KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
Kabar buruk


__ADS_3

Huuueekk..


Ia pun akhirnya muntah di hadapan Alex.


"Eya...!" Alex sungguh dibuat terkejut dengan Freya yang muntah sejadi jadinya itu. Lantai di ruangan itu sudah kotor, dari material muntah nya Freya.


Huueekk


Hueekkk


Freya kembali muntah, ia tak bisa menahan sesuatu yang mendesak dari dalam perutnya. Ia merasakan sakit yang amat, saat isi perutnya itu berontak untuk dikeluarkan.


Alex jadi kasihan melihat Freya yang muntah-muntah itu. Apalagi Freya terlihat sangat tersiksa. Alex yang tadinya kesel pada Freya, kini berubah jadi penuh rasa iba. Akhirnya, ia membantu Freya untuk mengeluarkan isi perutnya di dalam ruangan itu. Alex memijat lembut tengkuk serta punggungnya Freya agar ia muntah lebih leluasa.


Alex meraih tisu di atas meja, melap sisa


muntahannya Freya di sudut-sudut bibirnya yang pucat itu. "kamu sakit?" tanya Alex lembut, pria itu terlhat sangat khawatir.


Freya tiba tiba merasa lemas, ia tak sanggup menanggapi ucapan Alex lagi. Jadilah ia hanya diam mematung menatap Alex yang juga menatapnya dengan penuh kekhawatiran itu.


"Ayo kamu bersih -bersih dulu. Habis ini kita ke rumah sakit." Ujar Alex meraih kedua tangan Freya, ia akan menuntun Wanita itu ke kamar mandi.


Freya yang lemas hanya bisa pasrah saat Alex menuntunnya ke kamar mandi.


"A, aku bisa sendiri Lex. Kamu bisa menunggu di luar." Ujar Freya lirih.


"Baiklah..!"


Alex meninggal kan freya di kamar mandi itu, Setelah ia membasuh tangannya. Dan sekarang di ruang kerjanya itu, seorang pelayan terlihat membersihkan muntahnya Freya.


Huufft..


Alex memilih menangkan diri dengan duduk di kursi kerjanya. Baru juga bokongnya ia dudukkan di kursi empuk itu, ponselnya Freya yang ada dalam tasnya yang tergeletak di atas meja berdering.


Suara deringan ponsel itu menyita perhatian Alex. Apalagi, ponsel itu terus saja berdering.


"Bawakan tas itu kemari." Titah Alex pada pelayan yang sedang membersihkan lantai ruangan itu


Alex menunjuk ke tas selempangnya Freya.

__ADS_1


"Baik tuan." Pelayan pria itu meraih tas nya Freya dan memberikannya pada Alex.


Suara deringan ponsel terus saja berdering tanpa henti, Sepertinya yang menelpon sangat tidak sabaran sekali.


Alex pun dibuat jadi penasaran, ia membuka tasnya Freya dan merogoh ponselnya Freya tanpa pikir panjang. Ia pun menekan icon hijau sehingga sambungan telepon suara itu pun tersambung.


"Kak.. Kak.. Ibu meninggal kak.. Cepat pulang kak. Aku gak bisa hadapi ini semua. Kak, ada yang bilang, warga tak mau urus jenazah ibu. Kak... Pulang cepat kak..!"


Bulu romanya Alex berdiri mendengar ucapan adiknya Freya, yaitu Hana. Tangisan gadis belia itu


terdengar sangat menyedihkan. Alex sampai menitikkan air mata mendengar isak tangisnya Hana.


"Innailaihi wainnailaihi rojiun. .!" ujar Alex lirih.


"Kak... Kak...!"


"Iya, Sebentar ya Dek. Ini Abang Alex, abang akan kasih hapenya pada kakakmu."


Hua... hua.. hua..


"Bang.. Tolong bang, tolong aku dan ibu. Ibu meninggal bang. Aku gak tahu harus apa.. Hua.... hua.. hua...!" ujar Hana masih menangis dengan histeris dalam sambungan telepon itu.


"Gak, gak bang. Kak Darmi bilang. Tak akan ada yang mau urus jenazah ibu. Kata mereka kak Freya seorang pelacur. Jadi, kata kak Darmi, keluarga pelacur tak boleh di fardu kifaya i di kampung ini."


Duar....


Duar..


Duar..


Seperti sambaran petir di siang hari, Alex tidak menyangka kalau Freya benar benar seorang pela cur. Memang Sempat ia dengar kabar burung itu di kampus, setelah selesai sidang skripsi. Tapi, ia jelas tak percaya. Karena tak mungkin Freya seperti itu.


"Bang, mana kakak?"


Alex pun tersadar dari lamunannya. Ia menoleh ke arah Freya yang sedang berjalan ke arahnya.


Mata nya melotot sempurna, menatap heran Freya yang berjalan ke arahnya itu. Ia tak menyangka wanita yang ia kenal polos baik dan soleha ini, adalah seorang wanita panggilan.


Freya kini berdiri dengan bingungnya di hadapan Alex yang dibatasi oleh meja kerjanya.

__ADS_1


"A, aku sepertinya masuk angin." Ujar Freya sedikit tergagap.


Alex diam dengan ekspresi wajah bingungnya. "Hana menelpon!" ia sodorkan hapenya Freya ke si empunya.


Dengan sedikit bingungnya Freya meraih hapenya dari tangannya Alex. Melirik lirik Alex, sambil mendekatkan ponsel ke kupingnya. Saat ini, Alex hanya menunggu reaksi Freya setelah bicara dengan sang adik.


"TIDAk...!" teriak Freya histeris. Tubuhnya bergetar hebat. Ponsel di tangannya meluncur jatuh ke karpet di lantai itu.


Freya sudah seperti orang kesambet setan. kedua matanya melotot dengan tatapan sedih dan kosong, sedangkan tubuhnya terlihat menegang dan bergetar hebat. Wajahnya yang cantik, kini pucat pasi, seperti tak dialiri oleh darah sedikitpun. Sungguh keadaan Freya sangat memperhatikan saat ini.


Ia akhirnya memutar lehernya ke arah Alex. "Ibuku meninggal, Ibuku telah meninggal. Ibu meninggal karena aku... Hua.. Hua... Hua... " Ujar Freya histeris. Tangisnya pecah di ruangan itu. Ia yang merasa lemas, akhirnya ambruk di atas ambal warna merah motif bunga itu.


Alex dengan cepat bangkit dari duduknya di saat melihat Freya terduduk di atas ambal. Ia sangat sedih melihat keadaan Freya yang terlihat terpukul.


Iya mendekati Freya mengusap lembut lengan Freya. "Sabar, Semua makhluk hidup yang bernyawa di dunia ini akan mengalami kematian." Ujar Alex lembut


"Ini, inilah hukuman dari Allah untukku!" ujarnya lemah, menatap sedih Alex yang berjongkok di hadapannya.


"Iya, iya. Kamu sabar. Ayo bangkit, aku akan antar kamu ke kampung." Ujar Alex, menuntun Freya bangkit.


Bruggkk..


Freya malah bersujud di hadapan Alex. "Terima kasih Lex. Terima kasih.. Ku mohon jangan benci aku. A, aku, " Freya menghentikan ucapannya. Ia tak sanggup untuk berkata jujur. Tapi, ia takut, Alex jadi semakin membenci dia, jika nanti di kampung orang orang menghujatnya. Karena ia seorang wanita panggilan.


"Berdirilah, kita harus cepat pergi!" Alex meraih tubuhnya Freya, dan kini Freya sudah berdiri lemah di hadapan Alex.


"Tolong aku, aku harus cepat sampai di kampung. Gara gara aku, jenazah ibuku, katanya gak diurus." Ujarnya Sedih. Air mata mengucur deras membasahi pipinya.


"Kamu tenang, tak mungkin orang kampung tak urus jenazah ibumu. Masih banyak orang tahu hukum agama di kampung kita." Jelas Alex tegas. "Makanya, kamu kalau bertindak mikir. Sudah lihat akibat dari perbuatanmu?" Ujar Alex sedikit kesal pada Freya.


Freya sudah yakin kalau Alex sudah tahu tentang dirinya yang Seorang wanita panggilan.


"Asal kamu tahu Freya, azab dari berzina itu, sangat cepat didapatnya di dunia. Belum lagi nantinya di akhirat."


"I, iya.. Aku salah. Aku..!" Ujar Freya menunduk sedih.


"Gak usah dibahas lagi. Tunggu sebentar di sini. Aku siapkan dulu semuanya." Ujar Alex menatap lekat Freya yang masih menunduk dengan keadaan tubuh yang bergetar hebat.


TBC

__ADS_1


__ADS_2