
Matahari belum terlihat di ufuk timur. Sudah jam 8 pagi. Gumpalan awan hitam masih padat menempel menutupi matahari. Hanya sedikit sinar keemasannya yang menyembul di antara ruang kosong di atas gumpalan awan. Angin bertiup semilir dan terasa basah. Seperti membawa aroma musim penghujan.
Pak Jamal menghentikan sepeda motornya agak jauh dari jalan masuk menuju rumah Sulastri. Dia tertarik dengan sebuah pondok kecil di pinggir sungai. Terlalu pagi untuk lebih mendekat ke rumah itu. Dia memutuskan untuk menunggu sejenak di pondok itu sambil akan melihat suasana di dalam rumah.
Dengan pelan, pak Jamal mengarahkan sepeda motornya menuruni jalan setapak menuju pondok itu. Sesampainya di sana, ia langsung mencari posisi duduk yang bagus untuk melakukan pengawasan. Dari tempatnya duduk, ia melihat pintu gerbang rumah itu perlahan terbuka. Pak Jamal berdiri. Posisi persawahan yang lebih menurun dari rumah itu, membuatnya agak kesulitan melihat langsung ke dalam rumah. Ia melangkah menyusuri tepi sungai dan bersembunyi di balik batang pohon besar yang tumbuh di dataran yang lebih tinggi. Ia tersenyum. Tempat berdirinya kini searah dengan pintu gerbang. Walaupun jauh, tapi ia bisa melihat beberapa orang yang lalu lalang di dalam rumah.
* * * * *
Di halaman samping rumah, Sulastri nampak sedang berbincang-bincang dengan bi Aisyah yang telah selesai membersihkan guguran daun di halaman rumah.
"Bi Aisyah, Tuan Guru Izzul Islam dan rombongan sedang dalam perjalanan. Retno juga dalam perjalanan kesini. Makanannya nanti tolong diatur bersama Munawarah di meja yang sedang di atur oleh pak Bayan dan pak Mustarah itu," kata Sulastri sambil mengarahkan pandangannya ke arah pak Bayan dan pak Mustarah yang sedang sibuk mengatur meja untuk prasmanan. Bi Aisyah mengangguk.
Sebuah mobil sedan berwarna hitam terlihat memasuki halaman rumah. Sulastri tersenyum dan segera melangkah menuju halaman depan tempat kedua mobil itu berhenti. Terlihat satu persatu, pak Sahril, bu Trianti, pak Pratama dan istri keluar dari mobil. Mereka tersenyum kepada Sulastri yang sudah menunggu di depan mobil.
"Jam berapa Tuan Guru akan datang, Bu," kata pak Sahril setelah menyalami Sulastri.
"Mereka sedang dalam perjalanan, Pak. Mari," kata Sulastri. Ia mempersilahkan pak Sahril dan rombongan masuk ke dalam rumah.
"Kalau Retno, apa sudah ada kabar, Bu," tanya bu Trianti yang berjalan di belakang pak Sahril. Sulastri menoleh.
"Katanya sedang dalam perjalanan juga, Bu." Bu Trianti mengangguk.
Maaf, Bu. Apa pak Jamal belum menelpon lagi?" kata pak Sahril sesaat setelah duduk di sofa. Sulastri mendesah. Mendengar nama pak Jamal, selalu mengusik ketenangannya. Tapi mau tidak mau ia harus membahasnya dengan pak Sahril dan pak Pratama. Sebelum pak Sahril membicarakannya, itu juga yang ingin ia bicarakan dengan mereka.
"Untuk saat ini belum, Pak. Tapi ini terus terang lebih menakutkan bagi saya," kata Sulastri. Ia terlihat cemas. Yang lain mengangguk-angguk kecil seperti sedang memikirkan solusi.
"Terus, non Riantinya bagaimana, Bu," kata bu Trianti setelah untuk beberapa saat mereka terdiam.
Sulastri menatap ke arah bu Trianti. Sulastri sedikit tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Dia seperti acuh tak acuh, Bu. Dia sama sekali tak memikirkan masalah itu. Menurutnya, setiap orang punya masa lalu. Aku sendiri tak menginginkan perjodohan ini dilanjutkan sejak kedatangan video itu. Tapi Rianti ngotot pertunangan ini tetap dilanjutkan," kata Sulastri.
"Mudah-mudahan saja pak Jamal takut dengan kata-kata saya ketika menelpon kemarin. Tapi kita tetap harus waspada. Pak Jamal orangnya licik dan pendendam."
"Itulah yang sering mengganggu pikiranku, Pak Pratama. Aku takut pak Jamal sedang merencanakan sesuatu yang lebih buruk dari penyebaran video itu," kata Sulastri.
"Atau? Apa sebaiknya kita terus terang saja sama Tuan Guru terkait video itu, Bu," kata pak Sahril. Sebenarnya ia agak ragu mengucapkannya. Tapi mungkin saja itu jalan terbaik. Ia takut kelak pihak Tuan Guru merasa ditipu.
Sulastri mendesah panjang. Ia menatap pak Sahril.
"Rianti tak menginginkan itu, Pak. Menurutnya, jika aib itu belum tersebar, tak baik menyebarkannya sendiri kepada orang lain. Tapi dia siap menerima apapun resiko jika kelak pada akhirnya Nyai Mustiani dan Tuan Guru mengetahuinya. Ia yakin, Tuan Guru yang berpikiran suci akan punya pandangan sendiri terkait video itu," jawab Sulastri. Pak Sahril mengangguk.
Sulastri menoleh ke arah halaman rumah lewat kaca jendela ruang tamu. Ia bangkit ketika melihat dua buah mobil memasuki gerbang rumah. Mereka berempat ikut bangkit dan mengikuti Sulastri keluar rumah.
Senyum Sulastri mengembang ketika Nyai Mustiani keluar dari dalam mobil di ikuti Tuan Guru Izzul Islam. Beberapa orang di dalam mobil terlihat menyusul keluar. Sulastri segera melangkah menyambut Nyai Mustiani.
"Alhamdulillah. Selamat datang kembali di rumah kami, Bu Nyai," kata Sulastri. Ia lalu mengajak semua tamunya masuk ke dalam rumah. Tak jeda begitu lama, mobil yang membawa makanan dari rumah makan Doyan Medaran tiba. Bi Aisyah, pak Mustarah dan pak Bayan segera membantu Retno memindahkan makanan ke atas meja prasmanan.
"Gak apa-apa, Bu,"
Nyai Mustiani menoleh kesana kemari. Seperti sedang mencari sesuatu.
"Oh ya, saya kok gak lihat nak Rianti," kata Nyai Mustiani. Sulastri tersenyum.
"Dia ada di dalam, Bu Nyai," jawab Sulastri sambil menunjuk ke arah kamar di belakang mereka.
"Mohon pamit sebentar. Mau memanggilnya," kata Sulastri. Nyai Mustiani mengangguk. Tuan Guru Izzul Islam yang tampak tenang duduk menyandarkan punggungnya terlihat melepaskan sorbannya. Dia tiba-tiba ingat, kedatangannya pertama kali ke rumah itu, ia duduk di tempatnya ia duduk kini. Ia juga ingat telah meninggalkan sorbannya di sofa itu. Sejak memasuki gerbang tadi, dadanya mulai berdebar. Nyai Mustiani menyebut nama Rianti, semakin membuatnya bertambah gugup. Ia menghela nafas panjang. Ia harus berusaha bersikap tenang.
Pandangan orang-orang di dalam ruang tamu seketika tertumbuk ke arah Sulastri yang menggandeng tangan Rianti menuju ke ruang tamu. Senyum tak henti-henti tersungging melihat penampilan Rianti yang mengagumkan hari ini. Tetap dengan pakaian yang sama. Gamis dan jilbab motif batik warna biru. Tanpa Riasan wajah. Hanya sedikit celak di alis dan pinggir bagian bawah kelopak matanya. Menambah indah mata bulatnya yang bening. Lukisan heyna yang cantik di kedua telapak tangannya,membuat Rianti menjadi satu-satunya titik perhatian di ruangan itu. Tuan Guru Izzul Islam menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Sulastri mengajak Rianti duduk di dekatnya. Tapi buru-buru Nyai Mustiani memegang tangan Rianti.
"Rianti duduk di dekat saya, Bu Sulastri," kata Nyai Mustiani. Sulastri tersenyum menganggukkan kepalanya. Wajah Rianti memerah menahan malu saat menyalami Nyai Mustiani.
"Kamu cukup salaman sama ibu saja. Kalau kamu menyalami semuanya, nanti kamu jatuh karna grogi," kata Nyai Mustiani ketika melihat Rianti hendak menyalami seluruh tamu yang hadir. Rianti tersenyum dan kembali duduk. Tuan Guru Izzul Islam mengusap keringat yang mulai muncul di keningnya dengan ujung sorbannya.
Maha Indah Allah yang telah menciptakan makhluknya secantik ini. Setiap berdekatan dengannya, Tuan Guru Izzul Islam selalu dibuatnya serba salah. Karna mimpi itukah sehingga pesonanya dibuat begitu berlebihan oleh Allah di matanya? Setiap memandangnya, ia selalu merasa seperti anak laki-laki yang baru mengenal cinta. Dia kini juga jadi pusat perhatian orang-orang yang melihat tingkahnya yang konyol. Cinta memang punya aura magic yang begitu besar. Dia yang sudah malang melintang berceramah di depan khalayak ramai benar-benar dibuat tak berkutik.
Suasana di dalam ruangan itu sejenak hening. Masing-masing menundukkan kepala. segan memandang Tuan Guru Izzul Islam. Melihat itu, Nyai Mustiani memegang tangan Rianti. Nyai Mustiani tersenyum ketika tangan Rianti terasa bergetar.
"Nak Rianti, sebelumnya, ibu mau bertanya sama kamu. Apakah kamu mau menikah dengan anak saya?"
Rianti menundukkan kepalanya. Ia hanya tersenyum. Sulit sekali untuk mengatakan kesetujuannya. Begitu juga dengan kepalanya. Sulit sekali untuk dianggukkan.
"Kami tak mau ada paksaan, Nak. Jangan karna anak saya adalah seorang Tuan Guru, kamu gak berani menolaknya. Jika kamu tak menginginkannya, kita bisa membatalkan perjodohan ini,"
"Saya mau, Bu Nyai," spontan Rianti menjawab. Tiba-tiba saja lidahnya yang tadinya kelu sigap menjawab pertanyaan Nyai Mustiani. Semua orang yang hadir tersenyum. Begitu juga Tuan Guru Izzul Islam.
"Bu Sulastri dan semua keluarga dari pihak perempuan. Saya sudah musyawarah kecil-kecilan dengan Tuan Guru. Jika perjodohan ini sudah disepakati kedua belah pihak, kami sudah menentukan hari kami akan membawa nak Rianti ke rumah kami, yaitu pada hari jumat mendatang. Tapi itu kalau bu Sulastri dan semua keluarga di sini menyetujuinya."
Sulastri menoleh ke arah pak Sahril dan pak Pratama. Keduanya mengangguk.
"Saya kira sudah tepat, Bu Nyai. Lebih cepat lebih baik," Pak Sahril menjawab. Sulastri menganggukkan kepalanya ikut mengiyakan.
Nyai Mustiani tersenyum. Kepala Rianti diusapnya lembut.
"Jadi, Nak Rianti. Tinggal dua hari lagi kami akan menjemput Nak Rianti lagi. Siapkan diri Nak Rianti lahir dan batin. Insya Allah, Nikah itu adalah sunnah Nabi kita. Dengan menikah maka kita telah menyempurnakan separuh agama kita," kata Nyai Mustiani. Rianti tersenyum menganggukkan kepalanya.
Tak terasa, obrolan panjang mereka terus berlanjut hingga suara tarhim terdengar dari kejauhan. Bu Trianti dan istri pak Pratama segera bergegas keluar memeriksa kesiapan makan siang bersama.
__ADS_1
Rianti mengangkat wajahnya dan mencuri pandang ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Ketakutan dan segala kekhawatirannya seketika hilang. Yang ada hanyalah keyakinan. Tak ada yang bisa menghalangi pernikahannya dengan Tuan Guru Izzul Islam. Itu pasti. Dialah wanita dalam mimpi Tuan Guru Izzul Islam.
"Mohon maaf, Bu Nyai. Saya pamit ke kamar dulu," kata Rianti setelah beberapa saat menghimpun keberaniannya. Nyai Mustiani tersenyum. Ia mengusap punggung Rianti. Rianti menoleh ke arah Sulastri. Sulastri segera mengerti isyarat Rianti. Ia segera bangkit dan menuju ke tempat duduk Rianti. Ia lalu menemani Rianti menuju kamarnya.