KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#60


__ADS_3

Suara derap sepatu high heel milik Castella terdengar seperti hendak memecah keramik lantai tempatnya berjalan. Satu persatu ruangan tempat ia berhenti di periksa. Tak ada satupun penghuni ruang yang ditemuinya. Ia menggeleng-geleng kesal dan kembali mengangkat langkahnya.


Di ruangan paling ujung, ia berhenti lagi. Pintu itu terlihat sudah terbuka. Ia mendoongnya dengan kakinya. Ia menengok ke dalam. Seperti ruang yang lain, tak ada penghuni. Itu ruangan milik Rianti. Rianti dari tadi malam tidak pulang. Dia telah membohonginya. Tadi malam dia keluar dengan alasan untuk lembur di kantor menyelesaikan beberapa tugas kantor. Namun tidak ada bekas bahwa tadi malam ada aktifitas di tempat itu. Ia yakin pintu ruangan itu sudah terbuka sejak kemarin.


Castella kembali menggeleng. Sudah jam sepuluh pagi tapi suasana di dalam kantor seperti pekuburan. Jeri dan Mohan yang ia tugaskan harus datang sepagi mungkin, tidak ada di tempat. Kali ini ia benar-benar marah. Tong sampah di depannya di tendangnya hingga isinya berserakan kemana-mana.


"Brengsek semua!" gerutunya marah. Setelah itu ia melangkah menuju ruang kerjanya dan membanting pintu dengan keras.


"Anjing semua. Keparat." Castella membanting ponsel di tangannya setelah tadi beberpa kali ia mencoba menghubungi Rianti, Jeri dan Mohan secara bergantian namun tidak ada satupun yang mengangkat. Kali ini ia merasa diremehkan.


"Tok,tok,tok,"


terdengar suara ketukan pintu dari belakang.


"Masuk!" teriak Castella keras. Perlahan pintu terbuka. Wajah Jeri terlihat di balik pintu. Pakaiannya kusut dan wajahnya seperti orang yang baru bangun dari tidurnya. Amarah Castella yang belum reda bertambah memuncak. Matanya melotot tajam. Tanpa bicara, Ia segera mendekat ke arah Jeri dan langsung menampar wajah Jeri keras.


"Kurang ajar!, kalian semua benar-benar tak tahu diuntung. Hanya untuk bangun pagi saja kalian tak menghiraukan perintahku. Kemana saja kamu, hah!" Lagi-lagi tamparan keras mendarat di wajah Jeri. Jeri meringis kesakitan. Ia sempat terlihat emosi saat Castella menamparnya kedua kalinya,tapi ia segera ingat saat ini hidupnya masih bergantung pada Castella.


"Maaf, Bu. Non Rianti mengajak saya dan Mohan begadang di casino. Saya sudah mengingatkannya bahwa saya harus pagi-pagi ke kantor, tapi non Ranti memaksa. Saya tidak berani menolak, Bu," kata Jeri sambil memegang wajahnya.


"Sekarang, dimana dia. Kenapa dia tidak datang bersamamu," teriak Castella.


"Non Rianti masih di belakang, Bu, bersama Mohan,"


"Hah!" teriak Castella. Ia membalikkan badannya dan melangkah menuju meja kerjanya. Sebelum duduk, ia menumpahkan kemarahannya dengan menggebrak meja beberapa kali.


"Mau seperti apa perusahaan ini kalau kalian seperti ini terus. Kalian telah membuat aku malu di depan musuh-musuhku."

__ADS_1


"Pagi, Ma." Rianti muncul di belakang Jeri. Jeri segera menyingkirkan badannya dan memberi jalan pada Rianti. Jeri menarik tangan Mohan hingga berdiri sejajar dengannya.


"Anjing kamu, Rianti. Kamu benar-benar telah mempermainkan Mama." Castella mendekat dan tamparan kerasnya mendarat di wajah Rianti. Rianti yang tak menyangka akan mendapatkan tamparan terkejut dan meringis kesakitan. Tatapan marahnya lekat ke wajah Castella.


"Apa! kamu mau menampar Mama?, ayo, tampar mama," kata Castella. Ia memajukan wajahnya lebih dekat sembari tangannya mengarahkan salah satu tangan Rianti ke wajahnya. Rianti menarik tangannya keras.


"Mama, apa-apaan sih. Rianti datang baik-baik malah di tampar," kata Rianti kesal.


"Sudah jam berapa ini. Apa kamu lupa bahwa hari ini kita akan kedatangan tamu." Tatapan Castella tak berpaling.Tetap tajam menatap Rianti. Rianti mengerakkan kepalanya kesana kemari.


"Kan belum datang, Ma," belanya tak kalah sengit.


"Dari mana kamu tahu mereka belum datang. Hp kalian tak satupun yang aktif. Siapa yang tahu kalau pagi-pagi tadi mereka datang dan pulang lagi ketika tidak menemukan siapapun di sini. Kamu benar-benar tidak bisa dipercaya."


Castella mendesah. Ia membalikkan tubuhnya dan kembali duduk.


"Kalau memang seperti ini, Mama terpaksa akan menjual perusahaan ini," kata Castella. Ia menyandarkan tubuhnya. Mendengar itu, Rianti mendekat.


"Mama, apa-apaan sih. Kalau Mama menjual perusahaan, kita akan jadi gelandangan," kata Rianti dengan nada meninggi.


"Terserah. Kalau seperti ini keadaannya, kita memang tidak bisa menjalankan perusahaan. Kamu tidak berusaha membantuku mengurus perusahaan, Kamu memang menginginkan hidup menggelandang," kata Castella sambil memalingkan wajahnya ke samping.


Rianti mendesah dan meletakkan tas jinjingnya di atas meja. Melihat wajah kesal Castella, ia mulai khawatir. Ia tahu Mamanya tidak pernah main-main dengan ucapannya. Membunuh anaknya sekalipun ia akan melakukannya.


"Baik, Ma, ok. Rianti minta maaf. Rianti mengaku salah." Rianti memegang telapak tangan Castella dan menciumnya. Wajah Castella yang masih berpaling di baliknya perlahan menghadap wajahnya. Ia berusaha membuat Castella tersenyum.


Terdengar suara tone hp berbunyi mengusik diam mereka. Rianti menghela nafas panjang. Ia kembali meraih tas di atas meja, membukanya dan mengeluarkan ponsel dari dalamnya.

__ADS_1


"Ya, Pak. Selamat Pagi," jawab Rianti. Ia tersenyum.


"Maaf, Pak. Tadi ada sedikit urusan sehingga nomor saya tidak bisa dihubungi. Sekarang saya dan staf sudah ada di kantor, Pak," kata Rianti. Ia kembali serius mendengar pembicaraan orang di seberang.


"Baik, Pak.Terimakasih. Kami menunggu Bapak."


Rianti melangkah mendekati Castella dan memeluknya.


"Sudah, Ma. Maafkan Rianti. Pak Efendi sebentar lagi datang. Jangan sampai dia melihat wajah mama yang cemberut seperti ini. Mama masih ingat, kan? Mama akan membuat pak Efendi jatuh cinta dan dia degan suka rela akan membantu perusahaan kita. Rianti memegang tubuh Castella dan membantunya berdiri.


"Rianti janji tidak akan mengulanginya lagi," kata Rianti tersenyum. Ia mencium pipi Castella kemudian memeluknya.


"Jeri, dan kamu, Mohan, persiapkan segala sesuatunya di ruang pertemuan. Mumpung pak Efendi masih dalam perjalanan," kata Rianti. Jeri dan Mohan mengangguk dan segera keluar ruangan.


Castella mendesah. Ia memegang tangan Rianti.


"Sekarang, hubungi pak Pratama agar segera datang ke kantor. Suruh dia mampir dulu untuk membelikan mama HP. HP mama rusak," Castella mengarahkan pandangannya ke arah HP yang pecah dekat pintu. Rianti tersenyum.


"Siap, Bos," kata Castella. Ia pun segera keluar ruangan.


* * *


Kursi-kursi di dalam ruang pertemuan itu di buat melingkar dengan satu meja panjang di tengah-tengahnya. Castella yang duduk di apit pak Pratama dan Rianti terlihat asik menggerak-gerakkan kursi putarnya ke sana kemari. Satu meter di depannya, Pak Efendi dan dua orang pengawalnya sedang sibuk memeriksa beberapa map yang tadi di serahkan Jeri kepadanya. Selain dua kursi yang di duduki Jeri dan Mohan yang mengapit dua pengawal pak Efendi, selebihnya, kursi-kursi di dalam ruangan itu terlihat kosong.


"Bagimana, Pak Efendi. Tertarik bekerjasama dengan kami?" kata Castella. Ia rupanya tak sabar menunggu pak Efendi memeriksa satu persatu isi map di depannya. Pak Efendi mendesah dan membuka kaca matanya. Ia menatap ke arah Castella.


"Grafik penjualan perusahaan Porang milik ibu sepertinya merosot tajam. Kami perlu tahu beberapa penyebabnya agar kami bisa mempelajarinya lebih lanjut," kata pak Efendi. Castella tersenyum.

__ADS_1


"Salah satunya mungkin pergantian beberapa direksi. Pergantian itu terpaksa kami lakukan karna merugikan perusahaan. Tapi saya bisa meyakinkan Bapak, keadaannya akan segera menjadi lebih baik ketika perusahaan bapak bisa bergabung dengan kami," kata Castella mantap meyakinkan. Pak Pratama hanya diam tertunduk. Sesuai dengan arahan pak Sahril, ia berusaha berpura-pura mengiyakan apa saja yang dikatakan Castella.


__ADS_2