
Waktu terus berlalu. Suara gemerisik air dan dedaunan pohon yang diterpa angin seperti irama memilukan, yang mengiringi tatapan putus asa Sulastri dan Rahima yang masih bersandar di pagar pondok. Kedua tangan mereka saling berpegangan erat, seperti hendak menguatkan satu sama lain.
Suara adzan subuh terdengar nun jauh di sana. Mengalun memberikan sedikit kedamaian di hati keduanya.
* * *
Mobil sedan toyota Camry warna hitam itu melaju kencang di jalan beraspal. Alunan musik dangdut yang diputar di dalam mobil membuat kepala-kepala didalamnya tak sadar bergoyang-goyang mengikuti hentakan musik. Matahari sudah terlihat naik sepenggalahan di ufuk timur.
Pak Sahril mengecilkan volume musik ketika terdengar ponsel di dalam sakunya berdering.
"Wa alaikum salam," jawab pak Sahril ketika terdengar salam dari seberang sana. Karna musik masih terdengar nyaring, ia memerintahkan Hasbi untuk mematikan musik.
"Maaf, Pak Pratama, saya tadi terlalu capek, saya ketiduran sehingga tak tahu kalau Pak Pratama menelpon saya, makanya subuh-subuh tadi saya coba misscal Bapak, kira-kira ada apa ya, Pak," kata pak Sahril sambil menaikkan kaca mobilnya.
"Biasa, Pak, ini terkait bu Castella," jawab pak Pratama dari seberang.
"Memangnya, ada apa lagi dengan bu Castella, Pak."Pak Sahril menoleh ke belakang. Suara deru angin yang masuk lewat kaca terbuka di belakang, membuat pak Sahril masih kesulitan mendengar suara di seberang.
"Sebentar, Pak," kata pak Sahril.
"Bu, kacanya di tutup dulu sebentar, AC nya dinyalakan saja sebentar," kata pak Sahril ke arah bu Trianti.
"Gak usah, Pa, Mama gak bisa," kata bu Trianti sambil menaikkan kaca mobil.
"Maaf, Pak Pratama, silahkan dilanjutkan," kata pak Sahril kembali menempelkan ponsel di telinganya.
"Tadi sehabis isya, dia menelpon saya, katanya, dia ingin mengumpulkan seluruh direksi pagi ini. Dia juga mengancam, kalau ada yang tidak datang, maka dia akan menggantinya dengan orang kepercayaannya,"
Pak Sahril terdiam sejenak. Ia mencoba memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab pak Pratama. Bu Trianti yang duduk di belakang terlihat menyimak.
"Begini saja, Pak, tolong hubungi seluruh direksi dan permaklumkan mereka untuk mengalah, hari ini saja. Insya Allah, kita akan mengadakan rapat lagi di lain hari. Untuk sementara, di iyakan saja dulu."
"Apa Bapak tidak bisa hadir hari ini," kata pak Pratama setelah diam beberapa saat.
Pak Sahril mendesah sembari mengarahkan pandangannya ke luar kaca mobil.
"Mohon maaf, Pak, saat ini saya sedang ada dalam perjalanan, sekali lagi, saya minta maaf. Hari ini saya sudah janji dengan pemilik lahan di kawasan jalan Doyan Medaran, untuk menindak lanjuti pembicaraan antara almarhum pak Yulian Wibowo dengan pemilik lahan,"
"Baik, Pak,"
"Saya mungkin sampai siang di sana, karna sebelum ke lokasi, saya harus menghadiri undangan salah satu kerabat ibu" kata pak Sahril.
"Kalau rapatnya sudah selesai, saya tunggu bapak di sana," sambung pak Sahril.
__ADS_1
"Baik, Pak."
Pak Sahril menutup ponselnya dan meletakkannya di dashboard mobil. Ia kembali memutar musik.
"Untuk apa pak Yulian membeli tanah lagi Pa, bukankah beliau sudah meninggal," tanya bu Trianti yang sedari tadi terlihat penasaran mendengar pembicaraan suaminya.
Pak Sahril kembali mengecilkan volume musik.
"Kemarin, kira-kira satu hari sebelum pernikahan kedua beliau, beliau sudah punya kesepakatan dengan pemilik tanah untuk membebaskan lahan itu,"
"Buat apa, Pa, mau buat perusahaan lagi?" kata bu Trianti. Perlahan kaca mobil di turunkannya kembali. Angin yang menerobos kaca mobil menerpa keras jilbab yang dipakainya.
"Pak Yulian mau menjual black casino yang ada di kawasan Senggigi, beliau mau menggantinya dengan usaha yang lebih halal,"
Bu Trianti tersenyum.
"Pak Yulian berubah ya, Pa,"
Pak Sahril menganggukkan kepalanya.
"Sejak ia kenal dengan bu Sulastri." Pak Sahril terlihat mendesah.
"Sudah tahu keberadaan ibu Sulastri, Pa," tanya bu Trianti penasaran.
Laju mobil semakin pelan ketika memasuki jembatan di atas sungai yang mengalir di bawahnya. Pak Sahril menunjuk ke arah belokan kecil di ujung jembatan. Sesampainya di belokan, mobil itu perlahan menuruni jalan berkerikil dan berhenti di sebuah pondok kecil di tepi sungai. Dari dalam pondok, seorang laki-laki terlihat keluar.
"Pa, Mama pergi dulu ya, " kata bu Trianti dari balik kaca jendela mobil.
"Oh ya, Ma, salam sama kak Memey, bilang Papa sedang ada urusan," kata pak Sahril. Dia langsung melangkah ke arah-laki yang masih menunggu di depan pondok. Sedangkan mobil yang ditumpangi bu Trianti berbalik kembali ke jalan utama.
"Selamat pagi, Pak Suma," kata Pak Sahril sambil menjabat tangan laki-laki di depannya. Laki-laki yang dipanggil pak Suma itu tersenyum. Dia mempersilahkan pak Sahril duduk di bangku kecil terbuat dari bambu yang menghadap ke arah sungai.
"Kita lihat-lihat lokasi dulu, Pak, kebetulan, saya hanya mendapatkan sedikit penjelasan dari pak Yulian terkait lahan yang hendak di beli. Saya mau melihat lahan secara keseluruhannya," kata pak Sahril.
"Baik, Pak,"
Pak Suma mengajak pak Sahril menyusuri jalan kecil yang hampir ditutupi ilalang. Pak Suma yang berada di depan mulai membersihkan ilalang dengan sabit di tangannya.
"Kayaknya, kita di sini saja, Pak," kata pak Sahril. Dia mengeluarkan sebuah teropong dari balik bajunya. Dia mulai mengarahkan teropongnya ke arah yang di tunjukkan oleh pak Suma.
Pak Sahril melepaskan teropongnya dan mengajak pak Suma kembali ke pondok.
"Ngopi dulu, Pak," kata pak Suma setelah meninggalkan pak Sahril beberapa saat ke dalam pondok. Pak Sahril yang masih mengarahkan teropongnya ke arah depan, menggeser tubuhnya saat pak Suma meletakkan dua gelas kopi di sampingnya duduk.
__ADS_1
"Secara keseluruhan, saya pribadi sangat menyukai tempat ini. Bagus dan memang cocok untuk tempat wisata," pak Sahril mengalihkan pandangannya ke arah pak Suma.
"Tapi, dengan harga yang ditawarkan pak Suma per arenya, kami harus berpikir ulang. Terutama tanah bapak yang ada di seberang sungai. Karna berada di belakang tanah orang lain, maka dengan harga 25 juta are, itu terlalu mahal bagi kami," kata pak Sahril. Ia kembali mengangkat teropongnya dan mengarahkannya lama ke arah depan.
"Yang di depan itu, perkebunan apa, Pak," kata pak Sahril sembari menunjuk ke arah seberang sungai yang nampak rimbun dengan pohon pisang.
"Aduh, saya juga kurang tahu, Pak. Tapi kayaknya itu perkebunan pisang. Menurut yang saya dengar, kalau tidak salah, pemiliknya seorang perempuan, Pak," kata pak Suma. Kepalanya digaruknya berkali-kali.
"Kalau pemilik lahan itu mau menjual lahannya, kami siap membeli keseluruhan lahan bapak, dengan harga yang ditawarkan Bapak," kata pak Sahril. Ia mulai menyeruput kopi di sampingnya.
"Baik, Pak, Insya Allah, nanti saya akan menyuruh seseorang untuk mencari tahu keberadaan pemilik lahan itu." kata pak Suma. Ia mempersilahkan kembali pak Sahril meminum kopinya.
Waktu terus berlalu. Tak terasa matahari sudah berada di tengah-tengah langit. Suara desir ilalang yang tertiup angin, berpadu dengan suara air sungai yang mengalir, mengalahkan sinar matahari yang terik.
Sulastri dengan langkah pelan berjalan menuju rumah panggung besar di depannya. Mami Zelayin baru saja dilihatnya masuk ke dalam rumah tersebut. Ia ingin menemuinya untuk menyerahkan uang satu juta rupiah yang diberikan tamunya tadi malam. Para penghuni rumah panggung terlihat sepi. Hanya terlihat asap rokok yang mengepul di dalam pos jaga kecil di balik rerimbunan pohon pisang. Dari tadi ia menunggu Rahima pulang dari pasar untuk menemaninya menemui Mami Zelayin, namun ia takut Mami Zelayin keluar lagi, sedangkan untuk bertemu dengannya sangat sulit sekali.
"Hei! kenapa kamu berdiri saja di sana," teriak Mami Zelayin ketika melihat Sulastri hanya berdiri di depan rumah. Sulastri menoleh ke atas. Di lihatnya Mami Zelayin berdiri berkacak pinggang di depan pintu.
"Ada yang harus aku bicarakan," kata Sulastri.
"Aku lagi pusing, aku tidak mau mendengar pembicaraan yang tidak penting." Mami Zelayin membalikkan tubuhnya dan hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Aku ingin mencicil hutangku," teriak Sulastri. Mami Zelayin membalikkan badannya dan menatap Sulastri dengan senyuman terlihat mencemooh.
"Mencicil hutang?" Mami Zelayin tertawa. Sulastri nampak tidak senang.
"Dari mana kamu mendapatkan uang kalau tidak ada tamu, Lastri. Tamu harus menyetor terlebih dahulu kepadaku,"
Sulastri memperlihat uang satu juta di tangannya kepada Mami Zelayin. Mami Zelayin terdiam mengerutkan keningnya. Perlahan ia mulai menuruni tangga.
Uang yang ada di tangan Sulastri hendak di rampasnya, tapi pegangan tangan Sulastri terlalu kuat sehingga usahanya gagal.
"Kasih tahu dulu, berapa sisa hutangku," tegas Sulastri. Mami Zelayin tersenyum dan melangkah lebih dekat.
"Hargamu tadi malam hanya satu juta setengah, kamu masih punya sisa hutang tiga juta setengah,"
"Ini, satu juta, hitung baik-baik. Jika kamu berani membohongiku, aku akan mencari celah untuk membunuhmu suatu hari nanti," ancam Sulastri. Ia melempar uang yang ada di tangannya ke arah dada mami Zelayin. Setelah itu ia membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Mami Zelayin.
"Ingat, makanmu di sini tidak gratis. Itu juga aku catat sebagai hutangmu," kata Mami Zelayin. Ia tersenyum sambil menggerak-gerakkan salah satu kakinya.
Sulastri menghentikan langkahnya. Wajahnya memerah dan matanya melotot tajam. Ia mendesah kasar dan membalikkan tubuhnya. Ia berjalan cepat ke arah Mami Zelayin. Melihat Sulastri mendekat dengan tatapan tajamnya. Mami Zelayin mundur. Ia terlihat memasukkan jari dan jempolnya ke dalam mulutnya. Terdengar siulan panjang dari mulutnya. Tak berapa lama kemudian, seorang laki-laki tinggi berwajah sangar keluar dari rerimbunan pohon pisang. Ia mendekat ke tempat Mami Zelayin dan berdiri di depannya.
"Bangsat kamu, dasar pemeras," teriak Sulastri. Amarahnya yang memuncak dan tertahan berubah menjadi tangis. Ia benar-benar merasa sangat sakit hati melihat Mami Zelayin yang terlihat tersenyum tanpa bersalah di belakang laki-laki itu.
__ADS_1