
Huufft...
Freya menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Wanita cantik berbola mata coklat dengan bulu mata yang panjang dan lentik itu, tengah berada di depan sebuah perusaahan kontraktor. Ia melamar pekerjaan di bagian Staf Accounting. Ya, Freya adalah lulus sarjana Akuntansi.
"Ya Allah.... Semoga aku diterima. Ya Allah... Mudahkanlah urusanku. Jauhkan aku dari pekerjaan haram Ya Allah. Aku taubat ya Allah!" Ujar Freya pelan, yang hanya bisa ia dengar sendiri.
Setelah mantap dengan dirinya Ia pun mulai melangkah menuju lobi perusahaan besar itu.
Bruggkk..
"Aauuwwu...!"
Prakk...
Freya terjatuh di lantai. Karena terlalu semangat dan sedikit gugup. Freya kurang memperhatikan orang yang hendak keluar dari gedung itu, sehingga ia menabrak seorang pria.
"BUTA... Dasar wanita ganjen !" ujar pria itu dengan penuh emosi.
Freya yang terduduk dan tertunduk. Akhirnya mengangkat wajahnya, ia menoleh ke asal suara. Rasanya darahnya mulai mendidih ke ubun-ubun, karena ucapan pria itu, kenapa pula ia dikatakan ganjen. Apa ia sudah terkenal sebagai pelacur di seluruh Indonesia ini. Sehingga orang yang melihat nya, tahu kalau ia pernah jadi wanita penghibur.
Deg
Saat ia menoleh ke arah pria yang ia tabrak. Ia pun langsung lemas. Entah kenapa ia jadi kesal melihat pria di hadapannya. Tubuh yang terasa lemas, tiba-tiba saja terasa diisi oleh energi yang dahsyat.
"Huua hua.. hua..." Teriak Freya di hadapan pria itu. "Enak saja bilang saya wanita ganjen. Jadi anda pria apa..?" Ujar Freya penuh emosi. Entah kenapa ia ingin sekali menjambak pria di hadapannya.
Terlihat dua pria kekar, ingin menjauhkan Freya dari hadapan pria tampan itu. Tapi, sang bos melarangnya.
"Kamu gila!"
"Kamu yang gila, kamu...!" Freya mendorong kuat tubuh si pria.
Bruggkk
Pria itu terjatuh di loby perusahaan. Dan seketika, tempat itu jadi sorotan para pegawai di tempat itu.
"Bos...!" Tangan Seorang ajudan berseragam serba hitam, terlihat menjulur ke arah bos nya. Tapi, sang bos memberi kode penolakan dengan tangannya.
"Akan kamu bayar penghinaan ini!"
"Kamu yang harus bayar kerugian saya.." teriak Freya tanpa sadar. Entah kenapa ia merasa bukan Seperti dirinya saat ini.
__ADS_1
"Satpam, amankan gadis gila ini. Bawa dia ke kantor polisi!" titah pria arogan itu pada satpam. Dan ia pun bergegas keluar dari gedung itu.
"Tidak.. Tidak pak, jangan bawa aku ke kantor polisi. Bos mu itu yang harus dibawa ke kantor polisi." Teriak Freya berontak saat satpam menyeretnya dari loby gedung megah itu.
"Tidak...!" Freya berpegangan pada pintu kaca keluar. Entah kenapa ia bersikap aneh hari ini.
"Lepas... Lepaskan dia..!" terdengar suara seorang pria yang Freya kenal. Ia pun menoleh ke belakang.
"Alex... Tolong Lex..!" ujarnya penuh belas kasihan.
Alex dengan sikap Cool nya memberi kode dengan tangannya. Agar Freya dilepaskan. Kedua satpam melepas tangannya Freya.
Bruggkk
Freya yang merasa ketakutan langsung memeluk Alex. "Makasih Lex, kamu selalu datang menolongku di waktu yang tepat." Ujarnya dengan terisak. Tapi, sikapnya Alex biasa saja. Bahkan ia tak membalas pelukan hangatnya Freya.
Freya tak sadar, kalau ia sebenarnya sedang merindukan pria itu.
"Mau sampai kapan kamu akan memelukku di
di tempat ini?"
Deg
"Maaf, aku tak bermaksud." Sahut Freya sedih menatap Alex.
Alex dengan cepat membuang pandangannya. Karena tak sanggup menatap mata nelangsanya Freya. Saat ini wajahnya Freya terlihat pucat.
"Kamu kapan balik ke Medan Lex.?" tanya Freya pelan, suaranya terdengar seperti tak ada tenaga. Sudah terdengar lemas gitu, tapi Freya tetap memulai membuka pembicaraan lagi. Dan mereka masih berada di loby gedung itu.
"Tadi malam." Sahut Alex datar.
Freya tersenyum tipis. Ia tak menyangka Alex benar benar menjauhinya.
"Sukses buatmu, eeh... Kamu kan sudah sukses kian." Ujar Freya nyengir.
Ia pun terlihat hilang keseimbangan. Karena ia merasa hoyong. Dan tiba tiba saja ia merasa kepala nya berputar putar tujuh keliling. Tak tahu
apa yang terjadi padanya saat ini.
"Freya...!" Sebelum Freya jatuh di lantai. Alex sudah berhasil menangkap wanita itu. Dengan penuh kekhawatirannya ia membawa Freya ke ruangannya.
__ADS_1
Ia baringkan wanita yang setengah sadar itu di atas sofa. Memberikan Freya minum atin putih. Freya pun menyedot air putih dari gelas itu.
Setelah itu Freya terlihat menenangkan diri. Dengan meluruskan kakinya, kemudian menutup kedua matanya. Entah kenapa ia merasa semakin pusing, Jika ia membuka Kedua matanya itu.
"Bawakan kesini teh manis!" titah Alex pada Karyawannya.
Ya, perusahaan kontraktor ini adalah perusahaan yang baru dirilis oleh keluarganya Pak Adnant. Mereka baru satu tahun mencoba di bidang kontruksi. Selama ini usaha mereka adalah di perkebunan sawit. Bahkan perkebunan mereka tercatat terluas ke 5 di indonesia, yang tersebar di tiga provinsi. Yaitu Sumatera Utara, Sumatera selatan dan Kalimantan Timur.
Freya yang masih merasa lemah, memilih tetap memejamkan mata dengan berbaring di atas sofa, kedua tangannya melipat di atas perutnya. Sebenarnya Freya ingin bicara banyak dengan Alex. Tapi, ia tak punya tenaga.
Sedangkan Alex saat ini duduk di sofa yang ada di hadapan Freya yang berbaring. Memperhatikan Freya dengan penuh kekhawatiran nya.
"Kamu sakit Eya?" tanya Alex, ia tak tahan juga bersikap dingin pada Freya.
"Tadinya gak Lex. Tapi, Sepertinya sekarang ia." Sahut Freya lemah. Ia masih menutup kedua matanya. Entah kenapa ia merasa mual, jika membuka kedua matanya.
"Tuan, ini tehnya." Seorang wanita cantik kini meletakkan segelas teh manis panas di atas meja yang menghalangi Freya dan Alex saat ini.
"I ya, kamu jangan pergi dulu." Tegas Alex pada karyawan Wanita itu.
"Iya bos."
Alex bangkit dari duduknya dia menghampiri Freya, dan duduk di tepi sofa tempat Freya berbaring saat ini. "Kamu minum teh manisnya dulu, biar kamu punya tenaga." ujar Alex lembut.
Hatinya Freya menghangat mendapat perhatian Alex. Ia kangen perhatian ini. "Iya Lex." Sahut Freya, ia berusaha untuk duduk, yang dibantu oleh Alex.
"Buka mulutmu!" Alex menyodorkan sendok berisi teh manis itu.
Freya masih menutup mulutnya. Entah kenapa, ia merasa ingin muntah kalau membuka mulutnya.
"Ayo minum Eya..!" Sendok berisi teh manis, masih menantang di hadapan Freya.
Freya melirik Alex, mukanya terlihat pucat dan mengeluarkan titik-titik ciaran bening di jidatnya. Freya juga merasa perutnya seperti di aduk aduk.
Huuueekk..
Ia pun akhirnya muntah di hadapan Alex.
"Eya...!" Alex sungguh dibuat terkejut dengan Freya yang muntah sejadi jadinya itu. Lantai di ruangan itu sudah kotor, dari material muntah nya Freya.
***
__ADS_1
Bersambung