
Jamila perlahan mulai merasakan tubuhnya segar kembali setelah beristirahat cukup dan meminum beberapa teguk air. Setelah menunggu beberapa lama dalam kewaspadaannya, tak ada tanda-tanda Jini dan orang yang mengejarnya mendekat ke tempatnya kini. Ia merasa yakin, ia aman dan semoga saja mereka berhenti mencarinya.
Jamila memperhatikan sekelilingnya. Keningnya mengerut. Matanya mulai beradaptasi dengan gelap yang menelungkupi sekitarnya. Ia sepertinya mengenal pondok tempatnya kini bersembunyi. Kalau tidak salah?
Jamila tersenyum. Ia segera bangkit dan mulai memeriksa pondok. Memang benar. Itu memang pondok tempat ia duduk bersama perempuan-perempuan yang hendak memetik daun tembakau, termasuk juga Jini. Dan minuman yang ia minum tadi adalah sisa minum mereka saat makan siang tadi. Itu berarti beberapa meter dari pondok itu, ia akan segera menemukan jalan raya. Dan itu juga berarti, tak jauh lagi ia akan menemukan warung tempat ia membeli minuman dingin menjelang siang tadi. Entah jam berapa sudah saat ini, yang jelas, ia tidak mau terus berada di tempat itu. Apapun yang terjadi, malam ini ia ingin berada ditempat yang aman.
Jamila memegang telapak kaki dan betisnya yang terluka akibat terjatuh dan tertusuk tanah keras di sepanjang persawahan. Bau amis darah tercium dan dia masih merasakan nyeri dan sakit. Dan kini, ketika ia mencoba melangkahkan kakinya, ia tak bisa berjalan normal seperti biasanya. Ia membutuhkan penyangga agar bisa menopang tubuhnya.
Jamila meraba lebih jauh ke dalam pondok. Kalau tidak salah, ia sempat melihat beberapa tumpukan cabang-cabang kering pohon mahoni di dalam pondok saat duduk di tempat itu siang tadi. Jamila kemudian memaksa tubuhnya kembali bangkit dan mulai mencari batang kayu sebagai tongkat penopangnya berjalan. Setelah mendapatkan batang kayu yang diinginkannya, Jamila lalu melepaskan jilbabnya dan mengikatkannya di salah satu kakinya yang paling parah terluka.
Jamila menghela nafas panjang dan memejamkan matanya. Dia lalu membukanya perlahan dan sejenak memandang ke depannya. Suasana gelap di depannya seperti tabir hitam yang menghalangi pandangannya melihat jalan untuk keluar darinya.
Jamila mendesah panjang. Dengan penuh keyakinan, ia mulai berjalan pelan menyusuri pematang sawah sambil berusaha mengingat jalan yang ia lewati tadi siang. Kayu balok yang membentang sebagai titian di atas parit berhasil ia temukan. Tapi karna luka di telapak kakinya terlalu parah, juga karna ia tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya di atas titian, ia memilih merangkak menuju seberang parit. Dengan susah payah, Jamila akhirnya sampai di jalan besar.
Suara lolong anjing terdengar ketika Jamila masih berdiri menatap suasana sekitar jalan yang sedikit terang dengan beberapa lampu yang bersembunyi di balik rimbun daun pohon mahoni. Mengetahui keberadaan Jamila, beberapa anjing yang berkeliaran di tengah jalan berlarian mendekat. Jantung Jamila berdegup kencang. Matanya bergerak kesana kemari mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menghalau anjing itu agar tidak mendekat. Matanya awas memperhatikan sekitarnya. Ia harus tetap hati-hati, apalagi sekarang ia sedang berada di jalanan. Ia tidak pernah tahu saat ini Jini dan teman-temannya mungkin sedang mencarinya lewat jalan besar. Sekali waktu ia berhenti dan bersembunyi di balik pohon mahoni.
Jamila mendesah. Ia mulai kesal karna anjing-anjing itu masih saja mengikutinya. Keberadaan anjing-anjing itu dan suara gonggongannya yang ramai bisa saja mengundang perhatian orang-orang. Beberapa potongan paving blok yang ia jumpai dan digunakan untuk mengusir anjing-anjing itu tetap saja tidak membuahkan hasil. Ia akhirnya pasrah dan kembali melanjutkan perjalanannya. Ia harus segera menemukan warung tempatnya membeli minuma siang tadi. Mungkin jaraknya kurang lebih satu kilo.
__ADS_1
Waktu terus berjalan. Suara lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an terdengar lamat-lamat mengalun di antara kesiar angin yang sesekali menghempas pepohonan. Sudah hampir subuh dan Jamila masih berjalan tertatih-tatih dengan tubuh lemahnya. Dia sempat putus asa. Belum ada satupun rumah yang terlihat di depannya setelah begitu lamanya berjalan menyusuri trotoar.
Baru setelah suara tarhim terdengar, senyum Jamila mengembang. Dari kejauhan ia seperti melihat seorang perempuan sedang menyapu di trotoar depan sebuah warung kecil di pinggir jalan. Tak salah lagi, itu warung tempat ia membeli minuman siang tadi.
Jamila semakin mempercepat langkahnya. Semangatnya untuk cepat sampai di warung itu mengalahkan rasa sakit yang bertambah di telapak kakinya. Dan ketika ia sudah berada di tepat di depan perempuan itu, tubuh yang dipaksanya tetap berjalan akhirnya ambruk.
"Bu, minta air minumnya," kata Jamila ketika perempuan itu berusaha mengangkat tubuhnya. Karna tubuh Jamila terlalu berat dan tak mampu diangkatnya, perempuan itu segera masuk ke dalam warungnya dan kembali lagi membawa segelas minuman. Minuman itu segera di dekatkan ke mulut Jamila.
Bu, apa Lapas masih jauh dari sini?" tanya Jamila pelan menatap perempuan paruh baya di depannya.
"Masih jauh, Nak. Kurang lebih 2 kilo,"
"Saya minta tolong, Bu. Carikan saya orang yang bisa mengantarkan saya ke sana,"
"Kenapa kamu mau ke lapas?"
"Saya ingin menemui saudara saya di sana, Bu,"
__ADS_1
"Istirahatlah dulu. Lihat, banyak luka di kakimu. Ayo ibu bantu kamu bangun. Ibu akan memasak air hangat dulu. Kita akan bersihkan dan obati dulu luka-lukamu. Setelah itu, ibu akan mencarikanmu tukang ojek,"
"Terimakasih, Bu," kata Jamila. Ia kemudian berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dengan bantuan perempuan itu.
"Kalau boleh tahu, nama ibu siapa? Mungkin kelak saya bisa membalas kebaikan ibu," tanya Jamila sembari berjalan dirangkul perempuan itu.
"Bu Muniram," jawabnya singkat sambil tersenyum. Sesampainya di dalam warung, Muniram membaringkan tubuh Jamila di atas bangku panjang yang terbuat dari bambu. Setelah itu, ia bergegas ke ruang kecil di belakang warung. Suara kompor gas terdengar di ktek.
Dengan sangat telaten, bu Muniram mulai membersihkan tanah-tanah yang menempel di luka kaki Jamila. Setelah luka itu bersih, ia kemudian mengoleskan obat merah dan melapisinya dengan perban.
Jamila memegang tangan bu Muniram dan menciumnya.
"Terimakasih, Bu. Entah bagaimana saya bisa membalas kebaikan ibu,"
"Gak usah dipikirkan. Ini hanya sedikit yang bisa ibu lakukan. Kalau kamu ingin membalas kebaikan ibu, jangan lupa sisipkan nama ibu dalam doa kamu ya,"kata bu Muniram sambil mengusap punggung Jamila. Ia kemudian bangkit. Toples berisi kue kering dan segelas minuman kemasan diletakkannya di dekat Jamila.
"Kamu makan dulu. Ibu mau mencarikan kamu tukang ojek," kata bu Muniram. Ia lalu melangkah keluar dari warung.
__ADS_1
Suara Adzan Subuh terdengar berkumandang. Setelah selesai melaksanakan shalat subuh, Jamila berpamitan kepada bu Muniram. Ojek yang dipanggil bu Muniram kemudian mengantarkan Jamila menuju lapas.
Jamila tersenyum dan menganggukkan kepalanyake arah bu Muniram yang melambaikan tangan mengantar kepergiannya.