
Hanya butuh waktu 50 menit. Pesawat pribadi yang ditumpangi Alex dan Freya telah sampai di bandara. Ya, di kampungnya Freya ada bandara..
Dari bandara ke rumahnya Freya hanya butuh waktu 20 menit perjalanan. Sebelumnya Alex sudah menghubungi keluarganya yang di kampung. Kalau ibunya Freya meninggal, karena memang ayah dan ibunya kebetulan ada di kampung. Jadilah, mereka kini di jemput dulu ke bandara. Dan sama-sama datang ke rumah duka.
Tiga mobil mewah berhenti di depan rumahnya Freya. Hal itu tentu saja menarik perhatian warga yang sedang melayat. Semua mata tertuju pada Freya yang turun dari mobil sedan berwarna hitam mengkilap itu. Mata orang-orang di tempat itu membeliak hendak keluar dari tempatnya. Di selingi bisik bisik orang di tempat itu. Yang membahas kalau Freya adalah seorang pela cur.
"I... Bu...!" Teriak Freya histeris. Berlari kencang ke dalam rumahnya. Ia tak bisa menahan diri lagi. Kenyataan ini sangat menyakitkan. Hatinya benar-benar hancur berkeping-keping, dunia nya sudah terasa runtuh. Rasanya sakit sekali.
Bruuggkk..
Freya ambruk di atas jenazah sang ibu yang terbujur kaku. Sang adik dengan cepat memeluk sang kakak, dan menjauhkan kakaknya itu dari jenazah sang ibu. Tapi Freya tak mau, ia kini malah memeluk erat jenazah ibunya.
"Ibu..... Ibu... Jangan tinggalkan kami bu. Hanya ibu yang kami miliki di dunia ini. Ibu..... Bangun bu, bangun....!" ujarnya menangis histeris, masih memeluk tubuh sang ibu yang tidak bernyawa itu.
"Kak sudah, lebih baik kita mengaji kak." Ujar Hana sedih, mencoba meraih tubuh Freya agar kakaknya itu melepas pelukannya pada jenazah ibunya.
Freya memutar tubuhnya, ia yang lemah memeluk sang adik. Dan tanpa sengaja kini ia menyoroti ruang tamu mereka, yang sudah dipadati pelayat. Dan yang membuat Freya semakin sedih. Sebagian orang yang melayat, terlihat menggosipkan dirinya.
Nyuukk..
Sakit sekali rasanya di ulu hati. Freya sudah dapat sanksi sosial, atas pekerjaan haram yang ia lakukan Tatapan penuh jijik menyerangnya. Ia pun tak sanggup menatap orang orang do rumah itu. Ia menunduk. Tangannya menjulur meraih buku surat yasin di hadapannya. Ia pun mulai membacakan suroh yasin. Tanpa berani melirik ke kanan dan ke kiri.
Saat mengaji, air matanya Freya terus mengucur deras. Ia teringat semua dosa dosa yang ia lakukan. Ditambah ia sangat menyesal telah memilih cara yang salah untuk dapatkan uang. Harusnya ia tak terjerumus dengan melakukan pekerjaan haram itu.
Padahal ia melakukan pekerjaan haram itu, agar cepat dapatkan uang dan membahagiakan adik dan ibunya. Dan trnyata gara-gara pekerjaan haram itu, ia malah kehilangan ibunya untuk selama-lamanya. Memikirkan itu membuat Freya semakin sedih dan depresi.
"TIDAK.... Ibu.... Jangan Tinggalkan aku bu..!" Teriaknya tanpa sadar. Kembali memeluk sang ibu erat.
__ADS_1
"Kak, kakak..!" Hana melihat tak ada pergerakan dari sang kakak di atas jenazah ibunya. Ia meraih tubuh lemah kakaknya itu. "Kak," Ujarnya lagi panik memanggil sang kakak. "Tolong. .. Kakakku. Tolong...!" ujar Hana dengan paniknya.
Alex yang ada di dekat jenazah. Bergerak cepat menghampiri Freya. "Beri tempat, ibu ibu minggir dulu..!" Ujar Alex sopan. Walau ia terlihat tegang, ia tetap bisa bersikap sopan bicara pada para pelayat.
Segerombolan ibu ibu keluar dari rumah itu. Dan kini Freya di baringkan di ruangan itu. Ibunya Alex, membantu Alex untuk menyadarkan Freya dan beberapa tetangganya Freya.
"Halahhh... Banyak drama. Dasar pel acur...!" ujar seorang wanita dengan suara pelan, tapi tetap bisa didengar orang orang di ruangan itu.
Ibunya Alex terkejut mendengar ucapan wanita itu. Ia menajamkan matanya pada wanita itu, begitu juga dengan Hana.
"Kakak ku bukan pela cur... pergi kamu, pergi...! jahat kamu kak Darmi. Gara gara kamu ibuku meninggal." Ujar Hana kesal, memukul lengannya wanita yang bernama Darmi.
"Heii... Ibumu meninggal bukan karena aku. Ya karena kakakmu lah!" Wanita bernama Darmi itu menghempaskan tangan Hana, saat Hana mencoba memukul lengan wanita bernama Darmi itu.
"Darmi, sebaiknya kamu keluar. Jangan buat rusuh. Di sini ada jenazah, hormati." Ujar seorang wanita tua, menasehati Darmi yang terlihat sedang emosi.
"Pergi kamu...! manusia iblis..!" Teriak Hana menatap tajam, wanita yang bernama Darmi itu.
Akhir nya Darmi diseret dua wanita agar keluar dari rumah itu, memang Darmi terkenal sebagai wanita tukang ribut. Rumah sedang berduka, ia masih juga mengajak Ribu. Mau orang itu pelacur atau tidak, tak perlu dibahas sekarang.
"Bu..!" Kini Hana yang menangisi jenazah sang ibu. Sedangkan Freya berusaha disadarkan oleh Ibunya Alex.
"Bu, aku keluar dulu. Aku dan ayah akan urus semuanya sampai ibunya Freya di makamkan siang ini juga." Ujar Alex pada sang ibu.
"Iya nak." Sahut Ibunya Alex lemah.
Kini ibunya Alex dan beberapa ibu ibu lainnya berusaha menyadarkan Freya dari pingsanya.Tapi Freya tak kunjung sadar juga. Hingga tiba saat sang ibu hendak dimandikan. Wanita itu pun tersadar, setelah sang adik Hana membisikkan sesuatu di telinga Freya. Hana mengatakan, agar Freya ikut memandikan Ibunya itu.
__ADS_1
Saat memandikan sang ibu, air mata tak kuasa Freya bendung. Dari cerita sang adik, Ibunya itu langsung tak bernyawa setelah kak Darmi, menceritakan kalau ia sekarang berprofesi sebagai wanita panggilan.
Freya sangat mengutuk dirinya. Ia salah jalan, yang akhirnya ia harus kehilangan wanita yang melahirkan nya untuk selama lamanya. Tahu akan seperti ini jadinya. Ia tak akan jadi pela cur, karena faktanya ibunya meninggal, diakibatkan syok mendengar kabar tentangnya.
"Bu.... maafkan ankmu ini..!" Ujarnya terisak di atas tanah merah kuburan sang ibu. Ia pasrahkan kepala nya berbantalkan tanah kuburan itu. Sudah satu jam Freya menangis di atas makam sang ibu. Bahkan wajahnya sudah memerah karena terik matahari.
Hana tak sanggup lagi untuk terus memayungi sang kakak. Karena ia juga merasa lelah dan lemas. Tubuhnya tiba tiba saja terasa panas.
"Bu... Putrimu ini sangat berdosa bu..!" ujarnya lirih, mengusap usap tanah kuburan sang ibu.
Kehilangan sosok ibu tentu lah menjadi hal yang sangat berat. Apalagi penyebab kepergian sang ibu adalah Freya sendiri. Rasanya ada lubang yang menganga besar dalam hatinya, karena hatinya yang lemah itu disergap rasa bersalah.
"Dek, mana payungnya. Abang akan ajak kakakmu pulang!" Alex menoleh ke arah Hana yang duduk di sebelahnya. Ya mereka berteduh di bawah pohon kamboja, memperhatikan Freya dari kejauhan.
"Ini kak."
"Kamu sakit juga!?" saat Hana menyodorkan payungnya pada Alex. Tak sengaja Alex menyentuh tangannya Hana.
Hana menatap sendu Alex. Wajahnya pucat, begitu juga dengan bibirnya.
"Kita harus pulang. Kamu masuk ke dalam mobil duluan!" titah Alex.
"Iya bang." Hana bangkit dari duduk nya. Sedangkan Alex menghampiri Freya.
Saat sampai di makam ibunya Freya. Alex dikejutkan dengan Freya yang ternyata telah pingsan.
TBC
__ADS_1