KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#241


__ADS_3

Tiga orang berjanggut tebal, dengan memakai celana cingkrang dan baju kurta berwarna putih masih menunggu di ruang tamu. Nyai Indrawati yang menyuruh Qurratul Aini membuatkan minuman untuk ketiga tamunya, masih mondar-mandir di dalam kamarnya. Tadi siang ia sudah menerima telpon dari Rianti yang akan datang hari ini, tepatnya selesai ashar ini, untuk membawa Qurratul Aini ke rumah Tuan Guru Izzul Islam. Tapi di ruang tamu kini sudah ada sepupu jauhnya beserta dua orang yang merupakan teman dekat ayahnya. Sepupunya itu pasti sudah memberitahukan mereka tentang lamaran Tuan Guru Izzul Islam kepada Qurratul Aini. Semua orang tahu, bahwa almarhum suaminya dan teman-temannya, yang mengatasnamakan diri mereka sebagai pembaharu sunnah, adalah musuh debat Tuan Guru Liwa'ul hamdi, ayahnya Tuan Guru Izzul Islam. Ia yakin, kedatangan mereka adalah untuk membujuknya dan juga Qurratul Aini untuk membatalkan pernikahan itu.


"Ibu," panggil Qurratul Aini sambil mengetuk pintu kamar Nyai Indrawati. Nyai Indrawati segera membuka pintu.


"Apa kamu sudah mengatarkan tamu-tamu kita minuman?"


Qurratul Aini mengangguk.


"Tapi kenapa ibu masih di sini? Paman Dahri mencari ibu,"


"Pamanmu dan orang-orang itu pasti ingin mempertanyakan masalah pernikahanmu dengan Tuan Guru Izzul Islam. Ibu bingung harus menjawab apa,"


"Keluarlah, Bu. Ini adalah keputusanku. Biar aku yang menghadapinya. Ibu temani saja aku,"


"Silahkan diminum, Ustadz," kata Nyai Indrawati mempersilahkan ketiga tamunya mencicipi kue kering yang dihidangkan Qurratul Aini. Salah satu yang paling tua dari ketiganya dan merupakan sepupu jauh Nyai Indrawati menoleh ke arah kedua temannya. Kedua menganggukkan kepala sebagai isyarat memulai pembicaraan.


"Langsung saja, Dik, Nak Aini. Terus terang, kami kesini untuk menanyakan prihal lamaran Tuan Guru Izzul Islam kepada Dik Aini." Ia mendesah panjang dan bergantian menatap Nyai Indrawati dan Qurratul Aini.


"Terus terang, kami sangat menyayangkan itu. Apalagi setelah paman menanyakan ibu kamu kenapa kamu harus menikah dengan Tuan Guru Izzul Islam. Aini, almarhum ayahmu adalah orang yang sangat memegang teguh prinsipnya. Apa yang ia katakan benar akan dipegangnya teguh dalam hati. Begitupun sebaliknya. Kalian sendiri tahu bagaimana kerasnya beliau terhadap faham-faham bid'ah dari ulama-ulama yang menganggap diri mereka ahlus sunnah wal jamaah itu. Beliau sangat sangat berseberangan faham dengan ayah Tuan Guru Izzul Islam dan pastinya Tuan Guru Izzul Islam sendiri. Kita yang mengambil pendapat murni dari Al-qur'an dan hadist Nabi, menganggap faham yang dianut oleh keduanya adalah faham bid'ah yang sama sekali tak pernah dilakukan oleh Nabi. Jika kamu memang tetap nekat menikah dengan Tuan Guru Izzul Islam, biarlah pesantren almarhum ayahmu tetap seperti ini. Kami dan tentunya para jamaah beliau tak menginginkan amal jariyah kami menjadi sia-sia."

__ADS_1


Qurratul Aini mendesah panjang. Pandangannya di arah satu persatu ke arah ketiga tamunya.


"Kenapa paman dan teman-teman paman tidak memikirkan itu sebelumnya? Seharusnya, begitu bapak meninggal, kalian sudah punya rencana agar pesantren ini tetap hidup. Kenapa kalian diam saja ketika satu persatu para santri dijemput orang tua mereka. Aku sebagai anak telah berusaha meminta kalian, tapi kalian hanya sibuk menyalahkan orang yang tidak sependapat dengan faham kalian." Qurratul Aini menoleh ke arah Nyai Indrawati. Nyai Indrawati menganggukkan kepalanya pelan.


"Maafkan aku, Paman.Aku sudah mengambil keputusan. Cita-citaku menghidupkan kembali pesantren ini adalah untuk tetap mempertahankan ajaran Islam di tengah zaman yang kacau ini. Terlepas apa yang aku lakukan ini salah di mata kalian, aku meyakini bahwa keputusan yang aku ambil ini adalah keputusan yang benar," lanjut Qurratul Aini. Seseorang yang duduk di tengah menggelengkan kepalanya.


"Kamu telah menyakiti almarhum Tuan Guru, Nyai. Pertimbangkanlah. Nyai akan merubah image pesantren ini dengan ajaran yang almarhum Tuan Guru dan kami anggap sesat,"


Qurratul Aini kembali mendesah.


"Maaf, keputusanku sudah bulat. Aku merasa tenang karna aku merasa punya kesempatan melanjutkan cita-cita almarhum. Cita-cita yang selama ini membuatku selalu mengurung diri karna tak pernah bisa mewujudkannya," kata Qurratul Aini.


"Walaupun itu akan menyakiti hati almarhum?" kata Dahri, paman Qurratul Aini. Qurratul Aini tersenyum.


"Itu menurut kalian. Tak ada satupun yang tahu apakah seseorang yang telah mati akan tersakiti hatinya atau tidak. Kita hanya harus berprasangka baik. Dan prasangka baikku adalah almarhum bapak akan senang dengan apa yang aku lakukan. Semoga aku termasuk anak yang shalehah yang akan mengalirkan pahala terus menerus ke kubur bapak,"kata Qurratul Aini. Ketiganya tersenyum ketus. Seperti mencemooh jawaban Qurratul Aini.


"Kamu benar-benar telah sesat. Kami tetap tak mengijinkan pesantren ini bangkit jika tidak sesuai dengan apa yang dirintis almarhum Tuan Guru. Kami akan meminta jamaah untuk menyegel bangunan-bangunan asrama yang keseluruhannya adalah hasil sumbangan mereka. Mereka tidak akan sudi jika ada ajaran penyesatan di tempat ini," kata Dahri. Qurratul Aini tersenyum. Dia kemudian bangkit dan melangkah ke dalam ruangan yang dulu digunakan almarhum Tuan Guru Faeshal sebagai ruangan kerjanya. Setelah menunggu beberapa lama, Qurratul Aini kembali dengan membawa kardus besar. Kardus itu diletakkannya di atas meja. Tutup kardus kemudian dibukanya. Di dalamnya penuh dengan kertas-kertas dan buku-buku besar. Satu persatu isi kardus itu dan menjejerkannya di atas meja.


"Saya adalah orang yang sering dipanggil bapak untuk mencatat keuangan pesantren ini. Kwitansinya masih lengkap. Paman boleh memeriksanya. Hanya beberapa bangunan yang dibangun dari sumbangan jamaah. Selebihnya, bapak menggunakan harta peribadinya, termasuk menjual sawah dan ladang milik kami. Pencatatannya pun lengkap. Jika jamaah tidak rela dengan keputusan ini, aku menunggu mereka. Aku akan mengganti seluruh sumbangan yang telah mereka berikan kepada pesantren. Atau jika memang menghancurkan bangunan itu, tidak masalah. Kami akan membangun bangunan baru dari harta peribadi kami. Kami tidak ingin hanya karna perbedaan faham, semua pemberian harus diungkit," tegas Qurratul Aini. Dahri tampak terlihat tidak senang. Ia merasa tak bisa lagi menasehati Qurratul Aini. Lebih-lebih ketika melihat sama sekali tak ada upaya dari Nyai Indrawati untuk membantu melunakkan hati Qurratul Aini. Dia malah terkesan mendukung keputusan Qurratul Aini.

__ADS_1


Dahri bangkit.


"Kami sudah berusaha mengingatkan kalian bahwa jalan yang kalian ambil ini adalah jalan yang sesat," katanya. Ia menoleh ke arah dua orang temannya dan memberi isyarat keluar. Keduanya kemudian bangkit. Tanpa berkata apa-apa, ketiganya kemudian keluar begitu saja dari rumah. Walaupun begitu, Nyai Indrawati dan Qurratul Aini mengikuti ketiganya dari belakang. Sebelum mereka masuk ke dalam mobil, Qurratul Aini dan Nyai Indrawati melihat salah satu mereka mencabut plank pesantren yang terpampang di depan gerbang dan memasukkannya ke dalam mobil.


Selang beberapa menit setelah kepergian mereka, mobil yang ditumpangi Fahmi, Rianti dan pak Nurasmin tiba di depan gerbang. Nyai Indrawati dan Qurratul Aini yang sudah kembali duduk di ruang tamu, segera bangkit keluar dan membukakan gerbang untuk mereka.


Karna takut pihak dari KUA dan undangan dari kerabat terdekat menunggu terlalu lama, mereka hanya berbincang-bincang sebentar. Setelah Qurratul Aini selesai mengemasi beberapa pakaiannya, merekapun sepakat untuk segera berangkat kembali menuju pondok pesantren Qudwatusshalihin.


* * * * *


Mobil yang ditumpangi Fahmi, Rianti, Nyai Indrawati, Qurratul Aini dan pak Nurasmin sudah tiba di pintu gerbang tepat setelah azan isya berkumandang.


Di dalam ruang tamu yang akan digunakan untuk acara akad nikah, Tuan Guru Izzul Islam tampak sedang berbincang-bincang dengan kepala KUA dan beberapa petugas dari desa. Atas permintaan Qurratul Aini, acara akad nikah yang sedianya akan dilaksanakan di masjid, akhirnya dipindahkan ke ruang tamu. Qurratul Aini menginginkan acara yang sederhana dan hanya di hadiri keluarga terdekat saja.


Beberapa mobil pick up yang membawa berbagai hidangan yang dipesan Rianti dari rumah makan di kawasan Doyan Medaran dan rumah makan bu Pratiwi juga sudah berjejer di halaman rumah. Sebelumnya, lima buah mobil yang membawa makanan sumbangan dari jamaah pengajian Tuan Guru Izzul Islam yang memiliki rumah makan, sudah mengisi penuh meja-meja yang berjejer sepanjang jalan di luar gerbang rumah Tuan Guru Izzul Islam. Jumlah hidangan yang melebihi para tamu undangan yang hadir malam ini. Beberapa santri terlihat mulai menurunkannya dan meletakkannya di meja prasmanan.


"Lik, makanannya kok banyak banget, padahal tamu undangannya hanya sedikit," kata Zaebon yang saat itu ikut membantu para santri menurunkan makanan. Ia nampak heran dengan makanan yang melimpah.


"Ini acaranya gabung, Bon. Selain akad nikah Tuan Guru, acara ini juga diniatkan kepada almahumah Nyai Mustiani, Nyai Sulastri, Nyai Zulhiyani, pak Yulian dan bu Castella. Yang makan ya semua santri," kata Abdul khalik. Zaebon menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Acara akad nikah Tuan Guru Izzul Islam dan Qurratul Aini berlangsung khidmat. Satu persatu tamu undangan berpamitan pulang usai memyantap hidangan. Suasana di rumah Tuan Guru Izzul Islam kembali sepi. Di ruang tamu hanya terlihat Rianti, Jamila, Nyai Indrawati dan Qurratul Aini. Mereka terlihat terlibat perbincangan yang hangat. Untuk malam ini, mereka sepakat Nyai Indrawati dan Qurratul Aini bermalam di pondok pesantren Qudwatusshalihin sebelum diboyong kembali ke rumah Nyai Indrawati.


__ADS_2