
Sesampainya di dalam kamar, Sulastri langsung menutup pintu. Tangan Rianti di tariknya hingga tubuh Rianti jatuh di pelukannya. Tangis yang telah ditahan Sulastri akhirnya pecah. Rianti yang berusaha tetap tenang, akhirnya terpengaruh juga oleh isak tangis Sulastri. Rianti membalas erat pelukan Sulastri. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut keduanya. Hanya isak tangis yang terdengar bersahut-sahutan, menggema di dalam ruangan.
Setelah beberapa lama keduanya larut dalam tangisnya, Sulastri melonggarkan pelukannya. Kini kepala Rianti dipegangnya. Wajah Rianti kemudian diusapnya lembut dan menciumnya beberapa kali. Tangisnya membuatnya tak bisa juga mengucapkan kata-kata yang hendak diungkapkannya.
Rianti melepaskan peniti yang mengikat kedua ujung jilbabnya. Jilbabnya lalu dilepaskannya perlahan dan mengusapkannya ke air mata yang mengalir deras di kedua pipi Sulastri. Tapi semakin Rianti mengusap air matanya, air mata Sulastri semakin tak terbendung.
"Ja_jangan menangis lagi, Bu. Bukankah pada saatnya nanti kita pasti akan berpisah juga? Ikhlaskan aku, Bu. Biar aku tenang menjalani kehidupanku yang baru. Lagi pula, jarak kita hanya beberapa kilo saja. Aku akan tetap mengunjungi ibu, itu pasti," kata Rianti dengan terbata-bata dalam sesenggukan tangisnya.
Sulastri menggelengkan kepalanya. Ia memejamkan matanya. Berusaha memeras habis air matanya.
__ADS_1
"Ibu tidak bisa membayangkan, bagaimana ibu akan menjalani malam-malam ibu tanpa kamu. Ibu sudah terlanjur terbiasa ketika melihatmu mengaji ketika bangun di sepertiga malam. Ibu tidak bisa membayangkan jika mulai malam nanti, ibu tidak bisa mendengar lagi bacaan Al-qur'anmu. Siapa yang akan membangunkan ibu shalat subuh tepat waktu, Nak? Siapa yang akan mengimami ibu shalat? Siapa yang akan menemani ibu duduk di teras rumah ketika pagi sambil menikmati secangkir teh panas? Farida dan Rayhan pun tak akan bisa menggantikan posisimu, Nak. Ibu tidak bisa melewatkan malam-malam ibu tanpa kamu. Ibu tidak bisa. Kamu tetap gadis kecilku," kata Sulastri sesenggukan. Ia kembali memeluk tubuh Rianti. Rianti mendesah panjang seraya mengusap penuh kelembutan kepala Sulastri. Sesekali ia menciumnya. Rianti mendongakkan kepalanya. Seperti tak ingin air matanya jatuh di kepala Sulastri.
"Aku tahu perasaan ibu. Aku tahu betapa sedihnya ibu harus berpisah denganku. Itu juga yang aku rasakan, Bu. Kasih sayang yang ibu berikan, melebihi kasih sayang yang pernah aku dapatkan dari ibu kandungku sendiri. Ibu telah menyempurnakan kasih sayang ibu lahir maupun batin. Karna ibu jugalah aku terlahir kembali sebagai manusia." Rianti memejamkan matanya. Ia terdiam sejenak. Tak mampu melanjutkan kata-katanya. Kembali ia mencium kepala Sulastri.
" Tapi mau tidak mau, kita harus belajar berpisah, Bu. Ada perpisahan yang sesungguhnya, yang pasti akan kita hadapi, yaitu kematian. Jika tak sering mengingatnya, cintaku pada ibu tak akan pernah membuatku ridha dengan qada' dan qadar Allah." Rianti kembali terdiam sejenak. Perlahan ia mengangkat kepala Sulastri.
"Tapi keputusannya ada di tangan ibu. Aku menikah hari ini atau tidak, aku serahkan semuanya kepada Ibu. Bagiku, restumu adalah yang paling utama," kata Rianti melanjutkan kata-katanya. Sulastri mengusap air matanya. Ia melepaskan pelukannya. Setelah beberapa saat saling pandang penuh haru dengan Rianti, Ia memegang tangan Rianti lalu mengajaknya duduk di tepi tempat tidur. Jilbab yang ada di tangan Rianti diambilnya. Ia lalu memasangkannya kembali di kepala Rianti. Rianti tersenyum. Ia membersihkan wajah Sulastri dengan kedua telapak tangannya. Dengan memejamkan mata, ia mengecup kening Rianti. Rianti tersenyum.
"Tidak, Nak. Ibu akan tetap di sini bersama adik-adikmu. Ibu tadi hanya terbawa perasaan. Sesaat tadi, ibu seperti telah kehilangan milik terbaik ibu. Benar apa yang kamu katakan. Mencintai dunia itu seadanya saja. Karna semua hanyalah titipan. Saat ini, yang perlu kita lakukan adalah hal-hal terbaik yang bermanfaat untuk kehidupan dunia dan akhirat kita kelak. Jadilah istri terbaik untuk Tuan Guru. Dalam baktimu kepada suamimu, di situ ada surga yang dipersiapkan Allah untukmu. " Sulastri menghela nafas panjang. Senyumnya kembali terkulum. Ia seperti sudah menemukan kembali sosoknya sebagai seorang ibu. Kedua telapak tangan Rianti di pegangnya.
__ADS_1
"Ibu masih ingat pesan almarhum papamu. Ketika menikah dulu, papamu sering menghayal memiliki banyak anak dari ibu. Katanya, ia ingin membuat bangga Baginda Nabi saw dengan banyaknya keturunan." Sulastri mendesah. Keningnya yang mengerut seperti menyimpan kekecewaan. "Tapi sayang, ibu tidak bisa memberikan apa yang papamu harapkan. Sekarang, itu menjadi tugasmu. Lahirkan banyak anak shaleh dan shalehah dari Tuan Guru. Semoga kesalehan Tuan Guru mengalir di darah anak-anakmu nanti. Zaman ini dibutuhkan banyak generasi-generasi shaleh yang akan menegakkan kalimat Allah di muka bumi. Dan semoga kelak, mereka akan jadi amal jariyah untuk keluarga mereka," kata Sulastri. Rianti tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya penuh khidmat mendengar nasehat Sulastri.
"Ibu tidak akan memberimu terlalu banyak nasehat terkait pernikahanmu. Kamu lebih mengerti itu dari pada ibu. Ibu hanya ingin mengatakan apa yang ibu pernah dengar dari para ulama. Jadilah wanita shalehah, karna sebaik-baik perhiasan dunia adalah perempuan yang shalehah. Wanita yang shalehah juga akan jadi sekolah yang paling utama bagi anak-anaknya kelak," sambung Sulastri. Ia kemudian bangkit dan melangkah menuju photo Yulian Wibowo yang tergantung di dinding. Dengan menggunakan kursi di depan meja rias, ia menurunkan photo itu dan membawanya ke depan Rianti. Sulastri menggeleng saar pandangannya tertuju ke arah tas besar di atas ranjang.
"Lihatlah, ilmu apa yang kamu miliki sehingga kamu tahu apa yang akan terjadi. Mulai tamu yang akan datang, juga pakaian yang kamu masukkan ke dalam tas. Belum menikah sudah ketularan karomahnya Tuan Guru," kata Sulastri. Rianti hanya tersenyum. Suara yang berbisik di hatinya pada akhirnya benar-benar terjadi. Fadilah shalawat dan amalan yang diberikan Tuan Guru Izzul Islam benar-benar membuat semua hajatnya terkabulkan.
Sulastri kemudian duduk dan Photo Yulian Wibowo dimasukkannya ke dalam tas. Ia terdiam sejenak memperhatikan pakaian di dalam tas. Tiba-tiba saja ia mengeluarkan kembali photo itu dari dalam tas. Tidak hanya itu, beberapa potong pakaian juga dikeluarkannya. Setelah memasukkan kembali photo Yulian Wibowo, beberapa potong pakaian yang telah ia keluarkan kemudian di masukkannya kembali ke dalam lemari. Rianti hanya menatapnya heran.
"Kamu gak boleh membawa semua pakaianmu. Harus ada yang kamu tinggalkan di sini. Biar jika kamu pulang suatu hari nanti, kamu tidak perlu repot-repot membawa pakaian dari rumah suamimu," kata Sulastri sambil menutup pintu lemari. Ia kembali mendekat ke arah Rianti.
__ADS_1
"Photo Papa kok dimasukkan juga, Bu. Apa yang akan ibu lihat sebelum ibu tidur?" tanya Rianti setelah Sulastri duduk di depannya. Sulastri tersenyum.
"Photo papamu harus ada di rumahmu. Nanti, photo papamu yang ada di ruang tamu akan ibu pindahkan sebagai ganti photo itu. Sekarang, kamu cuci mukamu dulu, kasihan Nyai Mustiani dan Tuan Guru terlalu lama menunggu," kata Sulastri. Rianti mendesah. Setelah tersenyum manis ke arah Sulastri, ia bangkit dan melangkah menuju kamar mandi.