
Layla memejamkan matanya seraya menghela nafas panjangnya. Rasa bahagia dan tenang kini telah menguasai hatinya. Apa yang ia dengar langsung dari Tuan Guru Izzul Islam sedikit tidak telah memberinya harapan akan masa depannya bersama Tuan Guru Izzul Islam. Dia harus meyakini itu. Dia hanya butuh mendengar itu langsung dari Tuan Guru Izzul Islam. Masalah apa yang akan terjadi nanti, dia akan menunggu saat itu dengan istiqomah berdoa. Dia akan menyelesaikan sekolahnya yang beberapa bulan saja. Ia tak perlu memikirkan syarat kedua yang akan diajukan oleh Tuan Guru Izzul Islam setelah ia lulus nanti. Ia yakin Tuan Guru Izzul Islam akan menepati janjinya.
Layla membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju meja belajar yang ada di sudut lain kamarnya. Beberapa buku yang telah ia masukkan kedalam kardus beberapa hari lalu, ia keluarkan lagi. Saat rasa bersalah dan perasaan ingin memiliki Tuan Guru Izzul Islam tiba-tiba muncul membebani pikirannya, dia sempat ingin berhenti sekolah dan menyimpan semua barang-barangnya yang terkait dengan sekolah. Dia merasa aneh ketika di sekolah orang hanya melihat wadak kasarnya saja. Sedangkan jiwanya berkelana kesana kemari. Kini ia mulai semangat lagi.
Layla mendesah dan tersenyum lebar. Setelah merapikan buku-buku pelajarannya, ia melangkah menuju tempat tidurnya. Dia membaringkan tubuhnya terlentang dengan kedua tangan disilangkan di punggung lehernya. Matanya yang penuh binar-binar kebahagian menatap ke arah langit-langit kamar. Senyum terus mengembang dari bibirnya.
Sementara di tempat lain, seperti halnya Layla, Jamila pun masih tertegun di atas ranjang empuknya. Sudah terbiasa tidur di ruang sempit dengan hawa dingin, dia malah merasa asing. Dia hanya mondar-mandir sebelum ia duduk di tepi ranjang. Tapi bukan itu saja yang membuatnya tidak bisa tidur. Dia memikirkan Rianti yang kini sedang terbaring sendiri di ranjang sempit penjara. Tidak ada lagi yang akan menghalau nyamuk di tubuhnya. Tak ada yang akan menyiapkannya susu hangat menjelang tidurnya. Tak akan dilihatnya lagi wajah teduh yang pulas dalam tidurnya. Dan tak ada yang akan menemaninya mengambil air wudhu ketika ia terbangun di sepertiga malam untuk shalat tahajjud. Rianti sendiri.
Dengan kondisinya yang sedang hamil tua seperti saat ini, tentunya akan menyusahkannya. Masa kehamilan pertamanya yang seharusnya berada di dekat suami dan kerabat terdekatnya, akan dijalaninya sampai masa kebebasannya tiga bulan kemudian.
Suara pintu diketuk dari luar diringi suara panggilan. Jamila segera mengenal suara yang memanggil namanya. Ia bangkit dan melangkah membuka pintu.
"Eh, Ibu," kata Jamila tersipu malu ketika melihat Sulastri tersenyum di balik pintu. Ia membuka pintu lebar-lebar.
"Kamu belum tidur?" kata Sulastri. Ia memegang tangan Jamila dan mengajaknya duduk di sisi ranjang.
"Belum, Bu,"
Sulastri memperhatikan setiap sudut kamar.
"Bagaimana, kamarnya kurang nyaman?" kata Sulastri sambil menyentuh lembut punggung Jamila.
__ADS_1
Jamila tersenyum tersipu malu.
"Terlalu nyaman, Bu. Saya sudah dua puluh tahun tidur di penjara."
Sulastri tersenyum. Ia menepuk lengan tangan Jamila.
"Untuk malam ini, temani ibu tidur di kamar ya. Ada yang harus kamu terima. Ini titipan dari Rianti," kata Sulastri. Jamila mendesah panjang. Ia menundukkan wajahnya. Ia kembali merasa sedih ketika nama Rianti disebut.
"Sudah, gak usah bersedih. Kesedihan kita akan dirasakan juga oleh Rianti di penjara. Ayo," kata Sulastri. Ia bangkit dan menarik tangan Jamila. Keduanya lalu keluar dari kamar.
"Ini adalah make up milik Rianti." Sulastri mengeluarkan sebuah tas jinjing dari dalam lemari dan meletakkannya di depan Jamila setelah beberapa saat tiba di kamarnya.
"Rianti berpesan agar aku memberikannya kepadamu," kata Sulastri sembari duduk di samping Jamila.
"Gak usah tapi-tapi. Itu sudah menjadi hakmu. Rianti ingin kamu memakainya," kata Sulastri. Tas jinjing itu diraihnya dan diletakkannya di pangkuan Jamila. Jamila tersenyum. Sulastri lalu menggeser tubuhnya ke tengah ranjang dan menyandarkan punggungnya. Ia menepuk-nepuk permukaan ranjang di sampingnya isyarat agar Jamila mendekat.
Dengan tersipu malu, Jamila mendekat dan ikut bersandar di samping Sulastri.
"Seperti inilah aku setiap malamnya bersama Rianti sebelum dia menikah. Dia sosok perempuan yang menakjubkan. Pantaslah Tuan Guru Izzul Islam mendapatkannya," kata Sulastri. Jamila mengangguk mengiyakan.
"Bu, kalau nanti Rianti bebas, saya minta ijin. Saya mau ikut Rianti. Bukannya saya tidak betah di sini dan tak mau bersama ibu, tapi ini adalah janji saya. Saya ingin mengabdi kepada Rianti," kata Jamila. Sulastri tersenyum. Tangannya di letakkannya di atas telapak tangan Jamila.
__ADS_1
"Kamu memang akan tinggal di sana untuk menemani Rianti." Jamila tersenyum. Pandangannya di arahkan ke photo besar Yulian Wibowo yang tergantung di dinding kamar.
"Suami ibu?"
Sulastri mengangguk.
"Tak hanya suami, dia malaikat penyelamatku," kata Sulastri. Sejenak keduanya terdiam menatap photo di depan keduanya.
Sulastri mendesah panjang.
"Sudah jam 1. Sudah waktunya kita tidur. Tolong kamu matikan lampu ya. Tinggalkan satu lampu yang di pojok itu," kata Sulastri sambil menunjuk ke arah lampu kecil yang cahayanya terlihat paling redup. Jamila bangkit dan mematikan satu persatu lampu di dalam kamar.
Keduanya lalu serempak membaringkan tubuhnya. Sulastri meraih selimut yang terlipat rapi di samping kepalanya. Ia lalu memberikannya kepada Jamila.
"Itu selimut milik Rianti. Selimut itu tidak pernah berpindah dari tempatnya sejak Rianti menikah. Pakailah, itu sekarang jadi milikmu juga," kata Sulastri. Selimut di tangannya di letakkan di dada Jamila. Jamila menjadi serba salah. Terlalu banyak milik Rianti yang diserahkan kepadanya. Sulastri pun terlalu baik untuknya yang baru mengenalnya. Dia merasa benar-benar sedang berada di tengah kehangatan seorang ibu. Binar haru mulai menggenang di mata Jamila. Dia benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan yang begitu menakjubkan dari Sulastri. Yang ada dalam bayangannya ketika keluar dari penjara dan tinggal di rumah itu adalah, dia akan jadi pembantu. Dan itulah yang pantas untuknya. Jamila mengusap air matanya. Dia belum juga menyentuh selimut di dadanya. Melihat Jamila terdiam, Sulastri mengambil kembali selimut itu dan menggelarnya di tubuh Jamila.
"Oya, Jamila. Sebelum tidur, Rianti selalu membacakanku surat Maryam. Maukah kamu membacakan untukku sampai aku tertidur?"
Jamila tersenyum menganggukkan kepalanya. Untuk sejenak ia terdiam mengambil nafas. Suara lembut dan merdu Jamila mulai terdengar menggema di dalam ruangan. Sulastri memejamkan matanya sembari meresapi lantunan ayat suci Alqur'an yang dibacakan Jamila.
Malam yang hening seperti ikut larut dalam merdunya lantunan Al-qur'an yang dilafalkan Jamila. Sedikit dengkur yang sesekali terdengar dari arah sampingnya membuat Jamila menghentikan bacaannya.
__ADS_1
"Shodaqollahul Adzim," ucap Jamila sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menoleh dan tersenyum melihat Sulastri sudah lelap dalam tidurnya.
Ia menguap. Kantuk mulai menggerayangi keawasan matanya. Perlahan matanya mulai terpejam.