KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#168


__ADS_3

Senja telah berlabuh. Sejak siang tadi,langit terlihat hitam dengan mendung yang menggumpal tebal. Tapi hingga senja telah di gantikan maghrib, hujan tak juga kunjung turun. Angin yang menghempas perlahan menggeser awan dari langit kota.


Di dalam kamar, Rianti khusyu' membaca surat undangan akad nikah berwarna hijau yang tergeletak di atas meja. Tuan Guru Izzul Islam yang telah selesai merapikan diri di depan cermin melangkah ke arah Rianti. Ia mendehem. Ia membolak-balikkan badannya di depan Rianti, bak seorang peragawan. Rianti tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tuan Guru Izzul Islam cemberut.


"Loh, kok senyum-senyum saja. Nilai dong. Sekarang kayaknya saya gak percaya diri keluar sebelum adik menilai penampilan saya," kata Tuan Guru Izzul Islam. Kembali Rianti tersenyum. Kali ini ia mengacungkan jempolnya.


"Kayak remaja belasan tahun. Adik yakin, cewek-cewek yang melihat Kak Tuan pasti akan menyayat tangannya karna terpesona dengan Kak Tuan. Seperti kisahnya Nabi Yusuf," kata Rianti.


"Masak sih? Ah, adik bisa saja." Tuan Guru Izzul Islam mendekat. Ia duduk di dekat Rianti. Kening Rianti dikecupnya lembut.


""Tapi tetap Zulaikha lah yang mendapatkan Yusuf," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Ayo, sekarang adik bersiap-siap sana. Pakai gamis biru dan jilbab motif batiknya,"


Rianti mengerutkan keningnya.


"Memangnya Rianti mau kemana Kak?" kata Rianti. Rianti. Dagu Rianti dicoleknya.


"Ya ikut kondangan. Lihat. Tuan Guru Izzul Islam dan istri," kata Tuan Guru Izzul Islam sembari menunjuk ke arah tulisan di dalam undangan.


"Masa sih? adik kira kak Tuan gak akan mengajak adik,"kata Rianti. Ia memalingkan wajahnya dari Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Dagu Rianti kembali dipegangnya lembut dan dipalingkannya lagi ke arahnya.


"Orang-orang harus tahu, bahwa inilah istri tercantikku," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti tersenyum.


"Oh ya, Kak. Qurratul Aini dan Cristian ini siapa? Yang laki-lakinya kok namanya Cristian?" tanya Rianti. Ia mengambil surat undangan di atas meja. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Qurratul Aini ini dulu pernah dijodohkan dengan Kakak. Tapi dia kabur bersama kekasihnya. Ya Cristian ini,"


"Kabur? Kabur kenapa, Kak?"


"Yah, namanya juga gak cinta. Gak bisa dipaksakan,"


"Andaikan saja Kak Tuan jadi menikah dengan dia, sudah pasti adik tidak ada di sini sekarang,"


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Tubuh Rianti di peluknya. Ia mendesah panjang.


"Waktu ibu membatalkan perjodohan kita, ibu beberapa kali menjodohkan saya. Tapi tidak satupun terlaksana. Mereka seperti tahu bahwa pendamping hidupku hanya adik. Mereka tak bisa menggantikan adik walaupun itu dengan alasan kabur." Rianti tersenyum.


Suara ketukan pintu terdengar dari arah luar. Rianti segera melepaskan pelukan Tuan Guru Izzul Islam. Rianti sangat mengenal ketukan itu. Itu ketukan khas Nyai Mustiani. Tiga kali ketukan cepat dan diakhiri satu ketukan pelan.

__ADS_1


"Masuk, Bu," kata keduanya serempak. Rianti dan Tuan Guru Izzul Islam saling pandang Keduanya tersenyum. Tuan Guru Izzul Islam segera pura-pura membaca surat undangan.


Nyai Mustiani membuka pintu. Ia memilih berdiri di depan pintu dan tak masuk ke dalam. Rianti bangkit dan melangkah mendekati Nyai Mustiani.


"Kamu temani ibu ke kebun ya, Nak?" kata Nyai Mustiani sembari tersenyum. Rianti terdiam. Ia membalikkan badannya dan menoleh ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Mata Tuan Guru Izzul Islam bergerak kesana kemari.


"Tapi? Kak Tuan mengajak saya ikut undangan, Bu,"


"Gak boleh. Kamu tetap di sini bersama ibu. Biar Kak Tuanmu pergi sendiri. Kamu tidak boleh terlalu banyak beraktifitas. Apalagi itu perjalanan jauh,"


Rianti mendesah pelan. Ia menatap ke arah Tuan Guru Izzul Islam yang tak kunjung juga mengeluarkan pernyataan.


Nyai Mustiani memegang tangan Rianti.


"Kamu gak usah khawatir dibilang tak berbakti sama suami. Kamu memang harus lebih berbakti kepada suamimu melebihi orang tuamu. Tapi suami tetap harus mengutamakan orang tuanya."


Rianti tersenyum. Tuan Guru Izzul Islam menggeleng-geleng sembari tersenyum mendengar kata-kata Nyai Mustiani.


"Bagaimana, Zul?"


Tuan Guru Izzul Islam mengangguk.


Lagi-lagi Tuan Guru Izzul Islam mengangguk. Kali ini bangkit dan melangkah ke arah keduanya. Tuan Guru Izzul Islam memegang kedua tangan Nyai Mustiani.


"Bagaimana mungkin Izzul gak ikhlas, Bu. Izzul takut kehilangan surga di telapak kaki ibu,"


Nyai Mustiani dan Rianti tersenyum.


"Ya udah. Kalau begitu, saya pamit pergi, Bu, Dik," kata Tuan Guru Izzul Islam. Tangan Nyai Mustiani diciumnya. Ia lalu menyodorkan tangannya kepada Rianti. Rianti mencium telapak tangan Tuan Guru Izzul Islam bolak-balik. Nyai Mustiani kemudian memegang tangan Rianti dan menggandengnya keluar. Tuan Guru Izzul Islam hanya mendesah panjang sembari tersenyum melihat keduanya berjalan begitu akrabnya menuju ke teras belakang rumah.


* * * * *


Sementara itu. Di rumahnya paman Tuan Guru Izzul Islam, pak Nurasmin.


Di dalam kamar. Di atas tempat tidur, pak Nurasmin nampak sibuk membaca surat kabar edisi sore tadi. ujung kakinya terlihat bergerak-gerak di dalam selimut. Bu Sofia yang ikut bersandar di dekatnya, sesekali menoleh ke arah surat kabar yang dibaca pak Nurasmin. Raut mukanya tampak resah. Ia melirik ke arah pak Nurasmin. Pak Nurasmin ikut melirik pelan ke arahnya. Dari tadi sepertinya ada yang tak beres dengan istrinya. Tak biasanya ia ikut bersadar dan tertarik dengan topik politik yang dibacanya. Biasanya dengkurnya tak penah terganggu dengan suara apapun disekitarnya ketika selimut telah gelar di atas tubuhnya. Dia hanya pura-pura tak memperhatikan dan mencoba mencari-cari sendiri kenapa istrinya tampak tidak tenang malam ini.


Bu Sofia mendesah. Melihat pak Nurasmin seperti tak mau diganggu, ia memilih membaringkan tubuhnya dengan posisi miring membelakangi pak Nurasmin.


Pak Nurasmin tersenyum. Koran di tangannya dilipatnya dan meletakkannya di atas meja dekat tempat tidur. Tangannya memegang pundak bu Sofia dan membalikkannya menghadapnya.

__ADS_1


"Kenapa sih. Dari tadi bapak lihat ibu kok terlihat gelisah. Kalau ada apa-apa, ya diceritakan sama Bapak," kata pak Nurasmin.


Bu Sofia menatap wajah pak Nurasmin. Seperti sedang menelisik ketenangan di wajahnya. Setelah melihat senyum pak Nurasmin yang terus mengembang, bu Sofia tersenyum. Ia mengangkat tubuhnya pelan dan menyandarkannya kembali.


"Pak, ibu mau buat pengakuan," kata bu Sofia. Ia menatap pak Nurasmin. Tangan pak Nurasmin dipegang lembut, seakan-akan memberi isyarat kepada pak Nurasmin agar tidak memarahinya. Pak Nurasmin tersenyum menganggukkan kepalanya. Dia balas memegang tangan Bu Sofia.


Bu Sofia mendesah. Ia menundukkan wajahnya. Keringat mulai terlihat di keningnya. Ia terdiam seperti sedang mengumpulkan keberaniannya. Ia kembali menatap pak Nurasmin.


"Maafkan ibu, Pak. Selama ini ibu telah membohongi Bapak. Ibu tidak tenang menyimpannya terus walaupun masalah itu sudah berlalu," kata bu Sofia setelah beberapa saat terdiam.


"Jangan buat bapak penasaran dong, Bu. Ibu kayak di sinetron saja, buat Bapak terlalu lama menunggu."


Bu Sofia tersenyum.


"Tapi janji Bapak gak marah?" kata bu Sofia.


"Iya, Bapak janji. Ayo cepat katakan," kata pak Nurasmin.


"Ini terkait Layla, Pak. Jujur saja, kaburnya Layla saat dijodohkan dengan Nak Izzul adalah skenario Ibu."


Pak Nurasmin mengerutkan keningnya. Ia menatap bu Sofia lekat.


"maksud ibu? Ibu sengaja membuat cerita seolah-olah Layla kabur. Begitu?"


Bu Sofia mengangguk.


"Waktu itu berpikir, apa yang ibu lakukan adalah hal yang benar. Terus terang, ibu tidak suka anak kita dijodoh-jodohkan kak Nyai Mustiani."


"Masalah itu kan sudah berlalu, Bu. Jika itu yang ingin ibu sampaikan, kenapa Bapak harus marah?" kata pak Nurasmin.


Bu Sofia mendesah panjang.


"Tapi bukan itu masalahnya, Pak." Bu Sofia memperbaiki posisi tubuhnya. Lipatan selimut yang menumpuk di atas dadanya, digelarnya dan menutup sebagian tubuh pak Nurasmin yang terbuka.


"Tadi pagi, setelah Layla berangkat sekolah, ibu masuk dan bersih-bersih di kamarnya. Setelah bersih-bersih, ibu iseng-iseng membuka sebuah diare yang tergeletak di atas meja. Mungkin Layla lupa menyimpannya," kata Bu Sofia.


"Terus, terus," kata pak Nurasmin bersemangat. Bu Sofia tersenyum.


"Ibu serius , Pak," kata bu Sofia.

__ADS_1


"Iya, Bapak Tahu. Memangnya bapak kelihatan sedang main-main?" kata pak Nurasmin.


__ADS_2