
"Assalamulaikum."
Terdengar salam dari arah gerbang. Orang-orang menoleh. Suasana menjadi hening. Di bawah remang-remang lampu gerbang, terlihat tubuh ringkih pak Ahmad berjalan pelan dengan setengah membungkuk, mengikuti cahaya senter LED jumbo yang benderang menerangi sekitarnya. Pandangan orang-orang tertuju kepadanya. Cemas dan penuh harap. Suara kecipak sandalnya menambah tegang suasana malam.
"Assalamualaikum." Suara salam pak Ahmad terdengar lagi. Kali ini terdengar lebih keras. Ia menoleh kesana kemari sesampainya di depan rumah.
Pak Ahmad terdiam menatap pintu yang terbuka. Ia perlahan masuk. Pak Ahmad menoleh kesana kemari sesampainya di dalam rumah. Suasana di dalam rumah tampak sepi, begitupun di ruang tamu. Pak Ahmad menggaruk-garuk keningnya. Heran.
Pak Ahmad kembali keluar rumah dengan langkah tak seimbangnya. Dia berdiri lama menatap ke arah gerbang. Senter yang masih menyala dimatikannya. Pak Ahmad mendesah. Karna lelah, ia memilih duduk di tangga teras rumah.
Orang-orang yang masih terpaku menatapnya, belum ada yang berinisiatif memanggil pak Ahmad yang nampak bingung. Mereka takut ada pergerakan tiba-tiba dari Rianti sehingga akan membahayakan Farida.
Pak Ahmad menoleh. Ia mengernyitkan dahinya ketika melihat orang-orang berdiri mematung di samping rumah. Rimbunnya pohon tabebuya menghalangi cahaya lampu, sehingga mata pak Ahmad tak terlalu jelas melihatnya. Pak Ahmad bangkit.
"Pak Sahril?" panggilnya. Kembali ia mengernyitkan dahinya. Ia heran terhadap orang-orang yang tak juga meresponnya. Padahal itu adalah suara terkerasnya.
"Orang-orang lagi ngapain ya? kok pada diam? Di tempat gelap lagi." Gumam pak Ahmad penasaran sambil terus berjalan pelan ke arah mereka. Ia mengangkat senternya dan kembali menyalakannya. Sinar senter yang terang menyorot jauh hingga tak sadar tepat mengenai mata Rianti. Spontan Rianti memejamkan matanya. Cahaya senter menyilaukan matanya. Bahkan ketika ia membuka matanya pun, ia masih belum bisa melihat apa-apa. Melihat itu, pak Bayan sigap merampas senter dari tangan pak Ahmad. Sinar senter kemudian ia arahkan lagi ke wajah Rianti.
Kontrol Rianti atas Farida pun terlepas. Farida berhasil melepaskan diri. Tapi sayang, gerakan tubuh Rianti yang kesana kemari mengindari sinar senter yang terus diarahkan ke wajahnya, membuat pisau di tangannya mengenai tangan Farida hingga sobek. Ia menjerit kesakitan. Sulastri, bi Aisyah, bu Trianti dan istri pak pratama, serempak berlari menyambar tubuh Farida dan membawanya menjauhi Rianti.
__ADS_1
Tubuh Rianti terhempas keras di paving block. Sinar senter yang terus di arahkan pak Bayan membuat matanya perih. Yang ia lihat ketika berusaha membuka matanya hanyalah kilatan-kilatan cahaya yang membuatnya tidak bisa lagi melihat sekelilingnya. Ia bergulingan sembari terus menutup wajahnya hingga sampai dekat kubur Yulian Wibowo. Pak Pratama segera berlari dan menangkap tubuh Rianti.
"Sudah, Cukup, Pak Bayan. Matikan senternya," teriak pak Sahril ketika pak Pratama sudah berhasil meringkus Rianti. Pak Bayan segera mematikan senter dan menyerahkannya pada pak Ahmad. Setelah itu ia berlari membantu pak Pratama mengamankan Rianti. Pak Ahmad masih berdiri tertegun menyaksikan apa yang terjadi di depannya.
"Bu, telpon Dokter Iskandar. Farida harus segera mendapatkan pertolongan," kata pak Sahril kepada bu Trianti.
"Ayo, Pak Bayan. Kita bawa perempuan itu ke pos jaga sambil menunggu pihak kepolisian datang," perintah pak Sahril. Pak Bayan segera menyeret tubuh Rianti menuju pos jaga. Rianti meronta hendak melepaskan diri sembari terus berteriak mengumpat. Namun tubuh kekar pak Bayan terlalu kuat untuknya.
* * *
"Bagaimana keadaan Farida, Bu," kata pak Sahril saat masuk menemui Sulastri di ruang tamu. Sulastri yang masih menenangkan Farida di atas pangkuannya, memperlihatkan lengan Farida yang sudah dibalut perban. Di samping kiri dan kanannya, bu Trianti dan bu Pratama duduk mengapit.
"Anak-anak saya semakin trauma, Pak. Saya harap kali ini Rianti harus dipenjara," kata Sulastri penuh harap menatap pak Sahril.
Suara sirine mobil polisi terdengar semakin mendekat ke arah rumah. Pak Sahril segera bangkit dan keluar. Di halaman rumah, sudah terparkir dua buah mobil polisi dengan nyala sirine yang masih berputar. Dua orang petugas kepolisian tampak keluar. Pak Bayan yang masih meringkus kedua tangan Rianti, dibantu oleh pak Pratama langsung menggelandang tubuh Rianti dan menyerahkannya kepada kedua petugas kepolisian itu. Setelah memborgol tangan Rianti, kedua petugas langsung memasukkan Rianti kedalam mobil. Lewat kaca mobil yang terbua, Rianti kembali berteriak mengeluarkan mulutnya dari jendela mobil.
"Setan kamu, Sulastri. Sampai matipun aku tidak akan pernah memaafkanmu. Suatu saat nanti, aku akan datang lagi untuk balas dendam. Terkutuklah kamu Sulastri. Anjing!" teriak Sulastri lantang. Giginya bergemeretak geram.
Setelah berbincang sebentar dengan pak Sahril, dua orang petugas kepolisian itu segera memasuki mobil dan tak berapa lama kemudian, kedua mobil itu melaju pelan meninggalkan rumah itu.
__ADS_1
* * *
Malam telah beranjak larut. Suara kokok ayam jantan memecah hening malam bersamaan dengan dentang jam dinding yang menggema di ruang tamu.
Suasana masih terlihat mencekam. Sulastri yang masih mendekap Farida di pangkuannya, masih bersandar di sofa. Farida sudah tertidur lelap, namun sesekali terdengar mengigau meminta tolong.
Tak tega meninggalkan Sulastri dengan keadaan seperti itu, bu Trianti dan bu Pratama memutuskan untuk menginap.
"Pak Bayan, tolong besok pohon ara yang ada di belakang rumah di tebang saja. Pohon-pohon yang terlalu dekat dengan tembok juga di tebang saja. Insya Allah, besok kita akan pasang kawat berduri di sepanjang tembok," pesan pak Sahril kepada pak Bayan. Pak Bayan mengangguk.
"Bu, saya dan pak Pratama pamit pulang. Kalau memang besok ibu belum siap survei lokasi tanah itu, biar saya dan pak Pratama yang mewakili, Ibu istirahat saja dulu" kata pak Sahril. Sulastri menggeleng.
"Tidak, Pak. Saya harus ikut. Saya baik-baik saja," kata Sulastri. Ia mengeluarkan seulas senyum untuk lebih meyakinkan pak Sahril bahwa dia baik-baik saja.
Pak Sahril mendesah dan tersenyum.
"Baik, Bu. Sampai jumpa besok," kata pak Sahril. Ia kemudian mengajak pak Pratama pulang.
* * *
__ADS_1
Malam semakin larut. Jam telah menunjukkan pukul 3 dini hari. Di sebuah rumah besar berlantai dua. Suasana lengang. Suara dengkur penjaga rumah terdengar mengisi hening malam.
"Kemana kamu, Rianti. Kenapa kamu tega membiarkan mama sendiri di rumah ini. Anak macam apa kamu membiarkan mamamu tanpa teman bicara." Terdengar suara menyedihkan Castella dari dalam kamarnya. Dari tadi ia tidak bisa tidur dan mondar-mandir di atas balkon menunggu Rianti pulang. Serakan pecahan kaca dan botol masih terlihat di lantai kamarnya. Ia mulai merasa ketakutan dengan suasana rumah yang lengang dan terasa menakutkan.