KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#127


__ADS_3

Sulastri memilih pindah duduk ke teras rumah setelah sampai jam 10 pagi ini belum ada berita dari Tuan Guru Izzul Islam tentang kedatangannya. Tadi malam, Tuan Guru Izzul Islam tidak menjelaskan dengan pasti jam berapa dia akan datang ke rumah itu. Dia hanya menyanggupi untuk datang hari ini. Rianti yang menemaninya duduk selama kurang lebih satu jam tadi di ruang tamu, memilih menyibukkan diri menanam bunga di belakang rumah. Tapi sebelumnya, Sulastri sudah mewanti-wantinya, begitu Tuan Guru Izzul Islam datang, ia harus segera masuk ke dalam kamar. Rianti tidak boleh keluar sebelum ia menyuruhnya. Tentu kelakuan dan sikap Sulastri hari ini membuat Rianti bingung dan penuh tanda tanya. Jika tidak karna ada maksud teselubung, tentu Sulastri tidak melakukan hal tidak biasa seperti itu. Pernah terbetik dalam hatinya bahwa kemungkinan saja Sulastri akan menjodohkannya dengan Tuan Guru Izzul Islam. Tapi pikiran itu segera hilang ketika menyadari betapa tak pantasnya ia jika disandingkan dengan sosok Tuan Guru Izzul Islam. Ibarat rembulan purna, ia cukup menikmati cahayanya dari kejauhan.


Hembusan angin yang sesekali datang menyejukkan suasana menjelang siang yang mulai terasa panas, melegakan tubuh Sulastri yang berkeringat.


Sulastri meraih ponselnya ketika terdengar tone pesan singkat bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat dari Tuan Guru Izzul Islam.


"Maaf kalau terlalu lama menunggu, saya masih dalam perjalanan,"


Sulastri mendesah dan meletakkan kembali ponselnya. Ia bangkit dan melangkah menuju halaman belakang. Di halaman belakang, ia melihat Rianti sedang duduk ditemani bi Aisyah. Sejenak ia memandang Rianti. Penampilannya sudah tidak seperti sehabis mandi tadi. Rianti terlihat kotor. Ia tidak suka dengan keadaan Rianti hari ini. Rianti melambaikan tangannya ketika melihat Sulastri hanya berdiri menatapnya.


"Rianti, ayo kamu masuk dulu. Tuan Guru Izzul Islam sedang dalam perjalanan," kata Sulastri. Rianti mendesah pendek.


"Bu, biar Rianti di sini saja ikut menyambut kedatangan Tuan Guru. Gak Enak kan kalau saya di kamar," bela Rianti. Sulastri menggeleng dan mendekat. Ia meraih salah satu tangan Rianti dan menariknya berdiri.


"Ini termasuk ritual, Rianti. Ayo, nanti kamu akan tahu sendiri," kata Sulastri. Rianti menoleh ke arah bi Aisyah, seperti mencari pendapat.


"Benar seperti itu, Bi," tanya Rianti. Bi Aisyah menaikkan kedua pundaknya.


"Bi Aisyah nya gak tahu apa-apa. Ayo,ikut ibu," kata Sulastri. Rianti pun terpaksa bangkit dan mengikuti Sulastri.


"Sekarang, kamu mandi lagi sana," kata Sulastri ketika telah sampai di teras rumah. Rianti mengerutkan keningnya.


"Mandi lagi? kan tadi udah, Bu," kata Rianti.


"Gak usah bantah ibu. Mandi saja sana. Tubuhmu sudah bau keringat. Ingat, jangan melakukan apa-apa lagi. Duduk saja di dalam. Bersih-bersih dan nanam bunganya besok hari minggu saja," kata Sulastri sembari mendorong tubuh Rianti masuk ke dalam rumah.


* ** * *


Cuaca menjelang siang mulai terasa menyengat. Para pengendara motor di jalan raya seperti berebutan saling mendahului akibat cuaca panas yang memantul di permukaan aspal jalan.


Mobil Fanther warna silver yang di tumpangi Tuan Guru Izzul Islam dan sopir pribadinya, Zaebon melaju kencang di jalanan. Perjalanan menuju rumah Sulastri yang sejatinya direncanakan jam 8 pagi, akhirnya molor karna ada tamu mendadak di pondok pesantren. Dia baru bisa berangkat ketika tamunya pergi sekitar jam 10 tadi.

__ADS_1


Tuan Guru Izzul Islam menggelengkan kepalanya ketika mobil yang ditumpanginya semakin mendekat ke lampu lalu lintas di perempatan jalan. Hanya berjarak beberapa detik saja sebelum lampu merah menyala kembali. Jika tidak karna mobil warna biru didepannya yang jalannya terlalu lambat, mungkin ia tidak akan menunggu sampai lampu hijau menyala kembali.


"Bagaimana menurutmu, Bon. Bagus gak mobil yang di depan," kata Tuan Guru Izzul Islam mengajak Zaebon berbicara di sela-sela menunggu sembari memperhatikan mobil yang berhenti didepannya.


"Bagus sekali, Tuan Guru. Kayaknya lebih nyaman," jawab Zaebon.


"Tuan Guru Faeshal juga punya mobil yang seperti ini lho. Katanya sudah gak produksi lagi," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Tapi saya perhatikan, jalannya kok lambat sekali," sambung Tuan Guru Izzul Islam.


"Bukan mobilnya mungkin yang lambat Tuan Guru. Tapi sopirnya yang belum fasih," jawab Zaebon. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Coba kalau sopirnya Zaebon, pasti sudah terbang," canda Tuan Guru Izzul Islam. Zaebon hanya tersenyum.


Seorang perempuan terlihat keluar dari dalam mobil di depannya. Perempuan itu mendongak ke arah lampu merah sebelum berjalan menuju bagian belakang mobilnya. Ia terlihat memeriksa salah satu roda mobil bagian belakang. Zaebon mengangkat tubuhnya. Begitu juga dengan Tuan Guru Izzul Islam. Di saat Zaebon memperhatikan ban mobil yang diperiksa perempuan itu, Tuan Guru Izzul Islam malah fokus ke wajah perempuan pemilik mobil.


"Kayaknya bannya kempes, pantesan jalannya lambat," kata Zaebon.


"Bon, kamu keluar dan bantu dia," kata Tuan Guru Izzul Islam. Zaebon mengangguk dan segera membuka pintu mobil. Tapi baru saja kaki sebelahnya diturunkan, klakson-klakson mobil dan sepeda motor di belakang mobil mereka terdengar bising berbunyi. Lampu hijau telah menyala. Perempuan itu terlihat bergegas memasuki mobilnya.


"Bon, tolong ikuti mobil itu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Sorban yang menutupi wajahnya di lipatnya kembali dan meletakkannya di pundak. Ia mendesah. Ia yakin mobil yang kini diikutinya adalah mobil milik Tuan guru Faeshal, dan perempuan yang tadi dilihatnya adalah Qurratul Aini. Ia merasa perlu mengikutinya, mengingat salah satu ban mobilnya kempes. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada Qurratul Aini. Dia harus memastikan dulu Qurratul Aini mencari bengkel terdekat untuk memperbaiki mobilnya sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah Sulastri. Di depan sana ada bengkel besar. Ia yakin mobil itu mengarah kesana.


Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan dahinya ketika mobil di depannya berbelok menuju jalur lain yang berlawanan dengan jalur menuju bengkel terdekat. Tuan Guru Izzul Islam menyuruh Zaebon menghentikan mobilnya. Pandangannya fokus menatap ke arah mobil yang semakin menjauh memasuki jalan kecil yang ditumbuhi rerimbunan pohon waru. Tuan Guru Izzul Islam tampak heran.


"Apa kamu tahu tempat apa itu, Bon?" tanya Tuan Guru Izzul Islam. Zaebon menunjuk sopan dengan jempolnya ke arah plank yang tersembunyi di balik dedaunan pohon waru. Tuan Guru Izzul Islam mengarahkan pandangannya ke arah plank berwarna putih yang sebagian permukaannya telah mengelupas.


Rumah makan Zamora.


"Rumah makan? desah Tuan Guru Izzul Islam.


"Kok tempatnya tersembunyi seperti ini?" sambungnya. Ia menoleh ke arah Zaebon. Zaebon tersenyum.

__ADS_1


"Maaf, apa Tuan Guru masih ingat dua orang santri yang setahun lalu kita pecat?" kata Zaebon. Tuan Guru Izzul Islam mencoba mengingat-ingat.


"Maksud kamu si Maria dan Anwar?" tanya Tuan Guru Izzul Islam. Zaebon mengangguk.


"Memangnya ada apa dengan mereka,"


"Di sinilah dulu kami menemukan mereka. Kalau tidak salah, di sini juga ada penginapan dan hiburan lainnya. Kalau menurut saya, kayaknya rumah makan hanya usaha sampingan untuk menutupi usaha yang lain. Tapi maaf, Tuan Guru. Ini hanya pendapat saya saja," kata Zaebon. Ia menundukkan kepalanya.


Tuan Guru Izzul Islam mendesah pelan. Keningnya tampak mengernyit lebih dalam. Ia penasaran dengan ucapan Zaebon.


"Apa kamu sempat masuk ke sana?" kata Tuan Guru Izzul Islam. Zaebon menganggukkan kepalanya.


"Kami terpaksa berpura-pura makan karna sesampainya di dalam, kami kehilangan jejak mereka. Setelah kami telusuri, ternyata mereka menyewa sebuah kamar di lantai atas," kata Zaebon. Perasaan Tuan Guru Izzul Islam mulai tidak enak. Dia mulai bertanya-tanya kenapa Qurratul Aini masuk ke tempat itu. Ia merasa perlu tahu karna bagaimanapun juga, Qurratul Aini adalah calon suaminya. Dia juga tak habis pikir, orang se ekstrem Tuan Guru Faeshal membolehkan anak gadisnya berkeliaran sendiri tanpa mahrom keluar rumah. Apalagi saat ini statusnya sudah ditunangkan dengannya.


"Bon, kayaknya kamu harus melakukan tugas seperti saat dulu kamu masih jadi pengurus asrama."


Zaebon menoleh. Ia belum mengerti maksud Tuan Guru Izzul Islam.


"Saya minta tolong kamu awasi perempuan pemilik mobil tadi." Tuan Guru Izzul Islam mengambil dompet di dalam laci dashboard mobil. Ia lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya kepada Zaebon.


"Nanti saya jemput kamu setelah pulang dari rumah bu Sulastri," kata Tuan Guru Izzul Islam. Zaebon mengangguk. Setelah mencium tangan Tuan Guru Izzul Islam, ia segera turun dari mobil. Tapi Tuan Guru Izzul Islam sendiri urung turun dari mobil untuk berpindah ke posisi menyetir ketika mobil yang ia buntuti terlihat keluar dari arah dalam. Zaebon segera mendekati Tuan Guru Izzul Islam.


"Bagaimana, Tuan Guru. Mobilnya keluar lagi," tanya Zaebon meminta pendapat. Tuan Guru Izzul Islam memegang pundak Zaebon.


"Kamu tetap masuk. Perempuan itu kayaknya masih di dalam. Yang nyetir tadi adalah laki-laki. Mungkin dia memerintahkan seseorang untuk membawa mobilnya ke bengkel. Perempuan itu masih di dalam" kata Tuan Guru Izzul Islam. Zaebon mengangguk.


"Apa kamu masih ingat wajah perempuan itu?" tanya Tuan Guru Izzul Islam. Zaebon kembali mengangguk. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan menyuruh Zaebon segera masuk.


* * * * *


Qurratul Aini tersenyum ketika melihat mobil kijang kapsul terparkir sendiri di garasi khusus rumah makan. Dia yakin, Cristian saat ini berada di kamar lantai atas. Dia merasa sudah tidak sabar menemuinya. Dia segera menaiki anak tangga menuju lantai atas.

__ADS_1


__ADS_2