KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#123/Tangis dan Senyum perempuan berkerudung biru motif batik.


__ADS_3

Suasana di kediaman Tuan Guru Izzul Islam tampak ramai. Beberapa santriwati terlihat mondar-mandir membawa dan menghidangkan makanan di atas meja panjang di ruang tamu. Berbagai macam makanan sudah lengkap tersaji di atasnya.


Nyai Mustiani nampak duduk di teras rumah menunggu kedatangan Tuan Guru Izzul Islam yang belum pulang dari mengimami shalat di masjid pesantren. Sesekali ia bangkit memperhatikan jam di dinding ruang tamu.


"Lik, Abdul Khalik," panggil Nyai Mustiani.


"Hei, Nak, mana Abdul Khalik, suruh dia kesini," kata Nyai Mustiani kepada salah seorang santriwati yang mendekat ke arahnya.


Santriwati itu segera berbalik dan mencari Abdul Khalik. Tuan Guru Izzul Islam terlihat di gerbang rumah. Nyai Mustiani mendesah.


"Saya, Bu Nyai," kata Abdul Khalik.


"Sudah, Lik. Tadi saya mau suruh kamu mencari Tuan Guru. Tapi sekarang dia sudah datang. Ayo, kamu lanjutkan lagi pekerjaanmu," kata Nyai Mustiani. Abdul khalik membungkukkan badan dan mundur perlahan. Nyai Mustiani bangkit.


"Kamu kok lama sekali, Izzul," kata Nyai Mustiani saat Tuan Guru Izzul Islam mencium tangannya. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia melirik ke arah jam tangannya.


"Baru saja selesai isya', Bu. Tuan Guru pasti masih dalam perjalanan atau mungkin saja belum selesai shalat," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Iya, ibu tahu. Tapi kita harus sudah siap-siap menyambut tamu kita," kata Nyai Mustiani. Mereka berdua duduk.


"Bagaimana persiapan di dalam, Bu," tanya Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani tersenyum.


"Beres. Kalau ibu yang handle, insya Allah beres. Termasuk pilihan ibu." Nyai Mustiani tersenyum. Dia melirik Tuan Guru Izzul Islam.


"Ibu jadi gak sabar ingin ketemu mantu ibu," sambungnya datar menatap lekat Tuan Guru Izzul Islam. Binar-binar di matanya seperti sedang membawanya pada bayangan jauh ke depan. Dia seperti melihat bayangan keluarga yang bahagia di wajah Tuan Guru Izzul Islam yang dipandangnya.


"Calon, Bu. Masih calon," kata Tuan Guru Izzul Islam mempertegas.

__ADS_1


"Itu doa ibu agar kamu bisa berjodoh dengan dia. Juga agar keluargamu nanti sakinah mawaddah wa rahmah. Kamu itu harusnya bilang Amin," kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Amin ya Robbal alamin."


Terdengar suara mobil dari arah depan. Tak beberapa lama kemudian, terlihat cahaya lampu mobil menyorot semakin mendekati pintu gerbang. Nyai Mustiani merapikan kerudungnya. Ia menoleh kesana kemari. Tangannya kesana kemari mengarahkan para santri yang ada di dalam segera keluar.


"Ayo, anak-anak. Kalian sambut tamunya," kata Nyai Mustiani antusias. Beberapa santri laki-laki sekejap berjejer di depan pintu gerbang membuat barisan penyambutan. Mereka menundukkan kepala mereka saat sebuah mobil Mitsubishi delica warna biru memasuki gerbang.


Nyai Mustiani menarik tangan Tuan Guru Izzul Islam agar lebih maju.


Dari dalam mobil, tampak keluar Tuan Guru Faeshal, Nyai Indrawati dan Qurratul Aini. Juga sopir pribadinya.


Nyai Mustiani tersenyum. Ia membungkukkan setengah badannya saat Tuan Guru Faeshal sudah berada tepat di depannya. Nyai Indrawati dan Qurratul Aini segera dipeluknya dan mempersilahkan mereka masuk.


"Silahkan duduk, Tuan Guru, Bu Nyai," kata Nyai Mustiani mempersilahkan. Qurratul Aini sendiri ia pegang tangannya dan mengajaknya duduk di dekatnya. Tuan Guru Izzul Islam hanya tersenyum.


"Tadi, begitu selesai shalat isya', mereka berdua langsung saya ajak kemari," jawab Tuan Guru Faeshal.


"Mari, Tuan Guru, Bu Nyai, dicicipi makanannya. Mumpung masih hangat," kata Nyai Mustiani mempersilahkan Tuan Guru Faeshal dan Nyai Indrawati memulai makannya. Piring kosong di depan Qurratul Aini langsung ia tuangkan nasi dan beberapa lauk pauk ke dalamnya. Qurratul Aini hanya tersenyum. Ia berusaha mencegah tangan Nyai Mustiani. Tapi Nyai Mustiani bersikeras dan memberi isyarat agar Qurratul Aini diam.


"Ayo, kamu gak usah malu-malu, Nak. Rumah ini rumah kamu juga, kok. Ini khusus masakan turun temurun yang khusus saya persiapkan untuk kamu," kata Nyai Mustiani. Qurratul Aini hanya bisa tersenyum. Ia merasa tidak nyaman dengan keramahan Nyai Mustiani.


Suara ponsel milik Tuan Guru Izzul Islam terdengar berdering. Perhatian orang-orang yang sedang menyantap makanannya tertuju sejenak ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam memperhatikan nama yang muncul dalam layar ponselnya. Sulastri.


Tuan Guru Izzul Islam melirik ke arah para tamunya. Ia segera mematikan panggilan. Nyai Mustiani menoleh.


"Siapa, Nak,"

__ADS_1


"Ustadz Fahmi, Bu," jawab Tuan Guru Izzul Islam. Dia terpaksa membohongi ibu dan para tamunya. Memberitahukan ibunya bahwa yang menelpon adalah Sulastri, hanya akan memperbanyak pertanyaan ibunya. Dan tentu itu tidak baik di tengah suasana makan malam yang tenang itu.


"Nak Qurratul Aini, nanti setelah ini kamu ikut ibu sebentar ya. Kita lihat ke dalam. Biar tahu suasana di dalam. Para santri juga sudah pingin lihat calon istri Tuan Guru," kata Nyai Mustiani tanpa beban. Tuan Guru Izzul Islam menggelengkan kepalanya kecil sembari tersenyum. Wajahnya memerah menahan malu. Begitu juga dengan Qurratul Aini.


"Tapi, Aini nya gak bisa ngajar, Bu Nyai. Dia nanti hanya bisa nulis resep obat," sela Nyai Indrawati.


"Owh, bagus itu, Bu Nyai. Kami sudah menyiapkan klinik untuk buka praktek Nak Aini."


Suasana kembali hening. Mereka terlihat benar-benar menikmati makan malam. Hanya terdengar suara sendok yang sesekali beradu dengan piring.


* * * * *


Sulastri melepas ponsel di tangannya ketika panggilannya di reject Tuan Guru Izzul Islam. Ia mulai berpikir, mungkin ia kurang sopan menelpon langsung Tuan Guru Izzul Islam. Seharusnya ia menelpon Fahmi terlebih dahulu untuk memberitahukan Tuan Guru Izzul Islam maksudnya.


Sulastri mendesah. Ia jadi merasa bersalah dan tak punya adab. Entah, perasaan bahagia untuk segera menginformasikan berita baik kepada Tuan Guru Izzul Islam telah membuat Sulastri menganggap Tuan Guru Izzul Islam sebagai anaknya. Ia sempat lupa kalau Tuan Guru Izzul Islam adalah seorang tokoh agama yang sangat dihormati.


Terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an dari arah kamar. Sulastri tersenyum. Suara Rianti yang sedang mengaji begitu merdu di dengarnya. Dia bertambah yakin, Riantilah perempuan berkerudung biru motif batik dalam mimpi Tuan Guru Izzul Islam. Dia memang dipersiapkan oleh Allah di dalam penjara untuk menjadi sebaik mungkin perempuan, hingga akhirnya pantas bersanding dengan seorang ulama besar seperti Tuan Guru Izzul Islam. Rianti telah mengerti dengan baik segala hal dasar tentang agamanya. Dari gadis nakal yang tak pernah sekalipun mengenal agama menjadi seorang gadis yang bahkan melampauinya dalam memahami agama. Jika tidak karna ia telah dipilih Allah untuk mendampingi orang besar, Rianti tak akan sedalam itu dalam berubah.


Sulastri perlahan membuka pintu. Dengan pelan, ia berjalan dan duduk di sisi tempat tidur. Rianti masih khusyu' membaca Al-qur'an.


Sulastri menggeleng-geleng. Dia memejamkan matanya menikmati alunan merdu suara Rianti.


Sulastri mendesah. Lagi-lagi pelajaran penting yang bisa ia petik. Jangan pernah berburuk sangka kepada seseorang. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ghazali.


Salah satu etika dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT adalah dengan tidak memandang remeh orang lain.


Selalu berbaik sangka kepada sesama, sejahat apapun mereka. Kita tak pernah tahu, di ujung usianya kelak, ia menjadi hamba pilihan Tuhan. Hidup penuh rahasia. Orang-orang yang bersabar dan mau berpikirlah yang bisa menyibaknya.

__ADS_1


__ADS_2