KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#121


__ADS_3

Pagi ini Rianti sudah duduk di teras rumah menikmati secangkir teh hangat yang dibuatkan bi Aisyah. Dia terlihat segar dan bercahaya sehabis mandi pagi. Angin pagi yang berhembus semilir dan kicauan burung-burung yang hinggap di ranting-ranting pohon tabebuya, menambah damai hatinya menikmati pemandangan pagi depan rumah. Berkali-kali ia menoleh ke dalam rumah lewat kaca jendela. Duduk sendirian di teras rumah membuatnya tak betah.


"Bu, Tehnya keburu dingin," kata Rianti sembari menoleh ke arah dalam lewat kaca jendela teras rumah. Teh milik Sulastri ditutupnya dengan wadahnya.


"Sebentar, Nak. Ibu lagi pasang jilbab," sahut Sulastri dari arah dalam. Tak beberapa lama kemudian, Sulastri muncul. Sambil memperbaiki peniti yang mengikat kedua sisi jilbabnya, ia tersenyum ke arah Rianti. Melihat itu, Rianti bangkit dan membantu Sulastri merapikan jilbabnya. Setelah itu, keduanya duduk.


"Oh ya, Rianti. Jilbab biru motif batik yang dulu ibu belikan masih kamu simpan?" tanya Sulastri setelah menyeruput tehnya. Rianti tersenyum. Ia memegang tangan Sulastri.


"Masih dong, Bu. Tapi warnanya sudah pudar. Maklum selama lima belas tahun Rianti selalu memakainya. Sekarang Rianti simpan buat kenang-kenangan," kata Rianti. Sulastri tersenyum.


"Robek pun, Rianti akan tetap menyimpannya. Itu adalah pemberian pertama ibu. Rianti tak mau membuangnya walaupun sudah tak bisa dipakai lagi," sambung Rianti.


"Oh ya, Bu. Besok Rianti ijin ya, mau jenguk Jamila di penjara. Rianti kangen sekali pingin ketemu," kata Rianti lagi setelah sejenak keduanya asik menatap ke arah depan.


"Boleh. Suruh bi Aisyah membuat makanan untuk Jamila," jawab Sulastri. Rianti tersenyum menganggukkan kepala.


"Rianti ijin juga. Rianti mau potong rambut. Terlalu panjang. Rianti potong sebahu ya, Bu," kata Rianti. Kembali ia memegang tangan Sulastri. Sulastri mengernyitkan keningnya.


"Kok dipotong? Rambutnya bagus begitu,"


"Rianti gak nyaman, Bu. Apalagi saat shalat. Lagi pula, gak ada yang lihat kan, Bu. Kan pakai jilbab,"kata Rianti. Sulastri menaikkan kedua alisnya sembari tersenyum. Ia terdiam sejenak menatap Rianti. Sulastri mengangguk.


"Tapi ibu yang potong,"kata Rianti.


"Boleh. nanti minta pencukur rambutnya sama pak Bayan. Alat cukurnya lengkap," kata Sulastri. Ia menyeruput tehnya.


* * * * *


"Iya, Tuan Guru. Nanti saya kasih tahu anak saya. Kira-kira jam berapa mau berkunjung, Tuan Guru." Suara Nyai Mustiani yang sedang menelpon terdengar hingga ke teras rumah. Tuan Guru Izzul Islam yang sedang membaca kitab di ruang tamu mencoba mencuri dengar. Suara dan langkah kaki Nyai Mustiani semakin terdengar mendekat ke arahnya.


"Insya Allah, Tuan Guru. Kami menunggu kedatangan Tuan Guru sekeluarga,"


Nyai Mustiani terlihat berdiri memegang pintu dengan tangan sebelahnya. Tuan Guru Izzul Islam masih diam menunggu sambil berusaha mencari tahu teman bicara ibunya di telpon.


Nyai Mustiani menutup ponselnya lalu duduk di samping Tuan Guru Izzul Islam.


"Siapa, Bu," tanya Tuan Guru Izzul Islam tanpa menoleh ke arah Nyai Mustiani. Pandangannya tetap terarah ke lembar kitab yang dibacanya.


Nyai Mustiani tersenyum.


"Tuan Guru Faeshal. Dia mau datang berkunjung ke rumah bersama keluarga," jawab Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam menoleh. Dia mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Berkunjung? Berkunjung kenapa, Bu," tanya Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani mendesah.


"Kamu ini pakai nanya segala. Tuan Guru Faeshal itu calon besannya ibu. Dia juga calon mertuamu. Ya wajarlah dia berkunjung. Ini bisa mempererat hubungan keluarga kita," jawab Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia mendesah dan kembali ke kitabnya.


"Kamu libur dulu ngajinya. Beliau akan datang selepas shalat isya'. Kamu juga berdandan yang rapi ya. Nak Qurratul Aini juga akan ikut."


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


"Kayak perempuan saja, Bu. Pake dandan segala,"


"Maksud ibu, yang rapi, yang ganteng. Biar Qurratul Aini nya kesemsem sama kamu," kata Nyai Mustiani.


Kembali Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia mendesah dalam. Ibunya sangat bersemangat sekali dengan perjodohannya dengan Qurratul Aini. Dia memasrahkan semuanya demi kebahagiaan ibunya.


"Ya, sudah. Ibu mau panggil pengurus asrama putri dulu. Ibu mau mufakat sama mereka. Mau bikin kue," kata Nyai Mustiani. Ia mengangkat tubuhnya pelan. Tuan Guru Izzul Islam melepas kitabnya dan membantunya berdiri. Setelah mengantar Nyai Mustiani hingga ke teras rumah bagian belakang, Tuan Guru Izzul Islam kembali ke teras depan.


Tuan Guru Izzul Islam mendesah. Ia melepas kopiahnya di kepalanya dan meletakkannya di atas meja. Garis datar akibat tekanan kopiah di keningnya terlihat jelas. Ia menyandarkan tubuhnya. Bayangan tentang perempuan berkerudung biru motif batik kembali muncul. Setelah lima belas tahun berlalu, mimpi itu tak pernah menyambangi tidurnya lagi. Selama itu juga ia belum menemukan tanda-tandanya. Perempuan berkerudung biru motif batik masih menjadi misteri, walaupun ia sendiri tak terlalu pusing memikirkannya lagi. Mungkin saja perempuan berkerudung biru motif batik itu adalah jodohnya kelak di surga. Doa tak harus dikabulkan saat ini juga dan sesuai yang di inginkan. Mungkin saja Tuhan menyimpannya dalam bentuk lain dan dalam waktu yang panjang. Kita lagi-lagi diberi pilihan. Menunggu dengan keluhan atau kesabaran.


Tak terasa waktu terus berlalu. Suara Tarhim penanda shalat jumat berumandang dari masjid pesantren. Tuan Guru Izzul Islam bangkit dari duduknya. Ia lalu masuk dan melangkah menuju kamar mandi.


* * * * *


"Ada apa, Wahyu," kata Rianti keluar dari dalam kamar.


"Alat cukurnya saya taruh di meja, Non," kata Wahyu.


"Tolong bawa ke dalam ya," kata Rianti. Wahyu mengangguk dan mengambil kembali alat-alat cukur di atas meja dan membawanya ke dalam. Dia lalu memberikannya kepada Rianti yang sudah menunggunya di ruang tamu.


Tak beberapa lama kemudian, Sulastri terlihat keluar. Begitu melihat alat-alat cukur ada di atas meja depan Rianti, ia kembali masuk ke dalam kamar. Tak menunggu lama, ia keluar lagi dengan membawa kain berwarna hijau dan cermin besar.


"Untuk apa itu, Bu," tanya Rianti.


"Katanya mau cukuran. Ini biar potongan rambutnya gak kena baju kamu," kata Sulastri sambil menggelar kain hijau di tangannya. Rianti tersenyum.


"Hebat, ibu sudah kayak tukang cukur profesional saja," kata Rianti mengacungkan jempolnya.


"Ayo, kamu pindah duduk sana," kata Sulastri menunjuk ke arah kursi dekat jendela yang menghadap ke halaman rumah. Rianti menyibak tirai yang menutupi jendela lalu duduk di depan cermin yang diletakkan Sulastri.


Sulastri tersenyum. Senyum yang tersungging di bibir Rianti di depan cermin membuat wajahnya semakin menawan. Dia lalu membuka jilbabnya. Rambut panjang Rianti terurai menjuntai ke bawah hingga pinggang. Sulastri menggeleng.


"Sayang sekali kamu potong rambutmu yang panjang ini, Nak," kata Sulastri.

__ADS_1


"Ah, Ibu. Besok tumbuh lagi. Rianti gak nyaman saja punya rambut panjang," sahut Rianti sembari melihat wajah Sulastri dari cermin. Sulastri menaikkan kedua alisnya seraya mendesah. Ia lalu mengumpulkan rambut Rianti yang terurai dan mengikatnya seukuran yang akan di potong.


"Sebahu saja, Bu," kata Rianti ketika melihat batas rambut yang diikat Sulastri. Sulastri menaikkan tali ikatan hingga seukuran sebahu.


Dengan pelan Sulastri mulai mengarahkan gunting di tangannya ke rambut Rianti.


Potongan rambut panjang Rianti jatuh di lantai. Sulastri menggeleng, membuat Rianti kembali tersenyum.


"Tenang, Bu. Rambutnya akan Rianti simpan kok," kata Rianti. Sulastri diam saja. Ia sibuk membersihkan bulu-bulu halus di punggung leher Rianti.


Sulastri tiba-tiba terdiam. Ada sesuatu yang hitam sebesar kuku jari kelingking di bawah daun telinga sebelah kanan Rianti. Sulastri memegangnya. Dari balik kaca cermin, Rianti terlihat heran.


"Ada apa, Bu," tanya Rianti. Sulastri tersenyum.


"Aku kira bukan tahi lalat." Sulastri menatap wajah Rianti di cermin. Rianti mengusap rambut bagian depannya yang tertiup angin hingga menghalangi pandangannya.


"Sejak kapan kamu punya tahi lalat ini," kata Sulastri. Dadanya berdebar, namun ia pura-pura terlihat sibuk membersihkan bulu-bulu halus di sekitar tengkuk Rianti.


"Sejak kecil, Rianti sudah melihat tahi lalat itu di sana. Memangnya ada apa sih, Bu. Kok serius sekali nanya tahi lalat,"


Sulastri tersenyum.


"Gak, gak ada apa-apa kok. Ibu Cuma heran, kok tempatnya tersembunyi. Gak ada yang bisa lihat," kata Sulastri tersenyum.


"Ah, ibu ini. Apa juga arti sebuah tahi lalat," kata Rianti.


"Siapa tahu punya makna tersendiri. Tahi lalat yang akan jadi perantara berubahnya hidupm," jawab Sulastri. Ia meletakkan Gunting dan alat cukur di atas meja. Rianti terlihat tak mengerti. Tak mau membuat Rianti bingung, Sulastri memegang tubuh Rianti dan mengangkatnya dari tempat duduknya.


"Ayo, sekarang mandi sana," suruh Sulastri.


"Rianti bersihkan dulu rambutnya, Bu,"


"Gak usah, nanti biar bi Aisyah dan ibu yang bersihkan. Ayo, cepat, mandi sana."


Sulastri menghempaskan tubuhnya di atas sofa begitu Rianti sudah hilangan dari pandangannya. Ia kembali teringat tahi lalat yang ia lihat di bawah daun telinga Rianti.


Riantikah perempuan milik Tuan Guru Izzul Islam? Dia kah perempuan berkerudung biru motif batik itu? Batin Sulastri.


Ia tak pernah menyadari bahwa selama ini, Rianti pun memiliki jilbab berwarna biru bermotif batik seperti yang ia miliki. Rianti memiliki kreteria perempuan dalam mimpi Tuan Guru Izzul Islam. Dan ia yakin itu. Ditambah beberapa kejadian aneh yang dilakukan Rianti saat bertamu di rumah Tuan Guru Izzul Islam. Bagaimana ia menatap Tuan Guru Izzul Islam. Ia mencoba menyimpulkan sendiri, mungkin saja Rianti adalah perempuan yang ditunggu Tuan Guru Izzul Islam.


"Ya,Allah. Kabulkan keyakinan hamba," doa Sulastri sembari memejamkan mata dengan wajah mendongak ke atas.

__ADS_1


__ADS_2