
Sulastri membuka amplop itu dengan tangan bergetar. Perlahan ia mengeluarkan sebuah lipatan kertas dari dalamnya. Ia mulai membacanya. Sejenak suasana kembali hening. Nyai Mustiani dan pak Nurasmin menundukkan kepala menunggu Sulastri selesai membaca.
Surat yang dibaca Sulastri begitu panjang. Ada dua lembar. Ia tidak mungkin membacanya tergesa-gesa, karna disaat bersamaan, ia tidak mungkin membuat kedua tamunya menunggu. Ia tidak bisa konsentrasi membacanya. Ia memutuskan melipat kembali kertas surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop.
"Maaf, Bu Nyai. Karna suratnya begitu penting, mungkin aku butuh waktu lama untuk membaca dan memahaminya. Mohon berikan aku waktu untuk menjawabnya satu atau dua hari ke depan. Tuan Guru sudah memikirkan matang-matang keputusannya untuk melamarku. Aku ingin melakukan hal yang sama. Aku ingin merenungi satu persatu kata-kata yang ada dalam surat ini." kata Sulastri. Nyai Mustiani tersenyum dan memegang tangan Sulastri.
"Saya setuju dengan kata-kata Bu Sulastri. Pikirkanlah matang-matang sambil mencari petunjuk dari Allah agar tidak terjerumus tipu daya setan," kata Nyai Mustini bijak. Sulastri tersenyum.
Nyai Mustini mendesah dan menatap pak Nurasmin.
"Dik, sudah jam 10. Mungkin sudah waktunya kita pulang," kata Nyai Mustiani ke arah pak Nurasmin. Pak Nurasmin mengangguk.
"Loh, kok sebentar sekali, Bu Nyai. Tumben-tumben Bu Nyai datang kesini. Senang sekali rasanya dikunjungi Bu Nyai. Terus-terang, Aku masih ingin berbincang-bincang dengan Bu Nyai," kata Sulastri.
Nyai Mustiani tersenyum.
"Lain kali kalau ada waktu, kita akan main-main lagi ke sini, Insya Allah," kata Nyai Mustiani. Ia bangkit, diikuti Sulastri dan pak Nurasmin.
"Ngomong-ngomong, kapan mau jenguk Fahmi," sambung Nyai Mustiani. Sulastri tersenyum.
"Kalau aku sih, maunya sebulan lagi, Bu Nyai." kata Sulastri menundukkan kepalanya.
"Hebat. Ini baru orang tua yang menyayangi anaknya. Kebanyakan santri baru kabur, karna terlalu sering di jenguk orang tuanya," kata Nyai Mustiani. Ia mengacungkan jempolnya ke arah Sulastri. Sulastri tersenyum.
"Oh ya, Bu Nyai. Ngomong-ngomong tentang Fahmi, Bagaimana keadaannya, Bu Nyai. Apa dia sudah betah tinggal di pondok?" tanya Sulastri. Nyai Mustiani mengusap pundak Sulastri.
"Dia seperti anak yang sudah mondok tiga tahun saja. Ngajinya rajin dan tak pernah telat naik ke masjid. Kalau lagi gak ngaji, ia sering minta ketemu sama Nak Izzul. Mereka akrab sekali loh," kata Nyai Mustiani.
__ADS_1
"Alhamdulillah," desah Sulastri senang dengan senyum yang mengembang.
Nyai Mustiani kemudian melangkah keluar di ikuti Sulastri dan pak Nurasmin. Sulastri mengantarnya hingga Nyai Mustiani dan pak Nurasmin naik ke dalam mobilnya.
"Pak Mustarah," panggil Sulastri yang sedang ngobrol santai bersama pak Ahmad. Pak Mustarah berdiri dan mendekati Sulastri.
"Ya, Bu,"
"Minta tolong besok ke ponpes Qudwatusshalihin ya. Antarkan makanan buat Fahmi. Ajak juga pak Ahmad. Pak Ahmad gak pernah sekali-kali ikut jalan-jalan," kata Sulastri. Pak Ahmad tersenyum.
"Terimakasih, Bu. Saya dari dulu pingin ziarah ke makam Tuan Guru Lalu Liwaul Hamdi." Sulastri tersenyum.
"Gantian dulu ya, Pak Bayan. Kita kasih kesempatan dulu pada pak Ahmad," sambung Sulastri. Pak Bayan mengangguk.
Sulastri melangkah menuju rumah.
* ** * *
Sulastri menghela nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Ia mulai membaca surat.
انه من سليمان وانه بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamualaikum wr. wb.
Teriring doa semoga kita selalu dalam lindungan Allah swt. Amin.
Sebelumnya aku minta maaf karna secara tiba-tiba aku mengutus ibuku untuk menyampaikan perasaan dan keinginanku. Aku hanya melakukan salah satu ikhtiarku, menuju sunnah Nabi kita Muhammad saw dan menyempurnakan separuh agamaku. Dengannya, aku bisa memperbanyak keturunan untuk meneruskan perjuangan, menegakkan agama Allah di muka bumi.
__ADS_1
Aku bisa saja menikah dengan wanita lain yang lebih muda dan cantik. Tapi menikah dan berumah tangga tidaklah hanya berbicara tentang cantik dan muda. Tapi yang bergamalah yang tentu lebih dipentingkan.
Aku panggil saja kamu, perempuan berkerudung biru motif batik. Itu yang aku jumpai dalam empat malam istiharahku. Petunjuk yang aku temukan dalam mimpiku, pada akhirnya mengantarku kepada sebuah keyakinan, bahwa kamulah perempuan berkerudung biru motif batik itu. Oleh karnanya, aku memantapkan hatiku untuk mengutus ibuku guna menyampaikan niat hatiku untuk melamarmu. Semua ku serahkan pada Allah. Apa dan bagaimana hasilnya. Kita hanya berencana, Tuhan juga penentu keputusan.
Mungkin saat ini kamu menolak. Mungkin saat ini kamu sudah punya seseorang yang akan mendampingi masa tuamu, atau mungkin saja kamu sudah mengambil keputusan untuk tidak menikah lagi. Tapi aku ingin meyakinkanmu, bahwa petunjuk dari Allah adalah yang lebih utama. Pilihan kita pada petunjuk itu akan mengantarkan kita kepada rumah tangga yang di ridhai-Nya.
Pertimbangkanlah. Terkadang, apa yang tidak kita sukai dan kehendaki, lebih banyak mendatangkan manfaat dari yang kita harap-harapkan dan kita inginkan.
Aku telah melihat perempuan berkerudung biru motif batik, yang sementara ini kuyakini sebagai dirimu selama empat malam berturut-turut. Selepas shalat dan zikir panjangku, selalu terselip permohonan agar segera dipertemukan dengan perempuan berkerudung biru motif batik. Dan Allah telah mempertemukanku denganmu sebanyak dua kali. Tidak ada yang kebetulan. Kamu memondokkan anakmu di pesantren qudwatusshalihin pun pasti ada rencana Tuhan di sana.
Aku memang tak pernah melihat wajah perempuan itu dalam mimpiku. Wajahnya yang dipenuhi oleh cahaya benderang, pun juga dengan mushaf suci yang ia pegang erat di dadanya menguatkan bahwa hati perempuan itu penuh dengan pengabdian kepada Allah Swt.
Sulastri menghentikan bacaannya saat lembaran pertama surat selesai dibacanya. Ia terdiam sejenak. Ia mencoba merenungi kata-kata Tuan Guru Izzul Islam yang baru saja dibacanya. Keinginan dan harapan Tuan Guru Izzul Islam untuk mendapatkan pendamping hidup yang beriman amatlah kuat. Dia tak lagi menghiraukan wajah tampan dan usia mudanya untuk mendapatkan perempuan yang lebih muda dan cantik. Dia benar-benar memilih apa yang dipilihkan Allah untuknya lewat mimpi.
Malam hening dan semakin larut. Sulastri bangkit dan melangkah menuju lemari di pojok ruangan. Ia membukanya dan sejenak menatap gamis dan jilbab biru motif batik yang tergantung di depannya. Setelah itu ia kembali lagi ke ranjangnya. Ia mengarahkan pandangannya ke arah photo Yulian Wobowo dan tersenyum.
Sulastri mendesah dan membalik lembaran kedua surat itu. Dia melanjutkan bacaannya.
Satu tanda lagi yang ingin ku jelaskan padamu. Aku tak mungkin bisa melihat tanda itu, sebab berada dalam lingkup auratmu. Tapi aku berharap, kamu mengatakan yang sejujurnya. Jika tanda itu tidak ada pada dirimu, maka aku akan menerima bahwa kamu memang bukan perempuan berkerudung biru motif batik, yang ada dalam mimpiku.
Pada malam ke empat mimpiku. Aku melihat tahi lalat di bawah telinga kanan perempuan berkerudung biru motif batik. Itulah tanda terakhirku untuk memastikan perempuan dalam mimpiku adalah kamu atau orang lain.
Aku hanya minta kejujuranmu untuk mengatakannya. Kejujuran adalah bukti utama dari bukti-bukti yang lain.
Jangan sungkan untuk menemuiku atau bertemu denganku apapun hasil dari ikhtiar ini. Aku hanya ingin mencari sendiri petunjuk itu setelah Allah memberikan tanda-tandanya.
Dan..., semoga Allah memberikan kita petunjuk agar selalu istiqomah dalam kebaikan.
__ADS_1
Wassalamualaikum. Wr.Wb.
Lalu Izzul Islam.