
Pukul 8.00. Tuan Guru Izzul Islam yang hari ini ada undangan pengajian di balai kota, menyempatkan mampir di lapas yang kebetulan berjarak sekitar satu kilometer dari balai kota. Jika tidak karna Rianti sedang hamil, dia belum mau datang menjenguk Rianti. Dia masih menghindari pembicaraan seputar keinginan Rianti menikahkannya dengan Jamila. Dia berharap hari ini Rianti melupakannya dan tidak membicarakannya hari ini.
"Tumben pagi-pagi sekali Kak Tuan menjenguk Rianti. Ada hal penting?" kata Rianti setelah duduk di dekat Tuan Guru Izzul Islam di ruang pertemuan lapas. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Tubuh Rianti dirangkulnya erat dengan salah satu tangannya.
"Ada undangan pengajian di balai kota. Acaranya satpol PP. Yah, sambil menunggu acaranya mulai, aku sempatkan mampir menemui adik," jawab Tuan Guru Izzul Islam.
Rianti mengangguk.
"Tapi saya gak lama dik. Acaranya sekitar 10 menit lagi akan dimulai." Tuan Guru Izzul Islam melirik Rianti. Dagu Rianti dipegangnya lembut.
"Bagaimana, gak ada keluhan?"
"Kemarin adik sempat merasakan nyeri di perut adik. Tapi Alhamdulillah, petugas lapas benar-benar memperhatikan adik," kata Rianti sambil mengelus perutnya.
Tangan Tuan Guru Izzul Islam berpindah ke kepala Rianti. Gantian kepala Rianti diusapnya lembut. Ia mendongak dengan tatapan sedih.
"Ya, Allah. Waktu tiga bulan terasa sangat lama sekali. Terus terang, aku sudah sangat merindukan kehadiranmu di rumah." Desah panjang Tuan Guru Izzul Islam sembari menatap Rianti. Rianti tersenyum.
"Kalau Kak bicara rindu, mungkin apa yang aku rasakan saat ini lebih dari yang dirasakan Kak Tuan. Siapa juga yang mau dipisahkan dari orang yang dicintainya. Tapi mau apa lagi. Aku harus menjalani hukuman ini sampai tuntas agar kelak aku tetap jadi pendamping kak Tuan di surga," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Dia mendekatkan kepala Rianti dan mencium keningnya lama.
"Amin,"
Tuan Guru Izzul Islam melihat jam tangannya.
"Kayaknya aku harus berangkat, Dik. Sebentar lagi acaranya akan dimulai," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti mengambil sorban di pundak kiri Tuan Guru Izzul Islam dan meletakkannya di perutnya. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan mengusap perut Rianti.
__ADS_1
Sejenak Rianti terdiam menatap Tuan Guru Izzul Islam. Sorban di perutnya diambilnya dan dilingkarkannya di lehernya.
"Kamu mau aku tinggalkan sorban itu?" kata Tuan Guru Izzul Islam ketika melihat sorbannya melingkar erat di leher Rianti. Rianti tersenyum sembari menggeleng.
"Tuan Guru tanpa sorban seperti raja yang kehilangan mahkotanya. Aku sengaja menahannya karna aku merasa pembicaraan kita belum selesai," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam mengerutkan keningnya. Ia terdiam sejenak. Ia menatap mata Rianti. Dia sudah menduga, Rianti pasti akan membahas itu.
"Masalah apa lagi, Dik. Lain kali saja. Nanti aku terlambat,"
"Terlambat dua menit saja gak apa-apa. Kak Tuan adalah tamu utamanya. Mereka tidak mungkin akan memulai acaranya sebelum kak Tuan datang. Sebentar saja kak Tuan.Gak sampai satu menit kok," Kata Rianti. Senyumnya yang terkulum manis membuat luluh hati Tuan Guru Izzul Islam.
Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Dia merasa tidak bisa menghindar dari keinginan Rianti. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk. Dia memilih mengelus-elus perut Rianti. Dia mempersilahkan Rianti melanjutkan pembicaraan.
"Ini terkait Jamila,"
"Ingat, kak Tuan sudah janji. Dan janji Kak Tuan adalah hadiah yang belum aku ambil sebelum Kak Tuan menikahi Jamila," kata Rianti.
Tuan Guru Izzul Islam mengangguk, tapi tetap tak melihat ke arah Rianti.
"Rianti mau kak Tuan menikahi Jamila secepatnya. Bila perlu, malam jumat ini Kak Tuan sudah menikahi Jamila,"
Tuan Guru Izzul Islam mengangkat wajahnya.
"Yang benar saja, Dik. Itu waktu yang terlalu cepat. Tak bisakah aku menikahinya setelah adik bebas?"
"Jika aku bebas, Jamila tidak akan mau menikah dengan kak Tuan. Inilah waktunya, Kak Tuan. Dengan menikahi Jamila, seakan-akan kak Tuan telah memberikan penghidupan pada semua manusia. Bukankah itu yang dikatakan dalam sebuah hadist?"
__ADS_1
"Jamila sudah menderita bertahun-tahun. Dia tak punya kerabat. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana gelisahnya hatinya. Sudah cukup bagi adik cerita Bu Sulastri tentang penderitaannya akibat perbuatan kotorku di masa lalu. Aku ingin menebus kesalahanku dengan cara membahagiakan orang-orang yang menderita karnaku dan orang-orang yang berjasa dalam hidupku. Inilah cara yang aku yakini benar. Demi Allah, hatiku ikhlas, Kak Tuan," kata Rianti. Air matanya mengalir deras. Tuan Guru Izzul Islam meraih tubuh Rianti dan memeluknya.
"Subhanallah wal hamdulillah. Maha Besar Engkau, Ya Allah, Inilah hikmah aku menunggu terlalu lama untuk pendamping hidupku. Engkau telah menganugrahiku bidadari tak bersayap. Terimakasihku yang tak terhingga, Ya Allah," Tuan Guru Izzul Islam mencium kepala Rianti. Setelah itu ia memeluk erat tubuh Rianti. Air matanya ikut keluar sebab syukurnya yang begitu besar.
"Ayo, sekarang masuklah, aku mau pergi dulu. Insya Allah, masalah ini akan aku bicarakan dengan ibu setelah aku pulang dari balai kota," kata Tuan Guru Izzul Islam sembari melepaskan pelukannya. Air mata Rianti di usapnya lembut. Rianti tersenyum. Sorban yang melingkar di lehernya dilepasnya. Setelah mengusap sisa air mata di mata Tuan Guru Izzul Islam, ia melipat sorban dan meletakkanya di pundak Tuan Guru Izzul Islam.
"Ayo, kak Tuan berdiri dulu. Biar aku rapikan pakaian kak Tuan," kata Rianti. Dia lalu memegang tangan Tuan Guru Izzul Islam dan membantunya berdiri. Kerutan-kerutan di ujung baju koko Tuan Guru Izzul Islam di rapikannya. Setelah itu ia mencium tangan Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam membalasnya dengan mencium tangan Rianti.
Setelah mencium perut Rianti, Tuan Guru Izzul Islam melangkah keluar menggandeng Rianti.
* * * * *
Sehabis shalat dhuhur berjamaah di balai kota, Tuan Guru Izzul Islam berpamitan pulang kepada segenap pejabat yang hadir dalam acara tersebut. Dia menyuruh Zaebon mengambil jalur lain ketika sampai di perempatan jalan. Sesuai yang dikatakannya kepada Rianti, hari ini ia akan langsung menemui Sulastri untuk membahas pernikahannya dengan Jamila. Pernikahan itu, mau tidak mau harus terjadi. Dia sudah tidak bisa menolak lagi. Dia tidak mau Rianti tidak tenang sebab permintaannya yang tak dipenuhi.
Kelakson mobil yang ditumpangi Tuan Guru Izzul Islam mengagetkan pak Bayan yang sedang tidur-tiduran di pos jaga. Dia segera membuka pintu gerbang dan langsung tersenyum membungkukkan badannya ketika mengenali mobil Tuan Guru Izzul Islam.
"Ibu ada, Pak Bayan?" kata Tuan Guru Izzul Islam ketika telah turun dari mobilnya.
"Ada, Tuan Guru. Ibu ada di dalam," kata pak Bayan setelah menyalami Tuan Guru Izzul Islam.
"Apa lagi istirahat?"
"Ibu baru saja dari sini. Belum sampai satu menit beliau masuk,"
"Kalau begitu, saya kesana langsung. Bon, kamu tunggu di sini dulu sama pak Bayan," kata Tuan Guru Izzul Islam. Zaebon mengangguk. Pak Bayan lalu mengajak Zaebon ke pos jaga setelah Tuan Guru Izzul Islam telah sampai di teras rumah.
__ADS_1