
Suasana ramai dan bahagia terlihat di ruang tamu rumah kontrakan Sulastri. Malam ini. Selepas shalat berjamaah isya. Suasana penuh keakraban yang sesekali diiringi tawa renyah di sela-sela pembicaraan mereka.
Di depan pintu rumah, terlihat dua buah tas besar tempat pakaian yang baru saja diletakkan oleh bi Aisyah.
"Fahmi, mainannya sudah dibawa semua?Jangan sampai ada yang ketinggalan," sapa bu Trianti kepada Fahmi yang masih lahap menyantap makanannya. Fahmi mengangguk. Ia menoleh ke arah Sulastri.
"Bu, kita di sini saja ya, Fahmi gak mau pindah ke rumah besar itu. Fahmi takut tante besar datang lagi," kata Fahmi dengan wajah memelas. Ia masih trauma dengan sosok Castella yang telah mengusirnya. Sulastri tersenyum dan mengusap kepala Fahmi.
Sulastri tersenyum.
"Kamu bilang sendiri sana sama pak Sahril," kata Sulastri sembari melirik ke arah pak Sahril. Pak Sahril tersenyum.
"Fahmi gak usah takut lagi. Sekarang sudah ada satpam yang berjaga di depan rumah. Tante besar gak akan berani lagi kesana," kata pak Sahril mencoba menghibur Fahmi. Fahmi terdiam. Ia kembali menoleh ke arah Sulastri. Sulastri tersenyum sembari mengangukkan kepalanya. Melihat Sulastri tersenyum, Fahmi ikut-ikutan tersenyum. Ia pun kembali menyantap makanannya.
* * *
Jam di dinding telah menunjukkan pukul sembilan malam. Sulastri bangkit. Ia meminta waktu sejenak untuk masuk kedalam kamarnya. Didalam ruangan itu ia duduk menekur di sisi ranjangnya. Pandangannya di arahkan ke seluruh sudut ruangan kecil tempat ia mengabiskan separuh usianya bersama anak-anaknya. Ia menitikkan air mata. Nasib memang berputar seperti roda. Setelah beberapa kali terlindas dan berada di posisi bawah, kini Tuhan memperlihatkan sedikit cahaya terang di jalan di depannya. Ia menyesali setiap keluh kesah saat Tuhan memberi cobaan kepadanya dan keluarganya. Dia mulai menyadari, Tuhan tidak akan terus menerus memberi kesusahan kepada hamba-Nya. Pasti ada jalan terang setelah gelap. Dia berharap, inilah jalan terakhir yang menunjukkannya kepada jalan kebahagiaan. Ia akan mendermakan hidupnya untuk membantu orang-orang yang mengalami seperti apa yang pernah ia alami.
Sulastri mendesah dan bangkit. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di tembok kamar, kemudian mengusapkannya di wajahnya. Ia mengusap air matanya lalu melangkah keluar.
* * *
Empat buah mobil sedan beriringan menembus jalan yang mulai sepi. Di belakangnya, secara kebetulan, mobil Lycan hiypersport yang dikendarai Rianti melaju dengan kecepatan sedang. Berkali-kali ia menoleh ke arah jam digital di dalam mobilnya. Masih terlalu dini untuk mengencangkan laju mobilnya. Setidaknya jam sebelas adalah waktu yang tepat untuk menyelinap dengan aman ke rumah itu. Sedikit tidak, selama empat hari di rumah itu, walaupun hanya dua malam menginap, ia sudah menandai tempat yang akan ia gunakan malam ini untuk menyusup masuk.
Rianti mengernyitkan keningnya melihat iring-iringan mobil sedan mewah di depannya. Dia berpikir mungkin mobil-mobil di depannya itu adalah iring-iringan mobil pejabat. Rianti mendesah. Paling tidak, untuk beberapa waktu, ia merasa tidak sendiri di jalan yang mulai sepi itu. Apalagi saat memasuki kawasan menuju jalan Daha. Baru kali ini ia menempuh perjalanan di malam hari sendirian. Biasanya harus ada Jeri dan Mohan yang mengawal.
Rianti lebih memperlambat laju mobilnya. Ia melihat ke empat mobil sedan itu berbelok ke arah jalan kecil menurun di antara rerimbunan pohon. Merasa ada yang aneh, Rianti menghentikan mobilnya. Sejenak di tatapnya keempat mobil yang kini berhenti di depan gerbang rumah.
"Sulastri?" batinnya. Ia menggaruk-garuk dagunya sembari mengernyitkan dahi.
__ADS_1
Rianti menurunkan kaca jendela mobilnya. Dilihatnya beberapa orang turun dari mobil dan satu persatu masuk ke dalam. Rianti menganggukkan kepalanya. Ia menoleh ke belakang dan mulai memundurkan mobilnya. Setelah itu ia berbelok dan mengarahkan mobilnya masuk ke dalam rerimbunan semak di samping tembok rumah.
* * *
Castella membuka matanya perlahan. Tangan kanannya langsung memegang kepalanya saat ia merasakan kepalanya berdenyut.
Castella melihat roknya yang tersingkap. Ia menoleh ke sekelilingnya. Suasana begitu sepi. Tak ada suara apapun selain bunyi detak jam dinding di lorong rumah.
Castella memegang perutnya yang tak henti-henti berbunyi. Perutnya terasa panas dan ia merasa lapar. Castella perlahan mengangkat tubuhnya. Dengan tubuh yang tidak seimbang, ia berjalan sempoyongan. Castella mengernyitkan dahinya heran. Kaca riasnya pecah dan banyak sekali pecahan kaca dan botol berserakan di lantai. Dia mulai bertanya-tanya sendiri apa gerangan yang telah terjadi sehingga tiba-tiba ia menemukan keadaan kamarnya yang berantakan seperti itu.
"Rianti...Rianti..., dimana kamu," panggil Castella dengan suara paraunya. Panggilannya menggema memenuhi ruangan. Tak ada jawaban. Suasana benar-benar lengang dan sepi.
Castella kembali melangkahkan kakinya. Berkali-kali ia mengaduh kesakitan saat secara tak sengaja kakinya tertusuk serpihan kaca dan botol di lantai. Dengan susah payah, akhirnya ia sampai di depan pintu dan langsung membukanya.
Suasana di lorong rumah terlihat sepi saat Castella berdiri mengawasi di depan pintunya. Kembali ia memanggil nama Rianti, namun tetap tak ada jawaban. Dia tak mungkin memanggil satpam di luar rumah. Terlalu jauh. Suaranya yang parau tak akan didengar. Kerongkongannya pun terasa sakit dan kering. Ia merasa tak akan mampu berteriak seperti biasa.
Castella terlihat gelisah. Ia juga tak mungkin berjalan melewati lorong keluar rumah. Terlalu jauh untuk kondisinya saat ini. Salah satu jalan singkat hanyalah lewat balkon depan ruang kerja Yulian Wibowo.
"Memang seharusnya kamu harus dikencingi, Yulian. Aku sangat menyesal kenapa tidak mengencingi mulutmu saat kamu masih hidup," kata Castella geram bicara dengan photo di depannya. Ia lalu mendekat. Dengan posisi mengangkang di atas photo itu, ia mengangkat roknya dan mulai mengencingi photo itu sambil tertawa penuh kepuasan.
Setelah puas mengencingi photo Yulian Wibowo, Castella berdiri dan melangkah menuju balkon rumah. Ia menatap ke bawah, ke arah pos jaga satpam. Terlihat asap mengepul dari arah pos jaga, memenuhi lampu pintu gerbang. Castella menepuk tangannya beberapa kali. Satpam itu terlihat keluar dan berlari ke arah bawah balkon rumah. Ia mendongak memperhatikan isyarat tangan dari Castella yang menyuruhnya segera naik.
* * *
"Apa yang kamu bawa itu," kata Castella ketika melihat satpam itu sudah berdiri di belakangnya dengan membawa bungkusan warna hitam di tangannya.
"Ini nasi, Bu. Kata non Rianti, saya disuruh membawakan ibu jika ibu sudah bangun," kata laki-laki itu sambil menundukkan kepala.
"Kurang ajar, Rianti menitipkanku makanan sampah?" tanya Castella geram. Tetap dengan suara paraunya.
__ADS_1
"Bukan, Bu. Bukan sampah. Ini masakan padang," jawab satpam dengan suara bergetar.
"Aku tidak biasa makan nasi kotak bangsat!, dimana bi Rahma, suruh dia menghidangkannya di meja makan," kata Castella dengan mata melotot tajam.
"Maaf, Bu. Bi Rahma kan sudah berhenti tiga hari yang lalu,"
Castella memutar bola matanya kesana kemari. Ia mendesah kesal. Dirampasnya bungkusan di tangan satpam itu.
"Kurang ajar! ini semua gara-gara perempuan binatang itu. Anjing! Aku benar-benar dibuatnya menderita seperti ini. Kamu juga anjing Yulian!" teriak Castella marah. Merasa suasana mulai berubah, satpam itu mundur dan segera meninggalkan Castella.
* * *
Rianti perlahan membuka pintu mobilnya dan keluar. Pisau di tangannya digenggamnya kuat. Setelah memastikan situasi di sekitarnya aman, ia mulai menundukkan badannya dan mengendap menyusuri sepanjang tembok pagar rumah menuju bagian belakang rumah. Di bawah sebuah pohon ara besar yang dahan-dahannya masuk hingga ke halaman belakang rumah, ia berhenti. Ia menghela nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Ia memejamkan matanya. Berusaha menghadirkan kembali bayang wajah Sulastri dan segala yang menyakitkan hatinya. Dengan itu ia berharap, keinginannya membunuh Sulastri akan mengalahkan rasa takutnya menghadapi akibat dari perbuatannya.
Rianti membuka matanya perlahan. Ia menatap ke atas pohon. Setelah memastikan sekitarnya aman, ia mulai merangkak naik memanjat pohon.
* * *
"Bismillah," ucap Sulastri ketika pertama kalinya duduk di atas sofa biru mewah di ruang tamu. Tatapan matanya sejenak di arahkan ke setiap sudut ruang. Ada sedikit perubahan yang ia lihat di dalam ruang tamu itu. Ruang kerja pribadi yang ia tata bersama Yulian Wibowo sudah tidak ada lagi. Photo-photo pernikahannya bersama Yulian Wibowo yang terpajang di belakang sofa juga sudah tidak ada lagi. Rak-rak minuman yang ia rubah sebagai tempat penyimpanan dokumen perusahaan, yang sebelumnya difungsikan sebagai tempat pajangan minuman, sepertinya sudah kembali difungsikan sebagaimana sebelumnya oleh Castella dan Rianti. Itu bisa dilihat dari beberapa botol minuman kosong yang tertumpuk rapi di sudut rak.
"Bi Aisyah, Bi Munawarah, tolong ajak anak-anak ke ruang sebelah. Mereka sepertinya sudah mulai ngantuk," kata Sulastri. Keduanya menganggukkan kepala. Fahmi dan Farida kemudian diajaknya keluar menuju kamar sebelah.
"Bu, ini Pak Bayan. Dia yang akan bertugas sebagai satpam di rumah ini. Kami harap, tidak ada lagi yang akan ibu khawatirkan terkait keamanan rumah ini," kata pak Sahril memperkenalkan seorang laki-laki berkulit hitam yang baru saja datang dan berdiri di samping pak Sahril duduk. Pak Bayan menganggukkan kepalanya ke arah Sulastri. Pak Sahril mengeluarkan sebuah ponsel dan beberapa perlengkapannya dari dalam tasnya. Ia meletakkannya di atas meja.
"Ini juga ponsel buat Ibu. Nomornya tetap pakai nomornya bapak. Nomor-nomor penting juga sudah kami simpan di sana untuk memudahkan pekerjaan ibu. Jika ada kebutuhan lain, ibu bisa langsung menghubungi saya atau pak Pratama," kata pak Sahril menambahkan. Sulastri tersenyum.
"Untuk survei lokasi, kira-kira jam berapa, Pak. Biar saya bisa siap-siap besok," kata Sulastri.
Pak Sahril terdiam sejenak. Ia melirik ke arah jam tangannya.
__ADS_1
"Kita berangkat jam 8 saja, Bu. Besok saya hubungi lagi," jawab pak Sahril.