
Suara batuk Sulastri terdengar menggema di dalam ruangan. Wajahnya terlihat pucat.
Sulastri menoleh ketika suara pintu berdret. Ia menatap lemah ke arah bi Aisyah yang muncul di balik pintu. Sulastri memperhatikan amplop yang ada di tangan bi Aisyah.
"Amplop apa itu, Bi," kata Sulastri dengan suara lemah. Bi Aisyah mendekat. Amplop di tangannya dibolak-baliknya.
"Enggak tahu, Bu. Tadi pak Bayan yang nyuruh kasih ibu," kata bi Aisyah. Amplop di tangannya di berikannya kepada Sulastri.
Kening Sulastri mengernyit lemah. Jantungnya berdebar ketika melihat kop surat di amplop.
...Kepolisian Republik Indonesia...
...Daerah Nusa Tenggara Barat...
...Wilayah Lombok Timur....
Sulastri menghela nafas panjang dengan sedikit ditahan. Seperti ingin mengusir kegelisahan dan prasangka yang tidak baik tentang isi amplop itu.
Tangan Sulastri bergetar ketika dengan pelan membuka amplop. Bi Aisyah yang masih berdiri merasa khawatir melihat tangan Sulastri yang bergetar. Ia memilih duduk di depan Sulastri. Sulastri memejamkan matanya sejenak sebelum melihat dengan benar isi surat yang telah ia keluarkan dari amplop. Ia berharap, isi surat itu tidak mewartakan sesuatu yang buruk pada dirinya dan keluarganya.
Surat Pemanggilan
pertimbangan :
bahwa untuk kepentingan pemeriksaan dalam rangka tindak pidana. Dipandang perlu memanggil seseorang untuk didengar keterangannya.
Memanggil :
__ADS_1
Nama : Rianti Wibowo.
Sulastri menghentikan surat yang dibacanya. Ia menatap sejenak ke arah bi Aisyah yang terlihat cemas memperhatikannya. Sulastri mendesah pelan. Ia melanjutkan bacaannya sampai selesai. Apa yang menjadi prasangkanya tatkala melihat kop surat itu memang benar adanya. Surat itu memang ditujukan kepada Rianti. Walaupun status pemanggilan Rianti sebagai saksi, tapi ia khawatir. Karna Rianti termasuk pelaku dalam video itu, tidak menutup kemungkinan statusnya akan naik menjadi tersangka.
Degup jantung Sulastri berdetak kencang. Ada rasa sakit dan nyeri yang tiba-tiba saja menyerang dadanya. Ia pun merasa kesulitan bernafas.
Sulastri memegang dadanya dan meremasnya kuat. Melihat itu, bi Aisyah menjadi panik. Ia segera memegang tubuh Sulastri yang hendak lunglai di atas tempat tidurnya.
Bi Aisyah meraih gelas berisi air di atas meja samping tempat tidur. Di sela-sela bernafasnya yang naik turun dengan cepatnya, mulut Sulastri berhasil menangkap mulut gelas yang disodorkan bi Aisyah. Dengan pelan ia mulai meminumnya. Bi Aisyah mengusap-usap pelan punggung Sulastri.
Sulasteri menghela nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Setelah untuk beberapa saat ia berusaha menstabilkan nafasnya, ia mulai merasa lebih baik.
"Ya, Allah. Mimpi apa aku semalam. Lindungi keluargaku, Ya, Allah," kata Sulastri sembari mendongakkan kepalanya dengan tatapan penuh pengharapan.
"Ada apa, Bu," tanya bi Aisyah. Air matanya yang sempat keluar karna mengkhawatirkan kondisi Sulastri diusapnya.
"Bi, tolong ambilkan ponselku," kata Sulastri. Ia mengarahkan pandangannya ke arah lemari. Bi Aisyah bergegas bangkit dan melangkah mengambil ponsel di dalam lemari.
Jari telunjuk Sulastri mulai sibuk mengusap-usap layar ponsel. Dia terlihat menekan layar ponsel dan mendekatkannya di telinganya. Sejenak ia terdiam.
"Waalaikum salam. Pak Sahril, tolong Bapak ke rumah sebentar. Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Saya tunggu ya, Pak. Terimakasih."
Sulastri menutup panggilannya. Ponsel di tangannya terlepas. Tatapan sayunya kembali diarahkan kepada bi Aisyah.
"Tolong doakan non Rianti ya, Bi. Jika bibi selesai shalat, hadiahkan fatehah buat dia walaupun cuma sekali saja," kata Sulastri. Bi Aisyah mengangguk, tapi keningnya masih mengerut bingung. Walaupun surat itu masih tergelar di hadapannya, tapi ia yang buta huruf dan tidak bisa membacanya hanya bisa melihatnya saja.
"Tidak hanya satu kali, Bu. Seribu kali pun Bibi akan melakukannya. Tapi apa yang sebenarnya terjadi, Bu," tanya bi Aisyah penasaran. Sulastri mendesah resah. Ia menundukkan kepalanya menatap ke arah surat di depannya.
__ADS_1
"Rianti di panggil polisi sebagai saksi video yang disebarkan oleh pak Jamal itu, Bi," kata Sulastri. Bi Aisyah terdiam. Wajahnya seketika pucat. Di pandangnya Sulastri lekat. Air matanya mengalir. Tubuh Sulastri dipeluknya.
"Ya, Allah. Selamatkan non Rianti. Rianti orang baik, ya, Allah," kata Bi Aisyah. Sulastri hanya terdiam dan membiarkan bi Aisyah memeluk tubuhnya. Tatapannya kini searah ke photo Yulian Wibowo yang tergantung di dinding di depannya. Air matanya kembali mengalir.
"Ya, Allah. Jika keadaannya seperti ini, aku malu menemui suamiku. Doa yang aku panjatkan agar aku segera dipertemukan dengan suamiku kini akan berubah menjadi doa dengan harapan sebaliknya. Panjangkan umurku, Ya, Allah. Panjangkanlah agar aku bisa melihat Rianti benar-benar terbebas dari ujian berat hidupnya. Aku ingin kelak, ketika Engkau mengambil nyawaku, aku sudah siap dengan membawa berita paling membahagiakan untuk suamiku. Sebuah kabar bahwa ia sudah memiliki cucu dari Rianti. Cucu yang lahir dari kedua orang tua yang shaleh dan shalehah. Cucu yang sangat diidam-idamkan suamiku," doa Sulastri dalam hati sembari tak berpaling dari menatap photo Yulian Wibowo yang tersenyum ke arahnya.
Sulastri mendesah. Air mata yang mengalir di usapnya. Ia menggerakkan tubuhnya dan perlahan melepaskan pelukan bi Aisyah.
"Sudah, Bi. Kalau kita mencintai non Rianti, kita harus mengikuti apa kata non Rianti ketika mendapat musibah seperti ini. Musibah, bagaimanapun besarnya, pasti akan berlalu. Tinggal bagaimana sikap kita mengahadapinya." Sulastri tersenyum.
"Bibi masih ingat? Bagaimana tenangnya non Rianti ketika menghadapi masalah ini?" Sulastri tersenyum sembari menggelengkan kepalanya takjub.
" Sangat tenang, Bi. Dan memang benar apa yang dilakukan Rianti. Dia telah mendapatkan kejayaannya. Saya yakin, ini adalah ujian terakhirnya untuk mendapatkan kebahagian sebenarnya," sambung Sulastri. Bi Aisyah menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum.
"Amin. Semoga Non Rianti bisa segera keluar dari masalah ini, Bu,"
"Amin. Terimakasih, Bi."
"Ya sudah, ibu ke dapur sana. Sudah hampir jam dua belas. Sudah siang. Nanti pak Mustarah dan pak Bayan lapar," kata Sulastri.
"Tapi ibu gak apa-apa kan kalau bibi tinggal?" kata bi Aisyah masih cemas. Sulastri tersenyum. Ia memegang tangan bi Aisyah.
"Saya sudah tidak apa-apa, Bi. Tadi itu saya terlalu panik. Tak seharusnya sesuatu yang buruk yang belum terjadi membuat kita takut. Saya juga mau istirahat, Bi." kata Sulastri. Walaupun masih berat meninggalkan Sulastri sendiri, bi Aisyah akhirnya bangkit.
"Jangan lupa, buatkan saya pelecing kangkung ya, Bi. Buat yang banyak, sebentar lagi pak Sahril akan datang. Kita akan makan siang bersama-sama," kata Sulastri sebelum bi Aisyah melangkahkan kakinya. Bi Aisyah tersenyum dan melangkah pelan menuju pintu kamar.
Ia menoleh cemas ketika pintu telah dibukanya. Sulastri tersenyum dan memberinya kepastian bahwa dia akan baik-baik saja.
__ADS_1
Suara adzan dhuhur tedengar berkumandang. Sulastri khusyu' menjawab setiap lafadz adzan yang dikumandangkan. Setelah adzan selesai dikumandangkan, ia menengadahkan tangannya dan mulai berdoa dengan khusyu'nya.