
Pak Jamal menghentikan mobilnya tepat di sebuah gerbang bertuliskan Pondok Pesantren Qudwatusshalihin. Salah satu santri yang piket menjaga gerbang terlihat mendekat ke arah mobil pak Jamal. Setelah memasang peci hitam yang dia letakkan di dashboar mobil, Pak Jamal membuka pintu mobilnya dan turun.
"Ada yang bisa saya bantu,Pak," kata Santri itu dengan sikap sopan membungkukkan setengah badannya. Pak Jamal tersenyum.
"Saya mau ketemu Tuan Guru Izzul Islam, Dik." kata pak Jamal.
"Owh, kalau rumah Tuan Guru, Bapak langsung saja melewati lorong itu. Sekitar dua ratus meter, Bapak akan menemukan kediaman Tuan Guru,"
Pak Jamal menganggukkan kepalanya.
"Jadi, saya harus pakai mobil kesana?"
"Ya, Pak. Sesampainya di sana, petugas jaga akan mengantar Bapak ke rumah Tuan Guru,"
"Baik, Baik. Kalau begitu saya kesana dulu ya. Terimakasih atas informasinya, Dik," kata pak Jamal. Pundak santri itu dipegangnya. Setelah itu ia kembali masuk ke dalam mobilnya. Perlahan mobilnya melaju pelan menuju arah yan ditunjukkan santri itu.
* * * * *
Sulastri diam-diam mengendap menuju meja rias tempat Rianti meletakkan ponselnya. Rianti masih berada di dalam kamar mandi untuk berwudhu'. Itu dimanfaatkan Sulastri untuk mengambil kembali nomor pak Jamal yang ada dalam daftar blockir. Sulastri mulai mengecek daftar nomor yang diblokir Rianti. Setelah menemukannya, dia lalu mencatatnya. Setelah itu, ia buru-buru keluar. Semasa Rianti shalat, ia akan menghubungi pak Jamal untuk mengajaknya negosiasi ulang. Ia berharap, pak Jamal mau berubah pikiran dan tertarik dengan tawarannya itu. Sulastri berjalan menuju halaman samping rumah. Melihat kamar bi Aisyah terbuka, ia segera masuk dan menutupnya. Bi Aisyah dan Munawarah yang sedang berbaring santai, segera bangun melihat kedatangan Sulastri.
"Bi, Bibik dan Munawarah duduk di teras dulu ya. Nanti kalau non Riantinya nanya dimana saya,bilang lagi masak di dapur," pesan Sulastri. Bi Aisyah mengangguk dan mengajak Munawarah keluar.
Sulastri menghela nafas panjang. Ia mendongak seraya melafalkan Fatehah dengan niat, semoga apa yang akan di sampaikannya kepada pak Jamal, bisa diterima olehnya.
"Bismillah!" Ucap Sulastri sembari memencet nomor telpon.
* * * * *
Suara ponsel berdering ketika pak Jamal menghentikan mobilnya di depan rumah Tuan guru Izzul Islam. Abdul Khaliq terlihat keluar dari kamarnya ketika mendengar suara mobil di luar. Dia mendekat dan mnghampiri pak Jamal. Pak Jamal menurunkan perlahan kaca mobilnya.
"Mau ketemu siapa, Pak?" tanya Abdul Khaliq sopan.
"Saya mau ketemu Tuan Guru. Ada?"
"Tuan Gurunya masih di masjid. Nanti Bapak bisa menunggunya di teras rumah. Maaf sebelumnya, mobilnya di parkir di sana saja, Pak," kata Abdul Khaliq sambil menunjuk ke tempat parkir samping rumah.
"Sebentar, Dik. Saya mau jawab telpon dulu," kata pak Jamal. Abdul Khaliq mengangguk dan menunggu di teras rumah. Pak Jamal menaikkan kembali kaca mobilnya. Ponsel masih berdering. Ia meraihnya. Nomor tak dikenal.
__ADS_1
"Halo, dengan siapa?"
"Saya Sulastri. Ibu sambung Rianti." Terdengar suara lembut namun tegas dari arah seberang. Pak Jamal tersenyum ketus.
"Hei, kakak iparku yang cantik. Ada apa ini. Tepat sekali. Saat ini saya sedang berada di depan rumahnya Tuan Guru. Saya harap, kamu membawa berita gembira buatku,"
"Saya ingin menawarkan kerjasama baru kepada pak Jamal. Saya akan memberikan lima ratus Miliar kepada Pak Jamal, dengan syarat Pak Jamal mau memusnahkan video itu,"
Pak Jamal tertawa terbahak-bahak.
"Nah, nah, nah..., kenapa kamu berpikir saya mau bekerjasama dengan perempuan penipu seperti kamu? Kamu itu tidak punya hak sama sekali terhadap perusahaan Pak Yulian."
"Terserah apa kata pak Jamal. Yang jelas, sekarang, sayalah pemilik resmi semua perusahaan suami saya. Pak Jamal suka atau tidak, inilah kenyataannya,"
"Hebat, hebat. Luar biasa kamu Sulastri. Hei, dengar! Kamu kira aku bodoh? Lima ratus miliar itu adalah hasil seminggu dari seluruh perusahaan pak Yulian. Kamu kira aku rela seluruh hasil dari perusahaan itu di makan kamu? Sudah, lagi pula aku sudah berubah pikiran. Aku sudah mencoba menawarkan baik-baik kepada anak itu. Aku hanya ingin satu perusahaan saja, tapi ia menolak. Jadi sekarang aku menginginkan seluruh perusahaan Yulian Wibowo di serahkan kepadaku,"
"Keterlaluan kamu, Pak Jamal. Kamu tega sekali kepada keponakanmu sendiri. Dia itu anak saudaramu," kata Sulastri sengit. Pak Jamal tertawa.
"Sekarang sudah tidak lagi. Dia dan seluruh orang yang berkaitan dengan Yulian Wibowo adalah musuhku."
Pak Jamal mematikan ponselnya. Ia tersenyum puas. Dia menyalakan kembali mesin mobilnya dan mengarahkan menuju tempat parkir.
"Siapa, Lik," tanya Nyai Mustiani yang baru selesai dari makan malamnya. Abdul Khaliq berhenti.
"Tamu, Bu Nyai. Katanya mau ketemu Tuan Guru,"
"Ya sudah, Kamu buatkan kopi dulu sana, biar ibu yang temani,"
"Baik, Bu Nyai."
Nyai Mustiani melangkah pelan menuju jendela. Ia menyibak sedikit tirai jendela sekedar bisa melihat pak Jamal. Setelah memperbaiki kerudungnya, ia segera keluar menemui pak Jamal.
"Assalamualaikum, Pak."
Pak Jamal menoleh dan bangkit. Kedatangan Nyai Mustiani yang tiba-tiba saat ia sedang menikmati rokoknya membuatnya sedikit terkejut.
"Wa alaikumussalam," jawab pak Jamal. Nyai Mustiani tersenyum. Ia mempersilahkan pak Jamal kembali duduk.
__ADS_1
"Saya ibunya Tuan Guru. Kebetulan di masjid sekarang lagi ada acara. Ada yang mau masuk Islam," kata Nyai Mustiani memperkenalkan diri. Pak Jamal mengangguk.
"Tapi ada yang mungkin bisa saya bantu sebelum anak saya pulang?" sambung Nyai Mustiani. Pak Jamal menatap Nyai Mustiani.
"Begini, Bu Nyai. Perkenalkan, saya ini salah satu jamaah dari almarhum Tuan Guru Liwaul Hamdi. Saya tidak mau nama baik Tuan Guru, juga nama baik pesantren tercemar oleh sesuatu yang tidak baik, yang mungkin datang dari luar pondok pesantren. Inilah cara saya berbakti kepada para ulama," kata pak Jamal. Wajahnya terlihat serius walaupun lebih banyak menunduk. Nyai Mustiani mengernyitkan dahinya. Ia memandang lekat wajah pak Jamal. Sejenak mereka terdiam. Pak Jamal belum mau melanjutkan pembicaraannya. Ia mau Nyai Mustiani merespon. Nyai Mustiani mendesah.
"Terimakasih atas kepedulian Bapak. Tapi kalau boleh tahu, yang dimaksud sesuatu yang merusak nama baik pesantren itu apa?" tanya Nyai Mustiani. Pak Jamal tersenyum. Ia tak langsung menjawab. Ia menunggu Abdul Khaliq yang sedang meletakkan segelas kopi di depannya.
"Silahkan, Pak," kata Abdul Khlaiq sebelum kembali ke dalam kamarnya. Pak Jamal mendehem beberapa kali. Kopi di depannya di seruputnya pelan. Nyai Mustiani masih sabar menunggu.
"Saya sebenarnya ragu, Bu Nyai. Saya takut Bu Nyai dan Tuan Guru berpikir yang tidak-tidak tentang saya. Tapi sumpah, Bu Nyai. Saya sama sekali tidak punya kepentingan apa-apa dalam masalah ini. Saya hanya ingin memperlihatkan rasa cinta dan hormat saya pada keluarga almarhum Tuan Guru,"
Nyai Mustiani tersenyum.
"Katakan saja, Pak. Gak apa-apa," kata Nyai Mustiani.
Pak Jamal menggaruk pipinya yang sebelah sembari tersenyum cengengesan. Ia melirik ke arah Nyai Mustiani. Nyai Mustiani mulai terlihat tidak senang.
"Boleh saya minta nomor WA nya, Bu Nyai?"
Nyai Mustiani mengernyitkan dahinya.
"Nomor WA? Untuk apa, Pak,"
"Sesuatu yang akan saya kasih tahu ini dalam bentuk video, Bu Nyai. Durasinya terlalu panjang. Bu Nyai juga bisa memperlihatkannya pada Tuan Guru," kata Pak Jamal. Nyai Mustiani mulai penasaran. Ia menoleh ke kamar Abdul Khaliq.
"Lik," panggil Nyai Mustiani. Abdul Khaliq keluar dan segera menghadap Nyai Mustiani.
"Kamu ambilkan hp ibu di kamar," kata Nyai Mustiani. Abdul Khaliq mengangguk dan bergegas menuju kamar. Suasana kembali sepi. Tak ada pembicaraan lagi. Nyai Mustiani mulai merasa ada yang aneh dengan laki-laki di depannya itu.
"Hp nya, Bu Nyai," kata Abdul Khaliq.
"Terimakasih, Lik,"
Nyai Mustiani menoleh ke arah pak Jamal. Pak jamal tersenyum. Nyai Mustiani mencatat nomor di ponselnya dan memperlihatkannya kepada pak Jamal. Pak Jamal segera mencatatnya. Setelah itu ia mulai sibuk mengusap-usap layar ponselnya.
"Apa ponsel ibu sudah tersambung ke jaringan internet?" tanya pak Jamal setelah mengirim video ke nomor Nyai Mustiani.
__ADS_1
"Ya, sebentar. Saya akan sambungkan dulu,"
"Kalau begitu, saya langsung pamit saja, Bu Nyai. Sudah malam. Saya kesini hanya menyampaikan itu sebagai bahan pertimbangan Bu Nyai. Sekali lagi, saya hanya tidak mau nama besar bu Nyai dan Tuan Guru tercemar oleh hal-hal yang tidak diketahui Bu Nyai dan Tuan Guru. Mari Bu Nyai, saya pamit," kata pak Jamal. Ia langsung saja berdiri. Nyai Mustiani mengangguk. Masih dalam posisi duduknya. Matanya awas memperhatikan pak Jamal yang berjalan menuju mobilnya. Abdul Khalik segera berlari menutup gerbang ketika mobil pak Jamal sudah keluar.