KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#213


__ADS_3

Suara ambulan terdengar mendayu-dayu dari kejauhan. Tuan Guru Izzul Islam yang mobilnya berada di belakang mobil Ambulan bersama Rianti dan Jamila, menengok ke arah depan dan menyuruh Zaebon menghentikan mobil ketika mobil ambulan mulai melambat dan akhirnya berhenti tepat di samping jalan menurun menuju rumah Sulastri. Ia tak tahu kenapa mobil ambulan itu tiba-tiba berhenti sebelum sampai ke rumah. Semua penumpang di dalam mobil saling pandang, ketika suara lantunan shalawat badar terdengar menggema menghentak malam. Seperti sedang ada acara besar keagamaan. Suara riuh juga terdengar dari arah samping. Seperti sedang memanggil-manggil nama Sulastei. Fahmi yang lebih dulu keluar dari mobil ambulan dan memeriksa keadaan, mendekat ke arah mobil Tuan Guru Izzul Islam. Pak Sahril dan pak Pratama yang mobilnya ada di belakang mobil Tuan Guru Izzul Islam juga terlihat turun.


"Ada apa, Dik," tanya Tuan Guru Izzul Islam dengan suara agak keras karna riuhnya suasana.


"Kita belum bisa jalan, Kak Tuan. Subhanallah." Fahmi menghentikan kata-katanya. Air matanya tiba-tiba tak terbendung. Rianti menoleh. Orang-orang yang ada di dalam mobil menunggu kata-kata Fahmi. Penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Apalagi ketika melihat Fahmi terisak-isak dalam tangisnya. Pak Sahril segera mengajak pak Pratama untuk ikut memeriksa yang terjadi di depan sana.


"Orang-orang sudah memenuhi hampir sepanjang jalan menuju rumah. Halaman rumah dan pesantren sudah dipenuhi orang-orang yang menunggu jenazah ibu," kata Fahmi melanjutkan kata-katanya dengan suara terbata-bata menahan tangis. Spontan Tuan Guru Izzul Islam mengucap takbir. Rianti dan Jamila yang ada di belakang ikut menangis.


"Subhanallah! Lihatlah kemanfaatan yang telah ditebar ibu semasa hidupnya di dunia. Jika tidak karna itu, tak akan kita lihat akan banyaknya orang-orang yang mencintai ibu berkumpul menunggu kepulangannya. Semoga para malaikat pun rindu menyambut ruh suci ibu," kata Tuan Guru Izzul Islam seraya berdecak kagum. Sejak kapan mereka berkumpul di tempat itu sehingga seramai ini? Sudah hampir subuh. Orang-orang itu mungkin sudah berkumpul sejak mendapatkan berita tentang kematian Sulastri.


Tuan Guru Izzul Islam menepuk paha Zaebon di sampingnya.


"Ayo, Bon, kamu turun dan minta orang-orang membantumu mengatur jalan. Kita tidak tahu keadaannya akan seperti ini sehingga lupa menghubungi pihak kepolisian untuk mengamankan jalan," kata Tuan Guru Izzul Islam. Zaebon mengangguk, tapi kemudian Tuan Guru Izzul Islam mencegahnya turun karna melihat mobil ambulan di depannya mulai bergerak.

__ADS_1


Suasana di depan benar-benar penuh sesak dengan orang-orang yang berkerumun di sepanjang jalan. Lantunan shalawat diringi tangis terdengar, mengubah malam menjelang subuh seperti berada di stadion sepak bola. Orang-orang di dalam mobil hanya bisa menggeleng penuh takjub.


"Selamat jalan ibu. Lihatlah, betapa engkau telah berguna bagiku. Lihatlah, uang dan kepeduliaanmu telah mengantarku menjadi orang sukses. Dari orang hina menjadi mulia," kata salah seorang berjas abu sambil memperlihatkan dasi yang dikenakannya sambil terus mengikuti mobil ambulan. Dia seperti sudah tak sabar ingin memeluk tubuh Sulastri.


Menengok ke arah pesantren, membuat bulu kuduk orang yang melihatnya berdiri. Orang-orang dari segala usia sama-sama melambaikan tangannya ke arah mobil ambulan. Begitu juga saat mobil ambulan memasuki halaman rumah. Perjalanan menuju rumah dari jalan besar yang hanya beberapa ratus meter terasa panjang dan lama. Semua bertakbir menyaksikan apa yang diberikan oleh Allah untuk Sulastri.


Di depan gerbang, sebelum mobil ambulan bisa bergerak masuk lebih jauh ke dalam rumah, seorang perempuan berlari dan mencium kaca jendela mobil ambulan sembari menangis. Beberapa orang berusaha mencegahnya, tapi ia ngotot dan terus menempelkan tubuhnya di badan mobil ambulan.


"Terimakasih, ibu. Terimakasih. Anak-anakku semua bisa sekolah karna ibu. Bahkan mereka kini sudah jadi orang besar. Kami belum bisa membalas jasa ibu, tapi ibu telah lebih dulu meninggalkan kami. Selamat jalan, Ibu. Selamat jalan. Semoga rahmat Allah menyertai ibu."


Setelah melalui perjalanan yang melelahkan, akhirnya jenazah Sulastri bisa dibawa ke dalam rumah. Pak Bayan yang baru berhasil masuk ke pos jaga, segera mengambil werless dan membawanya ke teras rumah.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Terdengar salam dari arah teras rumah. Dari pos jaga, Tuan Guru Izzul Islam terlihat berdiri. Orang-orang yang memenuhi halaman rumah dan halaman pesantren serempak menjawab salam. Suara yang tadinya ramai riuh, perlahan mulai tenang dan mereda. Hanya isak tangis yang terdengar di antara kerumunan.

__ADS_1


"Saudara-saudariku.Ibu, Bapak, kakak, adik-adikku. Hadirin yang telah hadir di rumah kami ini. Sungguh pemandangan yang tak pernah kami sangka-sangka sebagai anak, ibu kami akan mendapatkan penghormatan sebesar ini. Ini adalah bentuk penyaksian Bapak ibu, Saudara-saudari atas kebaikan almarhum ibu. Tentunya dalam kesempatan ini, kami juga memohonkan maaf yang sebesar-besarnya kepada bapak ibu dan semua yang hadir, atas apa yang mungkin pernah dilakukan ibu dan itu menyinggung perasaan saudara-saudara. Mohon di maafkan ya?"


"Kami ridha dengan ibu. Kami bersaksi ibu adalah orang shaleh. Ighfir laha, Ya, Allah. Ighfir laha,"


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia mengangkat tangannya meminta agar orang-orang tenang kembali.


"Amin. Bapak ibu, hadirin yang kami muliakan, sesuai musyawarah keluarga, insya Allah, jenazah ibu akan dimakamkan besok pagi jam 10. Kita akan melakukan shalat jenazah di halaman rumah. Teman-teman dan saudara-saudara yang hendak berwudhu', bisa menggunakan tempat wudhu' di pesantren. Kebetulan, di sebelah sana juga ada sungai, mungkin kita bisa berbagi tempat." Tuan Guru Izzul Islam melirik ke arah jam tangannya.


"Sudah hampir subuh, kita akan shalat berjamaah di sini, sekaligus akan kita laksanakan shalat sunnah hadiyah untuk ibu. Sekali lagi terimakasih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." Tuan Guru Izzul Islam menutup pembicaraannya.


"Waalaikum salam."


Lantunan suara adzan mengalun bersahut-sahutan dari segala arah. Di atas teras, Fahmi mengambil mik dan mulai melantunkan adzan. Suasana khidmat terasa saat suara merdu Fahmi syahdu membuat hening suasana. Lantunan yang sesekali di selingi nada kesedihan itu membawa orang-orang kembali menghadirkan wajah Sulastri dalam pikiran masing-masing. Semua orang yang hadir di tempat itu merasa kehilangan. Sosok dermawan, sosok penyayang anak-anak yatim dan anak terlantar, yang panti-pantinya hampir ada di setiap pelosok kecamatan itu. Beberapa sarjana dan ustadz berhasil ia antar meraih cita-cita mereka, sehingga angka melek huruf di tempat itu semakin meningkat. Beberapa usaha-usaha yang ia niatkan untuk memberi kesempatan kepada para pelacur-pelacur dan pengangguran di tempat itu, semuanya adalah inisiatif dari Sulastri. Dia tidak mau, apa yang menimpanya dulu, akan menimpa orang-orang yang punya nasib tidak baik.

__ADS_1


Jejeran shaf demi shaf berjejer rapi memenuhi halaman rumah dan pekarangan pesantren. Gema takbir menggema dari mulut-mulut orang yang mulai bertakbir saat Tuan Guru Izzul Islam memimpin shalat berjamaah subuh.


Alam seperti membisu, ikut serta terhenyak dalam suasana duka kepergian Sulastri. Bukankah kematian kita adalah cermin apa yang kita lakukan semasa hidup kita?


__ADS_2