KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#152


__ADS_3

"Abdul khalik! Abdul Khalik!" panggil Nyai Mustiani setengah berteriak. Ia keluar dari kamarnya dan melangkah keluar rumah. Ia berhenti sejenak di teras rumah menyaksikan hujan yang masih turun dengan lebatnya. Setelah itu ia turun dan berhenti di depan kamar Abdul khalik. Tuan Guru Izzul Islam yang sedang berbaring di dalam kamarnya, dan baru saja akan terlelap, segera terbangun mendengar panggilan itu. Ia mencoba menangkap arah suara kaki Nyai Mustiani di antara suara hujan. Entah apa keperluan ibunya sehingga malam-malam begini ia ia mencari abdul Khalik. Tuan Guru Izzul Islam melirik ke arah jam dinding. Sudah jam 12 malam. Hujan masih terdengar di luar sana. Kali ini lebih sering diringi hempasan angin. Karna tak ada lagi suara Nyai Mustiani yang terdengar di luar, Tuan Guru Izzul Islam memutuskan melanjutkan tidurnya.


Abdul khalik segera membuka pintu kamarnya ketika beberapa kali terdengar gedoran di luar kamarnya. Ia seperti baru saja bangun dari tidurnya.


"Saya, Bu Nyai," kata Abdul khalik ketika melihat Nyai Mustiani berdiri di depan pintu.


"Kamu panggil anak-anak dan suruh mereka ke kamar ibu," kata Nyai Mustiani. Abdul khalik menganggukkan kepalanya. Setelah mengatakan itu, Nyai Mustiani berbalik dan kembali ke kamarnya.


* * * * *


Suhaini, Zulhiyani dan Jamilah, tiga santriwati yang setiap malamnya menemani Nyai Mustiani di dalam kamarnya, hanya bisa saling pandang setelah tatapan mereka serempak mengarah ke arah jam dinding. Sudah jam 3 malam. Sudah selarut ini, Nyai Mustiani belum juga menyuruh mereka kembali ke kamar masing-masing. Mereka sudah merasa begitu capek dengan posisi duduk bersimpuh di samping Nyai Mustiani. Tangan mereka pun sudah terasa pegal karna terus menerus bergantian memijit tubuh Nyai Mustiani. Di tambah lagi dengan perut mereka yang mulai terasa lapar.


Nyai Mustiani menoleh satu persatu ke arah mereka.


"Suhaini, dan kamu, Jamilah, Kalian berdua boleh kembali ke asrama. Zulhiyani tinggal dulu sebentar. Ada yang ingin saya bicarakan," kata Nyai Mustiani. Ketiganya kembali saling pandang. Terutama Zulhiyani yang disuruh tetap tinggal. Ia terlihat gelisah saat kedua temannya bangkit dan meninggalkannya.


Nyai Mustiani tersenyum dan bangkit. Zulhiyani yang duduk di tepi tempat tidur di suruhnya lebih mendekat. Dengan agak ragu dan malu-malu, Zulhiyani menggeser tubuhnya dan mendekat ke tempat yang ditunjukkan Nyai Mustiani.


Nyai Mustiani kemudian melangkah menuju lemari kecil di sudut kamarnya. Dari dalam lemari, ia mengeluarkan sebuah kotak kecil tempat cincin berwarna hitam. Sejenak ia terdiam memandang kotak di tangannya. Ia tersenyum sendiri dan mendesah panjang.


Nyai Mustiani menutup kembali lemarinya dan melangkah menuju tempat tidur. Zulhiyani yang memperhatikan Nyai Mustiani dengan penuh pertanyaan, segera menundukkan kepalanya ketika Nyai Mustiani berbalik dan melangkah ke arahnya. Keringat dingin yang berkumpul di keningnya sesekali diusapnya. Jantungnya berdebar. Dia sama sekali belum mengerti kenapa Nyai Mustiani menyuruhnya tinggal sendiri di kamar itu.


Nyai Mustiani menghempaskan tubuhnya pelan di atas ranjang. Ia memegang salah satu tangan Zulhiyani dan menyuruhnya lebih mendekat lagi. Kotak cincin di letakkannya di depan Zulhiyani dan membukanya. Sebuah cincin emas dengan kepala berlian seukuran biji kedelai, tampak berkilauan tertimpa cahaya lampu di tengah-tengah ruangan. Zulhiyani mendesah pelan sembari melirik ke arah cincin. Nyai Mustiani tersenyum.


"Cincin ini sengaja aku simpan untuk calon istri Tuan Guru. Cincin ini aku beli lima belas tahun yang lalu. Baru kali ini aku mengeluarkannya lagi. Kamu satu-satunya orang yang aku perlihatkan cincin ini." Nyai Mustiani mengambil cincin itu. Tangan kiri Zulhiyani di pegangnya. Tangan Zulhiyani bergetar hebat. Ia sempat menarik tangannya ketika Nyai Mustiani hendak memasukkan cincin itu ke jari manisnya.


Keringat dingin bercucuran dari kening dan leher Zulhiyani. Ia seperti mati rasa ketika ia menyadari cincin itu kini sudah terpasang manis di jari manisnya. Karna merasa tidak pantas, ia berusaha mengeluarkan kembali cincin itu, tapi Nyai Mustiani segera mencegahnya.


"Kamu gak boleh melepasnya sebelum aku perintahkan. Aku belum puas melihat cincin itu di jari manismu. Cincin itu harus tetap di sana," kata Nyai Mustiani.


"Tapi, Bu Nyai?" kata Zulhiyani dengan suara lirihnya mencoba menolak.

__ADS_1


Nyai Mustiani menggelengkan kepalanya. Kedua tangan Zulhiyani di pegangnya. Ia memperhatikan cincin di jari manis Zulhiyani. Senyum kecil kembali tersungging di bibirnya.


"Malam ini, cincin ini menjadi milikmu sepenuhnya."


"Tapi, Bu Nyai. Saya merasa tidak pantas menerimanya," kata Zulhiyani. Tetap dengan menundukkan wajahnya.


"Pantas dan tidaknya, aku yang menentukannya. Aku sangat senang kamu memakai cincin itu. Apa kamu tahu apa artinya itu?"


Zulhiyani menggeleng kecil. Nyai Mustiani tersenyum.


"Jika aku sudah senang melihat cincin yang aku beli dipakai oleh seorang gadis, itu artinya aku meridhainya menjadi istri Tuan Guru," kata Nyai Mustiani. Sontak kata-kata Nyai Mustiani itu mengagetkan Zulhiyani. Ingin rasanya ia segera melepas cincin itu dari jari manisnya, tapi ia takut Nyai Mustiani memarahinya. Dia tak pernah menyangka Nyai Mustiani menyuruhnya tinggal sendiri di kamarnya untuk memberitahukannya bahwa dia akan dijadikan calon istri Tuan Guru Izzul Islam.


"Bagaimana. Apa kamu mau ibu jodohkan dengan anak saya?"


Zulhiyani hanya diam. Dia tak tahu harus menjawab apa. Saat ini ia merasa tengah berada di sebuah ruang kosong tanpa udara sedikitpun. Sepi. Hanya ada suara Nyai Mustiani yang terdengar menggema di telinganya.


Nyai Mustiani tersenyum. Kepala Zulhiyani diusapnya.


* * * * *


Tuan Guru Izzul Islam membuka matanya perlahan. Dia seperti mendengar suara pintu diketuk. Tuan Guru Izzul Islam mengusap kedua matanya dan bangun. Suasana nampak hening. Tak terdengar lagi suara lebatnya hujan di luar rumah. Rupanya hujan sudah reda.


"Siapa?"


"Ini ibu. Bangunlah dan temui ibu di kamar," kata Nyai Mustiani dari arah luar. Tuan Guru Izzul Islam segera melangkah mengambil baju dan peci hitamnya. Setelah itu ia segera keluar.


Tuan Guru Izzul Islam mengetuk pintu kamar ketika ia sudah tiba di depan kamar Nyai Mustiani. Rasa kantuk yang masih menguasai matanya, membuatnya menguap beberapa kali.


Pintu kamar perlahan terbuka. Tuan Guru Izzul Islam begitu kaget ketika melihat Zulhiyani berdiri di balik pintu mempersilahkannya masuk. Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan dahinya. Melihat salah satu santriwati yang sering menemani Nyai Mustiani setiap malamnya masih di kamar itu, ia langsung mengarahkan pandangannya ke arah jam dinding di dalam kamar. Dia memang tak salah lihat. Hampir jam 4 dini hari. Tapi kenapa santriwati itu masih bertahan di kamar ibunya?, seorang diri lagi. Batin Tuan Guru Izzul Islam penasaran.


Tuan Guru Izzul Islam menatap heran ke arah Nyai Mustiani yang tersenyum ke arahnya. Sesekali ia melirik ke arah Zulhiyani yang masih berdiri dekat pintu.

__ADS_1


"Kenapa dia masih di sini, Bu. Bukankah besok dia harus sekolah?" tanya Tuan Guru Izzul Islam ketika telah duduk di depan Nyai Mustiani. Nyai Mustiani tersenyum sembari menoleh ke arah Zulhiyani.


"Untuk besok, biarkan dia gak masuk dulu. Dia sudah capek mengurus ibu dari tadi,"


"Tapi kasihan, Bu. Dia sudah mengantuk," kata Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani tak menjawab. Ia memegang pundak Tuan Guru Izzul Islam.


"Nak, namanya Zulhiyani. Setiap malam dia selalu menemani ibu di sini. Ibu merasa nyaman bersama dia. Anaknya juga baik. Ibu yakin, dia bisa jadi istri yang baik untuk kamu,"


"Ya , Allah..." Tuan Guru Izzul Islam mengusap wajahnya. Ia menggeleng-geleng sembari meremas kuat keningnya.


Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah Zulhiyani yang masih berdiri di depan pintu.


"Kamu boleh kembali ke asrama,"kata Tuan Guru Izzul Islam. Zulhiyani memberi hormat dengan membungkukkan setengah badannya. Setelah itu, ia keluar sembari menutup pintu.


"Bu, tolong. Jangan lagi buat keputusan yang tergesa-gesa. Peraturan di yayasan kita sudah jelas. Guru yang menikah dengan salah satu muridnya akan dikenakan hukuman pemecatan. Apa kata orang jika ketua yayasan sendiri melanggar peraturan itu,"


"Peraturan itu kan untuk guru,bukan untuk ketua yayasan."


"Benar, Bu. Tapi bukan berarti ketua yayasan bebas melakukannya." Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang.


"Saya selaku ketua yayasan seringkali memberikan pengarahan kepada dewan guru dan para santri agar mentaati seluruh peraturan dan tata tertib yang ada di lingkungan yayasan dan pondok pesantren. Apa kata orang ketika saya tidak melakukan apa yang saya ucapkan. Saya mohon, Bu. Kali ini pikirkan matang-matang." Nyai Mustiani tersenyum ketus.


"Sudah. Ibu sudah memikirkannya matang-matang. Ibaratnya, kalau ini makanan, makanannya sudah kelebihan matang sehingga tak bisa dimakan lagi," kata Nyai Mustiani enteng.


"Astaghfirullah, Bu. Kenapa karna ibu ingin segera melihatku menikah, urusannya jadi kacau seperti ini."


"Kacau bagaimana. Pikiranmu yang ribet itu yang membuatnya kacau." Nyai Mustiani menepuk-nepuk bantal di dekatnya. Ia lalu membaringkan kepalanya di atas bantal.


"Sudah. Sekarang kamu boleh keluar. Ibu sudah memberikan Zulayha cincin yang sudah ibu beli lima belas tahun lalu. Kamu sudah resmi bertunangan dengannya. Ayo, ibu mau tidur," kata Nyai Mustiani. Ia langsung memejamkan matanya dan sengaja tak memperhatikan Tuan Guru Izzul Islam yang sepertinya masih ingin protes dengan keputusan Nyai Mustiani.


Melihat Nyai Mustiani seperti tak ingin lagi melanjutkan pembicaraannya, Tuan Guru Izzul Islam bangkit dan melangkah lemah keluar ruangan.

__ADS_1


__ADS_2