KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#225


__ADS_3

Setelah selesai sarapan bersama, Tuan Guru Izzul Islam menyuruh Rianti dan Jamila berkemas. Hari ini mereka akan mengantar inak Nurmah sekaligus untuk melihat keadaan anaknya yang sedang sakit.


Ketika berjalan menuju kamar masing-masing untuk mengganti pakaian mereka, Rianti memegang tangan Jamila dan mengajaknya masuk ke kamarnya. Jamila yang tidak mengerti maksud Rianti, hanya diam saja saat Rianti menarik tangannya.


"Kamu ganti pakaiannya di kamar saja. Nanti pakai gamisku," kata Rianti sambil memberi isyarat agar Jamila ikut ke kamarnya. Jamila tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa harus ganti baju di sana. Kan kamarku dekat," kata Jamila. Rianti menoleh ke belakang. Tubuh Jamila semakin ditariknya masuk ke dalam kamar.


"Ada yang ingin aku bahas sedikit. Dari tadi aku lihat kak Tuan termenung terus. Seperti ada yang sedang dipikirkannya. Aku yakin ini ada kaitannya dengan anaknya ibu itu. Coba panggil Suhaini atau Nur Jamila, mungkin mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi. Soalnya, anak ibu itu pernah mengabdi di sini. Siapa tahu anak ibu itu pernah cerita kepada keduanya," kata Rianti setengah berbisik. Jamila terdiam penasaran menatap Rianti.


"Ayo, nanti kak Tuan kelamaan menunggu," kata Rianti.


"Di sini?" tanya Jamila. Rianti terdiam sejenak. Setelah itu, ia kembali menarik tubuh Jamila keluar kamar.


"Kita ke dapur saja. Gak ganti pakaian gak apa-apa.Kita kan sudah cantik," kata Rianti. Jamila tersenyum dan mencoleh dagu Jamila. Keduanya kemudian bergegas menuju dapur. Suhaini dan Nur Jamila yang sedang mencuci piring kemudian dipanggilnya.


"Kalian tahu gak, kira-kira kenapa...Ee..siapa namanya, anak ibu itu," kata Rianti setelah keduanya di suruhnya duduk di depannya.


"Zulhiyani, Bu Nyai," jawab Nur Jamila


"Yah, Zulhiyani. Emmh..., kira-kira kenapa dia berhenti mondok. Apakah sudah tamat atau karna alasan lain," lanjut Rianti.


Nur Jamila dan Suhaini saling pandang. Mereka bergantian saling menyentuh dengan siku masing-masing. Jamila dan Rianti saling pandang. Mereka jadi yakin, ada yang sedang disembunyikan keduanya. Mereka berdua menjadi penasaran.


"Suhaini, Nur Jamila. Kami sedang ditunggu Tuan Guru di ruang tamu. Kami tahu, kalian berdua dulunya pasti teman akrab Zulhiyani kalau memang dia sering bersama kalian menunggu dan menyiapkan segala kebutuhan almarhum ibu nyai dulu. Ayo, gak usah malu-malu," kata Jamila.


Suhaini mengangkat kepalanya.


"Maaf, Bu Nyai. Almarhum bu Nyai dulu pernah memberikan cincin emas untuk Zulhiyani. Zulhiyani cerita kalau ibu Nyai ingin..." Suhaini melirik ke arah Nur Jamila. Jamila mendesah.


"Ayo, lanjutkan Suhaini. Kamu kayak orang luar saja. Ayo, yang semangat dong ceritanya," kata Jamila ketika melihat Suhaini terdiam.


"Bu Nyai ingin menikahkan Zulhiyani sama Tuan Guru. Tapi Zulhiyaninya gak mau. Tapi bukan karna gak mau, Bu Nyai. Dia malu dan merasa pantas. Ia akhirnya memutuskan untuk kabur. Padahal di sini dia masuk dalam daftar santri yang ditanggung kebutuhannya karna keadaan ekonomi keluarganya." Suhaini menghentikan kata-katanya. Ia menelan ludahnya dalam-dalam. Baik Jamila dan Rianti masih belum mau merespon. Sepertinya Suhaini masih ingin melanjutkan kata-katanya.


"Pada malam sebelum ia pulang, Zulhiyani nya nangis terus, Bu Nyai. Setelah kami tanya, dia mengatakan kalau dia sedang bingung menentukan pilihannya. Ia tetap merasa tak pantas, tapi di sisi lain ia merasa berdosa karna tidak mengikuti perintah bu Nyai. Ia merasa bukan orang yang bisa berterimakasih." Suhaini menghentikan kata-katanya sejenak. Ia mendehem. Jamila dan Rianti kembali saling pandang.


" Zulhiyani mulai mondok di sini sejak ia kelas 4 MI, Bu Nyai. Ustadzah Marhayni yang membawanya." kata Suhaini melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Ustadzah Marhayni? kok baru dengar?" kata Rianti.


"Beliau sudah menikah, Bu Nyai. Beliau sudah tidak mengabdi lagi di sini," jawab Suhaini. Rianti menganggukkan kepalanya.


"Boleh saya ijin sebentar ke kamar, Bu Nyai? saya masih menyimpan buku catatan harian Zulhiyani. Mungkin bu Nyai membutuhkannya," kata Suhaini. Rianti mengangguk.


"Cepatlah, sebelum Tuan Guru memanggil," kata Rianti. Suhaini segera bergegas. Setelah beberapa saat menunggu, Suhaini kembali lagi. Ia langsung menyerahkan buku harian di tangannya kepada Rianti. Rianti menoleh ke arah lorong.


"Sebaiknya aku keluar dulu biar kak Tuan gak curiga. Jangan sampai Azka menangis," kata Jamila. Rianti mengangguk. Jamila segera bergegas ke kamarnya. Setelah mengganti pakaiannya, ia segera menemui Tuan Guru Izzul Islam di ruang tamu.


Rianti membuka lembar demi lembar buku harian di tangannya. Buku harian itu tampak kusam. Melihat catatan yang ada di dalamnya, buku harian itu sudah berumur empat tahun. Itu terlihat dari tahun yang tertera di salah satu tulisan Zulhiyani. Jika Zulhiyani dan Suhaini satu kelas, maka Zulhiyani telah menulis harian itu sejak ia kelas tiga tsanawiyah. Banyak juga goresan tangan Zulhiyani tentang kekagumannya pada Tuan Guru Izzul Islam. Hingga catatan terakhirnya setahun yang lalu yang sedikit mengharukan.


"Aku hanya berkhayal. Aku hanya menari dan berdansa dengannya dalam surga imajiku. Dia nyata, tapi hanya fatamorgana buatku. Dia berkilauan tapi hanya bintang paling jauh bagiku. Tapi ketika lantai dansa dihamparkan nyata di depanku, akalku tetap tak bisa menjangkaunya. Bagaimana mungkin cacing berkalungkan berlian? Biarkan aku terus berdoa untuk mendapatkanmu di surga nanti, Tuan Guru;


Zulhiyani, 2019.


Rianti mendesah panjang. Ia tersenyum ke arah Suhaini dan Nur Jamila yang menundukkan wajahnya.


"Temanmu puitis," kata Rianti. Ia menutup buku harian dan memasukkannya ke dalam saku gamisnya.


"Kalian jaga rumah ya? Jangan lupa antarkan Abdul khalik dan Zaebon makanan," kata Rianti. Keduanya mengangguk. Rianti kemudian melangkah menuju kamarnya. Hanya menggunakan make up seadanya, ia segera keluar menuju ruang tamu.


"Ayo kak Tuan," kata Rianti. Sebenarnya ia merasa bersalah karna telah membuat Tuan Guru Izzul Islam dan inak Nurmah menunggu terlalu lama. Tapi ia merasa perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum berkunjung ke rumah Zulhiyani. Jika ingin mengobati seseorang yang sakit, maka terlebih dahulu harus mengetahui apa penyebab sakitnya. Dengan begitu, obat yang diberikan akan bisa segera menyembuhkannya.


Rianti segera mendekat ke arah inak Nurmah yang duduk dengan cemas. Ia segera merangkul tubuh inak Nurmah dan mengajaknya bangun. Ia kemudian memapahnya keluar rumah menuju mobil. Di luar, Zaebon dan Abdul khalik yang baru saja datang dan menunggu di teras, segera berdiri memberi hormat ketika melihat Tuan Guru Izzul Islam keluar. Abdul khalik tersenyum ketika Inak Nurmah memegang pundaknya saat lewat di depannya. Rupanya inak Nurmah akhirnya berhasil bertemu dengan Tuan Guru Izzul Islam.


"Terimakasih, Nak," kata inak Nurmah. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum ke arah Abdul khalik.


"Ibu kenal Abdul khalik?" bisik Rianti sambil membukakan pintu mobil untuk inak Nurmah.


"Dia yang memberiku uang dan makanan saat ibu datang kemarin ke sini," jawab inak Nurmah. "Alhamdulillah, saya dan anak saya bisa makan sampai pagi tadi," lanjut inak Nurmah setelah ia merasa nyaman di kursi mobil bagian depan. Ia duduk di samping Tuan Guru Izzul Islam yang langsung menjadi sopir mobil. Sedangkan Rianti dan Jamila duduk di kursi belakang. Azka yang mulai terlihat mengantuk begitu nyaman bersandar di dada Jamila.


"Bon, kamu istirahat saja ya, nanti malam kita ada undangan di lombok barat," kata Tuan Guru Izzul Islam setelah menyalakan mesin mobilnya. Zaebon mengangguk. Perlahan mobil avelos putih itu bergerak keluar halaman rumah.


Jamila menatap ke arah kaca spion di atas kepala Tuan Guru Izzul Islam. Ia mencolek paha Rianti di sampingnya. Rianti tersenyum. Ia kemudian mengeluarkan buku harian milik Zulhiyani dari saku gamisnya. Setelah beberapa saat membolak-balikkan pelan lembar demi lembar buku harian itu, ia memperlihatkan catatan terakhir yang dibacanya. Jamila mengerutkan keningnya. Dia belum begitu mengerti dengan kata-kata yang dibacanya. Ia menatap Rianti sembari menaikkan kedua pundaknya. Rianti tersenyum. Dia menyuruh Jamila lebih mendekat. Setelah yakin Tuan Guru Izzul Islam tidak memperhatikan mereka, Rianti mendekatkan bibirnya ke telinga Jamila.


"Suami kita memang the best. Zulhiyani ternyata mengagumi suami kita," bisik Rianti sambil mengacungkan jempol tangannya. Kedua mata Jamila terbuka lebar. Dahinya mengerut. Dia masih belum mengerti, tapi beberapa lama kemudian, ia tersenyum melihat Rianti tersenyum sendiri menatap ke depan. Jamila sepertinya mulai mengerti. Ia terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya. Jamila melirik ke arah Rianti dan kembali mencolek pahanya. Rianti menoleh.

__ADS_1


"Terus, apa yang harus kita lakukan." gantian Jamila berbisik.


"Menurutmu bagaimana," tanya Rianti balik. Jamila tersenyum. Kali ini ia mengarahkan pandangannya ke depan. Tepat ke kepala bagian belakang Tuan Guru Izzul Islam.


"Apapun keputusanmu, aku ikut," jawab Jamila.


"Apa?" kata Tuan Guru Izzul Islam dengan sedikit menoleh ke arah belakang. Ia menatap Jamila dan Rianti bergantian lewat kaca spion di atas kepalanya.


Up!


Jamila menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Salah satu tangannya erat memegang tubuh Azka yang sudah lunglai dalam tidurnya. Dia tidak sadar berbicara terlalu keras sehingga Tuan Guru Izzul Islam mendengarnya. Rianti tak bisa menahan senyum gelinya. Ia terlihat menyembunyikan wajahnya dengan salah satu tangannya seraya membuang pandangnya ke arah jendela mobil di sampingnya.


"Gak ada, Kak Tuan. Aku bicara sama Rianti," jawab Jamila sambil memperbaiki posisi Azka di pangkuannya.


Bunyi shalawat mengalun merdu dari tape yang diputar Tuan Guru Izzul Islam. Suasana di dalam mobil sepi tanpa ada sepatah katapun yang keluar. Melihat inak Nurmah diam-diam sudah tertidur pulas dengan tubuh miring dan bersandar di kaca jendela mobil, mereka pun tak mau mengganggunya. Yang terlihat hanya bibir mereka yang bergerak mengikuti lantunan shalawat. Hingga setelah satu jam setengah perjalanan dan sampai di sebuah tugu perbatasan, Tuan Guru Izzul Islam menghentikan mobilnya. Mereka sudah memasuki desa Batu Nampar. Untuk menemukan dimana rumah inak Nurmah, mau tidak mau mereka harus membangunkannya.


Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah Rianti dan Jamila. Dia menyuruh salah satu dari keduanya untuk membangunkan inak Nurmah. Inak Nurmah begitu tertidur pulas dengan suara dengkurnya yang keras. Baik Rianti dan Jamila sama-sama merasa tak tega membangunkannya. Terlihat jelas raut-raut kelelahan dari wajahnya. Seperti tak pernah merasakan tidur yang nyenyak di tempat yang nyaman.


"Kita harus membangunkannya. Kita tak mau terus menerus di sini. Kalau harus menunggunya bangun sendiri, kita juga tidak tahu kapan dia akan bangun," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil tersenyum.


Rianti yang berada di belakang inak Nurmah. Dia mendesah panjang dan memajukan tubuhnya. Tangan inak Nurmah diusapnya lembut.


"Bu, ibu," kata Rianti pelan. Tak ada respon apapun. Rianti meringis tak tega. Itu membuat Tuan Guru Izzul Islam dan Jamila tersenyum.


"Ya, Allah, aku gak tega, Kak Tuan. Kasihan ibunya. Ya, Allah, kalau nanti ibu mau tinggal di rumah, aku akan belikan ibu dua ranjang empuk sekalian biar bisa tidur sepuasnya," kata Rianti bicara sendiri. Ia kembali membangunkan inak Nurmah. Rianti kembali meringis sambil menutup matanya ketika inak Nurmah melonjak bangun karna kaget.


"Aduh, maaf, saya membangunkan ibu," kata Rianti sambil menyatukan kedua telapak tangannya, meminta maaf. Inak Nurmah mengusap kedua matanya sambil membersihkan kotoran di matanya. Sejenak inak Nurmah menatap sekelilingnya. Ia terlihat bingung dan sepertinya lupa kalau dia ada di dalam mobil.


"Dimana Aku. Zulhiyani mana?" kata inak Nurmah sambil bergantian memandangi ketiganya. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan memegang pundak inak Nurmah.


"Bu, kita ini mau pulang ke rumah ibu. Kita sudah tiba di desa Batu Nampar, tapi kami tidak tahu dimana rumah ibu," kata Tuan Guru Izzul Islam.


Inak Nurmah terdiam. Ia menatap keluar jendela mobil.


"Dimana warung makan inak Esoh," tanya inak Nurmah. Pandangannya masih diarahkannya ke luar jendela.


"Ada di depan, Bu," sahut Rianti sambil menunjuk lurus ke depan. Ke sebuah plank kecil bertuliskan warung inak Esoh.

__ADS_1


"Di situ ada gang, Nak. Kita masuk gang itu. Kira-kira dua kilo lagi kita akan sampai di rumah ibu. Dekat sawah," kata inak Nurmah. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia kemudian menyalakan kembali mesin mobilnya dan mengarahkannya masuk ke dalam gang.


__ADS_2