KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#59/ Risalah buat Sulastri


__ADS_3

Untuk istri tercintaku...


Segala puji hanya bagi Allah. Zat yang telah menggerakkan hatiku untuk membuat keputusan penting. Keputusan yang dbuat melalui istikharah dan munajat yang panjang, sehingga Fatwa hati mengarahkan ke jalan yang benar.


Untuk wanita kuat yang telah memberiku pelajaran penting dalam hidup. Semoga Allah memberikan perlindungan-Nya kepadamu hingga hari kita dipertemukan-Nya kelak.


Untuk segala yang pernah kamu berikan, aku ucapkan banyak terimakasih.


Istriku, aku menulis surat ini sesaat setelah aku merasa bahwa hidupku terasa tidak akan lama lagi. Tapi percayalah, ketakutanku akan kematian sudah hilang ketika aku memilikimu. Hatiku lebih tenang dan entah, aku tiba-tiba merindukan kematianku.


Sulastri, keinginanku memiliki seorang anak darimu memang tidak kesampaian. Tapi Fahmi, Farida, dan juga Rayhan bisa aku andalkan suatu hari nanti ketika mereka telah dewasa.


Castella dan Rianti masih aku ragukan untuk meneruskan usaha yang telah aku rintis bertahun-tahun. Melihat apa dan bagaimana sikap mereka selama ini, aku sangsi untuk memberikan amanat yang besar di tangan mereka.


Sulastri, jika suatu hari nanti pak Sahril datang dan menyerahkan surat ini, lakukan apa yang ia suruh. Tiga perusahaan yang telah aku rintis bertahun-tahun menghabiskan separuh usiaku, aku serahkan kepadamu. Tentunya, keinginanku untuk membubarkan black casino dan menggantinya dengan usaha yang halal lagi barokah adalah keinginan mulia. Keinginan yang belum bisa aku wujudkan karna kondisi kesehatanku. Dan kini tugas itu aku serahkan kepadamu.


Ada hak fakir miskin, anak yatim dan orang-orang yang membutuhkan pada sebagian keuntungan perusahaan. Sisihkanlah untuk amal jariyah kita. Amal jariyah yang akan terus mengalir dan akan memperberat timbangan baik kita kelak di sisi Sang Pencipta.


Berbuat baiklah pada Castella dan Rianti. Penuhi segala kebutuhan mereka. Aku menitipkan perusahaan Porang untuknya. Serahkanlah kepadanya jika kamu menganggap dia sudah pantas menerimanya.


Sulastri, ada saatnya kita bersikap lembut. Dan ada pula saatnya kita harus tegas dan kasar, jika apa yang kita lihat melenceng dari kebenaran. Kuatlah, dan hadapi segala tantangan yang pasti kamu hadapi dalam memimpin perusahaan. Aku meninggalkanmu pak Sahril, orang yang harus tetap kamu percaya di setiap langkah yang kamu ambil. Keshalehan pribadinya membuat hatinya bersih, sehingga apa yang ia putuskan selalu bermanfaat bagi perusahaan.


Sulastri, jadilah pemimpin yang baik. Jadikan semua bawahanmu sebagai keluargamu, sehingga mereka tak hanya mencintai pekerjaan mereka. Tapi mereka benar-benar merasa memiliki dan segala yang mereka lakukan untuk kemajuan dan kebaikan perusahaan. Mereka akan mencintaimu dan tak akan pernah meninggalkanmu.


Sulastri, yakinlah, bahwa saat ini aku sudah berada di dalam tingkatan tertinggi surga. Aku menunggumu sebagai bidadariku yang kurindui kedatangannya. Tapi aku berharap waktumu hidup akan lebih lama. Hidup yang akan kamu gunakan untuk berderma dan menanam kebaikan. Bukankah rindu akan semakin indah ketika masa perjumpaan semakin lama?


Kita pasti bertemu. Itulah sebabnya aku tidak takut lagi pergi meninggalkanmu. Aku sudah tenang karna meninggalkanmu sebagai istri shalehah sebagai penerus apa yang telah aku tinggalkan.


Sulastri, kekasihku di dunia dan akhirat. Jangan lupakan aku nanti di tengah kesibukanmu. Setidak-tidaknya sebagai penawar kerinduan dalam penantianku. Aku yakin saat ini kamu sedang menangis, tapi setelah selesai membaca surat ini, segera hapus air matamu dan janganlah pernah menangis lagi. Tatap dunia yang kejam ini dengan ketegaran dan tingkah bijakmu.


Sulastri, aku mencintaimu dan masih tetap akan mencintaimu hingga di kehidupan lain. Aku ingin Tuhan tetap menjadikanmu bidadariku di dunia dan akhirat.


Dan maafkan aku atas perjumpaan awal kita yang tidak baik. Semua memiliki hikmah. Aku mensyukuri proses itu karna itulah yang kemudian mengeratkan hubungan kita.

__ADS_1


Sulastri, aku memang tidak pandai membuat puisi, tapi puisiku mungkin tidak terlalu buruk untuk mengakhiri surat ini.


Jika ada orang yang pernah ku kagumi


maka kau adalah Mahajana,


yang menghapus rasa kagum itu.


Namamu akan selalu termaktub abadi dalam Shahifah demi shahifah kenangan terindah dalam hidupku.


Di atas kereta kencana, aku menunggumu.


Menanti saat terindah mengajakmu berkeliling


di antara dinding-dinding yaqut dan mutiara surga.


mendengarkan Daud mendendangkan Mazmurnya dengan lantunan nan indah.


di atas dipan-dipan syurgawi


sebab aku hanya menginginkanmu.


Suamimu


Yulian Wibowo.


* * *


Sulastri memejamkan matanya. Air matanya dibiarkannya berderai. Mengalir tak tertahan membasahi pipi kusamnya. Dia merasakan wadak kasar Yulian Wibowo seperti benar-benar berada di hadapannya. Berbicara kepadanya seperti kata-kata yang ia maktubkan di dalam surat. Benar-benar terasa seperti sedang membelai rambutnya. Dia terasa begitu dekat. Sedekat ia mendekap surat di dadanya.


* * *


Sulastri membuka matanya perlahan. Suara kedua anaknya yang sedang bermain di luar rumah, membuyarkannya dari terbang panjangnya di dunia imaji bersama Yulian Wibowo. Ia menatap ke sekelilingnya. Ia mendesah pelan dan tersenyum. Diusapnya sisa tangis di wajah dan matanya. Ia seperti menemukan jiwa Yulian Wibowo dalam jiwanya yang rapuh. Ia terlihat begitu tenang dan siap menghadapi apapun yang terjadi ke depannya. Ia sudah melewati berbagai ujian dan cobaan panjang yang menyakitkan. Sudah saatnya ia bangkit dan mengingat kembali cita-cita masa lalunya. Ia harus menggenggam dunia dan menguasainya untuk kebaikan.

__ADS_1


Sulastri kembali mendesah tegas. Ia melipat kembali surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop.


"Pak Sahril," panggilnya. Pak Sahril yang sedang berkumpul dengan seluruh penghuni rumah di luar rumah segera bangkit dan mendekati Sulastri. Ia berdiri menatap Sulastri yang terlihat lebih tegar dan bersemangat.


"Ibu sudah siap?"tanya pak Sahril. Masih dengan posisi berdiri. Sulastri mengangguk mantap dan mempersilahkan pak Sahril duduk.


"Silahkan, Pak. Apa yang harus aku lakukan," kata Sulastri mantap.


Pak Sahril menatap Sulastri dan tersenyum. Raut wajahnya ikut ceria ketika melihat senyum mengembang dari bibir Sulastri.


"Banyak, sangat banyak, Bu." Pak Sahril mulai membuka map.


"Tapi saya yakin, ibu pasti bisa. Insting pak Yulian tidak pernah meleset. Dia tidak pernah salah menjatuhkan pilihannya pada seseorang. Terbukti, tiga perusahaan yang beliau bina, semuanya sukses. Pak Yulian sangat mengerti menempatkan seseorang sesuai dengan kemampuannya," sambung pak Sahril. Ia lalu menyodorkan sebuah map beserta bolpoi ke arah Sulastri.


Sulastri membuka map dan membaca tulisan di dalamnya. Ia mendesah, mengambil bolpoin dan langsung mencoretkan tanda tangannya.


"Ma," panggil pak Sahril. Bu Trianti masuk dan duduk di dekat pak Sahril.


"Perlihatkan ibu pakaian yang harus dipakai besok," kata pak Sahril. Bu Trianti mengangguk kepala dan tersenyum ke arah Sulastri. Ia lalu mengeluarkan setelan jaz dari dalam tas di sampingnya. Sulastri mengerutkan dahinya seraya tersenyum.


"Secepat ini, Pak," tanyanya. Pak Sahril mengangguk.


"Perusahaan sedang membutuhkan Ibu. Ibu sudah menanda tangani surat dari pak Yulian Wibowo. Siap tidak siap, besok kami menunggu kedatangan ibu di kantor." tegas pak Sahril.


"Satu lagi, Bu. Ibu adalah pemilik perusahaan sekarang. Bu Castella dan Rianti sekalipun tidak punya kekuatan untuk menyingkirkan ibu. Dan kami berharap, ibu bisa menggunakannya sebaik mungkin. Besok, saya akan menjemput ibu," kata pak Sahril.


Sulastri menatap ke atas. Setelah itu, dipandangnya pak Sahril lekat. Ia menganggukkan kepalanya.


"Baik, Bu. Sekarang saya pamit dulu. Saya akan mengimpormasikan kepada teman-teman terkait rapat besok." Pak Sahril menjabat tangan Sulastri. Di ikuti bu Trianti.


"Saya yakin ibu bisa," bisik bu Trianti sambil mencium kedua pipi Sulastri. Sulastri tersenyum.


"Terimakasih atas dukungannya, Bu,"

__ADS_1


Keduanya pun pamit pulang. Sulastri mengantarnya hingga ke ujung gang.


__ADS_2