KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#96/ Pencarian cinta Sang Tuan Guru


__ADS_3

Suasana di pondok pesantren Qudwatusshalihin sore ini tampak ramai. Para wali santri yang baru saja selesai mengikuti pengajian umum yang disampaikan oleh Tuan Guru Izzul Islam, mulai terlihat berpencar mencari anak-anak mereka. Di beberapa tempat di luar gerbang pesantren, para orang tua bersama anak-anak mereka terlihat sedang menyantap makanan yang mereka bawa dari rumah masing-masing. Tuan Guru Izzul Islam yang baru turun dari masjid, masih terjebak oleh santri dan orang tua santri yang berebut bersalaman dengannya.


Sesampainya di kediamannya, Tuan Guru Izzul Islam langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang. Tubuhnya terasa pegal-pegal setelah beberapa jam tadi duduk bersila menyampaikan ceramah. Sejak ayahnya meninggal, dia sebagai anak tunggal, mau tidak mau harus tampil sebagai penerus, termasuk mengisi pengajian umum yang rutin dilaksanakan setiap hari rabu.


Tuan Guru Izzul Islam melepas baju koko dan kopiah yang dipakainya dan meletakkannya di atas meja sampingnya berbaring. Ia menoleh. Seperti mencari seseorang.


"Abdul Khalik, dimana kamu, Lik," panggil Tuan Guru Izzul Islam sambil menoleh ke arah pintu. Seorang laki-laki muda muncul dari balik pintu. Dengan langkah pelan dan badan membungkuk, ia berjalan mendekat ke tempat Tuan Guru Izzul Islam berbaring.


"Minta tolong buatkan kopi ya, Lik. Terus pijit aku sebentar," kata Tuan Guru Izzul Islam sembari tersenyum. Abdul Khalik menganggukkan kepalanya pelan penuh hormat. Ia mundur beberapa langkah dan membalikkan tubuhnya.


"eHem!


Tuan Guru Izzul Islam menoleh. Ia segera mengangkat tubuhnya. Ia mengenal suara deheman itu. Seorang perempuan paruh baya memakai kerudung hitam dengan gamis warna yang sama, terlihat melangkah ke arahnya. Tuan Guru Izzul Islam segera menyongsongnya dan memapahnya duduk di sofa.


"Bagaimana pengajiannya Zul," kata perempuan itu setelah mantap bersandar di sofa. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Alhamdulillah, Bu. Sudah selesai."


Perempuan yang ternyata adalah, Nyai Mustiani, ibu dari Tuan Guru Izzul Islam mendesah dan tersenyum ke arahnya. Ia mengambil kopiah hitam di atas meja dan memakaikannya di kepala Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustini kembali tersenyum menatap wajahnya.


"Kamu persis seperti almarhum Bapakmu. Setelah selesai ngaji, beliau selalu rebahan di sofa. Setelah itu ia pasti minta dipijit sama Abdul Khalik,"


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia mulai memijit pundak ibunya.


"Nak." Nyai Mustini memegang tangan Tuan Guru Izzul Islam. "Usia kamu sekarang sudah dua lima tahun. Dengan pesantren sebesar ini, sudah waktunya kamu mencari pendamping hidup. Sudah waktunya kamu punya teman ngobrol. Dan yang tak kalah penting, kamu harus punya anak agar kelak punya penerus," sambungnya serius.


Tuan Guru Izzul Islam kembali tersenyum. Ia mengangkat kedua alisnya dan menahannya lama. Kata-kata yang hendak ia keluarkan ditahannya ketika Abdul Khalik datang membawa kopi. Setelah meletakkan kopi dan menyalami keduanya, Abdul Khalik pamit pergi.


"Ayo, jawab ibu. Jangan gunakan kesempatan tadi untuk menghindar dari pertanyaan ibu," kata Nyai Mustiani setelah beberapa saat terdiam menunggu Tuan Guru Izzul Islam bicara.


"Sebentar lagi, Bu. Sabar. Saya perlu istiharah dulu meminta petunjuk dari Allah. Jika sudah ditunjukkan oleh Allah, Dia pasti memberi tanda-tandanya," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil tersenyum. Nyai Mustiani mengangkat nafasnya dan menghempaskannya.


"Kamu dari dulu istiharah terus, tapi hasilnya belum juga kamu kasih tahu ibu,"


"Hasilnya sudah ada, Bu. Tinggal menunggu fatwa dari hati saya."


Jawaban anaknya membuat Nyai Mustiani menyerah. Ia mendesah dan memegang kepala Tuan Guru Izzul Islam.

__ADS_1


"Ya sudah. Ibu serahkan semuanya kepadamu. Ibu terima siapapun perempuan pilihan kamu. Ibu cuma berpesan, calon istrimu kelak adalah wanita shalehah yang akan membantumu berjuang di pesantren."


Nyai Mustiani bangkit. Tuan Guru Izzul Islam segera membantunya dan memapahnya menuju kamarnya.


"Abdul Khalik, kamu masih di sana?" panggil Tuan Guru Izzul Islam sekembalinya dari mengantar ibunya. Abdul Khalik yang masih menunggu di luar rumah kembali masuk. Tuan Guru Izzul Islam Kembali merebahkan tubuhnya di atas sofa. Abdul Khalik mulai memijit kaki Tuan Guru Izzul Islam.


Sambil menikmati pijitan salah satu santri seniornya itu, Tuan Guru Izzul Islam teringat kembali pembicaraannya dengan Nyai Mustiani beberapa menit tadi. Ia juga mulai teringat mimpinya tadi malam selepas shalat tahajjud. Kedatangan ibunya tadi seperti sebuah jawaban atas mimpinya tadi malam. Mimpi tentang seorang perempuan berkerudung biru motif batik dengan membawa mushaf Al-qur'an dan duduk bersimpuh di depannya. Ia tak begitu jelas melihat wajah perempuan itu sebab ia hanya menunduk di hadapannya.


Tuan Guru Izzul Islam mendesah. Anak-anak pimpinan pesantren di daerah itu yang ia ikutkan dalam istiharahnya, tak satupun yang muncul. Hatinya pun tak memberinya keyakinan untuk memilih salah satu dari mereka. Ia tak mau gegabah. Ia harus menemukan jawabannya dari petunjuk yang diberikan Tuhan kepadanya.


"Maaf, Tuan Guru. Saya jadi lupa. Di luar ada tamu yang mencari Tuan Guru," kata Abdul Khalik tiba-tiba membuyarkan lamunan Tuan Guru Izzul Islam.


Tuan Guru Izzul Islam menoleh.


"Aduh, kenapa baru ngomong, Lik,"


Abdul khalik tersipu malu.


"Maaf, Tuan Guru. Saya lupa." Abdul khalik menggaruk-garuk kepalanya. Ia menundukkan kepalanya malu.


"Sudah lama tamunya, Lik,"


Tuan Guru Izzul Islam melonjak kaget.


"Masya Allah, Lik, Lik. Kenapa baru ngomong. Tamunya pasti lelah nunggu. Ayo, kita temui dulu. Nanti kita lanjutkan," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia memperbaiki sarungnya dan bangkit.


"Ayo, kamu bilang dulu sama tamunya, sebentar lagi saya keluar," kata Tuan Guru Izzul Islam. Abdul khalik mengangguk dan segera keluar. Tuan Guru Izzul Islam hanya menggeleng melihat Abdul khalik keluar.


* *** *


Masya Allah!


Tuan Guru Izzul Islam memundurkan langkahnya. Ia urung melangkahkan kakinya begitu melihat perempuan berkerudung biru motif batik sedang duduk di ruang tamu bersama kedua anaknya. Tuan Guru Izzul Islam menggeser tubuhnya ke arah jendela. Sesaat ia memperhatikan wajah Sulastri dari balik keca jendela.


Tuan Guru Izzul Islam mendesah. Lagi-lagi ia bertanya-tanya, suatu kebetulankah atau memang ini jawaban dari mimpinya?


Tidak, tidak, tidak. Ini hanya kebetulan saja. Dia tidak boleh membuat tebakan sendiri. Perempuan di depannya pasti sudah memiliki suami. Batin Tuan Guru Izzul Islam.

__ADS_1


"Astaghfirullah," desahnya. Ia lalu segera keluar.


"Assalamualaikum, Tuan Guru," sapa Sulastri ramah mengucap salam seraya berdiri membungkukkan badannya.


"Wa alaikum salam," jawab Tuan Guru Izzul Islam sambil tersenyum. Kepala Fahmi dan Farida di usapnya lembut saat keduanya mencium tangannya. Tuan Guru Izzul Islam duduk setelah mempersilahkan kembali Sulastri duduk.


"Maaf, ibu jadi lama menunggu. Santri saya lupa kasih tahu kalau ada tamu di luar," kata Tuan Guru Izzul Islam memulai pembicaraan. Sulastri tersenyum.


"Kalau gak salah, ibu pernah kesini beberapa minggu yang lalu." Tuan Guru Izzul Islam menatap Sulastri sejenak lalu kembali memalingkan wajahnya.


"Benar, Tuan Guru. Saya kemarin yang minta di doakan air untuk anak saya." Tuan Guru Izzul Islam memperbaiki posisi duduknya.


"Terus, bagaimana perkembangannya sekarang, Bu."


Sulastri tersenyum.


"Alhamdulillah, Tuan Guru. Berkat ijin Allah, anak saya telah berubah. Dia sekarang sudah mulai shalat. Dia benar-benar telah berubah,"


"Alhamdulillah," Desah Tuan Guru Izzul Islam mengusap dadanya.


"Jika Allah berkehendak, tidak ada yang mustahil, Bu. Yang penting kita sudah berusaha mencari syaratnya,"


"Sebagai rasa syukur saya, saya ingin menyumbang untuk pondok pesantren. Kebetulan tadi saya lihat ada pembangunan di dalam asrama putra,"


"Owh, ibu sudah masuk ke sana?"


"Iya, Tuan Guru. Kebetulan saya juga mau memasukkan anak saya mondok di pesantren ini," kata Sulastri sembari menunjuk ke arah Fahmi


"Alhamdulillah." Tuan Guru Izzul Islam tersenyum ke arah Fahmi.


" Sini, Dik," kata Tuan Guru Izzul Islam memanggil Fahmi. Fahmi mendekat. Kepala Fahmi lalu di pegangnya. Mulutnya terlihat komat-kamit membaca doa di atas kepala Fahmi. Ia lalu mencium kepala Fahmi.


"Nah, Insya Allah, semoga kamu betah di pesantren." Fahmi mengangguk dan kembali duduk di samping Sulastri.


Untuk sejenak mereka terdiam. Tak ada lagi materi yang muncul di kepala masing-masing untuk mengisi diam mereka. Tuan Guru Izzul Islam yang sudah terpengaruh dengan mimpinya semalam, tiba-tiba saja merasa kaku di hadapan Sulastri. Tak seperti pertemuan pertama mereka beberapa minggu yang lalu. Inikah dia perempuan yang hadir dalam mimpinya? Batinnya.


"Eee..., kenapa ibu sendiri terus. Bapaknya kerja apa?" tanya Tuan Guru Izzul Islam mencoba memecah kebisuan. Pertanyaan yang sempat ia rancang namun terlupa saat berhadapan dengan Sulastri.

__ADS_1


Sulastri tersenyum. Ia menundukkan kepalanya.


"Suami saya sudah meninggal satu bulan yang lalu Tuan Guru," Jawab Sulastri.


__ADS_2