
Kedua orang laki-laki yang telah lama menunggu di ruang tamu serempak berdiri ketika melihat Castella dan pak Efendi muncul dari balik pintu. Castella memperhatikan penuh selidik ke arah dua orang laki-laki dengan rambut gondrong memakai jaket hitam di depannya. Kedua petugas itu membungkukkan badannya dan tersenyum.
Salah satu dari mereka menyodorkan tangannya hendak menyalami Castella dan pak Efendi.
"Perkenalkan, kami dari pihak kepolisan. Mohon maaf jika kami mengganggu."
Castella menoleh ke arah pak Efendi. Pak Efendi menatap Castella penuh tanda tanya. Pak Efendi mengalihkan pandangannya kembali kepada dua orang yang mengaku dari kepolisian itu. Ia lalu mempersilahkan keduanya duduk.
"Mohon maaf, ini dari kepolisian kesini dalam rangka apa ya, Pak," tanya pak Efendi. Ia menatap bergantian kepada kedua orang petugas di depannya setelah mereka duduk. Salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah surat dari balik jaketnya dan memberikannya kepada pak Efendi. Castella yang duduk di samping pak Efendi mendekatkan kepalanya dan mulai membaca surat. Raut muka Castella seketika berubah. Keningnya mengerut. Ia menggelengkan kepala. Ia menatap bergantian wajah kedua orang petugas di depannya. Castella berdiri. Melihat itu, kedua petugas itu ikut berdiri.
"Atas dasar apa kalian akan menangkap saya. Ini pasti Fitnah. Ini penzaliman," teriak Castella.
"Apapun alasan ibu, ibu bisa melakukan pembelaan di kantor polisi. Saat ini kami hanya ditugaskan membawa ibu," kata salah satu petugas itu.
Castella duduk kembali dan memegang tangan pak Efendi.
"Tolong saya, Pak. Mana mungkin saya melakukan pembunuhan kepada suami saya. Meninggalnya saja tidak di sini. Seharusnya perempuan laknat itu yang harus ditangkap," kata Castella mencoba meyakinkan pak Efendi.
Pak Efendi tak merespon. Ia masih terdiam memperhatikan surat di tangannya.
"Maaf, Kami dari kepolisian punya saksi yang mengarahkan ibu kepada pembunuhan itu. Anak ibu, bu Rianti, telah mengatakan semuanya,"
Tatapan Castella berubah tajam. Nafasnya mulai naik turun dengan cepat. Ia menggenggam tangannya kuat dan menghantamkannya ke meja.
Kurang ajar kamu, Rianti. Penghianat. Anak durhaka!" Castella meringis marah.
Melihat itu, pak Efendi bangkit. Ia memberikan kembali surat yang ada di tangannya kepada salah satu petugas, namun buru-buru Castella merampasnya. Setelah itu, castella merobeknya menjadi sobekan-sobekan kecil. Kedua petugas itu menggelengkan kepalanya.
"Maaf, Bu Castella. Dalam hal ini saya tidak bisa berbuat apa-apa. Silahkan selesaikan dulu urusan ibu, baru kita bicarakan kesepakatan tadi," kata pak Efendi. Ia melonggarkan dasinya. Ia mengangguk ke arah petugas dan beranjak pergi.
"Mau kemana kamu, Pak Efendi," teriak Castella keras. Pak Efendi menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia mendesah.
"Maaf, saya tidak terlibat dalam masalah ini. Dan saya tidak mau dilibatkan, silahkan ibu selesaikan dulu," kata pak Efendi. Ia kembali membalikkan badannya dan melangkah.
"Tapi, bagaimana dengan pengacara yang Bapak janjikan," kata Castella.
"Itu masalah lain, Bu Castella. Masalah ini bukan urusan saya," sahut pak Efendi tanpa menoleh. Ia terus berjalan menuju mobilnya.
"Kurang ajar. Aku telah memberikan semuanya kepada kamu, tapi inikah balasanmu? Kamu sama sekali tak mau membantuku. Terkutuklah kamu, Efendi. Efendi bajingan!"
Castella mengambil dua buah gelas di atas meja dan hendak melemparkannya ke arah pak Efendi, namun kedua petugas itu sigap dan menahan tangan Castella. Gelas yang ada di tangan Castella segera direbut.
__ADS_1
"Kami harap ibu kooperatif. Jangan melawan petugas,"
"Lepaskan tanganku. Lepaskan!" teriak Castella berontak.
"Kami akan lepaskan jika ibu mau baik-baik kami bawa ke kantor," kata salah seorang petugas.
"Ok,Ok! saya ikut. Saya akan ikut kalian, tapi lepaskan dulu tanganku. Aku tidak mau terlihat seperti tahanan. Lepaskan!"
Kedua petugas itu melepaskan tangan Castella. Castella meringis memegang tangannya. Ia menatap tajam ke arah kedua petugas itu.
""Mari, Bu. Kami antar ke mobil,"
Castella perlahan mundur.
"Tidak! Kalian tidak berhak membawaku dari rumahku. Kalian yang pergi. Cepat!" Tunjuk Castella.
"Maaf, Bu. Kami hanya menjalankan tugas. Kami harus membawa ibu. Suka atau tidak"
Kedua petugas itu mendekat. Castella panik. Melihat petugas itu mengeluarkan borgol, ia membalikkan badannya. Begitu melihat kesempatan, ia segera berlari kencang masuk ke dalam rumah. Melihat itu, kedua petugas itu langsung mengejarnya. Castella terus berlari menaiki lantai atas. Beberapa kursi dan apa saja yang ia temui di depannya, dilemparkannya ke arah petugas. Ia terus berteriak mengumpat sambil berlari menghindari kejaran kedua petugas itu. Sesampainya di kamarnya ia langsung mengunci pintu dari dalam.
* * *
"Alhamdulillah," desah Sulastri penuh syukur.
"Masih jauh, Pak," tanya Sulastri. Pak Pratama yang masih asik mengikuti alunan musik pop dalam mobil, menoleh.
"Sebentar lagi, Bu." kata pak Sahril. Sulatri memperhatikan ke arah depannya. Ia mengerutkan keningnya. Ia seperti mengenal tempat yang dipenuhi rerimbunan pohon pisang itu. Sulastri tersenyum. Yah, memang benar. Rerimbunan pohon pisang yang semakin terlihat jelas di depannya itu memang tempat ia disekap beberapa hari lalu. Itu memang komplek milik mami Zelayin.
"Pak, kita berhenti di kebun pisang itu dulu," kata Sulastri. Pak Sahril tersenyum.
"Kita memang akan berhenti di sana, Bu. Lokasi kebun itu yang akan kita beli,"
Senyum Sulastri semakin mengembang. Keinginannya untuk membebaskan tempat itu akhirnya menjadi kenyataan.
Mobil itu perlahan berhenti. Pak Pratama menepikan mobilnya dan berbelok memasuki jalan masuk ke dalam komplek itu.
Suasana di dalam komplek itu begitu sepi saat Sulastri melangkah ke dalamnya. Tidak ada lagi rumah-rumah panggung yang terlihat berjejer di dalamnya. Benar-benar kosong.
Sulastri terus berjalan meninggalkan pak Sahril dan pak Efendi di belakang. Tatapnnya diarahkannya ke tempat dimana ia sering menghabiskan waktunya untuk menangis dan bercerita bersama Rahima. Pohon Mahoni dan Mahoni tempatnya sering menghabiskan waktu siang sepertinya sudah ditebang. Yang masih tersisa hanya pohon-pohon pisang.
"Bagaimana, Bu. Suka dengan tempat ini?" kata pak Sahril dari arah belakang. Sulastri menoleh dan tersenyum.
__ADS_1
"Sangat suka, Pak. Tempatnya bagus dan indah. Cocok sekali untuk pariwisata," kata Sulastri.
Pak Sahril dan pak Pratama lebih mendekat. Keduanya kini berdiri di samping kiri dan kanan Sulastri.
"Saya yakin ibu sudah menemukan usaha apa yang cocok untuk lokasi ini," kata pak Pratama.
Sulastri mendesah. Ia membalikkan badan dan memandang keduanya.
"Ini tempat saya disekap dua minggu lalu, Pak. Mohan, anak buah bu Castella menjualku ke sini. Ini adalah komplek pelacuran," kata Sulastri menundukkan kepalanya. Pak Pratama dan pak Sahril saling pandang. Sulastri tersenyum. Ia harus menceritakan semuanya agar kelak pak Sahril dan pak Pratama tidak mengetahuinya dari orang lain.
"Pak Sahril dan Pak Pratama pasti malu punya bos bekas seorang pelacur," kata Sulastri. Ia masih tersenyum memperlihatkan ketegarannya.
"Semua punya masa lalu, Bu. Saya, dan juga pak Pratama. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita akan lebih baik ke depannya. Lagi pula, itu semua bukan kehendak Ibu. Ibu hanya sekedar menjalani takdir," kata pak Sahril bijak. Sulastri tersenyum.
Suasana sejenak hening. Ketiganya terdiam beberapa saat. Sulastri tersenyum.
"Baik, Pak. ini rencana saya," kata Sulastri mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Di depan sana, kita akan membangun rumah makan. Kita akan membangun jembatan untuk menghubungkan lokasi ini dengan lokasi sebelah yang ada di sebelah sungai. Sepanjang sungai ini akan kita buat agar ramah dengan anak-anak. Kita juga akan menghijaukan tempat ini. Saya bercita-cita, apa yang akan kita laksanakan nanti bisa menyerap tenaga kerja sebanyak-banyaknya,"jelas Sulastri panjang lebar. Pak Sahril dan pak Pratama mengangguk mantap mengiyakan rencana Sulastri.
"Semua kami serahkan kepada Ibu. Besok alat-alat berat akan kita kerahkan untuk membersihkan lokasi ini," kata pak Sahril. Sulastri menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, kita cek lokasi sebelah, Pak," kata Sulastri bersemangat.
Ketiganya pun melangkah menuju mobil.
* * *
"Bu, tolong buka pintunya. Jangan semakin memperberat hukuman ibu," kata petugas sambil terus mengetuk pintu kamar Castella.
"Aku gak sudi. Aku Castella. Istri seorang pengusaha paling tajir di kota ini. Tidak mungkin aku akan meringkuk di jeruji besi. Lebih baik aku mati," teriak Castella dari dalam.
"Jangan sampai kami masuk paksa dan menembak ibu. Tolong, permudah pekerjaan kami agar kami bisa membantu ibu."
Tak ada jawaban. Mereka kembali memberi peringatan. Tapi tetap tidak ada jawaban dari dalam kamar. Kedua petugas itu saling pandang dan menganggukkan kepala. Mereka memutuskan untuk mendobrak pintu kamar Castella.
Salah satu petugas mundur beberapa langkah. Setelah mengambil ancang-ancang, di tendangnya pintu kamar dengan keras. Setelah percobaan kedua kalinya, pintu itu akhirnya terbuka.
Kedua petugas itu terperangah melihat darah segar menggenang di lantai tempat tubuh Castella terbaring. Mata Castella terbelalak dan nafasnya mulai tersengal-sengal. Sebuah pisau dapur tergeletak bersimbah darah di dekat tangannya.
Kedua petugas itu segera mendekat. Tubuh Castella kemudian mereka angkat dan segera membawanya menuju mobil.
__ADS_1