KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
155


__ADS_3

Nyai Mustiani mendesah kesal. Raut mukanya mengerut keras. Matanya memincing. Gigi-giginya mengatup satu sama lain. Ia sudah berusaha menahan tangannya untuk tetap diam. Tapi karna kemarahan dan kekesalannya yang memuncak, tangannya kembali menggebrak meja dengan keras. Beberapa piring yang digunakan menutup makanan, bertubrukan di atas meja.


"Gak punya adab. Bukan santri. Datang kesini hanya untuk makan dan tidur saja. Ilmunya gak akan barokah," kata Nyai Mustiani geram. Suhaini dan Jamila tak berani mengangkat wajahnya.


Tuan Guru Izzul Islam bangun dari berbaringnya ketika mendengar suara meja digebrak dari arah luar. Kopiah yang ia taruh di atas meja segera diambilnya dan bergegas keluar.


"Ibu?" kata Tuan Guru Izzul Islam ketika melihat Nyai Mustiani berdiri dengan kedua tangan menekan meja. Di depannya, Suhaini dan Jamila nampak tertunduk dalam. Tuan Guru Izzul Islam mendekat. Ia memegang pelan punggung Nyai Mustiani.


"Ada apa, Bu. Kok ada suara ribut-ribut," kata Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani mendesah kesal.


"Pelajaran adab di pondok ini sepertinya harus ditinjau ulang. Santri-santri kamu gak punya akhlak," kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam mendesah. Ia menoleh ke arah Suhaini dan Jamila.


"Kalian berdua, kembalilah ke asrama," kata Tuan Guru Izzul Islam. Suhaini dan Jamila mengangguk pelan. Keduanya lalu bangkit dan berjalan pelan meninggalkan Tuan Guru Izzul Islam dan Nyai Mustiani.


Tuan Guru Izzul Islam menuangkan air putih ke dalam gelas di depannya. Ia kemudian memberikannya kepada Nyai Mustiani. Nyai Mustiani menggeleng. Ia memberi isyarat dengan matanya agar Tuan Guru Izzul Islam meletakkannya di atas meja. Tuan Guru Izzul Islam kembali mendesah panjang.


"Bu, ceritakan saya, apa yang sebenarnya terjadi sehingga masalah akhlak di bahas-bahas,"


"Itu, si Zulhiyani. Dia pulang tanpa pamit. Sebagai santri yang baik, tak seharusnya dia memperlakukan ibu, yang merupakan ibu dari seorang pimpinan pesantren, seperti ini. Kamu seharusnya lebih menekankan adab kepada mereka,"


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia memegang tubuh Nyai Mustiani dan mengajaknya duduk.


"Zulhiyani masih kecil, Bu. Bukannya dia tak beradab. Dia hanya takut karna ibu tiba-tiba saja ingin menikahkannya dengan saya. Tentu saja dia juga kaget, Bu. Dia kesini bukan untuk mencari suami. Dia kesini untuk menuntut ilmu,"


Nyai Mustiani menoleh. Tatapannya tajam menatap Tuan Guru Izzul Islam.


"Ibu mulai tidak suka jika kamu menasehati ibu seperti itu. Itu sama saja kamu menyalahkan tindakan ibu." Nyai Mustiani bangkit. Tuan Guru Izzul Islam memegang tangan ibunya, berusaha agar Nyai Mustiani tetap di tempatnya.

__ADS_1


"Ya, Allah, Bu. Bukan seperti yang ibu katakan. Ya, Allah, maafkan saya, Bu,"


"Ah, sudah. Pokoknya ibu belum puas kalau keinginan ibu ini tidak kesampaian."


Setelah mengatakan itu, Nyai Mustiani menarik tangannya dari pegangan Tuan Guru Izzul Islam. Dengan langkah cepat, ia segera meninggalkan Tuan Guru Izzul Islam menuju kamarnya. Tuan Guru Izzul Islam menggeleng-gelengkan kepalanya, seraya mendesah menatap Nyai Mustiani.


* * * * *


Tak terasa malam telah beranjak larut. Suara angin yang beberapa jam tadi tak terdengar menghempas. Kembali lagi. Suaranya yang menderu, membuat orang-orang yang masih terjaga menjadi ketakutan. Suara menderu dari tower telekomunikasi di pinggir jalan menciptakan suara yang menakutkan.


Sulastri terbangun dari tidurnya. Suara angin yang menghempas keras di luar sana mengagetkannya. Ia menoleh ke sampingnya. Hanya ada selimut milik Rianti yang di lipat dan diletakkan di atas bantal guling. Lamat-lamat ia mendengar bacaan Al-qur'an di lantunkan di antara suara hempasan angin. Sulastri mengangkat tubuhnya pelan. Dilihatnya Rianti sedang khusyu' membaca Al-qur'an di bawah tempat tidur. Sulastri mendesah. Hempasan angin di luar rumah terdengar sangat menakutkan dan membuat nyalinya ciut. Ia segera bangkit dan menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu'.


Nyai Mustiani bangkit perlahan dari tempat tidurnya. Selimut yang menyelubungi tubuhnya di singkirkannya. Suara atap seng di gudang belakang rumah begitu bising terhempas angin yang keras. Ia merasa tidak tenang karna suara seng itu mengusik ketenangannya.


Nyai Mustiani melangkah ke luar kamarnya. Ia langsung saja menuju ke teras rumah. Ia merasa harus membangunkan Abdul khalik untuk memperbaiki atap gudang agar tidak menimbulkan suara yang berisik lagi. Dengan pelan Nyai Mustiani membuka pintu. Dia begitu terkejut ketika angin yang menghempas mendorong dengan keras pintu yang dibukanya.


Nyai Mustiani mengusap-usap matanya beberapa kali. Seperti tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini. Ia mencoba mendekat sembari terus mempertahankan keseimbangannya dari hempasan angin yang keras. Dia seperti mengenal seorang laki-laki paruh baya berjubah hijau di depan gerbang. Semakin dekat, ia mulai yakin apa yang dilihatnya kini benar adanya. Nyai Mustiani tersenyum. Ia mengangkat kedua tangannya hendak memeluk laki-laki sembari terus mendekat.


Cetar!


Nyai Mustiani menghentikan langkahnya dan mundur beberapa langkah. Ketika tinggal tiga langkah lagi ia akan benar-benar bisa memeluk tubuh laki-laki itu, tiba-tiba saja laki-laki itu mengeluarkan sebuah cemeti dari belakang tubuhnya. Cemeti itu lalu dipukulkannya keras ke arah tanah dan mengeluarkan percikan api. Wajah laki-laki itu memerah dengan tatapan tidak senang ke arah Nyai Mustiani. Nyai Mustiani menggelengkan kepalanya.


"Abah? Kenapa Abah menatapku seperti itu. Aku sangat merindukanmu, Abah. Aku ingin sekali memelukmu," kata Nyai Mustiani. Air matanya mengalir. Laki-laki yang dipanggil abah itu diam dengan tatapan tajamnya. Cemeti dalam genggaman tangannya seperti hendak di ayunkan lagi. Nyai Mustiani melambaikan tangannya mencoba mencegah.


"Ku mohon, teduhkan sedikit pandanganmu, Abah. Aku takut kalau Abah memandangku seperti itu. Kesalahan apa yang pernah aku lakukan sehingga Abah bersikap tidak senang seperti itu. Ku mohon, Abah. Biarkan aku mendekat."


Nyai Mustiani mencoba mendekat lagi. Tapi baru saja langkah pertamanya diayunkannya, laki-laki itu mengangkat cemetinya sehingga membuat Nyai Mustiani mundur lagi ke tempatnya semula. Ia menggelengkan kepalanya. Air matanya mengalir deras. Tatapan mata laki-laki itu tetap tak berubah. Tubuhnya Nyai Mustiani luruh dan akhirnya membuatnya bersimpuh di tanah.

__ADS_1


"Ku mohon, apa gerangan kesalahanku, Abah," kata Nyai Mustiani lagi memelas. Laki-laki itu menoleh ke belakang dan tiba-tiba saja seorang perempuan berkerudung biru motif batik muncul dari arah belakang tubuhnya. Mata Nyai Mustiani terbelalak. Ia seperti patung yang diam tak bergerak. Tatapannya kini tak berkedip memandang ke arah perempuan berkerudung biru motif batik, yang kini berdiri sejajar di samping kiri laki-laki itu. Laki-laki itu terlihat merangkul tubuh perempuan berkerudung biru motif batik. Cemeti di tangannya dilemparkannya dan jatuh tepat di hadapan Nyai Mustiani.


من عاد لي وليا فقد آذنته بالحرب


Setelah mengatakan itu, laki-laki itu berbalik dan mengajak perempuan berkerudung biru motif batik itu pergi. Melihat itu, Nyai Mustiani segera bangkit dan berusaha mengejarnya. Tapi aneh, laki-laki dan perempuan berkerudung biru motif batik itu tiba-tiba saja hilang begitu keluar dari gerbang rumah.


"Abah! Tunggu, Abah. Ku mohon, jangan pergi. Abah!" teriak Nyai Mustiani.


* * * * *


Shodaqollahul Adzim."


Rianti mengakhiri bacaan Alqur'annya. Dia menoleh ke belakang. Sulastri terlihat khusyu' memutar butir demi butir tasbih di tangannya. Rianti berbalik dan mencium tangan Sulastri. Sulastri tersenyum.


"Ayo, kamu istirahat sana. Tubuhmu juga punya hak untuk istirahat," kata Sulastri. Rianti tersenyum.


"Tidak, Bu. Entah kenapa malam ini aku merasa akan ada tamu yang datang. Dipaksakan tidur juga Aku belum mengantuk. Dari pada menghabiskan waktu dengan menghayal. Lebih baik aku ikut ibu berzikir sembari menunggu subuh tiba," kata Rianti. Sulastri mengernyitkan dahinya.


"Tamu apa malam-malam begini. Lihat, sudah jam 3," kata Sulastri sembari mengarahkan pandangannya ke arah jam dinding.


Rianti menaikkan kedua pundaknya.


"Entahlah, Bu. Aku hanya merasa tak perlu tidur malam ini," kata Rianti. Ia menatap Sulastri dan tersenyum.


"Entah kenapa juga, aku merasa Tuan Guru Izzul Islam menyuruhku membaca amalan yang pernah beliau berikan dulu," sambung Rianti. Sulastri tersenyum dan mengusap kepala Rianti. Sulastri menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, ambil tasbihmu dan duduklah di dekat ibu. Kita akan membacanya bersama-sama," kata Sulastri. Rianti tersenyum. Ia menarik sajadah ke belakang sehingga sejajar dengan sajadah Sulastri. Mereka berduapun mulai khusyu' membaca wirid.

__ADS_1


__ADS_2