KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#222


__ADS_3

Sebelum pulang kerumah, Rianti mengajak Zaebon untuk shalat dhuhur dulu di salah satu masjid yang dibangun oleh almarhumah Sulastri di pinggiran kota. Sesampainya di rumah, Dia sudah menemukan mobil kijang kapsul yang dipakai oleh Tuan Guru Izzul Islam. Rupanya Tuan Guru Izzul Islam dan Jamila sudah tiba lebih dulu di rumah.


Suasana di dalam rumah tampak sepi. Ketika ia masuk kedalam kamarnya, ia menemukan Tuan Guru Izzul Islam sedang tidur. Azka sendiri kemungkinan berada di kamarnya Jamila. Rianti melepas tasnya di atas meja. Ia kemudian membaringkan tubuhnya perlahan di samping Tuan Guru Izzul Islam.


"Baru pulang?"


Rianti menoleh. Ia tersenyum ketika Tuan Guru Izzul Islam mengusap-usap kedua matanya. Rianti mengusap lengan Tuan Guru Izzul Islam.


"Apa aku membangunkanmu?" kata Rianti.


"Enggak." Tuan Guru Izzul Islam menutup mulutnya dengan punggung telapak tangannya saat menguap.


"Memang sudah waktunya bangun. Hampir ashar," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya.


"Kamu mau tidur?" kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti menggeleng.


"Cuma berbaring saja. Badan adik pegel semua," jawab Rianti. Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah Rianti.


"Memangnya adik ngajak Layla kemana?"


"Maaf adik duluan ke pantai pink. Habis, adik bingung mau ngajak Layla bicara di mana," kata Rianti. Ia ikut menyandarkan tubuhnya di samping Tuan Guru Izzul Islam. Rianti menguap, kepalanya kemudian disandarkan di pundak Tuan Guru Izzul Islam.


Rianti mendesah panjang. Tuan Guru Izzul Islam melirik ke arahnya. Ia sudah lama menunggu tapi Rianti belum juga menceritakan hasil pembicaraannya dengan Layla. Malah ia melihat Rianti memejamkan matanya. Tuan Guru Izzul Islam menggerakkan pundaknya tempat kepala Rianti bersandar. Rianti berusaha menahan senyumnya. Ia pura-pura mendengkur.


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia mengarahkan telunjuknya ke arah perut Rianti dan menggelitiknya. Rianti yang kegelian spontan menarik tubuhnya ke belakang. Hampir-hampir tubuhnya terjatuh dari tempat tidur. Beruntung Tuan Guru Izzul Islam sigap menangkap tubuhnya. Walaupun begitu, Rianti masih tertawa memegang perutnya.


"Sudah, gak boleh berlebihan.Nanti hafalanmu hilang," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil mengangkat pelan tubuh Rianti dan menyandarkannya kembali.

__ADS_1


"Astaghfirullahal Adzim," kata Rianti. Ia mendesah panjang sembari memperbaiki posisi duduknya. Rianti melirik ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Ia menepuk-nepuk pelan pipinya. Tuan Guru Izzul Islam yang mengerti isyarat yang diberikan Rianti, Tuan Guru Izzul Islam langsung mencium pipi Rianti lembut.


"Aku sudah berbicara panjang lebar dengan dik Layla terkait masalah itu. Terus terang, aku sendiri menyukai dik Layla. Jika pun Kak Tuan tidak berkenan, aku akan berusaha agar Kak Tuan menikahinya." Rianti menghentikan kata-katanya. Ia tersenyum. Tuan Guru Izzul Islam memiringkan bibirnya.


"Aku belum sempat mengajukan persyaratan untuknya, tapi ia sepertinya sudah memutuskan sendiri. Dia meminta maaf atas sesuatu yang dianggapnya lancang. Dia tulus menguburkan keinginannya menikah dengan Kak Tuan. Bukan karna ia takut kepadaku," kata Rianti. Ia kembali mendesah panjang. Baju yang dipakainya dilepaskannya dan hanya menyisakan kaos dalam.


"Memangnya adik memberinya syarat apa?" tanya Tuan Guru Izzul Islam.


"Hafal Al-qur'an 30 juz," jawab Rianti singkat.


"Pantes, mungkin dik Layla merasa gak sanggup," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti menggeleng.


"Aku rasa bukan karna itu, Kak Tuan. Aku bisa melihatnya dari sikap dan raut wajahnya. Aku yakin dia anak baik."


Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang.


"Syukurlah, dia bisa fokus kuliah. Kelak, dia bisa mengabdi di sini," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti kembali menggeleng. Tuan Guru Izzul Islam mengerutkan dahinya.


"Kalau menuruti keinginan adik, dan agama memperbolehkannya, mungkin aku yang paling banyak memiliki istri di sini," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti tersenyum. Ia memegang tangan Tuan Guru Izzul Islam dan menciumnya. Ia lalu meletakkan tangan Tuan Guru Izzul Islam di lehernya.


Adzan Ashar berkumandang. Keduanya tampak khusyu' menjawab adzan. Setelah berdoa usai adzan berkumandang, keduanya serempak bangkit mengambil air wudhu'.


* * * * *


Inak Nurmah terlihat tidak sabar membuka tas kresek yang diberikan Abdul khalik tadi ketika mengunjungi rumah Tuan Guru Izzul Islam. Ada banyak makanan di dalam tas kresek. Beberapa roti basah, yang cukup untuk mengganjal perutnya, juga perut anak gadisnya yang sakit untuk tiga hari kemudian. Karna keadaan yang memprihatinkan sejak ditinggal mati suaminya setahun yang lalu, ia dan anak gadisnya sudah terbiasa hanya makan satu roti untuk bertahan satu hari.Dia sendiri sudah tua. Ia juga tidak bisa mengandalkan anak gadisnya untuk bekerja. Setahun yang lalu, tiba-tiba saja ia kehilangan nafsu makannya. Tubuhnya semakin kurus dan kini ia hanya tergolek lemah di ranjang reotnya.


Rumah kecil yang ditempatinya juga sudah tidak terurus. Dindingnya hanya terbuat dari bata mentah dan sudah berumur puluhan tahun. Tak ada yang berubah. Pekerjaan suaminya yang hanya sebagai buruh kasar, tak mampu walaupun hanya sekedar mengganti atapnya yang bocor. Kini ia sudah tua dan lemah.Anak gadis yang seharusnya merawatnya, tergolek lemah.

__ADS_1


Ia yakin penyebabnya ada di pondok pesantren milik Mukarom, begitu ia memanggil Tuan Guru Izzul Islam. Sebelum penyakit anaknya semakin parah dan masih bisa berbicara, gadis itu selalu mewanti-wantinya untuk tidak pergi ke pesantren itu. Ia sudah mengikuti perintah anaknya. Tapi ketika ia lelah melihat keadaan anaknya yang mengenaskan, ia memutuskan pergi ke pesantren itu. Sudah dua kali, tapi ia tak pernah bertemu. Nasib baik ia bertemu salah satu santri dan memberikannya makanan dan sejumlah uang.


Ia sendiri hanya punya waktu siang hari untuk bisa keluar. Pagi harinya ia bekerja menampi beras di rumah juragan beras di desanya. Tapi karna dua kali ini ia tak juga bertemu dengan Tuan Guru Izzul Islam, dan atas saran Abdul khalik, ia tidak akan keluar bekerja besok pagi. Pagi-pagi sekali ia akan pergi kesana. Uang pemberian Abdul khalik masih tersisa tujuh puluh ribu sisa ongkos ojek. Gak apa-apa menggunakannya untuk ongkos ojek lagi ke rumah Tuan Guru Izzul Islam besok.


Inak Nurmah mendekat dan duduk di samping gadis itu terbaring. Ia lalu membuka bungkus roti. Roti itu kemudian ditaruhnya ke dalam mangkuk dan menuangkannya air. Roti di dalam mangkuk kemudian di aduknya dengan sendok. Ia melakukannya seperti itu agar anak gadisnya ia lemah bisa langsung menelannya.


Inak Nurmah urung menyuapkannya ke mulut gadis itu ketika gadis itu tiba-tiba menatapnya. Sebagai ibu, ia tahu betul arti di balik tatapannya. Sebelum sakitnya terlalu parah, tatapan itu sering ia lihat ketika ia memberitahukannya bahwa ia ingin menjumpai Tuan Guru Izzul Islam. Ketika ia pulang membawa makanan, tatapan itu juga yang sering ditampakkan gadis itu. Ia mengira makanan yang dibawanya adalah pemberian dari Tuan Guru Izzul Islam.


Inak Nurmah tersenyum memperlihatkan gigi-giginya yang hitam. Seakan-akan ingin memperlihatkan kepada anak gadisnya bahwa ia sudah mengikuti kemauannya. Tidak mengemis, apalagi menemui Tuan Guru Izzul Islam untuk memberitahukan keadaannya.


Inak Nurmah mengangguk. Tangannya yang bergetar karna terlalu lama menahan sendok, di sodorkan mendekat ke mulut gadis itu. Bibir gadis itu seperti kesulitan untuk digerakkan. Inak Nurmah memajukan tubuhnya lebih dekat. Setelah mulut gadis itu berhasil terbuka dengan bantuan tangannya, ia langsung memasukkan sendok ke dalam mulutnya. Tak ada gerakan mengunyah terlihat dari mulut gadis itu. Begitu juga dengan tenggorokannya. Entah kemana larinya remahan roti yang disuapkannya. Yang jelas, ia sedikit tenang karna ada makanan yang masuk ke dalam mulut anak gadisnya.


"Satu kali lagi, Nak. Biar kamu punya tenaga lagi. Kasihani Ibu, Nak. Ibu sudah tua. Ibu tidak tahu sampai kapan ibu bisa merawatmu. Ayo, Nak,jangan tambah kesedihan ibu karna kamu tidak mau makan," kata Inak Nurmah dengan nada memohon. Mata gadis itu tak berkedip menatap wajah inak Nurmah. Air mata mengalir di wajah kusamnya.


Inak Nurmah tersenyum. Permohonan menghibanya berhasil membuat gadis itu luluh. Itu terlihat dari kedua bibir yang seperti berusaha digerakkannya. Inak Nurmah tambah bersemangat. Ia kembali mengambil remahan roti dalam mangkuk dengan sendok di tangannya. Seperti yang ia lakukan pada percobaan pertama, remahan roti dalam sendok berhasil dimasukkannya ke dalam mulut anak gadisnya.


Inak Nurmah merasa lega. Setengah potongan roti berhasil dihabiskan gadis itu. Itu adalah makanan terbanyak yang dimakan anaknya. Hari-hari sebelumnya, hanya air putih saja yang masuk.


"Nak, apapun kesedihan yang kamu rasakan, pandanglah ibu. Sampai kapan ibu bisa menjaga dan merawatmu seperti ini. Yang membuat ibu bertahan bisa berjalan kemana-mana, bahkan bisa menggerakkan tangan ibu, itu karna ibu memikirkanmu. Siapa yang akan merawatmu jika ibu sudah mati. Siapa yang akan mengurus jenazah ibu jika ibu mati. Sehatlah, Nak. Buat ibu punya harapan lagi. Setidak-tidaknya kamu mau makan seperti ini. Sudah waktunya ibu istirahat, Nak," kata Inak Nurmah. Air mata gadis itu terus mengalir. Inak Nurmah sesekali menyeka air mata yang mengalir ke arah lubang telinganya.


"Ibu mengatakan ini bukan karna ibu marah dengan kondisimu, Nak. Apalagi bosan. Ibu juga tak ingin membuatmu menangis seperti ini. Ibu hanya ingin kamu sehat," kata Inak Nurmah. Tak ada tangis yang terlihat di matanya. Tangisnya sudah kering ia habiskan jauh sebelumnya.


Inak Nurmah bangkit dan melangkah sempoyongan mendekati kepala gadis itu. Tangan kasar dan keriputnya mulai merapikan rambut anaknya yang sudah menyatu satu sama lain. Dengan pelan ia mendekatkan mulutnya dan mencium kening anaknya.


"Istirahatlah. Ibu mau meyandarkan tubuh ibu sebentar di luar," kata Inak Nurmah. Gadis itu hanya bisa menatapnya. Inak Nurmah pelan membalikkan badannya dan melangkah hati keluar rumah.


Senja mulai berlabuh. Yang tersisa dari matahari hanya cahayanya di permukaan awan. Gelap mulai menghampar. Gelap yang mulai membedakan kehidupan yang miskin dan yang kaya. Ketika rumah-rumah lain dipenuhi dengan cahaya lampu beberapa whatt. Ketika Televisi yang menyala dua belas jam dan terkadang menonton penontonnya tertidur. Ketika masing-masing rumah punya tiga kali jam makan, rumah inak Nurmah hanya disinari satu lampu teplok kecil di sudut ruangan. Tontonan Inak Nurmah hanya anak gadisnya yang kurus di pembaringan lusuhnya. Dan sepotong roti berdua untuk satu kali santap.

__ADS_1


Malam semakin gelap. Suara jangkrik dan melata malam yang mulai riuh terdengar, seakan-akan ingin berkata;


Tengoklah tetanggamu yang miskin. Apakah malam ini ada sesuap nasi untuk dimakan? Aroma makanan yang engkau masak mungkin saja tercium di hidung mereka. Antarkan ia sedikit saja kuahnya untuk membilas air liurnya yang tertelan. Agar besok, ia punya sedikit tenaga walau hanya untuk mengucapkan "Alhamdulillah."


__ADS_2