KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#110


__ADS_3

Pak Jamal mulai terpancing emosinya. Kedua tangannya mengepal kuat. Ia bangkit. Melihat itu, pak Efendi memegang tangannya. Ia menggelengkan kepalanya memberi isyarat kepada pak Jamal agar menahan diri. Pak Jamal menghela nafas panjang. Ia menundukkan kepalanya, berusaha menenangkan diri. Ia kembali duduk. Tangan Rianti di pegangnya dan menyuruhnya duduk.


"Duduklah, Nak. Kita bicarakan ini baik-baik. Kamu dengar dulu penjelasan Bapak." Pak Jamal berusaha mengeluarkan senyumnya.


Rianti mendesah sembari memejamkan matanya. Dia lalu kembali duduk.


"Astaghfirullah. Aku minta maaf," kata Rianti dengan suara lirih.


"Tidak apa-apa. Bapak memakluminya," kata pak Jamal.


Pak Efendi memperbaiki posisi duduknya. Ia mendehem beberapa kali, mengusir dahak di tenggorokannya.


"Maaf, Rianti. Aku memang tidak punya hak untuk terlibat dalam masalah ini. Tapi aku punya janji sama almarhumah Nyonya Castella untuk membantunya mengambil apa yang seharusnya menjadi hakmu dan Nyonya Castella." Rianti mengangkat wajahnya dan melirik tidak senang ke arah pak Efendi.


"Sebentar dulu, Rianti. Maksud saya, kita tidak sedang mengungkit bu Sulastri. Ok, dia punya bagian karna termasuk istri pak Yulian Wibowo. Tapi Kamu dan Nyonya Castella pun harus mendapatkan bagian dari hartanya pak Yulian," sambung pak Efendi.


Pak Jamal terlihat mengangguk-angguk dengan senyum lebarnya.


"Nah, itu juga maksud Bapak. Kita hanya akan menuntut bagianmu, juga bagian ibumu," sahut pak Jamal ikut mempertegas.


Rianti mendesah kasar. Kedua orang tua di depannya tak juga menangkap isyarat malas dari raut wajahnya.


"Itu sudah kami bahas dengan ibu. Semuanya sudah beres. Kalaupun aku tidak dapat bagian, aku tidak terlalu memikirkannya," kata Rianti setelah lama terdiam. Pak Jamal menggelengkan kepalanya. Dari raut wajah dan dengusan nafasnya, ia mulai terlihat hendak marah.


"Pakai guna-guna apa perempuan itu sehingga kamu dibuatnya seperti kerbau di cocok hidungnya. Kamu seperti sudah terhipnotis. Sadarlah, Rianti. Kamu sudah memberikan duniamu secara percuma kepada perempuan yang tidak jelas asal-usulnya itu," kata pak Jamal. Rianti hanya terdiam. Ingin sekali ia menggebrak meja, tapi ia ingat, kedua orang di depannya adalah orang tua yang harus ia hormati.


Kenapa kamu membenci aku, Rianti. Tak sedikitpun kamu mau menerima atau sekedar mendengar saranku. Padahal ini untuk kebaikanmu juga," sambung pak Jamal. Diam lamanya Rianti membuatnya semakin kesal. Rianti tersenyum. Kata-kata pak Jamal semakin membuatnya pusing.


"Aku tidak membenci Bapak. Aku hanya membenci sifat Bapak," jawab Rianti tegas. Pak Jamal mengerutkan keningnya.


"Sifat yang bagaimana. Kita baru dua kali bertemu sudah sok tahu sifatku," kata pak Jamal sambil tersenyum ketus.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Tak perlu aku jelaskan. Sikap bapak saat ini saja aku sudah bisa menyimpulkan bagaimana sifat Bapak sebenarnya,"


"Lancang kamu, Rianti." Amarah pak Jamal yang sedari tadi terkumpul dalam genggaman tangannya akhirnya tak mampu ia tahan lagi. Meja di depannya digebraknya keras. Petugas yang berjaga di luar masuk.


"Ada apa ini,"


Pak Efendi bangun.


"Gak ada apa-apa, Pak. Kaki saya kesandung," kata pak Efendi.


Rianti bangkit.


"Pak, bawa saya kembali ke sel saya," kata Rianti.


"Maaf, Pak. Aku harus pergi. Tidak ada gunanya kita berdebat seperti ini. Aku tidak mau bersikap kurang ajar pada orang tua. Sekali lagi, aku minta maaf," kata Rianti. Ia lalu beranjak mendekati petugas.


"Rianti! kurang ajar, kamu. Kembali," teriak pak Jamal. Karna teriakannya yang keras, petugas mendekati pak Jamal.


"Silahkan Bapak pergi dari tempat ini sebelum saya usir," kata petugas. Mata pak Jamal melotot tajam. Tak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, pak Efendi menarik tangan pak Jamal dan mengajaknya keluar. Tapi baru saja mereka berdua hendak keluar, dari arah pintu terlihat Sulastri, pak Sahril dan pak Pratama.


"Bangsat kamu, Sahril. Kamu memang penipu ulung. Setelah berhasil memperdaya Yulian, kamu berhasil juga mengelabui putrinya yang dungu itu," kata pak Jamal geram. Pak Sahril tersenyum. Ia lebih mendekat ke arah pak Jamal.


"Jika dulu tidak karna aku mencegah pak Yulian memenjarakanmu, kamu saat ini mungkin masih mendekam di penjara. Dan waktu itu aku salut karna Kamu cukup cerdas menggunakan uang perusahaan yang kamu gelapkan dengan melarikan diri ke singapura." Pak Sahril tersenyum seperti mencemooh. Ia lebih dekat ke tubuh pak Jamal.


"Ingat, Pak Jamal. Kasusmu terlalu banyak. Aku bisa saja mengangkat lagi kasusmu satu persatu dan memenjarakanmu. Jadi, bijaklah jika berbicara," kata pak Sahril tegas dengan nada mengancam. Pak Jamal masih menatap pak Sahril dengan tatapan tajam penuh kebencian. Pak Efendi segera menarik tangan pak Jamal dan segera keluar dari ruangan itu.


"Ingat kamu, Rianti. Kamu akan mendapatkan akibat dari kebodohanmu. Kamu anak durhaka. Kamu akan menyesali keputusanmu," teriak pak Jamal. Pak Efendi menarik tubuhnya semakin menjauh dari tempat itu. Pak Sahril keluar dan menatap pak Jamal sembari tersenyum.


"Ingat juga kamu, Sahril. Aku doakan semoga kamu cepat mampus!"


Pak Sahril menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Setelah teriakan pak Jamal tidak terdengar lagi, ia kembali masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa, Nak," kata Sulastri. Ia memeriksa sekujur tubuh Rianti. Rianti tersenyum.


"Rianti gak apa-apa, Bu," jawab Rianti.


"Bagaimana, apa kamu sudah siap pulang?" tanya Sulastri. Wajah Rianti menjadi murung. Ia menundukkan wajahnya. Sulastri, pak Sahril dan pak Pratama menatapnya heran.


"Ada apa, Nak. Kenapa kamu terlihat murung seperti itu?"


Rianti mengangkat wajahnya. Ia lalu memegang wajah Sulastri.


"Bu, Aku pulangnya nanti malam saja ya?" pinta Rianti memelas. Sulastri mengernyitkan dahinya. Ia menoleh ke arah pak Sahril.


"Loh, kok pulangnya nanti malam?" tanya Sulastri semakin bingung.


"Rianti mau menghabiskan waktu-waktu terakhir Rianti dengan Jamila. Teman seruang Rianti. Boleh kan, Bu?"


Sulastri tersenyum. Ia mengusap rambut Rianti yang menjuntai ke wajahnya.


"Gak boleh, Nak. Kita disuruh untuk segera pulang. Lagi pula, nanti malam, ibu sudah mengundang anak yatim untuk acara selamatanmu. Kamu harus hadir di sana," kata Sulastri. Rianti mendesah dan kembali menundukkan wajahnya.


"Jika sudah bebas, kamu boleh kapan saja menjenguk Jamila. Bila perlu ibu akan ikut kamu menjenguknya," kata Sulastri.


"Inilah hidup, Nak. Ada pertemuan, ada juga perpisahan. Lihat ibu. Ibu sudah lama menunggu kepulanganmu. Ibu sudah lama merindukan untuk tidur bersama denganmu. Jika saat ini kamu berat berpisah dengan Jamila, begitu juga dengan ibu. Sudah lima belas tahun ibu menunggu saat-saat ini. Ibu akan sangat kecewa jika kamu tak mau pulang," kata Sulastri. Tatapannya jadi sedih. Rianti tersenyum. Ia kemudian memeluk tubuh Sulastri.


"Ibu tunggu Rianti sebentar. Rianti akan mengambil pakaian," kata Rianti sembari melepaskan pelukannya. Sulastri tersenyum menganggukkan kepalanya. Rianti segera melangkah meninggalkan ruangan itu diantar petugas.


Jamila yang sedang berbaring diatas ranjangnya segera bangkit ketika mendengar pintu sel di buka. Ia segera mendekat ke arah Rianti. Rianti memeluk tubuh Jamila.


"Aku pergi dulu, Jamila. Baik-baiklah di sini," kata Rianti mulai sesenggukan. Jamila menganggukkan kepalanya. Tangisnya tak terbendung. Ia melepaskan pelukannya. Ia melangkah kembali menuju tempat tidur. Ia meraih jilbab berwarna putih di atas tempat tidur.


"Bawa ini sebagai kenang-kenangan agar kamu tetap mengingatku," kata Jamila. Ia memberikan jilbab itu kepada Rianti. Rianti tersenyum. Ia melepas jilbab yang dipakainya dan menggantinya dengan jilbab pemberian Jamila.

__ADS_1


Petugas yang masih berdiri di luar ruangan memukul beberapa kali jeruji pintu ruang. Jamila segera mengambil tas berisi pakaian Rianti di dekat tempat tidur. Ia lalu memberikannya kepada Rianti.


Dengan berat hati, Rianti keluar dari ruangan. Berkali-kali ia menoleh menatap Jamila yang mengantar kepergiannya dari balik jeruji besi. Isak tangisnya terdengar menggema di lorong-lorong bangunan.


__ADS_2