut.Tadi itu, pak polisi sedang patroli menjaga rumah. Jadi rumah kita tetap aman dari penjahat. Sekarang, ajak adikmu tidur lagi ya, Nak. Gak usah takut. Tuh, lihat, banyak orang kan?" kata Sulastri berusaha membujuk kedua anaknya agar tetap tenang sembari menunjuk ke arah Pak Sahril dan yang lainnya.
"Bi, tolong ajak anak-anak tidur," kata Sulastri kepada Munawarah yang berdiri tak jauh dari mereka. Munawarah mendekat dan memegang tangan keduanya.
"Tapi kami takut, Bu. Kenapa kita tidak pindah saja ke rumah kontrakan. Di sana lebih aman. Gak ada ribut-ribut seperti ini," kata Fahmi. Sulastri tersenyum dan mengacak-ngacak rambut Fahmi.
"Jagoan kok takut. Katanya mau jadi penjaga ibu dan adik-adikmu. Anak laki-laki harus pemberani. Gak boleh cengeng." Tiba-tiba pak Sahril mendekat ke arah mereka. Sulastri tersenyum ke arah Fahmi yang menundukkan kepalanya.
"Tuh, dengar kata bapak. Anak laki-laki gak boleh cengeng. Sekarang, ayo, ajak adikmu tidur," kata Sulastri.
Rahima yang berdiri di belakang pak Sahril kemudian mendekat.
"Ayo sama Bibik,"
Fahmi dan Farida menatap heran ke arah Rahima. Ada wajah baru lagi di rumah itu.
"Nak, ini Bibi Rahima. Saudaranya ibu. Ayo, kenalan dulu," kata Sulastri ketika melihat Fahmi dan Farida menolak saat Rahima menyodorkan tangannya. Keduanya pun langsung mendekat dan mencium tangan Rahima.
"Ayo, sekarang, bibik antar kalian ke kamar," kata Rahima. Keduanya mengangguk. Bersama Rahima dan Munawarah mereka berjalan menuju kamar samping rumah.
__ADS_1
"Maaf, Pak Sahril. Saya belum bisa ke kantor. Berkas-berkas yang kemarin sudah saya periksa. Laporan pak Darmawan juga sudah saya tindak lanjuti terkait dengan keuangan perusahaan selama dipegang oleh bu Castella. Mungkin lusa saya baru bisa ngantor," kata Sulastri. Ia mendekapkan tubuhnya erat. Hawa yang berhembus semakin terasa dingin. Pak Sahril tersenyum.
"Gak apa-apa kok, Bu. Ibu sebagai pemilik perusahaan gak harus ngantor setiap hari kok. Yang penting itu, pengawasan dan pengontrolan kepada kinerja bawahan-bawahan ibu. Yah, seperti yang dilakukan ibu saat ini. Pemeriksaan berkas-berkas dan laporan dari para pegawai, cukup ibu lakukan di rumah." kata pak Sahril.
"Kita bicara di teras saja, Pak. Masih ada yang ingin saya biacarakan," kata Sulastri. Ia lalu mengajak pak Sahril menuju teras rumah.
"Tapi maaf, pak Sahril. Sepertinya saya butuh lagi tenaga laki-laki di rumah ini. Saya butuh seorang sopir. Kasihan kalau terus pakai jasa pak Bayan," kata Sulastri setelah beberapa saat duduk di kursi.
"Ya, Tuhan. Saya sampai lupa masalah itu, Bu. Segera, Bu. Kami akan mencarikan sopir buat Ibu," jawab pak Sahril sambil menepuk pelan keningnya. Sulastri tersenyum.
"Nah, mumpung saya lagi ingat, Bu. Terkait dengan rumah bapak yang dulunya ditempati bu Castella. Sekarang kan sedang kosong, Bu. Mungkin, untuk sementara waktu bisa ibu tempati. Jaraknya juga lebih dekat dari kantor. Kita akan tarik satpam yang ada di sana untuk bekerja di sini," sambung pak Sahril. Sulastri terdiam sejenak. Ia belum melihat rumah itu sama sekali. Tapi ia yakin rumah itu pasti besar. Mungkin lebih besar dari rumah yang sekarang ia tempati. Rumah itu adalah rumah untuk Rianti dan tetap akan jadi rumah Rianti selepas ia bebas dari penjara. Sulastri terlihat berpikir beberapa saat.
Sulastri mendesah. Ia menatap wajah pak Sahril.
"Saya di sini saja, Pak. Rumah itu adalah peninggalan pak Yulian untuk Rianti. Untuk sementara waktu, kita bisa manfaatkan untuk tempat penampungan anak-anak yatim dan terlantar, sampai saya bisa membuatkan tempat yang baru buat mereka di samping rumah," kata Sulastri sambil menunjuk ke samping rumah.
Sulastri tersenyum.
"Pak Ahmad sudah bersedia menjualnya. Dia akan tinggal di sini bersama pak Bayan. Katanya, dia tidak punya siapa-siapa untuk mewariskan tanahnya. Jadi, dia bersedia menjualnya,"
"Luar biasa. Dulu itu, bapak mati-matian membujuk pak Ahmad menjual tanahnya, tapi pak Ahmad tetap menolak. Bahkan akan di bangunkan sebuah rumah oleh bapak, tapi pak Ahmad tetap tidak mau," kata pak Sahril sembari menggelengkan kepalanya. Sulastri mendesah panjang.
"Mungkin saat ini pak Ahmad merasa sudah tua, Pak. Lagian, masih banyak kamar kosong di rumah ini. Kalau pak Ahmad sakit atau butuh sesuatu, banyak yang akan memperhatikannya. Rumah ini terlalu besar. Saya tak bisa menikmatinya sendiri," kata Sulastri. Pak Sahril mendesah. Ia menatap Sulastri dengan perasaan kagum.
Luar biasa. Jiwa seperti inilah yang akan membawa perusahaan kita maju secara bermartabat," kata Pak Sahril sambil mengacungkan kedua jempolnya. Sulastri tersenyum.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya pamit pulang dulu. Sudah hampir subuh," kata pak Sahril lagi. Ia menengok ke arah jam tangannya. Sulastri menganggukkan kepala. Keduanya berdiri.
"Satu lagi, Pak. Terkait dengan proyek di kawasan Doyan Medaran. Sampai dimana pekerjaannya, Pak," kata Sulastri.
"Alhamdulillah, pekerjaan sudah dimulai. Tinggal menunggu ke datangan Ibu," kata pak Sahril.
"Insya Allah, saya akan ke sana, Pak. Saya juga mau mengunjungi Rianti di Mapolres,"
Pak Sahril mendesah.
"Tapi masalahnya, saya belum menyampaikan berita kematian bu Castella kepada non Rianti, Bu," kata pak Sahril sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Biar saya yang kasih tahu, Pak,"
"Tapi, Bu,"
"Gak apa-apa, Pak Sahril. Percayakan sama saya. Saya ini istri pak Yulian Wibowo dan ibu kedua bagi Rianti. Pak Yulian tentu marah jika saya tidak melakukan apa-apa melihat keadaan Rianti sekarang," kata Sulastri. Ia mendesah panjang penuh kepasrahan.
"Kita hanya perlu mencobanya, Pak. Saya akan terus berusaha meyakinkan Rianti, bahwa saya memang layak jadi suami bapak nya, layak juga sebagai pengganti ibunya," sambung Sulastri. Pak Sahril menganggukkan kepalanya.
"Kami akan selalu mendukung Ibu."
Suara lantunan ayat-ayat suci Alqur'an terdengar mengalun lamat-lamat dari kejauhan dibawa angin yang berhembus. Suara kokok ayam jantan mulai terdengar bersahut-sahutan seperti berlomba menyambut datangnya subuh.
Pak Sahril dan pak Pratama akhirnya pamit pulang.
__ADS_1
** * * *