
Suara kokok ayam jantan lantang membuka hening pagi. Suara sapu lidi yang beradu dengan paving block halaman rumah dan dedaunan tebubuya kering, terdengar diantara cuit-cuit burung pingai yang hinggap di ranting pohon. Bi Aisyah dan Munawarah sama-sama menoleh ketika terdengar dret pintu terbuka perlahan. Sulastri tersenyum melihat keduanya yang sedang menyapu di halaman rumah. Keduanya membalas dengan menganggukkan kepala ke arah Sulastri. Setelah memandang sejenak memperhatikan pos jaga yang terlihat sepi, Sulastri memilih duduk di kursi teras rumah. Matanya terpejam bersamaan dengan helaan nafas panjangnya merasakan segarnya udara yang berhembus. Tapi itu hanya sebentar. Dia kembali membuka matanya ketika kakinya yang menyentuh lantai merasakan butiran-butiran debu. Itu membuatnya merasa tak nyaman. Ia mendesah pendek dan kemudian bangkit. Sapu yang bersandar di dekat pintu kemudian diambilnya. Ia terlihat mulai menunduk membersihkan debu-debu diteras rumah. Melihat itu, Munawarah langsung melepaskan sapu lidinya dan berlari kecil menuju Sulastri.
"Bu, biar saya saja yang membersihkannya. Ibu duduk saja," kata Munawarah sambil memegang sapu di tangan Munawarah.
"Sudah, kamu lanjutkan nyapunya sana. Biar aku yang bersihkan teras, sekalian olah raga," kata Sulastri. Tangan Munawarah dipegangnya dan melepaskannya dari gagang sapu. Munawarah tersenyum. Ia melangkah mundur.
"Jamila kok belum terlihat. Apa dia masih tidur?" kata Sulastri. Munawarah yang hendak pergi melanjutkan pekerjaannya, kembali membalikkan badannya. Ia menoleh ke arah samping.
Gak tahu juga, Bu. Dari tadi saya belum melihatnya," jawab Munawarah.
"Masih tidur mungkin, Bu. Tadi malam dia sempat membantu bibi mengupas bawang," kata bi Aisyah ketika mendengar Sulastri menanyakan Jamila.
Sulastri terdiam sejenak. Dahinya mengerut. Ia tersenyum.
"Oh ya, mungkin dia kecapekan. Semalaman gak tidur nemani ibu," kata Sulastri. Ia kembali melanjutkan menyapu. Merasa tak ada yang akan dibicarakan lagi oleh Sulastri, Munawarah membalikkan badannya dan kembali ke tempatnya menyapu tadi.
Sulastri berlari-lari kecil di halaman rumah setelah dia selesai menyapu teras rumah. Udara pagi ini begitu segar. Angin yang bertiup semilir menyingsingkan peluh yang mulai keluar dari tubuh Sulastri. Bunga-bunga aneka warna yang tumbuh di bawah pohon tabebuya menarik perhatian Sulastri. Kemarin ia dan Jamila belum selesai menyisipkan tanaman hias untuk menggantikan tanaman yang sudah mati. Dia suka tata letak bunga yang diatur Jamila. Mumpung matahari belum meninggi, ia merasa ada baiknya memanggil Jamila dan melanjutkan pekerjaan yang kemarin belum selesai.
"Munawarah, kamu bangunkan saja si Jamila ya. Bilang, dipanggil ibu," kata Sulastri. Munawarah mengangguk. Sapu di tangannya disandarkannya di batang pohon tabebuya. Dia lalu segera bergegas menuju kamar Jamila.
Beberapa lama menunggu, Munawarah terlihat kembali.
"Bagaiaman, Munawarah. Apa Jamila sudah bangun?" tanya Sulastri sebelum Munawarah benar-benar dekat dengannya.
"Gak ada, Bu. Jamila gak ada di kamarnya," kata Munawarah. Sulastri mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Gak ada gimana. Kamu sudah cari di dalam kamarnya?" tanya Sulastri. Nada bicaranya terdengar gelisah. Pikirannya langsung tertuju ke pembicaraannya tadi malam dengan Jamila. Sulastri bangkit.
"Sudah saya cari semua,Bu. Di dalam kamar mandi juga tidak ada," kata Munawarah. Jantung Sulastri berdebar. Pikiran yang tidak-tidak membuat jantungnya berdegup kencang. Ia melangkah mendekati Munawarah.
"Ayo, kita cari lagi," kata Sulastri. Tangan Munawarah dipegangnya dan mengajaknya kembali ke kamar Jamila. Bi Aisyah yang melihat keduanya tergesa-gesa ke arah samping, langsung melepas sapunya. Karna penasaran, ia memutuskan untuk menyusul keduanya.
"Jamila, Jamila."
Suara panggilan bergantian keluar dari mulut Sulastri dan Munawarah. Tak ada siapapun di dalam ruangan itu. Jamila memang tidak ada di tempatnya. Sulastri mengajak Munawarah keluar kamar.
"Ada apa,Bu," kata bi Aisyah ketika melihat Sulastri nampak cemas.
"Jamila, Bi. Kok gak ada di kamarnya. Coba bibi cari di dapur," kata Sulastri.
"Kayaknya dia gak pernah ke sana, Bu. Dari tadi saya menyapu di halaman sama Munawarah," kata bi Aisyah. Ia melirik ke arah Munawarah meminta pembenaran. Munawarah menganggukkan kepalanya.
"Gak apa-apa, bibi cek lagi. Mungkin Jamila lewat belakang rumah," kata Sulastri. Bi Aisyah membalikkan badannya, tapi berbalik lagi.
"Sebentar, Bu," kata bi Aisyah. Ia mengerutkan dahinya, seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
"Kalau gak salah, Tadi malam Jamila pinjam uang sama saya seratus ribu. Katanya untuk beli pembalut. Mungkin Jamilanya keluar cari kios," kata bi Aisyah.
Sulastri terdiam. Ia mendesah pelan. Tapi tiba-tiba ia memegang tangan bi Aisyah dan Munawarah dan mengajak menuju pos jaga. Dia berpikir, jika memang Jamila keluar, pasti pak Bayan mengetahuinya.
"Pak Bayan, bangun," kata bi Aisyah sambil mengguncang pelan tubuh pak Bayan yang sedang tidur di bangku panjang di dalam pos jaga. Pak Bayan mengusap matanya. Ia menatap sambil memincingkan matanya kearah bi Aisyah. Bukannya bangun, pak Bayan malah menutup kepalanya dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
__ADS_1
"Loh, pak Bayan, ayo bangun. Ada ibu," kata bi Aisyah. Mendengar nama Sulastri di sebut, pak Bayan segera bangun. Ia tersenyum sembari mengusap-usap matanya malu ketika menyadari Sulastri ada di depannya.
"Maaf, Bu. Ngantuk," kata pak Bayan tersipu malu.
"Gak apa-apa, Pak Bayan. Saya hanya mau nanya apa pak Bayan tahu Jamila kemana," kata Sulastri.
"Katanya tadi mau jalan-jalan habis shalat subuh. Sekalian mau beli pembalut, Bu," kata pak Bayan. Ia menatap ke arah Sulastri.
"Memangnya Jamila belum pulang, Bu?" tanya pak Bayan ketika melihat Sulastri memandang bergantian ke arah Munawarah dan bi Aisyah.
Sulastri mendesah panjang. Perasaannya yang tadi tak enak sejak mengetahui Jamila tidak ada di kamarnya rupanya benar. Melihat ekspresi Jamila yang sepertinya tidak sepenuhnya menerima ceritanya tadi malam, semakin membuatnya yakin Jamila sudah pergi meninggalkan rumah.
"Munawarah, ayo panggil pak Mustarah. Suruh dia mencari Jamila. Mungkin ia belum jauh," kata Sulastri lemah. Ia lalu membalikkan badannya dan melangkah meninggalkan pos jaga. Bi Aisyah mengikutinya dari belakang. Sedangkan Munawarah segera bergegas membangunkan Pak Mustarah.
Sulastri mendesah pendek ketika menghempaskan tubuhnya di atas kursi teras rumah.
"Memangnya ada apa dengan Jamila, Bu. Kok ibu sepertinya gelisah sekali. Mungkin Jamila ketemu temannya di luar sana. Atau mungikin ingin santai-santai sebentar," kata bi Aisyah. Ia heran kenapa Sulastri terlihat segelisah itu.
"Panjang ceritanya, Bi. Tapi mudah-mudahan saja benar apa yang dikatakan Bibi. Semoga saja Jamila cepat pulang," jawab Sulastri sembari sedikit mengulum senyum menatap bi Aisyah.
"Ayo, Bi. Bibi ke dapur dulu. Siapkan sarapan untuk pak Bayan," kata Sulastri. Bi Aisyah mengangguk dan bangkit. Ia lalu melangkah menuju dapur.
* * * * *
Terik matahari menyengat. Udara terasa gerah. Matahari sudah berada tepat di tengah-tengah langit.
__ADS_1
Jamila memilih duduk di bawah pohon mahoni tepi jalan setelah memesan minuman dingin di warung tak jauh dari tempatnya duduk. Dia mengambil posisi duduk di belakang pohon, dengan harapan pengendara mobil maupun motor yang lewat di jalan itu tidak bisa melihatnya. Ia yakin saat ini Sulastri akan mencarinya. Dia tak mau seorangpun dari penghuni rumah itu yang melihatnya dan akhirnya membawanya kembali.
Terlalu berat baginya untuk menerima keinginan Rianti. Dia merasa telah jadi pengkhianat walaupun hanya mengiyakan di dalam hati. Sungguh tidak pantas, dia yang telah menemani Rianti dalam suka maupun duka di dalam penjara akan berbagi suami dengan Rianti. Walaupun sekali lagi, Rianti yang menginginkannya. Dia yang berharap Rianti menjadikannya pembantu setelah bebasnya dari penjara, malah menginginkannya jadi istri kedua suaminya. Dan dia merasa saat ini belum bisa menerimanya. Usai shalat subuh tadi, ia kembali mencoba merenung. Hingga ia mantap memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah. Walaupun saat ini ia merasa kebingungan mencari tempat yang akan ia tuju. Jika ia harus pulang ke desanya, jaraknya sangat jauh. Harapannya untuk kembali ke kampung halamannya pun sudah tipis. Tak ada siapapun yang akan ia temui di sana. Lagi pula, ia merasa penduduk desanya tak akan menerima kehadirannya lagi. Ia sudah terlanjur dicap jahat dan merusak desa. Dan mungkin saja penduduk di sana sudah menganggapnya tidak ada lagi.