
Bu Sofia membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Ia lalu turun dari tempat tidur dan melangkah menuju lemari pakaian. Setelah membukanya, ia lalu mengeluarkan sebuah diare berwarna ungu di atas lipatan pakaian. Pak Nurasmin hanya melihat sambil menunggu bu Sofia.
Bu Sofia kembali melangkah ke tempat tidur setelah menutup lemari. Ia mulai membuka lembar demi lembar diare, hingga ia berhenti pada lembaran yang dilipat ujung bagian bawahnya. Ia kemudian memperlihatkannya kepada pak Nurasmin.
Pak Nurasmin mengerutkan dahinya. Diare di tangan bu Sofia diambilnya. Ia membacanya.
"Demi Allah, aku tidak akan menikah jika tidak dengan Tuan Guru Izzul Islam".
Pak Nurasmin memperhatikan tanggal yang tertulis di pojok atas lembaran. Tanggal 1 Januari 2023. Itu sudah tertulis beberapa minggu yang lalu. Pak Nurasmin menoleh ke arah bu Sofia. Pak Aminullah mendesah.
"Kira-kira apa maksud anakmu menulis seperti itu, Pak," kata bu Sofia. Pak Nurasmin menatap ke arah depan. Bola matanya terlihat bergerak.
"Mungkin saja dia menyesal karna melihat Kak Tuannya menikah dengan orang lain," kata pak Nurasmin. Bu Sofia mendesah panjang.
"Tapi terlihat tak masuk akal, Pak. Layla nya sendiri nangis dan mengamuk di dalam kamarnya begitu tahu dia akan dijodohkan dengan Nak Izzul. Bagaimana ibu gak cemas, Pak. Itu sebabnya ibu terpaksa ikut campur memberinya solusi untuk kabur," kata bu Sofia. Pak Nurasmin terdiam. Tatapan matanya memperlihatkan jika dia sedang memikirkan sesuatu. Dia mulai terlihat gusar.
"Nak Izzul itu, sekalipun dia adalah keponakan bapak, tapi bapak sangat mengormatinya. Usianya memang jauh lebih muda dari bapak, tapi ilmu agamanya membuat bapak segan di hadapannya. Dan itu memang kelebihan orang yang berilmu. Drajatnya jauh lebih tinggi dari orang yang tidak berilmu. Mungkin Allah marah karna kaburnya Layla kemarin membuat hati Nak Izzul kecewa," kata pak Nurasmin panjang lebar. Bu Sofia memegang tangan pak Nurasmin. Tangannya bergetar. Pak Nurasmin menatap bu Sofia yang terlihat cemas.
"Sekarang, dimana anakmu," kata pak Nurasmin.
"Ada di kamar, Pak. Dia sedang belajar,"
Pak Nurasmin mengusap wajahnya.
"Kita memang tidak bisa menyalahkan Layla. Dia masih terlalu muda untuk dipaksa menikah. Apalagi dengan saudara misannya sendiri yang usianya jauh lebih tua darinya."
Pak Nurasmin mendesah panjang.
__ADS_1
"Tapi sumpah itu bisa dibatalkan kan, Pak," kata bu Sofia. Wajahnya semakin terlihat cemas.
Pak Nurasmin mendesah panjang.
"Sumpah itu bukan sesuatu yang harus dipermainkan, Bu. Tapi jika kita terpaksa melanggarnya karna urusan yang lebih penting, maka kita diwajibkan membayar kafarat atau denda. Pertama dengan cara memberi makan sepuluh orang miskin. Lalu yang kedua dengan cara memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin, kemudian yang ketiga membebaskan budak atau hamba sahaya." Pak Nurasmin menoleh ke arah bu Sofia.
"Jika kita tidak mampu melaksanakan ketiga pilihan di atas, maka pilihan yang terakhir adalah berpuasa tiga hari," kata pak Nurasmin menutup kata-katanya. Perlahan ia membaringkan tubuhnya. Wajah bu Sofia terlihat sedikit melunak dan tenang. Ia menoleh ke arah pak Nurasmin yang seluruh tubuhnya terselubung selimut.
"Ayo, matikan lampunya, Bu. Bapak ngantuk," kata pak Nurasmin. Bu Sofia langsung menuruni tempat tidur. Sebelum mematikan lampu, bu Sofia menoleh ke arah pak Nurasmin yang sudah memejamkan matanya.
"Pak, ibu ke kamar Layla sebentar ya," kata bu Sofia. Pak Nurasmin membuka matanya.
Pak Nurasmin mengangguk.
"Kalau anakmu sedang tenang, coba ibu tanyakan masalah itu sama anakmu. Kita juga tidak mau anakmu tidak tenang karna memikirkan masalah itu," kata pak Nurasmin. Bu Sofia tersenyum menganggukkan kepalanya. Lampu kemudian dimatikannya.
* * * * *
"Layla, kamu sudah makan, Nak?" tanya bu Sofia. Ia mengetuk pintu pelan. Tak berapa lama kemudian, pintu kamar terbuka. Dia tersenyum ketika melihat Layla berdiri di balik pintu.
"Ibu hanya mau bilang, apa kamu sudah makan atau belum," kata bu Sofia.
"Belum, Bu. Layla lagi gak berselera," jawab Layla. Bu Sofia mendesah. Ia lalu masuk dan menarik tangan Layla ke dalam. Keduanya lalu duduk di sisi ranjang. Bu Sofia mengusap rambut Layla. Wajah Layla terlihat layu. Ia yakin betul,jika ada hal berat yang saat ini dipikirkan Layla, itu pasti ada kaitannya dengan apa yang tertulis dalam catatan hariannya.
"Nak, jika ada masalah yang kamu hadapi, ceritakan sama ibu. Jangan menyimpannya sendiri. Akhir-akhir ini, setiap kali ibu memeriksa makanan yang ibu siapkan untuk kamu, sepertinya kamu jarang makan. Ibu tahu kamu sedang ada masalah," kata bu Sofia. Wajahnya terlihat sedih menatap Layla.
Layla menundukkan wajahnya. Air matanya mengalir. Isak tangisnya terdengar. Melihat itu, bu Sofia memeluk tubuhnya. Tangis Layla semakin terdengar keras. Bu Sofia ikut menangis. Tak henti-henti ia mencium kepala Layla.
__ADS_1
"Katakan, Nak. Ibu akan mendengarkanmu. Ibu akan berusaha sekuat tenaga membantumu," kata bu Sofia. Air mata Layla diusapnya. Layla menundukkan wajahnya.
"Layla yakin ibu sudah mengetahuinya. Layla yakin ibu masih menyimpan buku catatan Layla. Layla sengaja meletakkannya di atas meja karna Layla tahu ibu akan datang membersihkan kamar Layla," kata Layla.
"Catatan tentang Kak Tuanmu?" tanya bu Sofia mencoba memperjelas.
Layla menganggukkan kepalanya. Tangisnya kembali pecah. Bu Sofia berusaha menenangkannya. Tangis yang hendak ikut tumpah di tahannya. Ia ingin memperlihatkan kepada Layla bahwa ia sebagai ibu punya solusi untuk masalah yang kini dihadapi Layla.
"Kenapa kamu sampai bersumpah seperti itu, Nak." kata bu Sofia.
"Saya menyesal, Bu. Entah kenapa tiba-tiba saja Layla merasa cemburu dan tak terima Kak Tuan menikah dengan orang lain. Itu juga alasan Layla tak mau ikut acara akad nikahnya Kak Tuan," kata Layla. Bu Sofia tersenyum. Rambut Layla yang terurai berantakan di rapikannya.
"Sekarang kak Tuanmu sudah menikah. Tak elok kamu bersumpah seperti itu. Jika kelak kamu menemukan laki-laki yang kamu cintai, kamu masih bisa melanggar sumpahmu, tentunya dengan hukuman membayar kafarat," kata bu Sofia. Senyumnya mengembang mencoba memberi ketenangan kepada Layla. Layla menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Bu. Layla tidak akan melanggar sumpahku. Sumpah itu bukan sesuatu yang harus dilanggar. Lagi pula, Layla sudah tidak tertarik dengan laki-laki. Ini mungkin karna pengaruh sumpahku. Layla tidak akan menikah jika tidak dengan Kak Tuan," kata Layla. Bu Sofia mendesah panjang. Kepalanya digeleng-gelengkannya.
"Tapi mau bagaimana lagi, Nak. Kak Tuanmu sekarang sudah menikah. Kamu tak boleh merusak rumah tangga orang," kata bu Sofia. Wajahnya kembali terlihat gelisah.
Layla mendongak. Matanya menerawang ke langit-langit kamar.
"Kak Tuan tak perlu menceraikan istrinya. Secara agama, dia masih punya jatah tiga orang untuk dinikahi. Kak Tuan sudah memiliki semua kreteria untuk melakukan poligami,"
"Tapi tak semudah itu, Nak. Kak Tuanmu juga belum tentu mau berpoligami. Sudahlah, Nak. Batalkan sumpahmu. Kita hanya akan membayar kafarat dan banyak-banyaklah meminta ampun atas pelanggaran ini, Nak."
Kembali Layla menggeleng. Bu Sofia sudah tak tahu lagi bagaimana membujuk Layla. Ia mendesah panjang. Ia menatap Layla dalam dan mengusap-usap pundaknya lembut.
"Kamu sudah shalat?" tanya bu Sofia. Layla menggeleng. Bu Sofia tersenyum. Kedua pundak Layla dipegangnya.
__ADS_1
"Ayo sana. Kamu shalat dulu biar hati kamu tenang. Minta petunjuk kepada Allah atas permasalahan yang kini kamu hadapi. Semoga Allah memberi jalan terbaik," kata bu Sofia. Layla mengangguk. Bu Sofia kemudian bangkit dan melangkah keluar kamar. Sebelum menutup pintu kamar, ia menyempatkan diri melihat Layla. Ia agak berat meninggalkan Layla dengan masalah yang ia sendiri sebagai ibu belum bisa memberikannya jalan keluar. Tapi ia berharap, Layla bisa merubah keputusannya.
Dengan pelan bu Sofia menutup pintu dan melangkah menuju kamarnya.