KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#193


__ADS_3

Bagaikan petir yang menggelegar tanpa angin tanpa hujan, apa yang baru saja ia dengar dari Sulastri membuatnya sangat terkejut. Nama yang sama sekali tak pernah terlintas dalam pikirannya. Ia hanya mengaguminya. Ia mensyukuri bahwa di zaman yang agama hanya menjadi identitas saja, ada sosok muda yang benar-benar alim, yang menjadi pengingat kelalaian sebagian besar umat islam dari tuntunan agamanya. Mulut Jamila seperti dijahit rapat-rapat dengan mata yang sedikitpun tak berkedip. Hanya nafas yang terlihat berhembus dengan cepat di dadanya. Untuk sesaat ia seperti tak mendengar apa-apa. Tak ada yang terlihat. Tidak juga Sulastri yang begitu dekat di depannya. Hanya bayang sosok Tuan Guru Izzul Islam yang kini memenuhi ruang pandangannya. Keringat tiba-tiba berkumpul di kening dan seluruh tubuhnya. Suasana sejuk di dalam ruangan itu tiba-tiba menjadi sesak dan gerah.


"Jamila?" kata Sulastri dengan meyentuh tangan Jamila. Jamila masih belum juga tersadar. Sulastri memegang tangan Jamila dan menggerak-gerakkannya. Jamila menoleh pelan ke arah Sulastri. Seperti orang yang dibenamkan kepalanya lama di dalam air, Jamila tergagap dengan dengusan nafas panjangnya. Melihat itu, Sulastri sedikit panik.


"Kamu gak apa-apa, Jamila?" Tanya Sulastri. Jamila menundukkan kepalanya. Ia merasakan pakaian yang sedang dikenakannya basah oleh keringatnya. Melihat perubahan mendadak yang terjadi pada Jamila, Sulastri menjadi serba salah. Jamila tidak juga menjawab pertanyaannya. Ia tahu Jamila kaget dan pastinya tidak pernah menyangka jika nama yang ia dengar adalah nama Tuan Guru Izzul Islam.


Jamila mendesah panjang. Ia mengangkat wajahnya dan memandang wajah Sulastri dengan tatapan kebingungan.


"Apa yang terjadi, Bu. Kenapa ibu ingin saya menikah dengan Tuan Guru? Bukankah dia adalah suami Rianti? Kenapa ibu tega mengatakan seperti itu? Bagaimana perasaan Rianti kalau mendengar ini, Bu?" kata Jamila dengan nada bergetar. Ia tak hanya kaget mendengar nama Tuan Guru Izzul Islam di sebut. Tapi ia kaget orang yang mengatakan itu adalah Sulastri, orang yang sangat disayangi oleh Rianti.


Sulastri tersenyum. Ia sudah bisa menebak, pertanyaan itulah yang akan keluar dari mulut Jamila.


Sulastri bangkit dan melangkah menyalakan lampu satu persatu. AC di dalam kamar juga dihidupkannya. Sebelum naik ke atas ranjang, ia menuangkan segelas air dan memberikannya kepada Jamila.


Tangan Jamila bergetar saat memegang gelas. Ia minum hanya beberapa teguk saja lalu memberikannya kembali kepada Sulastri.


"Ibu yakin kamu kaget mendengar kata-kata ibu tadi. Ibu Sudah menduga kamu akan bertanya seperti itu." Sulastri tersenyum dan mengambil tisu di atas meja. Sejenak ia sibuk membersihkan peluh di kening dan leher Jamila.


Sulastri mendesah panjang. Ia tersenyum memegang wajah Jamila.


"Ini bukan kemauan ibu, Jamila. Ini semua adalah keinginan Rianti. Bukan karna ia kasihan kepadamu, karna tentu bukan ini caranya. Ia ingin berbagi semuanya denganmu. Ia ingin bersama-sama denganmu memajukan pesantren. Dan alasan terpentingnya ada dalam hati Rianti. Percayalah, Rianti memiliki hati yang bersih. Segala yang ia putuskan harus melewati istiharah yang panjang," kata Sulastri. Jamila masih terdiam. Sulastri mendesah panjang. Kali ini tangannya berpindah membelai rambut Jamila.


"Ibu tahu kamu tidak puas dengan jawaban ibu. Tapi yakinlah, pasti ada alasan penting di balik keputusan Rianti ini." Sulastri terdiam sejenak.


"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Tapi jangan terlalu lama. Mintalah petunjuk kepada Allah. Dan ingat, jangan membohongi hasil istiharah dan kejujuran hatimu. Hidup ini terlalu singkat, Nak. Jika kita bisa menemukan kebaikan dalam sebuah keputusan sekalipun itu sifatnya mendadak, kenapa kita harus menolaknya? Rianti sudah memberikan restu, Tuan Guru pun sudah mengiyakan. Aku sebagai ibu mengiyakan apa yang menurut anak-anakku baik. Karna ibu yakin, Rianti dan Tuan Guru adalah orang-orang yang shaleh," kata Sulastri. Jamila menelan ludahnya dalam-dalam. Kerongkongannya terasa kering. Ia meminta gelas di atas meja kepada Sulastri. Jamila mendesah panjang.


"Ini adalah sesuatu yang tidak saya sangka-sangka sebelumnya, Bu. Terus terang saya masih bertanya-tanya, apa maksud Rianti melakukan semua ini," kata Jamila setelah menghabiskan minumannya. Sulastri menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Seperti kata ibu, saya butuh waktu untuk menjawabnya," sambung Jamila. Sulastri tersenyum. Dia memegang pundak Jamila.


"Silahkan, Nak. Ingat, minta fatwalah pada hatimu. Jika kamu anggap ini baik, maka jangan pernah menolaknya," kata Sulastri. Jamila menganggukkan kepalanya.


"Sekarang, ibu minta tolong kamu ke dapur dulu ya. Masakkan ibu air panas. Ibu mau minum anlene dulu sebelum tidur," kata Sulastri. Jamila tersenyum. Ia kemudian beranjak turun dari tempat tidur dan keluar kamar.


** * * *


Jamila berdiri terdiam sesampainya di luar rumah. Entah, ia tidak begitu tahu apa yang dirasakannya saat ini. Ia tidak tahu apakah ada rasa bahagia juga di dalam hatinya kini. Yang jelas rasa-rasa itu membuat dadanya terasa sesak. Ingin rasanya ia menemui Rianti malam ini dan menanyakannya langsung kenapa ia bisa-bisanya berpikiran sesuatu yang aneh seperti itu.


Jamila memejamkan matanya sembari menghela nafas panjang. Ia menahan nafasnya sejenak kemudian mengeluarkannya perlahan. Setelah itu ia beranjak menuju dapur.


* * * * *

__ADS_1


"Bi? Bibi belum tidur?" tanya Jamila ketika sampai di dapur. Ia melihat bi Aisyah sedang duduk mengupas bawang putih dalam wadah besar terbuat dari anyaman bambu di lantai dapur. Bi Aisyah yang tidak menyadari kedatangan Jamila, sedikit kaget. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengusap dadanya menatap Jamila. Jamila tersenyum. Ia segera mendekat dan merangkul bi Aisyah.


"Maaf kalau saya mengagetkan Bibi. Saya kira gak ada orang," kata Jamila.


"Kamu sih gak salam dulu," kata bi Aisyah.


"Kok sendiri, Bi. Bawangnya banyak sekali, untuk apa?"


"Tadi sama Munawarah, tapi ia pergi ke kamarnya di panggil suaminya," kata Bi Aisyah.


"Kenapa gak panggil saya, Bi,"


"Tadi bibi sudah ke kamarmu. Saya buka pintu, tapi kamunya gak ada. Bibi pikir kamu sedang bersama ibu,"


"Ya, Bi. Saya memang bersama ibu,"


"Terus, kenapa kamu kesini,"


"Saya mau masak air buat ibu," jawab Jamila. Bi Aisyah mengangguk.


"Ya sudah sana. Pakai teplon yang besar. Sekalian saja isi termos itu biar besok ibu tinggal seduh susunya,"


Jamila mengangguk dan bangkit menuju kompor dapur. Setelah memenuhkan teplon dengan air, ia kemudian menyalakan kompor. Ia kemudian mengambil pisau kecil di rak dan kembali menuju tempat bi Aisyah duduk. Tangannya mulai cekatan mengupas kulit bawang.


"Ini kiriman dari bu Trianti. Orang yang ditugaskan ibu untuk mengurusi rumah makan dan tempat wisata di kawasan Doyan Medaran. Katanya, mumpung bawangnya ada disini, dia menyuruh bibi dan Munawarah untuk membersihkannya. Yah, lumayan buat tambahan uang saku,"


"owh, kalau begitu biar saya bantu bibi sampai habis,"


"Gak usah, kamu temani ibu saja sana. Lagi pula, bawang segini gak mungkin habis sampai besok,"


Jamila tersenyum dan kembali fokus mengupas bawang. Sejenak suasana menjadi hening. Hanya terdengar suara air yang mulai mendidih.


Jamila mendesah pelan. Diliriknya ke arah bi Aisyah.


"Bi."


Bi Aisyah menoleh.


"Ada apa, Jamila,"


Jamila menggaruk-garuk kepalanya sambil tersipu malu.

__ADS_1


"Gak jadi deh, Bi,"


"Loh, kok gitu. Jangan biarkan bibi penasaran begitu. Ayo, jika ada yang ingin kamu sampaikan, sampaikan sama bibi,"


Jamila mendesah. Ia menatap bi Aisyah.


"Sebenarnya saya..., mau pinjam duit, Bi. Seratus ribu saja buat beli pembalut," kata Jamila tersipu malu. Bi Aisyah tersenyum. Ia melepas pisau di tangannya di atas tumpukan bawang.


"Begitu saja malu. Kamu tunggu dulu, bibi mau ambilkan uangnya," kata bi Aisyah sembari sekuat tenaga mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Sejenak ia mengurut-urut kedua lututnya yang terasa pegal karna terlalu lama duduk.


"Ayo,kamu pindahkan dulu airnya ke termos. Kayaknya sudah mendidih," kata bi Aisyah. Ia lalu keluar dari dapur.


Tak beberapa lama kemudian, ia kembali lagi. Uang seratus ribu di tangannya diberikannya kepada Jamila. Jamila tersenyum.


"Terimakasih, Bi," kata Jamila.


"Gak apa-apa. Gak usah dipinjam. Itu bibi kasih percuma. Sekarang, cepat antarkan ibu termosnya. Nanti keburu tidur," kata bi Aisyah. Jamila mengangguk. Setelah itu ia pamit menuju kamar Sulastri.


Sulastri yang sempat tertidur beberapa menit kembali terbangun ketika mendengar suara pintu di buka.


"Jamila?"


"Ya, Bu. Maaf saya terlalu lama,"


"Gak apa-apa. Taruh saja di atas meja. Buat susunya nanti subuh saja. Ayo, kamu juga tidur,"


"Saya tidur di kamar saja ya,Bu. Saya mau shalat dulu dan menyetrika pakaian. Nanggung, sebentar lagi subuh,"


"Ya sudah kalau begitu. Terimakasih ya Jamila,"


Jamila tersenyum menganggukkan kepalanya. Setelah meletakkan termos di atas meja, ia melangkah keluar kamar.


* * * **


Cahaya fajar shadiq terlihat melebar di angkasa. Suara lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an mulai terdengar lamat-lamat dari kejauhan. Mulai saling sambut dari masjid-masjid yang suara speakernya terbawa angin.


Jamila yang sudah memakai mukenanya masih bersimpuh di atas sajadahnya setelah beberapa menit tadi menyibukkan diri membaca Al-qur'an dan berzikir. Perenungannya yang panjang untuk mendapatkan jawaban akhir dari hatinya, masih terhadang oleh bayangan Rianti dan ketidak pantasannya menjadi pendamping hidup kedua Tuan Guru Izzul Islam. Terlepas Rianti mengijinkannya, ia tetap merasa tak tega bila akan mendapatkan bagian cinta Tuan Guru Izzul Islam dari Rianti. Sahabat sepenanggungan di penjara, teman berbagi ilmu dan pemberi semangat untuk tetap tak putus asa menjalani ketentuan Allah. Walaupun sekali lagi Rianti menginginkannya sebagai madunya, tapi baginya itu sangat tidak pantas.


Jamila mengangguk mantap. Dia harus pergi dari tempat itu walaupun ia sendiri tak tahu kemana akan melangkah. Tuan Guru Izzul Islam adalah milik Rianti. Dia tidak mau cinta Tuan Guru Izzul Islam terbagi. Cintanya hanya milik Rianti.


Adzan subuh berkumandang. Jamila memejamkan matanya . Alunan suara Adzan seperti masuk ke dalam hatinya. Mengaduk satu persatu berbagai rasa resah dan tak mengenakkan dalam hatinya. Ia kembali bimbang. Usai adzan subuh, ia menengadahkan kepalanya dan mulai berdoa.

__ADS_1


"Ya, Allah, waktu antara adzan dan iqomah adalah waktu terbaik dan mustajab untuk doa yang dipanjatkan hamba-hamba-Mu. Maka berilah petunjuk atas kebimbangan hatiku, Ya Allah. Tuntun hatiku agar bisa memberikan fatwa terbaik untukku. Bimbinglah hamba agar tidak salah jalan karna mengambil keputusan yang salah. Engkau pemberi petunjuk. Engkau penerang jalan. Engkau pembimbing orang-orang yang tersesat. Tidak ada daya dan upaya hanya selain-Mu. Amin." Masih dengan memejamkan mata, Jamila menutup doanya dengan meletakkan kedua telapak tangannya lama di wajahnya.


Jamila mendesah panjang. Keputusannya sudah bulat. Usai shalat subuh, dia akan pergi. Dia berharap kepergiannya ini adalah jawaban dari Allah swt. Dia berharap keputusan yang diambilnya adalah keputusan yang benar.


__ADS_2