
Mobil sedan warna hitam yang disopiri pak Pratama pelan menaiki tanjakan memasuki gerbang Polres Lombok Timur. Pak Sahril, Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti keluar ketika mobil berhenti di depan pos jaga samping pintu gerbang. Salah seorang petugas terlihat keluar dan mengarahkan pak Pratama memarkir mobilnya di belakang pos jaga. Petugas itu lalu mendekat ke arah pak Sahril.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak," kata petugas itu.
"Bagian penyidikan, Pak," jawab pak Sahril.
"Owh, bapak silahkan melewati parkir dan naik ketingkat dua," kata petugas itu sambil menunjuk ke arah bangunan bertingkat empat bercat hijau. Pak Sahril mengajak Rianti dan Tuan Guru Izzul Islam melangkah menuju bangunan itu. Setelah melewati beberapa anak tangga menuju tingkat kedua, mereka berhenti di sebuah ruangan besar dengan kaca transparan memenuhi bagian depannya. Dari luar, mereka bisa melihat aktifitas orang-orang di dalam ruangan.
"Assalamualaikum," ucap pak Sahril setelah membaca tulisan yang terpampang di depan pintu. Seorang petugas mendekat. Amplop surat yang dipegang pak Sahril kemudian dimintanya. Setelah membacanya beberapa saat, ia menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan pak Sahril, Rianti dan Tuan Guru Izzul Islam mengikutinya.
"Ibu Rianti?" kata petugas itu ketika sampai di sebuah ruangan di dalam ruangan besar itu.
'Saya, Pak," jawab Rianti. Petugas itu membukakannya pintu dan mempersilahkannya masuk. Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya sembari tersenyum ketika Rianti menoleh ke arahnya sebelum petugas itu menutup pintu. Pak Sahril dan Tuan Guru Izzul Islam oleh petugas, dipersilahkan duduk di ruang tunggu.
Rianti berdiri menatap dua orang laki-laki yang sudah tidak asing lagi di matanya. Keduanya duduk dengan berjauhan. Pak Jamal terlihat tersenyum sinis memperlihatkan ketidak senangannya ketika melihat Rianti. Jeri sendiri hendak bangkit dan ingin menyalami Rianti. Tapi dua orang petugas yang berdiri di dekat pintu mencegahnya.
"Silahkan duduk di sini, Bu," kata salah seorang petugas mempersilahkan Rianti duduk di kursi di sudut ruangan. Rianti tersenyum dan melangkah ke tempat yang di tunjukkan.
Rianti mengernyitkan dahinya ketika memperhatikan seorang laki-laki yang sedang berhadapan dengan penyidik. Ia sepertinya mengenal laki-laki itu, tapi Rianti masih ragu. Beberapa lama menunggu, dua orang petugas masuk. Keduanya mendekat ke arah Jeri dan pak Jamal. Keduanya kemudian membawa pak Jamal dan Jeri keluar ruangan. Ia sempat tersenyum ke arah Jeri yang mencoba memberi isyarat berpamitan dengan anggukan kepalanya ketika petugas membawanya.
"Bu Rianti Wibowo," panggil petugas. Laki-laki berambut pendek yang terlihat dipenuhi uban itu terlihat bangkit . Dua petugas yang berjaga dipintu mendekat.
"Mohan?" sapa Rianti ketika laki-laki itu membalikkan badannya. Ia mencoba memperhatikan wajah laki-laki di depannya. Banyak sekali perubahan. Rambutnya dipenuhi uban dan wajah yang tidak sesuai dengan umurnya. Padahal dari segi umur, dia lebih tua tiga tahun dari Mohan. Laki-laki yang ternyata adalah Mohan itu tersenyum. Mohan terlihat berbicara dengan petugas. Tak beberapa lama kemudian, Mohan melangkah ke arahnya.
__ADS_1
"Non, bagaimana kabarnya," kata Mohan setelah bersalaman dengan Rianti. Rianti tersenyum.
"Alhamdulillah, Mohan. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Rianti.
"Alhamdulillah, Non." Mohan mendesah. Wajahnya berubah tidak tenang.
"Saya tidak menyangka, apa yang kita lakukan bertahun-tahun lalu akan kembali diungkap. Ya, Allah, saya tidak apa-apa jika saya dipenjara, Non. Tapi saya memikirkan istri dan anak-anak saya. Mereka mungkin akan putus sekolah. Belum lagi uang kontrakan setiap bulannya," kata Mohan. Ia terlihat sedih. Rianti tersenyum.
"Kamu gak usah khawatir. Kalau kamu mau, istri dan anak-anakmu bisa tinggal bersama Ibu," kata Rianti.
"Ibu siapa maksud Non," tanya Rianti.
"Bu Lastri,"
"Saya malu, Non. Saya malu atas apa yang telah saya lakukan kepada ibu. Ingin sekali saya menemuinya dan meminta maaf, tapi saya malu menampakkan wajah kotor saya di hadapannya," kata Mohan tersedu-sedu.
"Maaf, Bu. Silahkan ke ruangan penyidik," kata salah satu petugas menyela pembicaraan mereka. Rianti memegang pundak Mohan.
"Gak apa-apa. Ibu sudah memaafkanmu. Besok, istri dan anak-anakmu akan dijemput. Kamu tidak usah merasa tidak enak. Di luar ada pak Sahril. Titipkan nomormu kepadanya biar saya bisa menghubungi istrimu," Kata Rianti. Ia lalu bergegas menuju penyidik.
*****
Setelah melewati pemeriksaan selama 3 jam, Rianti akhirnya keluar. Walaupun wajahnya terlihat lelah, ia tersenyum saat melihat pak Sahril dan Tuan Guru Izzul Islam bangkit dan mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Bagaimana, Dik," kata Tuan Guru Izzul Islam . Rianti mendesah. Ia menatap Tuan Guru Izzul Islam. Dua orang petugas keluar dan berdiri di belakang Rianti.
"Aku tidak bisa ikut pulang bersama Kak Tuan dan pak Sahril." Rianti tersenyum. Tuan Guru Izzul Islam merapikan ujung jilbab Rianti. Wajah Rianti yang mulai berminyak, dibersihkannya dengan sorbannya. Tuan Guru Izzul Islam memandang Rianti lekat. Dia terlihat tenang. Seakan-akan ia ingin memberi istarat kepada Rianti agar tenang menjalani hukumannya. Sejak menerima surat panggilan itu, ia sudah siap menerima kenyataan bahwa Rianti akhirnya akan dipenjara.
"Ini adalah ujian buat kita. Ujian yang terakhir. Bersabarlah. Jaga kesehatanmu selama ada di sini. Banyak-banyaklah berpuasa. Dengan begitu, berapapun lamanya adik di penjara, adik tidak akan merasakannya," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti mengangguk.
"Bawakan aku sajadah, mukena dan Al-Qur'an, Kak Tuan. Aku lupa membawanya. Sampaikan juga salam hormatku pada ibu. Jaga ibu baik-baik," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Rianti kemudian dipeluknya. Sejenak ia terdiam. Setelah merasa tenang, ia menoleh ke arah pak Sahril.
"Pak Sahril, apakah Mohan menitipkan sesuatu?" kata Rianti setelah melepaskan pelukannya. Pak Sahril yang berdiri agak menjauh karna memberikan kesempatan Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti berdua, segera membalikkan tubuhnya. Ia lebih mendekat.
"Ada, Non. Nomor HP," jawab pak Sahril. Rianti mengusap sisa air mata di ujung kedua matanya.
"Tolong jemput istri dan anak-anaknya, Pak. Mereka bisa tinggal dimana saja. Di panti asuhan ataupun bersama ibu. Saya serahkan pada pak Sahril," kata Rianti. Pak Sahril mengangguk.
"Baik, Bu,".
"Saya mau ke dalam sebentar, Tuan Guru, Non. Ada yang ingin saya tanyakan terkait kasus Non Rianti," kata pak Sahril. Keduanya mengangguk.
Tuan Guru Izzul Islam merangkul kembali tubuh Rianti setelah duduk di kursi.
"Kak Tuan, jangan lupa mampir lihat kondisi ibu ya. Kata dik Fahmi, ibu tidak mau dibawa ke rumah sakit. Kalau Kak Tuan yang menyuruh, mungkin ibu mau," kata Rianti.
"Insya Allah." kata Tuan Guru Izzul Islam. Lantunan shalawat terdengar lirih dari mulutnya. Rianti yang khusyu' mendengarnya perlahan mengikuti lantunan shalawat Tuan Guru Izzul Islam.
__ADS_1
* * * * *