KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#172/ Perginya orang tercinta.


__ADS_3

Pak Sahril yang sedang duduk di depan gerbang rumahnya segera bangkit ketika mendengar suara klakson mobil dari arah luar. Ia melambaikan tangannya ke arah Bu Trianti yang duduk di teras rumah. Pak Pratama yang ada di dalam mobil segera membukakan pintu mobil ketika melihat pak Sahril keluar dari gerbang.


"Tuan Guru sudah di hubungi, Pak," kata pak Pratama setelah pak Sahril duduk di sampingnya.


"Sudah. Beliau sedang menunggu kita," kata pak Sahril. Pak Pratama mengangguk. Mesin mobil dinyalakannya. Perlahan mobil sedan warna hitam itu bergerak menuju jalan utama.


* ** * *


"Kok tumben pak Sahril mau kesini, Kak. Mau ngaji?" kata Rianti yang sedari tadi menemani Tuan Guru Izzul Islam duduk di ruang tamu.


"Pak Sahril cuma bilang mau silaturrahim. Gak ada yang lain," jawab Tuan Guru Izzul Islam. Rianti menyandarkan kepalanya di pundak Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam memasukkan tangannya ke belakang punggung Rianti. Jari-jari tangannya bergerak lembut mengurai rambut Rianti. Rianti mengerak-gerakkan manja kepalanya di lengan Tuan Guru Izzul Islam.


" Apa Kakak sudah siapkan nama untuk anak kita nanti?" kata Rianti sembari melirik manja ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Kening Rianti dikecupnya.


"Nanti kita pikirkan bersama-sama. Yang penting saat ini adik sehat," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Mau laki-laki atau perempuan," kata Rianti lagi. Kembali Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Salah satu tangannya mengusap lembut perut Rianti. Tuan Guru Izzul Islam mendesah.


"Laki-laki maupun perempuan sama saja. Yang terpenting bagaimana nanti kita mendidiknya agar sesuai yang diperintahkan agama."


Cahaya mobil menembus kaca jendela, membuat keduanya menutup mata karna silau. Tuan Guru Izzul Islam segera menarik tangannya dan menyuruh Rianti masuk. Tuan Guru Izzul Islam meraih kopiah putihnya dan memasangnya. Setelah itu ia keluar. Senyum Tuan Guru Izzul Islam tersungging ketika melihat pak Sahril keluar dari mobil.


"Assalamualaikum, Tuan Guru," kata pak Sahril dengan membungkukkan setengah badannya mendekat ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam segera turun menyambutnya.


"Waalaikum salam," kata Tuan Guru Izzul Islam. Keduanya kemudian berpelukan. Di belakangnya, pak Pratama menyusul menjabat tangan Tuan Guru Izzul Islam.


"Mari, Pak," kata Tuan Guru Izzul Islam mempersilahkan keduanya masuk.


"Sehat, Tuan Guru," kata pak Sahril setelah duduk di sofa. Ia mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku bajunya dan menyodorkannya ke depan Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Alhamdulillah, Pak. Semoga kita semua selalu tetap diberikan kesehatan oleh Allah swt," jawab Tuan Guru Izzul Islam. Keduanya mengangguk dan serempak mengucap amin.


"Non Riantinya sudah istirahat, Tuan Guru?" tanya pak Sahril.


"Dia sedang ada di dapur, Pak."


Baru saja Tuan Guru Izzul Islam selesai bicara, Rianti muncul membawa minuman. Melihat Rianti dengan senyum tenangnya. Pak Sahril menganggukkan kepalanya ketika melihat Rianti menatap ke arahnya. Pak Sahril mendesah. Raut wajahnya seketika berubah. Apa yang akan disampaikannya malam ini mungkin saja akan merubah raut tenang wajah Rianti. Begitu juga Tuan Guru Izzul Islam. Tapi sesuai dengan pesan Sulastri, ia harus menunggu semua orang penting di rumah itu keluar, baru menyampaikan maksud kedatangannya malam ini bersama pak Pratama.

__ADS_1


"Jam berapa berangkat dari rumah, Pak," sapa Rianti setelah meletakkan minuman di depan keduanya. Pak Sahril tersenyum.


"Habis shalat isya, Non. Kebetulan juga Tuan Guru menyuruh kami datang setelah selesai shalat," kata pak Sahril. Rianti mengangguk.


"Ayo silahkan minumannya, Pak,"


"Dik, tolong panggil ibu. Biasanya beliau suka menyalahkan jika tak dikasih tahu kalau ada tamu," kata Tuan Guru Izzul Islam setelah mempersilahkan pak Sahril dan pak Pratama meminum minuman di depan keduanya.


Rianti mengangguk dan bangkit. Tapi baru saja ia hendak melangkahkan kakinya, Nyai Mustiani sudah muncul di depannya.


"Loh, Kok gak kasih tahu ibu kalau ada tamu, Nak Rianti," kata Nyai Mustiani. Rianti tersenyum mengusap jilbabnya ke belakang. Ia melangkah pelan menghampiri Nyai Mustiani. Tangan Nyai Mustiani dipegangnya dan mengajaknya duduk.


Pak Sahril dan pak Pratama bangkit. Keduanya setengah membungkuk memberi hormat.


"Ayo, silahkan duduk kembali, Pak,"kata Nyai Mustiani. Keduanya kembali duduk.


Pak Sahril mendesah pelan. Ia melirik ke arah pak Pratama. Pak Pratama menggaruk-garuk kepalanya pelan. Agar tak menarik perhatian, ia sengaja kembali meminum minumannya. Ia merasakan apa yang kini dirasakan pak Sahril. Sangatlah berat untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka malam ini. Tapi ia merasa, pak Sahril lah yang lebih tepat menyampaikan berita itu.


"Kira-kira ada apa ini, Pak Sahril, Pak Pratama. Kok tumben tiba-tiba mau berkunjung ke tempat kami. Saya sering bilang sama Nak Rianti, sekali-kali ajak dong pak Sahril dan pak Pratama main-main kesini. Sekali waktu kita bisa buat rujak di kebun belakang," kata Nyai Mustiani. Pak Sahril dan pak Pratama tersenyum.


"Insya Allah, nanti kalau ada waktu, kami akan ajak istri di rumah." kata pak Sahril. Ia berusaha terlihat tenang, tapi perasaan tak enak di dalam hatinya menjalar ke wajahnya. Ia terdiam sejenak. Nyai Mustiani menatapnya dengan kening mengerut.


" Begini, Tuan Guru, Bu Nyai dan Non Rianti. Kedatangan kami kesini adalah untuk menyampaikan sesuatu yang penting. Mungkin ini berat, tapi mau tidak mau kami harus menyampaikannya," kata pak Sahril. Kembali ia bergiliran menatap Nyai Mustiani, Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti yang kini menatap penuh tanda tanya ke arah pak Sahril dan pak Pratama. Pak Sahril sendiri sedang mengamati wajah-wajah di depannya. Pak Sahril kembali mendesah. Setelah terdiam beberapa saat, ia mengeluarkan sebuah amplop dari balik jaketnya. Amplop itu kemudian disodorkannya ke depan Tuan Guru Izzul Islam. Rianti dan Nyai Mustiani yang duduknya agak berjauhan dari Tuan Guru Izzul Islam terlihat mendongak,mencoba mencari tahu amplop apa yang sekarang sedang dipegang Tuan Guru Izzul Islam.


Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang ketika melihat kop amplop. Ia menoleh ke arah Rianti dan Nyai Mustiani. Wajah keduanya terlihat tegang.


Dengan pelan, Tuan Guru Izzul Islam membuka amplop dan mengeluarkan sebuah lembaran dari dalamnya. Amplop surat diletakkannya di pangkuannya.


Suasana di dalam ruang tamu membisu. Mereka masih terdiam menunggu Tuan Guru Izzul Islam selesai membaca surat.


"Bu, saya harap ibu tenang dan tak usah panik. Surat yang dibawa pak Sahril dan pak Pratama ini hanya surat panggilan saja," kata Tuan Guru Izzul Islam sembari menatap wajah Nyai Mustiani. Kening Nyai Mustiani mengerut keras. Ia sengaja terlebih dahulu berbicara dengan Nyai Mustiani karna ia tahu ibunya cepat panik dan tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Terkait Rianti, ia tahu betul sifat istrinya. Ia yakin, Rianti akan tersenyum dan tetap tenang.


Nyai Mustiani menyodorkan tangannya dan meminta surat yang dipegang Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Ia terdiam menatap Nyai Mustiani. Nyai Mustiani yang sudah terlalu lama penasaran, kembali menggerak-gerakkan tangannya meminta Tuan Guru Izzul Islam memberikan surat itu. Tuan Guru Izzul Islam memberikan surat itu.


Suasana bertambah tegang saat Nyai Mustiani terdiam tanpa nafas membaca surat. Rianti yang ikut membaca surat dan sudah mengetahui isi surat itu segera merangkul tubuh Nyai Mustiani. Ia melihat ada yang berubah dari Nyai Mustiani. Tangannya bergetar hebat. Nafasnya turun naik dengan cepatnya. Tuan Guru Izzul Islam yang terlihat cemas akhirnya bangkit dan mendekat ke arah Nyai Mustiani.


"Itu hanya surat pemanggilan sebagai saksi saja, Bu. Bukan tersangka," kata Tuan Guru Izzul Islam mencoba menenangkan Nyai Mustiani. Nyai Mustiani hanya terdiam. Rianti menangis.

__ADS_1


"Bu, benar kata Kak Tuan. Itu hanya surat panggilan saja." Rianti mengusap punggung serta mencium pipi Nyai Mustiani.


"Kak, ambilkan ibu air putih," kata Rianti.


Baru saja Tuan Guru Izzul Islam membalikkan tubuhnya, Nyai Mustiani seperti orang tersedak. Mereka bertambah panik ketika Nyai Mustiani memegang dadanya kuat. Tubuh Nyai Mustiani kejang. Tuan Guru Izzul Islam dibantu pak Sahril dan pak Pratama segera membopong tubuh Nyai Mustiani menuju kamarnya.


"Pak, apa sebaiknya kita telpon dokter Kandar?" kata pak Pratama. Pak Sahril memegang tangan pak Pratama dan mengajaknya keluar dari kamar.


"Ini saya sedang menghubunginya. Kayaknya beliau masih di klinik. Dia belum juga mengangkat hp nya," kata pak Sahril. Ia kembali memencet salah satu tombol di ponselnya. Ia tersenyum.


"Halo, Dok. Tolong ke pondok pesantren Qudwatusshalihin sebentar. Bu Nyai sepertinya kena serangan jantung. Minta tolong ya, Dok," kata pak Sahril. Ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya mendengar pembicaraan di seberang.


"Baik, Pak. Kami tunggu," kata pak Sahril. Ia kemudian mematikan panggilan dan memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya. Setelah itu ia mendekat ke arah Tuan Guru Izzul Islam yang duduk di dekat kepala Nyai Mustiani sembari memijit-mijit lengan tangannya.


"Saya sudah menelpon dokter Kandar, Tuan Guru. Insya Allah, sebentar lagi beliau datang," kata pak Sahril. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Saya tunggu di luar, Tuan Guru, Non" kata pak Sahril. Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya. Rianti hanya menganggukkan kepalanya. Dia tak sempat menoleh karna fokus membersihkan cairan yang keluar dari mulut Nyai Mustiani.


Pak Sahril kemudian mengajak pak Pratama keluar dan menunggu di ruang tamu.


"Apa saya terlalu cepat memberitahu mereka, Pak. Saya kok jadi merasa bersalah," kata pak Sahril kepada pak Pratama. Dia terlihat gusar. Pak Pratama mendesah. Ia memegang pundak pak Sahril.


"Tidak ada jalan lain, Pak. Saya kira sudah tepat," kata pak Pratama. Pak Sahril mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Kembali ia mendesah.


Suara ponsel terdengar berdering. Pak Sahril meraihnya.


"Ya, Bu," jawab pak Sahril ketika terdengar suara perempuan dari seberang sana.


"Bu Nyai pingsan setelah tahu isi surat itu, Bu. Tapi saya sudah menelpon Dokter Kandar. Sebentar lagi dia datang,"


"Baik, Bu. Semoga bu Nyai baik-baik saja." Pak Sahril menutup panggilannya dan meletakkan ponselnya di atas meja.


"Ibu?" tanya pak Pratama. Pak Sahril mengangguk.


"Saya juga mengkhawatirkan kondisi ibu, Pak Pratama. Ibu juga lagi sakit." kata pak Sahril.


Pak Pratama mengangguk-angguk kecil.

__ADS_1


"Untung Ustadz Fahmi pulang. Semoga saja ibu tidak kenapa-kenapa," harap pak Pratama.


__ADS_2