KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#77


__ADS_3

Pintu rumah terdengar berdret memecah hening malam. Terlihat tiga orang perempuan menunduk ketakutan ketika melihat Jamblang berdiri tegap di balik pintu. Jamblang melangkah masuk. Ia menatap ketiga perempuan itu dengan tatapan marah sambil mengelilingi tubuh ketiganya.


"Sekali saja saya memanggil dan kalian tidak membukakanku pintu, rumah ini pasti sudah hangus aku bakar," kata Jamblang sinis.


Ia menghentikan langkahnya dan berdiri di depan mereka. Tubuh ketiganya terlihat bergetar karna takut. Mereka terdiam dan tetap tak berani menatap Jamblang.


"Kenapa kalian hanya bertiga. Mana Rahima,"Teriak Jamblang. Ia menatap ke arah pintu kamar Rahima. Ia kemudian melangkah dan setibanya depan pintu, ia menendangnya. Jamblang segera memasuki kamar ketika melihat pintu kamar itu terbuka. Tak ada siapapun di sana. Kosong. Jamblang mendesah kesal. Ia menatap ke sana kemari. Dilihatnya selembar kertas tergeletak di samping pintu. Jamblang mendekat danmengambilnya.


"Kurang ajar! Rupanya ia sudah mndahuluiku," desah Jamblang kasar. Ia segera bergegas keluar dan kembali mendekati ketiga perempuan itu.


"Hei! Kenapa kalian diam saja. Katakan, dimana Rahima," teriak Jamblang. Ia menarik-narik tubuh ketiganya kasar.


"Dia keluar sama mami Zelayin. Saya tak tahu mereka mau kemana. Mami Zelayin hanya menyuruh kami menjaga rumah. Mereka tampak tergesa-gesa," kata salah seorang.


"Aaagh!" Jamblang menendang pintu rumah dan segera keluar. Tak berapa lama kemudian, suara motornya terdengar riuh meramaikan suasana malam yang sunyi. Ketiga perempuan itu segera menutup pintu ketika memastikan Jamblang benar-benar menghilang di balik gelap malam.


* * * * *


Mobil pick up warna hitam yang ditumpangi mami Zelayin dan Rahima berhenti di dekat jalan kecil yang menurun dari jalan utama.


Ia melirik ke arah jam di ponselnya. Sudah jam 10 malam. Mami Zelayin terlihat mulai memeriksa daftar riwayat panggilan di hp milik penyebar selebaran yang ia telpon beberapa menit lalu. Ia menoleh ke arah batang pohon mahoni dekat mobilnya terparkir. Setelah itu ia mulai menelpon.


"Halo. Saya sudah berada di jalan cempaka. Dimana saya bisa bertemu ibu," kata mami Zelayin setelah terdengar sahutan dari arah seberang.


"Apa saudari membawa Rahima?" jawab suara dari seberang.

__ADS_1


"Ya, tentu," jawab mami Zelayin.


"Saudari tinggal berbelok di jalan kecil yang menurun di dekat saudari. Masuk saja, nanti ada satpam yang akan menyambut saudari,"


Mami Zelayin menutup panggilannya. Ia segera menyalakan mobilnya dan segera mengemudikannya menuruni jalan kecil di sampingnya.


"Saya kok jadi takut, Mi. Masa ada orang yang mau membeli saya dengan harga sebanyak itu. Saya yakin mami salah orang," kata Rahima. Sekalipun ia sudah merasa ikhlas dijadikan apa saja oleh mami Zelayin, tapi perasaan takut masih menggelayut dalam hatinya.


"Sudah, kamu diam saja. Yang penting kita sudah mencoba. Tuh, Lihat. Tembok rumahnya saja besar sekali. Siapa tahu kali ini kamu beruntung bertemu tuan baru yang kaya raya. Kamu untung, aku juga ikut untung," kata mami Zelayin sembari terus mengemudikan mobilnya menyusuri jalan berkerikil.


Rahima mendesah pasrah dan menyandarkan tubuhnya.


Mami Zelayin menghentikan mobilnya di depan gerbang. Tak berapa lama kemudian, pintu gerbang perlahan terbuka. Pak Bayan terlihat berdiri dan menggerak-gerakkan tangannya menyuruh mami Zelayin memasukkan mobilnya.


Mami Zelayin dan Rahima terpukau melihat rumah besar dengan halaman luas di depannya sekeluarnya dari dalam mobil. Rahima memegang tangan mami Zelayin, namun mami Zelayin melepaskan tangannya.


"Ibu berdua tunggu dulu di sini. Saya mau melapor dulu," kata pak Bayan mempersilahkan mami Zelayin dan Rahima duduk di teras rumah. Pak Bayan kemudian masuk. Dia mendapati Sulastri tengah duduk di ruang tamu sambil membaca surat kabar. Sulastri melepas surat kabar di tangannya ketika melihat pak Bayan sudah berdiri di depannya.


"Bagaimana, Pak. Tamunya sudah datang?" tanya Sulastri.


"Ya, Bu. Mereka ada di ruang tamu," jawab pak Bayan.


"Mirip sekali, Bu. Kayaknya dia memang perempuan yang ibu cari," sambung pak Bayan. Sulastri tersenyum.


"Apa dia bersama perempuan berambut sebahu?" tanya Sulastri.

__ADS_1


"Benar, Bu."


Sulastri kembali tersenyum. Ia meraih kerudung hitam di sampingnya dan memasangnya. Dia tampak terlihat ceria. Dia tahu, di luar sana ada mami Zelayin ada di luar rumah. Aroma kedatangan Rahima membuat jantungnya berdegup lebih keras.


"Ajak mereka masuk, Pak," suruh Sulastri. Pak Bayan mengangguk dan segera bergegas keluar.


* * *


Rahima dan mami Zelayin melangkah pelan di atas keramik sambil terus memperhatikan bagian rumah yang luas dengan perabot yang serba mewah menghiasi dalam rumah. Sulastri sengaja mematikan lampu utama ruang tamu dan menyisakan satu lampu di dekat jendela. Ia tersenyum ketika melihat Rahima yang terlihat berjalan sambil memegang tangan mami Zelayin di belakang.


"Mari, Ibu-ibu. Kita duduk di sini. Suara Sulastri menggema di dalam ruangan. Mami Zelayin dan Rahima serempak menoleh dan melangkah pelan ke arah dimana Sulastri duduk. Sulastri masih menutupi setengah wajahnya dengan kerudung hitamnya. Mami Zelayin yang mencoba memperhatikan wajahnya tak bisa melihatnya dengan jelas. Dia benar-benar merasa penasaran dengan Sulastri.


Sulastri menatap Rahima yang masih menunduk. Ia kemudian bangkit dan menyalakan salah satu lampu di tengah-tengah tempat mereka duduk.


"Bagaimana kabarnya, Mami," sapa Sulastri. Ia tak mau terus menyembunyikan wajahnya. Dia tak sabar ingin memeluk dan melihat wajah ceria Rahima.


Mami Zelayin terperangah. Ia tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat perempuan yang ternyata adalah Sulastri itu membuka kerudungnya. Namun tatapan Sulastri sendiri lebih tertarik melihat wajah Rahima ketimbang melihat wajah kaget mami Zelayin.


Mulut Rahima seperti terkunci. Ia ingin berteriak. Tapi kekagetannya melihat wajah Sulastri membuat mulutnya seperti terkunci. Hanya senyum yang mulai terlihat mengembang dan raut keceriaan di wajahnya yang tampak terlihat.


Sulastri bangkit dan melangkah mendekati Rahima. Mami Zelayin hanya bisa menatap tak percaya.


Sulastri meraih tangan Rahima dan mengajaknya berdiri. Sulastri menatap wajah Rahima. Air mata yang mulai mengalir di wajah Rahima di usapnya dengan tangannya. Setelah untuk beberapa saat keduanya saling pandang satu sama lainnya, Sulastri meraih tubuh Rahima dan memeluknya erat. Tangis keduanya pecah memenuhi ruangan.


"Katakan, apa aku tidak sedang bermimpi, Sulastri," kata Rahima dalam sesenggukan tangisnya. Sulastri mengangguk. Ia mengusap-usap rambut Rahima.

__ADS_1


"Aku ini, Sulastri. Temanmu saat jadi tawanan mami Zelayin. Tapi sekarang, kamu lebih dari sekedar temanku. Kamu adalah saudaraku," kata Sulastri sambil menatap ke arah mami Zelayin yang terlihat menundukkan kepalanya. Ia masih seperti tidak percaya, Sulastri yang sempat jadi budaknya beberapa hari lalu adalah penyebar selebaran itu. Perasaan was-was tiba-tiba muncul di hatinya. Ia mulai takut Sulastri menjebaknya dan melaporkannya ke pihak berwajib.


__ADS_2