
Pagi ini. Di sebuah rumah besar yang terletak di bawah bukit yang dipenuhi pepohonan rimbun. Rumah besar itu terletak sekitar 300 meter dari jalan besar. Jalan menuju rumah itu adalah jalanan berbatu yang pinggirnya di penuhi semak-semak dan pohon-pohon turi liar.
Rumah itu milik mami Zelayin. Ia baru saja selesai membangunnya. Ia membeli lokasi itu itu dari hasil penjualan tanah di kawasan doyan medaran, dan sisa membayar hutang kepada pak Ahyar. Dia langsung membangun rumah besar dengan enam kamar. Empat kamar buat perempuan-perempuan yang masih ia pekerjakan karna belum mampu melunasi hutang mereka, termasuk Rahima. Satu kamar yang paling besar adalah kamar mami Zelayin. Dan satu kamar lagi untuk dapur. Mami Zelayin sengaja memilih tempat yang sepi itu. Selain untuk keamanan usahanya, harga lahan di tempat itu masih terbilang murah. Mami Zelayin harus berhemat. Hanya sedikit uang yang tersisa setelah ia membeli sebuah mobil pik up untuk operasionalnya.
Satu hari yang lalu, Jamblang ia usir dari tempat itu karna kedapatan mencuri kalung dan sejumlah uang dari dalam lemarinya. Mami Zelayin harus segera mencari pengganti Jamblang. Ia butuh dua orang penjaga karna ia takut Jamblang akan datang lagi bersama teman-temannya dan mengganggu keamanannya.
Rahima menutup tubuhnya yang telanjang dengan selimut putih lusuh penuh bercak yang menumpuk di sampingnya. Selimut lusuh dan kotor yang digunakan pelanggannya untuk membersihkan ****** dari ******** mereka usai bersenang-senang dengannya. Sepagi ini ia sudah melayani tamu. Seorang sopir truk antar provinsi yang menginap semalam. Sopir itu bermurah hati meninggalkannya sedikit tip. Uang sejumlah seratus lima puluh ribu rupiah.
Ini adalah pertama kalinya ia melayani tamu sejak kepindahannya dari tempat lama. Mami Zelayin memang hebat. Baru beberapa hari menempati rumah itu setelah selesai dibangun, ia sudah bisa mendatangkan pelanggan.
"Rahima, ayo cepat mandi. Jangan tidur terus," terdengar suara panggilan disertai gedoran pintu dari luar kamar. Rahima tak bergeming. Ia masih lemas berbaring di atas tikar lusuhnya.
"Aku mau keluar, aku percayakan rumah ini sama kamu."Terdengar lagi suara mami Zelayin setelah sejenak terdiam.
Rahima menoleh ke arah pintu. Ia mendesah.
"Iya Mi, percayakan sama saya, Mami pergi saja," jawab Rahima.
Terdengar langkah kaki yang semakin menjauh dari depan kamar Rahima. Tak berapa lama kemudian, suara mobil terdengar dan perlahan mulai menjauh.
Rahima menguap. Tidak tidur semalaman membuat tubuhnya letih dan mengantuk. Sejak Jamblang diusir Mami Zelayin karna kedapatan mencuri uang dan perhiasan milik mami Zelayin, seluruh penghuni rumah hampir tak pernah tidur bila malam tiba. Ancaman Jamblang yang akan membakar rumah itu membuat seluruh penghuni rumah, lebih-lebih mami zelayin, menjadi takut. Ditambah lagi dengan letak rumah yang sangat jauh dari keramaian. Mami Zelayin masih mencari seseorang yang mau menjadi penjaga di rumah itu.
Rahima membalik tubuhnya dan kali ini ia berbaring terlentang. Tatapannya di arahkan ke atas, memperhatikan dengan seksama rangkaian rangka baja yang memenuhi bagian atas rumah. Menatap terus tanpa mengedipkan mata, membuat matanya berkaca-kaca. Bukan karna perih, tapi entah kenapa tiba-tiba bayangan Sulastri muncul di antara rangka baja di atasnya. Ia tiba-tiba begitu rindu sosok Sulastri yang telah menjadi teman curhatnya saban malam menjelang tidurnya. Beberapa minggu yang lalu saat mereka masih tinggal di komplek lama. Entah bagaimana keadaannya saat ini. Mungkin saat ini ia sedang berbahagia dengan anak-anaknya. Yah, memang itu harapannya. Semoga kehidupan Sulastri lebih baik di luar sana.
__ADS_1
Air mata Rahima mulai mengalir di pipinya dan perlahan menetes di atas tikar tempatynya berbaring. Membayangkan tentang anak-anak dan keluarga utuh yang bahagia, membuatnya harus menangisi keadaannya yang hidup sebatang kara. Ia tak bisa membayangkan masa depannya kelak ketika ia sudah menua dan tak dibutuhkan lagi di tempat itu. Ia tak bisa membayangkan jika kelak di masa tuanya, ia sakit dan membutuhkan perawatan. Tak akan ada yang mau mengurusnya. Bahkan, jenazahnya pun akan dibuang begitu saja ke dalam lubang tanpa prosesi suci pemakaman pada umumnya.
Saat ini saja ia merasa sudah terlalu lelah. Tubuhnya seperti hendak remuk. Ia sudah tidak bisa lagi menikmati belaian laki-laki yang silih berganti datang menikmati tubuhnya. Perlakuan mereka yang beringas dan kasa saat melihatnya pura-pura tersenyum saat mereka menjamah tubuhnya, membuat tubuhnya seperti meronta tak kuat.
Ia merindukan mukena putih, shalat dan berdoa kepada Tuhan dengan hati yang damai. Hal yang sering ia lakukan dulu saat masih menjadi penghuni pantai asuhan.
Rahima menarik ujung selimut yang menutupi tubuhnya. Ia mengusap wajah dan air matanya. Setelah itu, ia mengangkat tubuhnya perlahan.
* * * * *
Castella baru saja keluar dari kamar mandi untuk mencuci mukanya saat satpam rumah datang menghampirinya. Seperti biasa, setiap jam makan, satpam itu akan membawakan nasi kotak untuk Castella.
Satpam itu masih berdiri menundukkan kepalanya. Ia masih menunggu reaksi Castella. Seperti biasa, dia satu-satunya yang lebih dahulu jadi sasaran kemarahan Castella setiap kali ia membawakannya nasi kotak. Entah sampai kapan. Pihak perusahaan belum juga mencarikan pembantu untuk melayani kebutuhan Castella. Castella mengibas-ngibas rambutnya yang basah. Satpam itu memejamkan matanya saat percikan air dari rambut Castella mengenai wajahnya.
"Tunggu." Satpam itu membalikkan badannya ketika hendak pergi ke tempat jaganya setelah keluar dari kamar Castella.
"Kenapa Rianti belum juga pulang sampai saat ini. Apakah dia pernah ngomong mau kemana," tanya Castella. Satpam itu terdiam. Bola matanya bergerak pelan kesana kemari. Seperti sedang mengingat sesuatu.
"Kalau gak salah, tadi malam sekitar jam 9 terakhir kalinya saya melihat non Rianti, Bu. Setelah itu saya tak pernah melihat non Rianti pulang lagi," jawab satpam setelah beberapa saat terdim.
Castella mendesah kasar. Tumben Rianti pergi selama ini. Ponselnya pun tidak bisa lagi dihubungi. Castella mendesah lagi. Ia menggelengkan kepalanya kesal.
Keadaan benar-benar sudah berubah kacau akibat perempuan itu. Keluarganya saat ini seperti sudah hancur dan seperti sampah yang berserakan kemana-mana.
__ADS_1
Mengingat kembali perempuan itu, membuat amarahnya kembali bangkit. Mukanya seketika berubah merah. Nafasnya menderu dengan cepat. Kedua tangannya terkepal. Pintu kamar mandi di tendangnya kuat beberapa kali. Setelah itu dengan mengumpat dan sesekali berteriak keras, ia melangkah menuju kamarnya. Satpam yang masih berdiri menatapnya segera bergegas keluar.
"Bangsat! Anjing!, bagaimana aku harus membalaskan sakit hati ini. Aku tidak bisa tenang sebelum mengamputasi tubuh perempuan laknat itu. Keparaaat!" umpat Castella lagi setelah sampai di dalam kamarnya. Ia mulai melempar apa saja yang ada di dekatnya.
Castella menghempaskan tubuhnya keras di atas ranjang. Tatapannya ke sana kemari mengikuti gemuruh nafasnya. Keringatnya mengalir memenuhi tubuhnya. Ia merasakan suasana terasa panas, luar dan dalam.
* * *
Castella mengeritkan dahinya keras sehingga matanya yang lebar terlihat menyempit. Seulas senyum di bibirnya perlahan merubah rona wajahnya yang merah. Ia bangkit. Kali ini senyumnya semakin lebar. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Pak Efendi," desahnya riang. Ia lalu melangkah menuju laci meja riasnya dan mengeluarkan ponselnya.
"Halo, dengan pak Efendi?" sapa Castella lembut ketika terdengar jawaban dari arah seberang. Castella tersenyum.
"Apa Bapak bisa datang ke rumah hari ini? Ada hal penting yang ingin saya bicarakan. Saya pastikan bahwa saya tidak akan menyia-nyiakan waktu penting Bapak. Saya tidak akan mengajak Bapak ke rumah jika tidak terkait dengan keuntungan." kata Castella. Ia masih tersenyum sendiri mendengar respon pak Efendi.
"Bapak tenang saja. Seluruh perusahaan suami saya sudah pasti jadi milik saya. Saya yakin bapak bisa membantu saya." Castella menghentikan pembicaraannya. Ia mendongak ke atas beberapa saat.
"Satu lagi. Saya akan memberikan service tambahan buat Bapak jika berkenan datang ke rumah saya," sambung Castella tersipu malu.
"Baik, Pak. Alamatnya akan saya kirim segera ke nomor Bapak. Terimakasih, Pak. Saya tunggu kedatangan Bapak."
Castella menutup panggilannya dan meletakkan ponselnya di atas meja. Ia tersenyum puas. Matanya kembali tajam dengan kedua tangan terkepal kuat.
__ADS_1
"Tunggu pembalasanku, Sulastri. Kamu akan aku buat menggelandang lagi seperti anjing jalanan di tempat sampah," teriaknya sambil memukul keras meja.