
Pagi merekah cerah. Suara kokok ayam bersahut-sahutan terdengar dari kejauhan. Sulastri yang ditemani pak Bayan berolah raga di sepanjang jalan menuju jalan utama sehabis subuh tadi, sudah kembali ke rumah. Kali ini, keduanya tampak mendinginkan tubuh mereka dengan melakukan gerakan-gerakan kecil di halaman rumah.
"Pak Bayan, tolong temani saya nanti jalan-jalan pakai mobil," kata Sulastri sambil membersihkan keringat di wajahnya dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya.
"Kapan, Bu," kata pak Bayan.
"Pagi ini, Pak. Setelah sarapan. Untuk sementara, minta tolong pak Ahmad untuk menggantikan bapak menjaga rumah"
"Siap, Bu," kata pak Bayan. Sulastri kemudian berlari menuju Fahmi dan Farida yang terlihat sedang berkejar-kejaran dengan sepeda mereka di halaman samping rumah.
* * * **
Mobil lycan hiypersport itu terlihat keluar dari gerbang rumah. Pak Ahmad yang ditugaskan untuk menggantikan pak Bayan menjaga rumah, melambaikan tangannya ke arah Farida yang mengeluarkan setengah badannya lewat kaca mobil bagian belakang. Fahmi yang berada di kursi depan, hanya tersenyum melihat pak Ahmad dari kaca spion mobil sebelum Sulastri menyuruh mereka menaikkan kaca mobil dan menyalakan AC.
"Oya, Bu. Kita mulai dari mana dulu ini nempel pengumumannya," tanya Pak Bayan. Sulastri terdiam sejenak.
"Kita ke Mataram saja dulu, Pak. Tepatnya ke kawasan jalan Doyan Medaran."
Pak Bayan menganggukkan kepalanya.
"Satu lagi Pak Bayan. Pak Bayan tahu enggak di sekitar sini ada pondok pesantren," tanya Sulastri.
"Ada, Bu. Kalau gak salah, ada sebuah desa, namanya desa Pemondah. Sekitar 10 kilo dari sini, Bu. Kalau gak salah..., nama pondok pesantrennya itu...," Pak Bayan terdiam sejenak mencoba mengingat-ingat.
"Ee..., Ponpes Qudwatusshalihin, Yah, Qudwatusshalihin namanya, Bu," kata pak Bayan setelah berhasil mengingatnya.
"Kita ke Ponpes dulu atau ke Mataram, Bu," sambung pak Bayan.
"Kita ke Mataram saja dulu, Pak. Nanti baliknya baru kita mampir di sana. Sekalian mau beli kerudung. Gak enak ketemu Tuan Guru tanpa kerudung," kata Sulastri sambil tersenyum.
"Siap, Bu,"
Suasana di dalam mobil sesaat hening. Farida dan Fahmi terlihat sudah terlelap tidur di kursi masing-masing. Beberapa kali pak Bayan mencoba mengajak Fahmi berbincang-bincang, tapi rupanya ia terlalu ngantuk.
Sulastri menyuruh pak Bayan menghentikan mobil ketika ia melihat kios photo copy di tepi jalan. Setelah memperbanyak lukisan sketsa wajah Rahima, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Sesekali mereka berhenti lagi saat ada tempat yang menurut Sulastri cocok untuk ditempelkan selebaran pencarian Rahima. Hingga ketika selebaran itu sudah habis tertempel, mereka memutuskan untuk kembali.
"Bagaimana, Bu. Jadi ke ponpes itu?" tanya pak Bayan ketika mobil berhenti di perempatan jalan. Bersamaan dengan itu, terdengar azan dhuhur berkumandang.
Sulastri menoleh ke arah rumah makan di seberang jalan. Dari tadi Fahmi dan Farida minta makan. Perutnya sendiri juga sudah mulai minta untuk di isi.
Sulastri agak ragu untuk mengajak mereka makan di rumah makan itu. Ia punya pengalaman tidak baik saat bekerja sebagai pencuci piring di tempat itu. Bu Pratiwi, pemilik rumah makan maupun para pegawainya pasti masih mengenal wajahnya. Ia takut kejadian beberapa minggu lalu terulang lagi. Dia akan dipermalukan di depan keramaian karna dianggap pengidap penyakit HIV aids.
"Ayo, Bu." Tiba-tiba Fahmi sudah membuka pintu belakang mobil. Melihat Fahmi sudah turun dari mobil, Farida pun ikut-ikutan turun dan menarik tangan Sulastri. Sulastri mengangguk ke arah pak Bayan dan mengajaknya turun.
* * *
Sulastri terdiam sejenak saat kakinya telah memasuki rumah makan. Ia menoleh ke arah perempuan paruh baya yang nampak sibuk menulis sesuatu di sebuah meja tak jauh dari tempatnya berdiri. Itu bu Pratiwi. Pemilik rumah makan itu. Sulastri menurunkan ujung kerudungnya dan menutupi setengah wajahnya.
"Silahkan, Bu. Masih ada meja kosong di sebelah sana," kata seorang perempuan muda yang menghampirinya. Sulastri mengangguk dan mengajak ketiganya menuju meja yang ditunjukkan perempuan itu. Sulastri melirik. Perempuan itu masih mengikuti mereka. Mungkin ia akan menanyakan makanan yang akan di pesan. Ia masih ingat perempuan muda itu. Itu Retno. Gadis yang begitu ramah kepadanya di hari pertama ia kerja di sana.
Sulastri mendesah. Ia merasa tidak bisa terus menyembunyikan wajahnya. Dia harus menampakkan diri. Keadaannya saat ini sudah berubah. Jika memang bu Pratiwi akan mempermalukannya, ia bisa menuntut atas dasar pencemaran nama baik.
Sulastri menarik sedikit ujung kerudungnya. Ia mengangkat wajahnya dan menatap wajah Retno.
"Dik Retno masih ingat saya," kata Sulastri sembari tersenyum ke arah Retno. Retno menatap wajah Sulastri dan mencoba memperhatikannya lebih seksama. Perempuan cantik yang sedang duduk di depannya itu seperti mengingatkannya pada seseorang. Tapi ia agak ragu. Ada banyak perbedaan. Wajahnya lebih putih dan bersih. Pakaiannya juga rapi dan terlihat mahal.
__ADS_1
"Ibu mengenal saya?" tanya Retno heran. Sulastri mengangguk kecil dan tersenyum.
"Saya pernah bekerja di sini sehari menemani bu Sahni mencuci piring kotor di belakang. Saya juga yang dik Retno berikan kartu nama sebuah lembaga masyarakat yang menangani pengidap HIV," kata Sulastri. Dia terus tersenyum menatap Retno yang nampak kebingungan melihatnya.
"Bu...," Retno menggaruk-garuk kepalanya.
"Saya Sulastri, Dik Retno,"
Retno tersenyum. Mulutnya menganga ketika ia sudah mulai mengingat Sulastri sekalipun ia masih tidak percaya dengan penampilan berbeda dari Sulastri.
"Bu Sulastri," kata Retno tanpa sadar berteriak kaget. Bu Pratiwi dan orang-orang yang sedang makan menoleh ke arahnya.
"Apa-apaan kamu, Retno. Gak sopan teriak orang lagi makan. Ayo, kerja sana," kata Bu Pratiwi marah. Ia terlihat kesal sambil menatap Retno yang belum membalikkan badannya.
Bu Pratiwi urung melanjutkan tulisannya, saat tatapan matanya tertumbuk pada wajah Sulastri yang ikut menoleh saat ia menegur Retno. Seperti halnya Retno, ia tiba-tiba merasa seperti pernah melihat perempuan yang kini masih menatapnya.
Bu Pratiwi menundukkan kepalanya. Dari kerutan keningnya saat menundukkan wajahnya, terlihat jelas ia sedang berpikir keras mengingat sesuatu. Hingga tak berapa lama kemudian, ia tiba-tiba berdiri dan melangkah menuju meja tempat Sulastri duduk.
"Hei, ngapain kamu di sini. Jangan kira aku tak mengenalmu. Kamu pengidap penyakit Aids itu kan!" kata bu Pratiwi. Sontak orang-orang yang sedang makan di tempat itu terdiam mengalihkan pandangannya ke arah Sulastri. Begitu juga dengan pelayan-pelayan rumah makan. Mereka bergerombolan melihat ke arah Sulastri. Melihat bu Pratiwi membentak Sulastri, pak Bayan berdiri dan menarik keras tubuh bu Pratiwi.
"Ibu jangan macam-macam sama majikan saya. Ibu bisa dituntut karna telah menyebarkan fitnah," kata pak Bayan tak kalah sengit. Farida dan Fahmi terlihat ketakutan dan segera memeluk tubuh Sulastri.
"Ibu belum tahu siapa majikan saya ini? Dia ini istri almarhum pak Yulian Wibowo. Orang Jerowaru yang tidak mengenal pak Yulian berarti identitasnya tidak jelas," sambung pak Bayan dengan tatapan tajam.
"Pak Bayan, duduk, Pak," kata Sulastri. Pak Bayan segera duduk, namun tatapannya masih beringas ke arah bu Pratiwi.
"Bu Pratiwi, saya yakin ini ada kesalah pahaman. Itu juga yang ingin saya tanyakan dulu ketika saya disuruh pergi dari tempat ini. Kok bisa tiba-tiba ibu tahu, kalau saya ini mengidap penyakit itu, padahal saya baru sehari bekerja di sini."
Bu Pratiwi terdiam. Ekspresi keras wajahnya perlahan melunak. Ia seperti sedang memikirkan kata-kata Sulastri.
"Lagi pula, jika memang saya benar mengidap penyakit itu, ibu tidak akan tertular jika saya hanya sekedar mencuci piring." Sulastri tersenyum dan berdiri.
"Maafkan saya, Bu. Saya ikut terpengaruh kata laki-laki yang datang menyerahkan kartu itu. Ia bercerita yang tidak-tidak tentang ibu. Waktu itu kami takut sekali tertular," kata Retno terlihat bersalah.
"Apa orang itu rambutnya cepak, kulit sawo mateng dan bertubuh tinggi tegap?" tanya Sulastri kepada Retno. Retno mengangguk cepat beberapa kali.
"Benar, Bu. Benar," jawabnya cepat. Bu Pratiwi masih terdiam.
"Dia adalah suruhan istri pertama suami saya. Namanya Mohan. Sekarang dia sudah di penjara," kata Sulatri. Ia mengalihkan pandangannya ke arah bu Pratiwi.
"Bu Pratiwi, terlepas ibu percaya atau tidak dengan cerita saya, itu urusan ibu. Tapi yang jelas, kami kesini untuk makan, bukan untuk berdebat. Anak-anak saya sudah lapar, Bu. Mereka ingin makan," kata Sulastri. Ia langsung duduk.
Bu Pratiwi mendesah pelan. Wajahnya terlihat memerah karna malu. Ia merasa telah menuduh Sulastri tanpa mengecek kebenarannya dulu kepada Sulastri. Apalagi ketika pak Bayan memberitahukannya bahwa Sulastri adalah istri orang paling kaya di kota itu,bahkan di seantero wilayah Nusa Tenggara Barat.
"Maafkan saya, Bu." Bu Pratiwi mengulurkan tangannya hendak menyalami Sulastri. Sulastri tersenyum dan menyambut hangat tangan Sulastri. Ia pun melangkah pelan menuju mejanya.
"Sekarang, mau pesan apa, Bu," sela Retno sembari menyodorkan menu makanan di depan Sulastri. Sulastri menatap Retno. Ia tersenyum. Dia menyerahkan menu makanan kepada Fahmi dan Farida untuk memilih.
Sulastri memegang tangan Retno.
"Dik Retno. Saya sudah manggil dik Retno ini dengan sebutan adik. Jadi, panggil saya kakak juga, dong," kata Sulastri. Retno tersenyum.
"Baik, Bu. Eh, baik Kak," kata Retno tersipu malu. Beberapa perempuan pelayan rumah makan yang sedari tadi hanya bisa melihat dari kejauhan, satu persatu datang meminta maaf kepada Sulastri.
* * * *
__ADS_1
Sulastri melambaikan tangannya dari dalam mobil ketika bu Pratiwi dan seluruh pelayan rumah makan berdiri mengantarnya sampai parkiran rumah makan. Mereka terlihat berbisik satu sama lain. Saling menyalahkan atas kejadian yang terjadi dua minggu lalu. Mereka kembali masuk ketika mobil yang ditumpangi Sulastri hilang di belokan jalan.
"Kita langsung saja ke pesantrennya, Pak. Kita shalat dhuhurnya di sana saja," kata Sulastri setelah menyandarkan tubuhnya di kursi mobil. Pak Bayan mengangguk dan langsung mengarahkan mobil menuju ponpes Qudwatusshalihin Pemondah.
Suasana asri pedesaan terlihat ketika mobil yang ditumpangi Sulastri masuk ke jalan kecil melewati beberapa bukit di kiri dan kanan jalan. Udara terasa segar. Bangunan megah pondok pesantren di depan mereka seperti menyambut kedatangan mereka. Hingga sesampainya di gerbang pondok, pak Bayan menghentikan mobilnya.
Tiga orang santriwati bergamis warna hitam datang menghampiri ketika Sulastri turun dari mobil. Dengan sopan, mereka tersenyum ke arah Sulastri.
"Ada yang bisa kami bantu, Bu," kata salah seorang dari mereka.
"Saya mau ketemu Tuan Guru. Rumah beliau dimana ya," kata Sulastri.
"Ibu langsung saja lewat lorong itu. Di ujung lorong itu rumahnya Tuan Guru," kata salah seorang mereka menunjuk dengan sopan sambil membungkukkan setengah badannya. Sulastri tersenyum. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari dalam tasnya dan memberikannya kepada salah satu dari mereka.
"Bagi sama teman-temannya ya," kata Sulastri. Dia lalu mengajak pak Bayan menuju ke arah lorong.
"Farida, mau gak nanti mondok di sini," kata Sulastri sambil berjalan menyusuri lorong,"
"Harus mau, ingat kata bapak Yulian. Kalau saya, mau, Bu," kata Fahmi mendahului.
"Ya, Farida juga mau," kata Farida. Sulastri tersenyum.
* * * **
Sulastri menatap photo seorang laki-laki tampan dengan sedikit janggut dan memakai sorban hijau yang melilit di kepalanya. Di bawah photo tertulis nama;
TGh. Lalu Izzul Islam.
Pengasuh Pondok Pesantren Qudwatusshalihin Pemondah.
"Masih muda ya, Bu," bisik pak Bayan ketika serempak menatap ke arah photo. Sulastri tersenyum.
Tak beberapa lama menunggu. Seorang laki-laki muda keluar. Dari penampilan serta wajahnya yang persis seperti yang ada di dalam photo, Sulastri memastikan bahwa laki-laki itu adalah pengasuh pondok pesantren tersebut.
"Maaf telah menunggu lama. Kalau boleh tahu, ada yang bisa saya bantu, Bu," kata laki-laki itu penuh wibawa menundukkan kepalanya.
Sulastri tersenyum dan ikut menundukkan kepalanya.
"Saya kesini untuk meminta doa dari Tuan Guru."
Laki-laki itu tersenyum.
"Doa apa kira-kira, Bu. Kalau boleh saya tahu,"
Sulastri mengeluarkan sebotol minuman kemasan dari dalam tasnya dan meletakkannya di depannya. Ia mendorongnya pelan ke arah laki-laki itu.
"Saya minta tolong Tuan Guru mendoakan air ini, dengan niat supaya anak tiri saya terbuka hatinya dan mau menerima saya sebagai ibunya," kata Sulastri menunduk malu.
Laki-laki itu mendesah dan tersenyum. Ia kemudian mengambil botol minuman di depannya. Setelah membuka tutupnya, ia mulai mendoakannya.
"Insya Allah. Dengan ijin Allah semoga apa yang ibu niatkan bisa tercapai dengan perantara air yang telah di bacakan kalimat-kalimat Allah,"
"Terimakasih Tuan Guru,"
"Teruslah membacakannya shalawat dan fatehah ke dalam botol itu usai ibu melaksanakan shalat lima waktu. Insya Allah, Bu. Tak ada batu yang tak berlubang jika terus menerus di tetesi air, apalagi hati seorang manusia. Ibu hanya perlu bersabar dan tak patah semangat. Saya ikut mendoakan dari sini, semoga anak tiri ibu sesuai harapan ibu," ujar laki-laki itu memberi nasehat.
__ADS_1
* * * * *
Setelah melaksanakan shalat dhuhur di rumah Tuan Guru Izzul Islam, Sulastri kemudian pamit dan pulang.