
Setelah melalui proses persidangan, akhirnya diputuskan vonis bagi Rianti adalah enam bulan penjara. Rianti dinyatakan bersalah dan melanggar UU ITE karna mengakui kesengajaan pembuatan video untuk konsumsi publik. Pak Jamal dan Jeri di vonis 12 tahun penjara. Sedangkan Mohan mendapatkan vonis yang sama dengan Rianti.
* * * * *
Suara sepatu petugas sipir yang mengantar Rianti menuju selnya terdengar menghentak,menggema dalam ruangan. Rianti bergantian menoleh ke arah ruang-ruang di samping kiri dan kanannya. Hanya satu dua penghuni ruang yang tertarik dengan kedatangan sipir dan Rianti. Mereka tersenyum ketika Rianti menatap ke arah mereka. Senyum tak henti-henti tersungging dari bibirnya ketika semakin dekat dengan ruangan yang terletak paling ujung. Dia sama sekali tak asing dengan ruangan itu. Allah masih menyayanginya. Jika benar ruangan yang akan ditempatinya adalah ruangan paling ujung itu, maka ia akan bersama lagi dengan orang yang telah berjasa dalam memahamkannya dasar-dasar agama.
Rianti tersenyum. Dilihatnya seorang perempuan nampak terbaring lelap dalam tidurnya di atas ranjang kecil di sudut ruangan. Saat petugas membukakan pintu penjara buat Rianti, perempuan itu tidak juga terbangun.
Rianti mendesah. Ia tersenyum sembari mendekat pelan ke arah perempuan yang terbaring nyenyak. Suara dengkurannya bahkan sesekali terdengar. Wajahnya terlihat lelah.
Rianti melepas pelan tas hitam di tangannya di bawah tempat tidur. Perlahan ia duduk di samping perempuan itu terbaring. Rambut perempuan itu di usapnya lembut.
Jamila menggerakkan kepalanya. Rianti tersenyum. Kembali ia mengusap rambut Jamila. Jamila membuka matanya perlahan. Ia menatap lama ke arah Rianti. Rianti terus tersenyum. Jamila mengusap kedua matanya. Matanya memincing. Kembali ia mengusap matanya. Ia masih belum percaya dengan apa yang kini di lihatnya. Setelah beberapa saat terpaku memandang Rianti yang tak henti-henti tersenyum ke arahnya. Ia tiba-tiba melonjak kaget.
"Rianti? Benarkah yang aku lihat ini?" Kata Jamila. Kembali ia mengusap matanya. Rianti mengangguk. Tangan Jamila memegang wajah Rianti.
"Kenapa kamu tiba-tiba ada di sini. Kenapa kamu tidak memanggilku ke ruang pertemuan?" kata Jamila. Ia masih terlihat kebingungan. Kesadarannya belum sepenuhnya menyatu.
"Tempatku di sini, Jamila. Aku kesini untuk menemanimu beberapa bulan ke depan sampai kamu bebas," jawab Rianti tenang. Jamila mengerutkan keningnya. Ia menatap Rianti penuh penasaran.
"Apa yang kamu bicarakan, Rianti. Jangan membuatku bingung,"
Rianti tersenyum. Tangan Jamila dipegangnya. Ia mendesah panjang.
"Jamila, Aku mungkin di sini sekitar enam bulan. Itu artinya, ketika kamu bebas nanti,aku masih di sini."
Jamila melepas pegangan tangan Rianti. Dengan kening yang masih mengerut, tatapannya tak berpaling menatap Rianti.
Plak!
__ADS_1
Rianti terkejut. Tanpa terduga-duga, tiba-tiba saja dengan begitu cepatnya tangan Jamila mendarat di pipinya. Tak hanya itu, Jamila langsung bangkit dan turun dari tempat tidurnya. Ia melangkah ke depan dan berhenti di jeruji ruangan dengan tubuh membelakangi Rianti. Rianti mendesah memandangnya. Ia tahu Jamila marah karna ia kembali menghuni tempat itu.
"Kenapa kamu tidak pernah belajar dari masa lalu, Rianti. Lupakah kamu janjimu saat hendak keluar dari tempat ini? Aku kira kamu sudah berubah, Rianti. Apa kamu tidak malu dengan statusmu yang telah menikah dengan seorang Tuan Guru?" kata Jamila. Rianti tersenyum. Ia kemudian bangkit. Ia mendekat perlahan menuju Jamila. Tubuh Jamila dipeluknya dari belakang. Jamila terdiam.
"Ini adalah doa masa laluku, Jamila. Walaupun ini aib bagiku, tapi aku bersyukur Allah masih menyayangiku dengan memberikanku hukuman di dunia. Dengan begitu, kelak aku akan mengahadap-Nya dengan kesalahan yang telah di berikan hukumannya," kata Rianti. Jamila membalikkan tubuhnya perlahan. Kini ia berhadapan dengan Rianti. Pipi Rianti yang tadi ditamparnya di usapnya lembut.
"Maafkan aku, Rianti. Aku hanya tak ingin kamu tinggal di tempat ini lagi," kata Jamila. Rianti tersenyum. Tangan Jamila diciumnya.
"Doaku telah dikabulkan Allah, Jamila. Dan aku bersyukur karna bisa satu ruang lagi denganmu. Aku bisa menggunakan hari-hariku di sini untuk menuntaskan hafalan Alqur'anku."kata Rianti.
"Kamu belum khatam?" tanya Jamila. Rianti menggeleng.
"Apa saja yang kamu lakukan selama bebasmu sehingga belum khatam,"
Rianti tersenyum.
"Sebentar, Jamila. Aku mau memperkenalkanmu kepada seseorang," bisik Rianti di telinga Jamila. Jamila mengerutkan keningnya. Perlahan ia melepaskan pelukannya.
"Seseorang?" tanya Jamila heran sambil menengok kesana kemari. Rianti hanya tersenyum. Kedua tangan Jamila di pegangnya dan meletakkannya di atas perutnya. Tangan Jamila kemudian diusap-usapkannya di perutnya. Mata Jamila memincing. Senyum kecil terkulum dari bibirnya.
"Ayo, Nak. Kenalan dulu sama bibi Jamila. Dia ini yang telah jadi perantara ibu mengerti dasar-dasar agama. Jika Allah tidak mengutusnya untuk ibu. Ibu tetap akan jadi manusia paling bejat di muka bumi ini," kata Rianti sambil menatap ke arah perutnya.
Jamila membungkukkan wajahnya. Ia mengusap lembut perut Rianti. Setelah itu ia menciumnya.
"Assalamualaikum, Nak. Kamu ini tercipta dari benih kedua orang tua yang shaleh. Ibumu adalah wanita paling baik hatinya. Dan Ayahmu, tak perlu ditanyakan lagi. Bibi sering mendengar beliau berceramah. Pengajian yang bibi dapatkan dan berikan kepada ibumu adalah pengajian yang telah aku dengar dari ayahmu. Ceramah ayahmu yang santun dan penuh hikmah lah yang membuat bibi juga bertaubat sepenuhnya," kata Jamila balas memuji Rianti. Rianti tersenyum.
"Benarkah?" kata Rianti. Jamila mendongak. Ia kembali menegakkan punggungnya.
"Bukankah kamu menikah dengan Tuan Guru Izzul Islam?" tanya Jamila. Rianti mengangguk.
__ADS_1
"Nasehat-nasehat, pengajian-pengajian yang dulu aku berikan saat diskusi panjang kita setiap malamnya aku dapatkan dari suamimu. Aku hanya mengawalinya saja sebelum kamu mendapatkan yang sebenarnya dari beliau setelah kalian menikah," kata Jamila.
"Ayo, duduklah. Anakmu pasti ingin duduk juga," kata Jamila. Ia mengajak Rianti duduk kembali di atas tempat tidur.
Rianti menoleh ke kalender lusuh yang tergantung di atas tempat tidur. Ia tersenyum ketika melihat lingkaran hitam yang menandai salah satu angka.
"Itu tanggal kebebasanmu?"
Jamila mengarahkan pandangannya ke arah kalender. Ia lalu bangkit menuju lemari kecil dekat tempat tidur. Dari dalam lemari ia mengeluarkan sebuah buku tebal. Dia kemudian kembali duduk. Rianti hanya melihat saja. Ia belum mengerti kenapa Jamila membawakannya buku.
"Peganglah," kata Jamila. Setelah Rianti memegang buku itu, Rianti membuka lembaran-lembaran buku dan mendapatkan sebuah bolpoin di tengah-tengah lembaran buku.
"Ini adalah novel Layla dan Majnun. Dan bolpoin ini adalah penanda batas aku membacanya. Aku sudah memperkirakan, ketika aku bebas nanti, novel ini juga selesai aku baca." Jamila mengambil bolpoin itu dan menutup buku. Ia kembali bangkit. Sejenak ia memandang Jamila. Ia tersenyum.
"Tahu gak kenapa aku bersemangat ingin keluar dari penjara ini," tanya Jamila. Rianti menggeleng.
"Karna aku punya harapan bertemu kamu di luar sana. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Jadi, Ketika kamu sudah ada di sini, aku tidak lagi bersemangat untuk keluar." Setelah mengatakan itu, Jamila melangkah menuju kalender. Angka yang ditandai melingkar dicoretnya hingga tak terlihat lagi. Setelah itu, ia kembali duduk. Ia langsung mengusap kepala.
"Semoga aku juga diberi tambahan waktu menemanimu di sini. Aku tidak mau keluar sekalipun aku sudah bebas. Aku akan pergi dari tempat ini sampai kapanpun kamu bebas," kata Jamila. Rianti menitikkan air matanya. Jamila memeluk tubuhnya erat.
"Tidak boleh seperti itu, Jamila. Kamu harus keluar. Kamu tidak perlu khawatir tinggal dimana. Ibu sudah menunggumu di rumah. Dia selalu menanyakanmu. Kamu sudah disiapkan tugas oleh ibu dan dik Fahmi. Kamu akan jadi pengurus di pondok pesantren dik Fahmi,"
"Dik Fahmi sudah punya pesantren?" tanya Jamila. Rianti mengangguk.
"Insya Allah, setelah panen padi, kami akan memulai pembangunannya,"
"Tapi aku tetap akan menemanimu disini sampai kamu bebas. Aku gak semangat jika tidak melihatmu."
Keduanya kembali berpelukan dengan eratnya. Isak tangis mereka terdengar menggema, membuat hening suasana dalam ruangan penjara.
__ADS_1