KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#129


__ADS_3

Senyum Qurratul Aini mengembang ketika melihat kunci tergantung di pintu kamar nomor 5. Seperti asap yang membumbung ke angkasa lalu hilang tertiup angin. Begitulah yang ia rasakan saat ini, ketika semua kesedihan dan gundah hatinya seketika hilang begitu berada di depan pintu kamar, tempat dimana ia sering menghabiskan waktunya bersama Cristian. Dia sudah bisa mencium aroma wangi parfum milik Cristian. Kebahagiaannya ada di dalam ruangan itu. Air matanya hendak tumpah, namun ia terus menahannya. Ia ingin menumpahkannya nanti saat memeluk tubuh Cristian.


Qurratul Aini mengetuk pintu. Terdengar suara langkah kaki mendekat. Pintu terbuka perlahan. Air mata Qurratul Aini mengalir deras ketika melihat Cristian berdiri di balik pintu. Cristian tersenyum. Air matanya mengalir. Sejenak, ia hanya bisa mematung melihat Qurratul Aini berada di depannya. Melihat itu, Qurratul Aini segera memeluk Cristian.


"Kemana saja kamu, Aini. Aku hampir saja gila kalau saja kamu tak datang hari ini," kata Cristian sembari bergantian mencium wajah dan rambut Qurratul Aini. Qurratul Aini semakin mempererat pelukannya. Kepala Cristian direngkuhnya dan tak henti-henti mencium kedua pipinya. Detak jantung Cristian seperti beradu dengan detak jantungnya.


"Aku tahu, Cristian. Aku tahu. Itu sebabnya aku datang menemuimu. Sekarang, bawa aku pergi kemanapun kamu mau. Aku tak sanggup jika tidak hidup bersamamu," isak Qurratul Aini.


"Benarkah yang aku dengar ini? Apa kamu tidak sedang menghiburku? Jangan katakan setelah ini kita harus belajar untuk saling melupakan. Kata-kata itu seperti belati tajam yang menusuk jantungku. Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu setelah bersamamu selama bertahun-tahun. Tidak Aini. Tidak," kata Cristian.


Qurratul Aini melepaskan pelukannya. Ia memegang wajah Cristian dan mengusapnya. Wajah Cristian terlihat pucat. Matanyapun sembab. Sepertinya ia telah melalui malamnya dengan tangis dan kesedihan panjang. Qurratul Aini mencium lembut bibir Cristian. Untuk beberapa saat kedua bibir itu saling mengulum satu sama lain. Seperti hendak menghisap kesedihan di hati masing-masing.


"Berkemaslah. Aku sudah siap bepergian jauh denganmu," kata Qurratul Aini. Cristian tersenyum. Ia lalu menarik tangan Qurratul Aini masuk ke dalam kamar.


Sementara itu. Di bawah. Di antara rerimbunan pohon waru di depan rumah makan, Zaebon berhasil mengabadikan momen pertemuan Qurratul Aini dengan Cristian lewat kamera ponselnya. Ia sengaja membawa minuman yang dipesannya ke bawah pohon waru yang langsung menghadap ke kamar-kamar atas lantai dua rumah makan, setelah memastikan perempuan yang dicarinya tidak ada di dalam rumah makan dan Gazebo bagian belakang rumah makan. Pilihannya hanya itu. Jika tidak sedang menyantap makanan atau menghabiskan waktu di gazebo halaman belakang, pengunjung pasti sedang berada di dalam kamar lantai dua rumah makan. Tak ada yang berubah dari rumah makan itu setelah setahun yang lalu, dia dan enam orang pengurus pesantren menjemput paksa dua orang santri yang sedang berbuat mesum di tempat itu. Dan ia tak perlu repot-repot lagi untuk mencari keberadaan perempuan itu. Video yang ia rekam sudah cukup sebagai laporannya kepada Tuan Guru Izzul Islam.


* ** * *


Pak Jamal kaget dan terbangun dari tidurnya ketika suara ponselnya berdering keras dengan volume penuh. Ia memegang kepalanya yang masih terasa pusing. Dia mengumpat panjang ketika ponselnya tak berhenti berdering.


"Halo," teriak pak Jamal sembari menghempaskan kembali tubuhnya di tempat tidur. Dia sama sekali tak sempat melihat nama penelpon di layar ponselnya. Ia hampir saja kembali tertidur jika penelpon seberang yang tak lain adalah pak Efendi tidak berteriak memanggilnya.


Menyadari yang menelponnya adalah pak Efendi, pak Jamal langsung bangun dan menyandarkan tubuhnya di tembok kamar. Volume panggilan di besarkannya.


"Maaf, Pak Efendi. Saya kira si Jeri. Ada apa, Pak," kata pak Jamal dengan tersenyum.


"Bagaimana bisa sukses kalau tidur terus, Pak Jamal. Rizki Pak Jamal keburu di patuk ayam," kata pak Efendi dari arah seberang.


Pak Jamal tersenyum.


"Ah, Pak Efendi bisa saja. Ada hal penting, Pak?"


"Saya hanya ingin menanyakan terkait video yang kita kirim tadi malam, Pak Jamal. Bagaimana, apa sudah ada respon dari Rianti,"

__ADS_1


Pak Jamal mendesah. Ia agak ragu memberitahu pak Efendi. Sejenak ia terdiam.


"Halo," kata pak Efendi setelah beberapa saat pak Jamal tak memberikan respon.


"Halo, Pak Efendi,"


"Loh, ditanya kok diam. Bagaimana pak Jamal ini,"


Kembali pak Jamal mendesah.


"Itulah yang bikin saya kesal. Videonya tidak terkirim, Pak Efendi. Nomor yang dikasih Jeri salah,"


"Loh, kok bisa begitu, pak Jamal,"


"Ini memang salah saya, Pak Efendi. Saya salah catat nomor. Keliru satu angka. Tapi Jeri sudah mengirimkan nomor yang benar," jawab pak Jamal. Ia kembali tersenyum sendiri.


"Terus, videonya sudah dikirim lagi, Pak?"


"Aduh, sama, pak Jamal. Tapi tak harus tidur sampai sesiang ini. Saya ini pengusaha, pak Jamal. Jika dari kerjasama ini saya tidak mendapatkan keutungan apa-apa, yah,mau tidak mau saya harus menyetopnya," kata pak Efendi. Nadanya terdengar kesal. Pak Jamal terlihat panik. Ia memperbaiki posisi duduknya.


"Jangan begitu, pak Efendi. Sabarlah sedikit. Saya jamin, dengan video ini, kita bisa memeras Rianti untuk menyerahkan salah satu perusahaannya kepada kita,"


"Intinya saya mau kerja cepat, pak Jamal. Saya sudah mengeluarkan uang yang banyak untuk membantu pak Jamal. Jika ini tidak berhasil, saya ragu pak Jamal bisa mengembalikan pinjaman pak Jamal. Saya bisa rugi besar, Pak Jamal,"


"Beres, Pak Efendi. Jangan khawatir. Saya akan..., halo, halo..., kurang ajar! Agh!"


Pak Jamal membanting ponselnya di atas kasur ketika menyadari pak Efendi telah mematikan panggilannya. Dia terdiam sejenak. Kata-kata pak Efendi tadi mengacaukan pikirannya. Dia sudah berhutang banyak kepada pak Efendi. Harapan satu-satunya hanyalah hasil usahanya memeras Rianti. Jika saja ia gagal, maka ia tidak punya apa-apa untuk membayar hutangnya. Dia sudah tidak punya pekerjaan lagi setelah dipecat di salah satu perusahan ekspor import di singapura. Kebutuhan hidupnya selama di indonesia hampir seluruhnya di tanggung pak Efendi.


Agh! Pak Jamal meremas rambutnya keras.


Pak Jamal mengambil kembali ponselnya. Ia lalu membuka galeri hp nya. Setelah menulis beberapa kata, Ia kemudian mengirimnya ke nomor whatsup Rianti.


* * * * *

__ADS_1


"Ini nanti dipercikkan ke seluruh ruangan. Jika airnya habis, boleh di tambah lagi," kata Tuan Guru Izzul Islam setelah mendoakan air dalam botol kemasan. Sulastri segera mengambilnya dan menutupnya.


"Jangan lupa. Jangan berkeyakinan, saya atau air inilah yang membuat rumah ini aman. Saya dan air yang telah didoakan itu hanyalah perantara. Satu-satunya pelindung sejati hanyalah Allah Swt," tegas Tuan Guru Izzul Islam. Sulastri menganggukkan kepalanya.


Suara gemerincing cangkir akibat kedua tangan Rianti yang bergetar, terdengar menarik perhatian orang-orang di ruang tamu. Rianti sudah berusaha menenangkan dirinya, tapi semakin erat ia memegang wadah, tangannya semakin bergetar. Entah, ia seperti sudah terbawa suasana yang diciptakan Sulastri sebelumnya. Ia merasa semua yang dilakukan Sulastri hari ini adalah tentangnya dan Tuan Guru Izzul Islam. Ia pernah merasakan hal yang sama dulu ketika ia beranjak dewasa. Perasaan kikuk bercampur takut ketika bertemu dengan orang yang ia kagumi. Tapi benarkah perasaan yang kini ia rasakan adalah perasaan sama yang ia rasakan dulu? Semakin dekat ke arah Tuan Guru Izzul Islam, ia merasa tubuhnya semakin lemas. Apalagi jika Tuan Guru Izzul Islam sampai memandangnya.


Sulastri dan pak bayan menoleh. Tuan Guru Izzul Islam sendiri, karna tempat duduknya searah dengan tempat munculnya Rianti, dia langung bisa melihat Rianti yang berjalan kaku menuju ruang tamu. Dada Tuan Guru Izzul Islam seketika berdebar kencang. Melihat Rianti dengan pakaian serba birunya, sontak mengingatkannya kembali pada mimpinya lima belas tahun yang lalu. Bayangan perempuan berkerudung biru motif batik dalam mimpinya, nyata berwujud dalam diri Rianti.


"Ini dia ya, Allah. Ini dia perempuan berkerudung biru motif batik itu," batin Tuan Guru Izzul Islam.


Sulastri bangkit dan menyongsong kedatangan Rianti. Nampan berisi gelas di tangan Rianti segera di ambilnya dan meletakkannya di depan Tuan Guru Izzul Islam. Sulastri memberi isyarat agar Rianti duduk. Tuan Guru Izzul Islam menundukkan kepalanya. Ia mulai serba salah. Kini ia merasakan begitu berat mengangkat kepalanya. Dia yang sudah terbiasa berceramah di depan khalayak ramai, kini seperti telah kehilangan nyali.


"Bu, kayaknya saya pamit mau ke pos dulu. Pintu gerbangnya tadi belum sempat saya tutup, takut ada anjing yang masuk," kata pak Bayan.


"Oh, iya, Pak Bayan," kata Sulastri.


"Tuan Guru, mari." Tuan Guru Izzul Islam tersenyum menganggukkan kepalanya. Dia hanya mengangkat wajahnya sebentar lalu kembali menunduk.


Sejenak suasana menjadi hening ketika pak Bayan telah meninggalkan ruangan. Baik Tuan Guru Izzul Islam, Sulastri maupun Rianti sama-sama diam. Hanya terdengar suara detak jarum jam dan suara AC dalam ruangan. Kata-kata yang sudah disiapkan Sulastri dan sudah berada di ujung lidahnya, tiba-tiba saja menjadi sulit diucapkannya. Apalagi ketika melihat Tuan Guru Izzul Islam yang masih menunduk sembari mempermainkan jari-jari tangannya.


Sulastri menoleh ke arah Rianti yang beberapa kali mengusap keringat di keningnya. Sulastri tersenyum. Dia yakin sudah mempertemukan Tuan Guru Izzul Islam dengan jodohnya. Jika tidak karna ada getaran di hati keduanya, tentu mereka tidak akan malu dan secanggung itu.


Sulastri mendehem. Ia menatap Tuan Guru Izzul Islam.


"Silahkan diminum kopinya, Tuan Guru," kata Sulastri mempersilahkan Tuan Guru Izzul Islam meminum kopinya.


Tuan Guru Izzul Islam terkejut dan menoleh kesana kemari. Ia tersadar dari ketermenungannya. Ia tersenyum.


"Mohon maaf, apa bu Sulastri bicara sama saya?" tanya Tuan Guru Izzul Islam. Sulastri dan Rianti tersenyum.


"Kopinya, Tuan Guru,"


"Oh, Ya, ya. Terimakasih, Bu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia langsung mengangkat gelas kopi di depannya dan meminumnya. Ketika hendak meletakkan kembali gelas kopi di atas meja, Pandangan Tuan Guru Izzul Islam mengarah ke wajah Rianti yang pada saat bersamaan mengangkat wajahnya dan menatap Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam terdiam. Kedua mata saling bertumbukan seperti ingin bercerita satu sama lain. Tuan Guru Izzul Islam seperti telah kehilangan segalanya. Dan pencurinya adalah perempuan berkerudung biru motif batik itu. Benarlah apa yang dikatakan ibnu Arabi; Yang kejam itu matanya wanita. Jika ia melihatmu dengan tatapan matanya, engkau akan kehilangan segalanya, dan engkau hanya bisa tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2