
Mobil Fanther warna silver yang ditumpangi Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti melaju sedang di atas aspal yang masih basah akibat hujan semalam. Alunan shalawat mengalun merdu di dalam mobil. Turut menambah suasana bahagia di hati keduanya. Rianti merasakan, inilah rasa bahagia sebenarnya dari cinta. Bukan cinta yang didasari nafsu semata. Rasa yang dirasakannya kini sangatlah berbeda. Dia seperti sudah bisa melihat tujuan sebenarnya dari cinta. Di sampingnya kini duduk pria tampan penuh wibawa dan keshalehan. Mengenang kisah hidupnya dulu, membuatnya selalu bersyukur sebab tak pernah menyangka akan membawanya ke tempat terhormat seperti saat ini.
Tanpa sadar, tangannya bergerak pelan dan memegang tangan Tuan Guru Izzul Islam yang diletakkanya di atas kemudi mobil. Tuan Guru Izzul Islam menoleh. Senyum manisnya tersungging, membuat Rianti tersipu malu.
"Kamu mau dibelikan minuman?" tanya Tuan Guru Izzul Islam. Rianti menggeleng. Ia melepas pegangan tangannya perlahan. Takut mengganggu konsentrasi Tuan Guru Izzul Islam.
"Kak, ada yang ingin saya bicarakan," kata Rianti setelah beberapa lama terdiam. Jari-jarinya diketuk-ketukkannya di pahanya.
"Katakanlah," kata Tuan Guru Izzul Islam singkat.
Rianti mengarahkan pandangannya ke arah depan. Ia mendesah pelan. Ia menoleh sejenak ke arah Tuan Guru Izzul Islam.
"Sebenarnya saya ingin membagi warisan papa secara rata dengan ibu. Bukan secara faraidh. Ibu sudah berjasa besar dalam hidup saya. saya merasa tak elok jika harus mengambil lebih banyak dari ibu," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia mendesah panjang. Salah satu tangan Rianti diraihnya dan meletakkannya di pangkuannya. Tuan Guru Izzul Islam mengangkat kedua alisnya sembari tersenyum. Ia menoleh sebentar ke arah Rianti.
"Agama kita sudah mengatur sedemikian rupa hal-hal sekecilpun dalam kehidupan kita. Semua tentu ada tujuannya. Terlihat tidak adil, tapi di situ ada kemaslahatan bagi kehidupan kita. Termasuk dalam hal faraid. Sebagai anak tentu bagian adik sebagai anak lebih banyak dari ibu. Terserah adik mau memberikan bagian adik kepada ibu, tidak masalah. Yang penting kita sudah membaginya terlebih dahulu sesuai dengan ketentuan agama dalam pembagian warisan," kata Tuan Guru Izzul Islam.
"Apa Kak Tuan akan tetap mengijinkan saya bekerja?" tanya Rianti agak ragu.
Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia terdiam sejenak. Tak langsung menjawab. Itu membuat Rianti ikut terdiam.
"Saya gak apa-apa kok kalau berhenti dari perusahaan kalau Kak Tuan tidak mengijinknnya. Sejak awal, saya memang tidak tertarik mengurusi dunia," kata Rianti setelah lama ia melihat Tuan Guru Izzul Islam hanya terdiam menatap ke depan.
Tuan Guru Izzul Islam terlihat tersenyum.
"Antara dunia dan akhirat harus seimbang. Kita hidup di dunia tentu butuh dunia. Adik sudah berpengalaman dan tahu seluk beluk terkait perusahaan. Apalagi, niat dari almarhum papa sangat luar biasa. Tidak hanya mengambil keuntungan pribadi dari perusahaan, tapi beliau menyisihkannya untuk anak yatim dan orang yang membutuhkan. Sungguh hal luar biasa yang hanya sedikit pengusaha yang melakukannya. Jika adik melepasnya, itu sama halnya dengan menghentikan pahala jariyah papa," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti terdiam. Tak beberapa lama kemudian,ia tersenyum.
"Jika sudah menikah, harta saya akan jadi harta Kak Tuan Juga. Saya tak mungkin bisa memberikan bagian saya tanpa seijin Kak Tuan,"
"Saya mengikuti saja apa keputusan adik. Apalagi dengan akan dibangunnya pesantren untuk dik Fahmi, tentu niat adik ini adalah niat yang baik. Terlebih lagi, pesantren yang akan dibangun dik Fahmi akan khusus menampung anak-anak yatim dan kurang mampu. Ini sejalan dengan cita-cita almarhum papa. Jadi, saya sangat setuju dengan keputusan adik,"
Rianti menganggukkan kepala. Ia menepuk-nepuk lembut punggung telapak tangan sebelah kiri Tuan Guru Izzul Islam. Setelah itu menundukkan kepalanya dan menciumnya.
Tak terasa, mobil yang ditumpangi keduanya sudah sampai di belokan menuju jalan kecil ke rumah Sulastri. Suasana persawahan yang menghijau dengan hamparan padi di depan rumah membuat suasana terasa sejuk. Air yang berlimpah, mengalir turun dari sawah yang satu ke sawah yang lain, terlihat seperti air terjun mini. Pun juga dengan tanaman-tanaman di sepanjang pematang sawah, membuat rasa rindu di hati Rianti sudah tak terbendung lagi. Rianti merasa sudah tak sabar ingin bertemu dengan Sulastri.
Tuan Guru Izzul Islam menghentikan mobilnya di depan gerbang. Pintu gerbang hanya di buka setengah sehingga mobilnya tak bisa langsung masuk ke dalam. Tuan Guru Izzul Islam membunyikan klakson mobilnya. Pak Bayan terlihat keluar dan mendekat ke arah mobil. Setelah menengok ke arah luar, pak Bayan begitu terkejut setelah menyadari orang yang ada di dalam mobil adalah Rianti dan Tuan Guru Izzul Islam. Pak Bayan tersenyum membungkukkan badannya. Dia segera berbalik membuka lebar pintu gerbang.
__ADS_1
"Tidur, Pak?" sapa Rianti ketika pak Bayan menundukkan kepalanya melihat ke dalam mobil. Pak Bayan tersenyum. Ia menggaruk-garuk kepalanya.
"Gak, Non. Anaknya pak Bagas pingin lari terus keluar, makanya gerbangnya saya tutup," kata pak Bayan. Rianti mengangguk. Ia menoleh ke arah Tuan Guru Izzul Islam.
"Sudah kenal pak Bagas, Kak?" tanya Rianti ketika Tuan Guru Izzul Islam mengarahkan mobilnya ke tempat parkir.
"Mantan suaminya ibu?"
Rianti mengangguk. Sorban yang terlepas dari pundak Tuan Guru Izzul Islam diambilnya. Setelah melipatnya rapi, ia kembali meletakkannya di pundak Tuan Guru Izzul Islam.
"Dulu dia pernah ke pondok waktu antar dik Fahmi mondok," kata Tuan Guru Izzul Islam. Mesin mobil dimatikannya. Rianti dan Tuan Guru Izzul Islam menoleh dan tersenyum saat melihat Sulastri, Farida dan Rayhan terlihat riang berlari menyambutnya. Bi Aisyah yang sedang menggendong anak Bagas pun ikut berlari ketika tahu yang datang adalah Rianti dan Tuan Guru Izzul Islam. Belum sempurna Rianti menurunkan kakinya, Sulastri sudah memeluk dan menciumnya berkali-kali. Tuan Guru Izzul Islam dibiarkan berdiri sembari tersenyum memperhatikan mereka. Bagas sendiri yang berdiri di sisi teras segera mendekat dan mengajak Tuan Guru Izzul Islam ke teras rumah.
"Dik, kamu ke dapur sana, buatkan minuman untuk Tuan Guru," kata Bagas. Nurul yang berdiri di belakangnya mengangguk dan segera melangkah menuju dapur.
Setelah puas melepas rindu dengan Rianti, Sulastri, Farida dan Rayhan segera menemui Tuan Guru Izzul Islam. Satu persatu mereka menyalami Tuan Guru Izzul Islam. Sulastri yang dapat jatah terakhir bersalaman dengan Tuan Guru Izzul Islam begitu kaget dan spontan menarik tangannya, ketika Tuan Guru Izzul Islam mencium tangannya. Melihat itu, Rianti hanya tersenyum. Dia lalu duduk di samping Tuan Guru Izzul Islam.
"Ibu memang berencana mau ke rumahmu, Nak. Tapi adik-adik kamu melarang ibu," kata Sulastri memulai pembicaraan setelah duduk di samping Bagas.
Rianti mengernyitkan dahinya dan menatap ke arah Farida dan Rayhan.
Farida dan Rayhan tersenyum. Begitu juga Sulastri.
"Habis, terlalu cepat, Kak. Kakak masih bulan madu, masak di ganggu," kata Farida tersipu malu. Sulastri mencolek perut Farida. Semua yang hadir tertawa.
"Ngomong-ngomong, cewek yang dua ini kapan balik ke pondok?" tanya Tuan Guru Izzul Islam kepada Farida dan Rayhan yang mengapit tubuh Sulastri. Farida dan Rayhan tersenyum malu. Keduanya mencubit tangan Sulastri, memintanya untuk menjawab.
"Kalian yang ditanya kok ibu yang jawab," kata Sulastri. Ia tersenyum. Keduanya tersipu malu.
"Minta dispensasi dulu untuk keduanya, Nak Tuan Guru. Jadi bingung juga nih. Setelah nak Rianti menikah, ibu jadi kesepian di rumah. Tapi Insya Allah, tiga hari lagi mereka sudah balik ke pondok," kata Sulastri. Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya.
"Tapi jangan lupa, kalian berdua harus tetap muthala'ah pelajaran kalian. Jangan main HP terus," kata Tuan Guru Izzul Islam. Keduanya menganggukkan kepala. Rianti menyuruh Rayhan mendekat dan duduk di dekatnya.
Dari arah samping, Nurul muncul dengan membawa nampan berisi beberapa gelas minuman. Sulastri menyuruh Rayhan mengambil kursi plastik yang tersusun di bawah teras. Sulastri lalu menggeser tempat duduknya dan meletakkan kursi yang dibawa Rayhan di dekat Bagas.
"Ayo, duduk sini, Dik Nurul," kata Sulastri setelah Nurul selesai menghidangkan minuman di atas meja.
__ADS_1
"Silahkan diminum, Tuan Guru." Sulastri mempersilahkan Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk tersenyum.
"Oh ya, Pak. Bagaiamana perkembangan panti asuhannya?" kata Rianti. Ia menatap ke arah Bagas. Bagas tersenyum.
"Alhamdulillah, Non. Berjalan lancar. Apalagi setelah Nak Fahmi datang, suasananya tambah berbeda,"jawab Bagas.
Rianti mengangguk. Dia menoleh kesana kemari. Mendengar nama Fahmi di sebut, sejak kedatangannya, ia belum juga melihat Fahmi. Itu juga yang ingin ditanyakan Tuan Guru Izzul Islam.
"Ngomong-ngomong, saya kok belum lihat dik Fahmi. Dia kemana?" tanya Rianti.
"Adikmu pagi-pagi sekali sudah pergi ke panti asuhan. Ia sibuk mengurus persiapan pembangunan pesantren. Dia juga akan menghubungi teman-temannya yang menghafal Al-qur'an untuk membantunya." jawab Sulastri. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk-angguk.
"Saya yakin, di bawah bimbingan dik Fahmi, pesantren ini kelak akan berkembang maju," kata Tuan Guru Izzul Islam.
"Oh ya, Bu. Ngomong-ngomong tentang penghafal Al-qur'an. Titip salam buat dik Fahmi, saya ingin mengajukan lamaran untuk Jamila. Dia juga penghafal. Dia juga telaten. Saya saja yang sebelumnya tak pernah mengenal Al-qur'an, alhamdulillah bisa selancar ini," kata Rianti.
"Jamila juga seorang penghafal?" tanya Sulastri heran. Rianti mengangguk.
"Memangnya, sebelum dia dipenjara pernah mondok dimana?"
Rianti tersenyum.
"Dia tidak pernah mondok, Bu. Dia hafalnya di penjara. Luar biasa kan? Dia itu anaknya guru ngaji loh. Yah, yang namanya bagian hidup, kita tak pernah tahu bagaimana perjalanan hidup kita ke depannya," kata Rianti.
"Kalau gak salah, kamu pernah bilang kalau sebentar lagi dia akan bebas,"
"Kurang lebih tiga bulan lagi, Bu. Saya minta tolong nanti dijemput ya , Bu. Kasihan, dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi," kata Rianti. Sulastri tersenyum.
"Loh, kok ibu yang jemput sih. Sama kamu dong. Dia nanti malu kalau ibu jemputnya sendiri," kata Sulastri. Rianti tersenyum. Ia melirik ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk.
"Farida, Rayhan, ayo kalian ke dapur sana. Bantu bi Munawarah menyiapkan makanan untuk makan siang nanti," kata Sulastri. Bagas mencolek tangan Nurul, memberi isyarat agar ke dapur.
"Loh, mau kemana Dik Nurul," tanya Sulastri ketika melihat Nurul bangkit. Nurul tersenyum.
"Saya mau bantu-bantu di dapur. Sekalian mau tengok Bahri. Kasihan bi Aisyah gendong terus," kata Nurul. Setelah pamit kepada orang-orang di depannya, ia melangkah menuju dapur.
__ADS_1
Mendung kembali terlihat hitam dan perlahan bergerak terbawa angin. Hawa dingin mulai terasa. Tuan Guru Izzul Islam, ditemani Rianti nampak sedang berjalan-jalan di area persawahan. Di kursi yang dibawa pak Bayan untuk mereka duduk di depan gerbang, mereka menikmati suasana persawahan yang hijau dan menyejukkan mata. Sesejuk rasa yang mendiami hati keduanya.